Krystal, reinkarnasi Naga Es yang melupakan 98 kehidupan lamanya, tumbuh menjadi putri terbuang Kekaisaran Aethermoor. Dibuang ke Istana Aquamarine sejak usia tiga tahun oleh ibu yang dimanipulasi sihir, ia ditemani Mira dan dilindungi Eros—Dewa Nafsu yang menjadikannya calon istrinya. Kecantikannya memikat, namun hatinya rapuh akibat trauma penolakan. Ia membangun Proyek LadyBug untuk menghancurkan Ratu Seraphina dari dalam, merekrut para jenius terbuang sebagai senjata rahasia. Ketika Eros menolaknya demi kesucian, egonya hancur; ia nekat memeluk Hyal hingga batuk darah, menyadari racun berkat sang kakaklah yang menyiksanya. Kini di tanah Herkimer, Krystal bangkit—lebih dingin, lebih licik, dan bertekad menggulingkan takhta dengan tangannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noulmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
*Wuuuush*!
Pusaran sihir hitam terurai sepenuhnya, melempar Krystal ke atas lantai marmer hitam yang dingin dan mengilat bagai cermin. Ketika ia mendongak, warna rambut cokelat madu dan mata hijau zaitun hasil penyamarannya memudar oleh tekanan sihir yang teramat kuat. Rambut pirang yang berkilau emas dan sepasang mata biru laut murninya kembali.
Krystal mengedarkan pandangan. Ia kini berada di dalam sebuah aula utama yang teramat luas dan megah, namun sunyi mencekam. Dinding-dindingnya terbuat dari batuan obsidian hitam yang kokoh. Tempat ini adalah Istana Kerajaan Obsidian—wilayah kekuasaan Kerajaan Utara yang terkenal dingin dan tak tersentuh. Anehnya, istana megah ini kosong. Tidak ada satu pun pelayan yang berlalu-lalang, tidak ada pula barisan pengawal berlapis baja yang berjaga di sepanjang pilar.
Di ujung aula, sebuah singgasana hitam yang megah berdiri dengan angkuh. Tepat di hadapan singgasana itu—dan di depan Krystal yang masih terduduk—sosok pria berjubah hitam tadi perlahan melepaskan tudungnya.
Pria itu adalah Alucas. Sang Naga Cahaya sekaligus tunangan paksa yang selama ini paling dihindari oleh Krystal.
Alih-alih bertindak kasar atau mengurung Krystal di dalam sangkar besi, Alucas justru melangkah mendekat dengan gerakan yang teramat anggun. Pria itu perlahan menurunkan tubuhnya, berlutut dengan satu kaki di hadapan Krystal dengan penuh pengabdian bagai seorang ksatria sejati.
"Tempat ini adalah istana pribadiku, Krystal," ucap Alucas, suaranya terdengar begitu lembut, hangat, namun menyimpan obsesi yang teramat pekat. Ia mengulurkan tangannya yang terbalut sarung tangan hitam, meraih beberapa helai rambut emas Krystal dengan sangat hati-hati, lalu mengecupnya. "Dan mulai detik ini, tempat ini akan menjadi istanamu... Ratuku."
Krystal menarik rambutnya dengan sentakan kasar, menatap pria di hadapannya dengan sepasang mata biru yang sedingin es. "Kau sudah gila, Alucas. Menculik seorang putri kekaisaran di tengah wilayah Aethermoor?"
Alucas hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyiratkan bahwa ia tahu jauh lebih banyak hal ketimbang apa yang terlihat di permukaan. "Siapapun tidak akan pernah bisa mengendus tempat ini, Krystal. Aku membawamu ke sini bukan untuk menyakitimu, melainkan untuk menyelamatkanmu dari sangkar palsu Aethermoor, dan... mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milikku sejak kehidupan kita yang terdahulu."
Krystal mengepalkan tangannya di atas lantai marmer yang dingin. Di dalam lubuk hatinya, jiwa naga es miliknya mulai bergejolak samar, seolah merespons kehadiran energi esensi cahaya dari tubuh Alucas. Namun, di saat yang sama, ia juga tahu bahwa Eros—sang Dewa Nafsu yang agung—pasti sedang mengamuk di luar sana, siap meratakan apa saja demi menjemputnya kembali.
"Hey! Apa kau sudah gila?" bentak Krystal, suaranya menggema di sepanjang pilar obsidian yang sepi. Ia bangkit berdiri dengan anggun, menepis kasar sisa cengkeraman sihir yang masih terasa di gaunnya. "Meskipun kau adalah seorang raja di Utara, bukankah keterlaluan menculik seorang putri kekaisaran seperti ini?"
Alucas tidak terpengaruh oleh amarah sang putri. Ia perlahan bangkit dari posisi berlututnya, menegakkan tubuh tegapnya di bawah bayangan singgasana hitam. Sepasang matanya yang berkilat keemasan menatap Krystal dengan binar obsesi yang teramat pekat. Sebuah tawa rendah yang terdengar merdu namun gila.
"Kau adalah takdirku, Krystal," jawab Alucas, nadanya begitu tegas, seolah hukum alam sendiri yang telah menuliskan kalimat itu. "Tidak peduli berapa kali kau bereinkarnasi, jiwamu dan jiwaku telah digariskan untuk saling melengkapi di bawah langit."
Mendengar kata 'takdir' disebut, kilat kecerdasan yang tajam seketika melintas di sepasang mata biru laut Krystal. Ingatan tentang ancaman Eros kepada Hyal di Menara Sihir Barat, sebutan tentang Sang Naga Cahaya dan Naga Es yang dieksekusi oleh tiga dewa di masa lalu, serta berkat Astraia yang menyiksanya, mendadak menyatu seperti kepingan teka-teki yang utuh di dalam benaknya.
Krystal tertegun sejenak, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman paling sinis yang pernah ia tunjukkan. Ia mendongak dan tertawa lepas—sebuah tawa renyah, hampa, sekaligus mematikan yang sanggup membuat udara dingin di istana itu terasa semakin membeku.
"Takdir? Aaah—jadi karena kau..." Krystal menjeda kalimatnya, menatap Alucas dengan pandangan meremehkan yang sarat akan provokasi. "Karena kau... dan karena kebodohan Hyal yang meminjam kekuatan kekasihnya... hahaha! Kau pikir aku masih seorang putri lemah tak berdaya yang bisa kau kurung dan kau atur sesukamu, Alucas?"
Topeng Bunga Penggoda milik Krystal tidak lagi menyembunyikan kerapuhan, melainkan menjelma menjadi tameng yang kokoh. Meskipun ia belum bisa menggunakan sihir manusia, kesadaran bahwa dirinya adalah reinkarnasi seekor Naga Es yang agung, ditambah fakta bahwa ia dilindungi oleh salah satu dari Tujuh Dewa Agung, membuat mentalnya tidak goyah sedikit pun di hadapan Sang Naga Cahaya.
Alucas mengernyitkan dahi, senyumnya perlahan memudar saat menyadari bahwa tatapan mata Krystal saat ini tidak memancarkan ketakutan seorang manusia biasa, melainkan keangkuhan murni dari makhluk tinggi yang pernah berdiri sejajar dengannya di menara langit.
"Siapa yang lancang memberitahumu?! Itu adalah rahasia langit!" Alucas membentak, kemarahan menggores wajah tampannya. Energi cahayanya bergolak, menciptakan pendar keemasan yang tidak stabil di sekeliling tubuhnya. Sebagai reinkarnasi Naga Cahaya, ia tahu betul bahwa detail persidangan di menara langit ribuan tahun lalu bukanlah konsumsi ingatan manusia fana.
Krystal tertawa renyah sembari dengan santai mengibaskan gaunnya, seolah sedang membersihkan debu menjijikkan dari bekas sentuhan Alucas tadi. Ia melangkah anggun menjauhi singgasana, berjalan santai ke arah salah satu pilar obsidian besar yang menopang aula kosong itu.
"Sebaiknya jaga sikapmu, Alucas," ucap Krystal, menepuk-nepuk permukaan batu pilar yang dingin dengan jari-jarinya. "Ah.... mungkin sebentar lagi istanamu yang megah ini akan hancur berantakan."
"Apa yang kau bicarakan, Krystal?!" Alucas mulai kehilangan kesabaran. Langkah kakinya yang berat bergaung keras saat ia mencoba mengejar Krystal. "Aku tidak peduli dengan apa pun yang terjadi di luar sana! Bahkan jika aku harus menyekapmu di tempat paling gelap di utara ini selamanya, kau akan tetap menjadi milikku!"
"Hahaha. Kau lucu sekali, Alucas. Obsesimu yang kekanak-kanakan itu benar-benar mirip dengan seseorang," sindir Krystal, membalikkan tubuhnya dan bersandar pada pilar. Matanya yang biru laut berkilat jenaka, merujuk pada sang ibu, Ratu Seraphina, yang sama-sama gila kendali.
*KRETEK*!
Belum sempat Alucas membalas ucapan itu, sebuah suara retakan tajam menggema dari arah langit-langit aula. Langit malam Kerajaan Utara yang semula pekat mendadak tersedak oleh gelombang energi hitam yang teramat pekat. Suara gemuruh seperti guntur yang membelah bumi mulai menggetarkan pondasi bangunan obsidian tersebut.
Krystal tersenyum menang. Tabir pelindung dewa yang sempat diputus paksa oleh Alucas kini telah berubah menjadi radar kemarahan yang teramat besar. Sang Dewa Nafsu telah menemukan koordinat mereka, dan ia tidak datang untuk mengetuk pintu dengan sopan.