NovelToon NovelToon
Aku Kembali Bukan Untuk Mencintaimu Tapi Menghancurkanmu

Aku Kembali Bukan Untuk Mencintaimu Tapi Menghancurkanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Nikah Kontrak
Popularitas:396
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Dulu, Alena percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya—bahkan kesombongan seorang pria yang dingin dan tak tersentuh seperti Arkan. Ia menyerahkan hati, harga diri, bahkan masa depannya demi pernikahan yang ternyata hanya dianggap sebagai kesalahan oleh suaminya sendiri.
Di hari ia kehilangan segalanya, Alena tidak hanya diusir dari rumah—ia juga dikhianati, dipermalukan, dan ditinggalkan dalam kehancuran yang nyaris merenggut nyawanya.
Namun, takdir belum selesai menulis kisahnya.
Lima tahun kemudian, Alena kembali.
Bukan sebagai wanita lemah yang dulu diremehkan, melainkan sebagai sosok baru—misterius, elegan, dan berkuasa. Di balik senyumnya yang tenang, tersimpan rencana yang telah ia bangun dengan sabar: menghancurkan satu per satu kehidupan
orang-orang yang pernah menjatuhkannya… termasuk Arkan.
Ketika Arkan kembali bertemu dengan wanita yang dulu ia buang, ada sesuatu yang berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 — DARAH YANG MENGKHIANATI

Malam itu, rumah utama keluarga Arkan terasa terlalu sunyi.

Biasanya tenang.

Mewah.

Terkontrol.

Tapi malam ini…

Udara di dalamnya terasa berat.

Seperti ada sesuatu yang akan pecah.

Pintu utama terbuka keras.

BRAK!

Langkah Arkan masuk tanpa ragu.

Cepat.

Keras.

Tidak seperti biasanya.

Para pelayan yang melihatnya langsung menunduk.

Tidak berani menyapa.

Mereka tahu—

Ada yang tidak beres.

“Di mana Ibu?”

Suaranya rendah.

Tapi penuh tekanan.

Salah satu pelayan menjawab dengan gugup, “Di ruang baca, Tuan.”

Tanpa menunggu—

Arkan langsung melangkah ke sana.

Wanita yang Selalu Tenang

Pintu ruang baca terbuka perlahan.

Tidak dibanting.

Tapi cukup keras untuk menarik perhatian.

Di dalam—

Seorang wanita duduk anggun di kursi, membaca buku seperti biasa.

Tenang.

Elegan.

Tidak terusik.

Seolah dunia tidak pernah menyentuhnya.

“Ibu.”

Arkan berdiri di depan pintu.

Tatapannya tajam.

Wanita itu menutup bukunya pelan.

Mengangkat kepala.

Dan tersenyum tipis.

“Arkan. Kamu pulang lebih cepat dari biasanya.”

Nada suaranya lembut.

Seperti tidak ada yang salah.

Seperti semuanya… normal.

Awal Retakan

“Aku mau tanya sesuatu.”

Arkan tidak basa-basi.

Wanita itu mempersilakan duduk.

“Tentu. Duduk dulu—”

“Aku tidak butuh duduk.”

Nada suaranya langsung memotong.

Dan untuk pertama kalinya—

Senyum di wajah wanita itu… sedikit memudar.

Pertanyaan yang Tidak Bisa Dihindari

“Lima tahun lalu.”

Arkan melangkah mendekat.

“Pernikahanku dengan Alena.”

Sunyi.

Beberapa detik yang terasa panjang.

Wanita itu tidak langsung menjawab.

Hanya menatapnya.

Tenang.

Terlalu tenang.

“Ada apa dengan itu?” tanyanya akhirnya.

Arkan melemparkan sebuah file ke meja.

Dokumen itu terbuka.

Isinya menyebar.

“Jangan pura-pura tidak tahu.”

Nada suaranya naik.

Sedikit.

Tapi cukup terasa.

Topeng yang Mulai Retak

Wanita itu menatap dokumen itu.

Lama.

Lalu…

menghela napas pelan.

Seolah lelah.

Bukan kaget.

Bukan panik.

Dan itu…

membuat sesuatu di dalam diri Arkan semakin panas.

“Jadi benar,” bisiknya tajam. “Semua ini… kamu yang atur?”

Sunyi.

Lalu—

“Sebagian.”

Jawaban itu…

jatuh seperti bom.

Ledakan yang Tidak Tertahan

“Sebagian?!”

Arkan tertawa keras.

Pahit.

“Jadi aku ini apa? Boneka? Alat?”

“Jaga nada bicaramu.”

Suaranya tetap tenang.

Tapi sekarang—

ada ketegasan di dalamnya.

“Aku ibumu.”

“Kalau kamu ibuku—” Arkan menatapnya tajam, “kamu tidak akan melakukan ini!”

Kebenaran yang Tidak Indah

Wanita itu berdiri perlahan.

Mendekat.

Setiap langkahnya tetap anggun.

Terkontrol.

“Kamu ingin tahu kebenaran?” tanyanya pelan.

Arkan tidak menjawab.

Tapi tatapannya… sudah cukup.

“Baik.”

Dia berdiri tepat di depan Arkan.

Menatapnya lurus.

“Perusahaan ini… hampir hancur waktu itu.”

Sunyi.

“Kita di ambang kehilangan segalanya.”

Arkan mengepalkan tangan.

“Aku bisa memperbaikinya sendiri.”

Wanita itu tersenyum tipis.

“Tidak secepat yang dibutuhkan.”

Nama Alena Disebut

“Dan di situlah… Alena masuk.”

Jantung Arkan berdetak lebih cepat.

Tanpa dia sadari.

“Dia punya sesuatu yang kita butuhkan.”

“Jangan bicara seolah dia barang!” potong Arkan tajam.

Wanita itu tidak terganggu.

“Dia adalah solusi.”

Kalimat itu…

dingin.

Tanpa emosi.

Seperti fakta biasa.

Pengakuan yang Menyayat

“Aku yang memilihnya.”

Sunyi.

“Aku yang mengatur pertemuan kalian.”

Sunyi lagi.

“Aku yang memastikan kamu menikah dengannya.”

Dan di titik itu—

Arkan merasa sesuatu di dalam dirinya benar-benar retak.

Lebih Dalam dari yang Diduga

“Lalu… setelah semuanya stabil?”

Suara Arkan lebih rendah sekarang.

Lebih berbahaya.

Wanita itu menatapnya.

Tanpa ragu.

“Kita tidak lagi membutuhkannya.”

Kemarahan yang Tidak Bisa Ditahan

“‘Kita’?!”

Arkan melangkah maju.

Emosinya akhirnya meledak.

“Jangan bawa aku dalam ini!”

“Tanpa kamu sadar, kamu sudah ada di dalamnya sejak awal.”

Jawaban itu tajam.

Langsung.

Tidak bisa dibantah.

Kebenaran Paling Kejam

“Aku tidak pernah menyuruhmu mencintainya.”

Kalimat itu membuat Arkan terdiam.

Sesaat.

“Tapi kamu melakukannya,” lanjut wanita itu.

Dan untuk pertama kalinya—

suara Arkan… hilang.

Permainan yang Lebih Gelap

“Kamu pikir kenapa semuanya berjalan begitu mudah?” lanjutnya.

“Kenapa kamu mulai menjauh darinya?”

Arkan mengangkat kepala perlahan.

Tatapannya berubah.

“Apa maksudmu?”

Wanita itu tersenyum.

Kali ini—

bukan hangat.

Tapi… dingin.

“Aku hanya… membantu sedikit.”

Kesadaran yang Menghancurkan

Mata Arkan melebar.

“Tidak…”

Dia mundur satu langkah.

“Tidak mungkin…”

Tapi semua potongan itu—

mulai menyatu.

Cara dia mulai dingin.

Cara dia mulai menjauh.

Hal-hal yang dulu terasa

“wajar”…

Sekarang terasa salah.

Sangat salah.

Pukulan Terakhir

“Kamu membencinya… karena itu lebih mudah.”

Wanita itu menatapnya tajam.

“Dan aku memastikan kamu punya alasan untuk itu.”

Sunyi.

Hanya napas Arkan yang terdengar.

Berat.

Tidak stabil.

Hening yang Lebih Menyakitkan dari Teriakan

Beberapa detik tidak ada yang bicara.

Lalu—

“Dia hampir mati.”

Suara Arkan pelan.

Tapi bergetar.

Wanita itu tidak menjawab.

Dan diamnya…

sudah cukup.

Retaknya Hubungan yang Tidak Bisa Diperbaiki

Arkan menatapnya.

Lama.

Seolah melihat orang asing.

“Kamu… bukan ibu yang aku kenal.”

Wanita itu tersenyum tipis.

“Atau mungkin… kamu yang baru mulai mengenalku.”

Akhir yang Tidak Tenang

Arkan mundur perlahan.

Langkahnya terasa berat.

Tapi dia tidak berhenti.

“Ini belum selesai.”

Suaranya dingin sekarang.

Berbeda.

Lebih tajam dari sebelumnya.

Wanita itu tidak mengejarnya.

Tidak menahannya.

Hanya berdiri.

Tenang.

Seperti biasa.

Di Tempat Lain

Aku berdiri di balkon.

Menatap langit malam.

Ponselku bergetar.

Pesan masuk.

Dari Leon.

“Dia sudah tahu.”

Aku tersenyum tipis.

Akhirnya.

“Seberapa banyak?” balasku.

Beberapa detik.

Lalu—

“Cukup untuk menghancurkannya.”

Aku menutup mata sebentar.

Menghirup udara malam.

Lalu membuka lagi.

Tatapanku berubah.

Lebih dalam.

Lebih dingin.

“Belum,” bisikku pelan.

“Ini baru awal.”

Di malam yang sama—

Dua orang berdiri di tempat berbeda.

Satu… baru kehilangan kepercayaan pada keluarganya sendiri.

Satu lagi… semakin dekat dengan balas dendamnya.

Dan di antara mereka—

Ada masa lalu yang belum selesai.

Dan kebenaran yang belum sepenuhnya terungkap.

Perang ini… akhirnya benar-benar dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!