Satu komentar mengubah hidup Dr. Briella Zamora dalam semalam.
Berniat menghancurkan reputasi mantan kekasihnya, Lexington Valerio—Briella justru terjebak dalam skandal yang mengancam Dirinya Sendiri.
"Kau tahu apa yang paling lucu, Lex? Aku menghabiskan waktu untuk memperbaiki wajah orang lain agar terlihat sempurna, hanya agar aku bisa melupakan betapa hancurnya aku karena pria sepertimu."
"Rupanya waktu belum juga merubah kecerobohanmu, Briella Zamora."—Lexington Valerio.
Happy reading 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#31
Pintu ruangan praktik Dokter Julian terbuka dengan suara desis yang halus. Aroma disinfektan dan wangi terapi lavender langsung menyambut indra penciuman.
Lexington melangkah masuk terlebih dahulu, jemarinya menggenggam erat tangan Briella—sebuah gestur posesif yang sudah menjadi instingnya sejak kabar kehamilan itu muncul.
"Selamat pagi, Dokter Julian. Saya Lexington Valerio," sapa Lexington dengan nada profesional yang dingin dan berwibawa.
Seorang pria muda dengan jas putih bersih berdiri dari kursi kerjanya. Wajahnya tampan dengan kacamata berbingkai tipis yang membingkai mata teduhnya.
Namun, langkah Julian mendadak terhenti. Matanya tidak tertuju pada Lexington, melainkan terpaku pada sosok wanita di samping sang Profesor.
"Briella?" bisik Julian. Suaranya mengandung nada yang sulit diartikan—kerinduan, keterkejutan, dan sesuatu yang hanya bisa ditangkap oleh insting seorang wanita.
Briella membeku. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena debar cinta, melainkan karena rasa canggung yang luar biasa. Ia meremas tangan Lexington lebih kuat. "Julian... hai."
Suasana di ruangan itu mendadak menjadi sangat tegang. Lexington, yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata, langsung merasakan ada gelombang aneh yang mengalir di antara istrinya dan dokter di hadapannya.
Ia memperhatikan bagaimana Julian menatap Briella—tatapan penuh kekaguman yang sedikit terlalu lama untuk ukuran seorang dokter kepada pasiennya. Lebih dari itu, ia melihat istrinya mulai salah tingkah, menggigit bibir bawahnya dan menghindari kontak mata.
Lexington menyipitkan matanya. Ia melepaskan genggaman tangannya dari Briella, lalu bersedekap di dada, memperlihatkan otot lengannya yang tercetak jelas di balik kemeja putihnya yang mahal.
"Julian..." suara Lexington berat, memecah keheningan yang menyesakkan itu. "Kau mantan kekasih istriku?"
Pertanyaan itu meluncur seperti peluru kendali. Briella tersentak, wajahnya memerah padam sampai ke telinga. "Lex! Apa yang kau katakan?"
Julian berdehem, mencoba menguasai keadaan meskipun ia juga tampak canggung. "Tidak, tidak... bukan mantan pacar dalam arti yang dalam, Tuan Valerio. Kami hanya... berpacaran selama satu minggu, beberapa bulan yang lalu."
"Satu minggu?" Lexington mengangkat alisnya. Ia menoleh ke arah Briella dengan tatapan yang seolah meminta penjelasan.
"Hanya seminggu, Lex! Benar-benar hanya seminggu sebelum aku... yah, sebelum aku menyadari bahwa aku tidak bisa melupakanmu," bisik Briella cepat, mencoba meredam api cemburu yang mulai menyala di mata suaminya.
Julian tersenyum pahit. "Benar. Briella memutuskanku secara sepihak. Alasannya cukup... unik. Dia bilang aku tidak cukup sekekar mantan kekasihnya. Dan sekarang aku tahu siapa 'mantan' yang dia maksud."
Lexington yang tadinya sudah siap untuk meledakkan amarah, tiba-tiba terdiam. Kalimat 'tidak sekekar mantan kekasihnya' terngiang di telinganya seperti melodi yang indah. Ia melirik tubuh Julian yang memang tinggi dan ramping, namun tampak agak kurus jika dibandingkan dengan dirinya yang rajin berolahraga dan memiliki massa otot yang padat hasil dari disiplin bertahun-tahun.
Rasa cemburu itu seketika menguap, digantikan oleh rasa sombong yang meluap-luap. Lexington menegakkan punggungnya, membusungkan dadanya sedikit agar kemejanya semakin mengetat di bagian bahu.
"Begitu ya?" Lexington menyeringai tipis, sebuah seringai kemenangan. "Yah, seleranya memang sangat tinggi jika menyangkut... kualitas fisik."
Julian hanya bisa tersenyum kecut sambil mempersiapkan peralatan USG-nya. "Jaga baik-baik istrimu, Tuan Valerio. Dia wanita yang luar biasa ceroboh, tapi dia memiliki hati yang sangat tulus. Dan selamat atas kehamilan ini."
Pemeriksaan pun dimulai. Meski ada sedikit ketegangan di awal, Julian tetap menunjukkan profesionalismenya sebagai dokter ahli. Namun sepanjang pemeriksaan, Lexington tidak melepaskan pandangannya dari layar monitor dan sesekali memberikan tatapan "dia-milikku" kepada Julian.
Sepulang dari rumah sakit, suasana di dalam mobil terasa jauh lebih ringan. Lexington mengemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menggenggam tangan Briella yang masih memerah karena malu.
Lexington terus tersenyum sendiri. Sesekali ia melirik istrinya dari sudut mata, menikmati ekspresi Briella yang tampak ingin menghilang dari muka bumi karena kejadian tadi.
"Satu minggu, hm?" goda Lexington.
"Lex, berhenti membahasnya! Itu saat aku lagi-lagi merasa sangat kesepian tanpamu dan aku mencoba membuka hati, tapi ternyata tidak bisa!" seru Briella sambil menutupi wajahnya dengan tas.
"Tapi bagian 'tidak sekekar aku' itu sangat menarik," Lexington tertawa rendah. "Jadi, kau membandingkan otot-ototnya dengan ototku bahkan saat kita sedang berpisah?"
Suasana romantis yang penuh godaan itu tiba-tiba berubah saat Lexington meminggirkan mobilnya sebentar di bahu jalan yang sepi. Ia menoleh sepenuhnya ke arah Briella, menatapnya dengan tatapan menyelidik yang intens.
"Lalu... kenapa kau bisa tahu Julian tidak sekekar aku, Honey? Apa kau sempat menyentuhnya?" tanya Lexington, suaranya kini terdengar serius dan sedikit menuntut.
Briella tersenyum, melihat kecemburuan suaminya kembali muncul. Ia meraih tangan Lexington dan meletakkannya di pipinya. "Tanpa memeluknya saja aku sudah tahu, Lex. Dia itu kurus tinggi begitu. Bajunya tampak kebesaran, tidak seperti kau yang kalau pakai kemeja seolah-olah kancingnya ingin melompat keluar karena dadamu terlalu besar."
Lexington tertegun sejenak, lalu tawa lepasnya pecah memenuhi kabin mobil. "Hahaha! Kau benar-benar sesuatu, Briella. Padahal dulu aku juga tinggi dan kurus saat itu. Kenapa bisa kau mengatakan hal itu secara spesifik padanya?"
Briella menggigit bibirnya, tampak ragu untuk menjawab, namun akhirnya ia mengaku juga. "Ekhem... sebenarnya... aku sering stalking media sosialmu selama lima tahun kita berpisah. Aku melihat foto-fotomu di laboratorium, foto saat kau sedang gym di kampus, dan foto saat kau sedang di pantai. Jadi, standar fisikku sudah terlanjur 'diracuni' oleh visualmu."
Lexington berhenti tertawa. Ia menatap istrinya dengan tatapan yang sangat lembut. Jadi, selama lima tahun mereka saling menyiksa diri dengan jarak, Briella tetap memperhatikannya dari kejauhan, menjadikan bayangannya sebagai standar yang tak tertandingi.
"Jadi kau mengagumi tubuhku secara diam-diam selama lima tahun?" bisik Lexington.
"Bukan hanya tubuhmu, Lex. Segalanya," jawab Briella jujur.
Lexington menarik Briella ke dalam pelukan hangat di dalam mobil. "Kalau begitu, aku harus memastikan otot-otot ini tetap terjaga agar kau tidak pernah melirik dokter kurus lainnya lagi."
"Satu suami posesif sudah lebih dari cukup untukku, Lex," jawab Briella sambil tertawa, menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya yang benar-benar... sekekar harapannya.
emosinya kaya nyata dapet banget.
sehat selalu yaaa, semoga hari kamu baik terus
Tuhan memberkati 😇😇😇