"What? Masa gue mati cuma gara-gara keselek air minum sih? Nggak estetik banget!"
Itu umpatan terakhir Arcelia sebelum jiwanya "nyasar" ke tubuh Alzena—seorang istri pajangan yang hidupnya lebih tragis dari drama sabun. Alzena yang asli mati karena menyerah, tapi Arcelia yang baru bangun dengan satu prinsip: Siapa yang nyenggol, bakal kena hack sampai ke akar.
Tak ada lagi Alzena yang penurut. Arcelia menggunakan otak hacker-nya untuk membongkar borok keluarga Halim dan membuat Shania kena mental. Sementara Keano, suami dingin yang biasanya menganggapnya sampah, mulai dibuat pusing tujuh keliling karena istrinya berubah jadi singa betina yang tak lagi memuja dirinya.
Game baru dimulai. Arcelia tidak datang untuk minta maaf, dia datang untuk berkuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: TUBUH YANG BERKHIANAT
Pagi di kediaman Winchester biasanya dimulai dengan kesunyian yang mencekam. Keano akan berangkat sebelum matahari benar-benar naik, dan Alzena yang asli biasanya akan mengintip dari balik gorden dengan mata sembap. Namun, pagi ini berbeda.
Alzena—atau lebih tepatnya Arcelia di dalam tubuh Alzena—sudah bangun sejak pukul lima subuh(mulai sekarang kita panggil alzena ya biar ga bingung). Ia tidak lagi meringkuk di sofa atau menangisi nasibnya. Ia berdiri di tengah ruang gym pribadi milik Keano yang terletak di lantai dua, menatap pantulan dirinya di cermin besar yang menutupi seluruh dinding.
"Gila... lo bener-bener kayak lidi, Zen," gumamnya sambil memegang lengannya yang sangat kecil.
Arcelia mencoba melakukan pemanasan sederhana. Ia mengambil posisi kuda-kuda, mencoba melakukan satu tendangan *front kick* yang biasanya ia lakukan sambil menutup mata di kehidupan lamanya.
Wush—bruk!
Baru saja kakinya terangkat, keseimbangannya goyah. Tubuhnya yang ringan dan lemah itu justru limbung, membuatnya jatuh terduduk di atas matras dengan napas tersengal. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena adrenalin, tapi karena kelelahan yang memalukan.
"Sialan. Otak gue udah di level sabuk hitam, tapi badan gue bahkan nggak sanggup nendang angin," umpatnya kesal. Ia memukul matras dengan kepalan tangan yang terasa lembek.
Ia tidak menyerah. Arcelia tahu, di dunia ini, kecerdasan digital saja tidak cukup. Jika ia ingin menghadapi keluarga Halim atau bertahan dari musuh-musuh Keano suatu saat nanti, ia butuh kekuatan fisik. Ia mulai melakukan plank. Satu detik, dua detik... pada detik kesepuluh, tangannya mulai gemetar hebat. Peluh dingin membanjiri dahinya.
Tanpa Alzena sadari, dari balik celah pintu gym yang sedikit terbuka, sepasang mata tajam sedang memperhatikannya.
Keano seharusnya sudah berada di dalam mobil menuju kantor. Namun, laporan dari Evan bahwa "Nyonya sedang berada di ruang gym" membuatnya memutar langkah. Pria itu berdiri diam di kegelapan lorong, menatap istrinya yang sedang bersusah payah menahan berat tubuhnya sendiri di atas matras.
Keano menyipitkan mata. Ia melihat ekspresi Alzena yang sangat asing. Tidak ada kesedihan, yang ada hanyalah kemarahan dan tekad yang keras. Cara Alzena menggertakkan gigi dan menatap tajam ke arah cermin benar-benar mengingatkannya pada seseorang.
*Siapa kau sebenarnya?* tanya Keano dalam hati. Rasa penasaran itu kini bukan lagi sekadar kecurigaan, tapi sudah mulai berubah menjadi obsesi yang mengganggu tidurnya.
Setelah hampir tiga puluh menit berlatih hingga hampir pingsan, Alzena menyerah. Ia berbaring telentang di matras, menatap langit-langit dengan napas yang satu-satu. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di samping, membuka aplikasi pelacak data yang ia buat semalam.
Ia kembali mencari nama "Arcelia Vionette". Ia melihat foto-foto lama dirinya di berita. Rambut merah yang berani, mata yang penuh binar licik, dan gaya hidup yang bebas. Lalu ia melihat foto masa kecil Alzena di database keluarga Halim yang berhasil ia curi aksesnya.
"Kenapa garis rahang kita bisa semirip ini?" bisik Alzena sambil membandingkan fotonya sendiri dengan foto Alzena. "Apa ini cuma kebetulan karena kita satu gen? Tapi kenapa gue ngerasa... ada yang hilang?"
Setiap kali ia mencoba menggali memori tentang taman bermain yang ada di sketsa pita merah itu, kepalanya terasa seperti dipukul palu. Ada sebuah blokade mental yang sangat kuat di otak Alzena. Seolah-olah Alzena yang asli sengaja mengunci ingatan itu agar tidak perlu merasakan sakitnya lagi.
"Oke, pelan-pelan," Alzena menenangkan dirinya sendiri. "Gue nggak bisa paksa otak ini kalau badannya aja masih seletoy ini."
Ia bangkit dan berjalan keluar dari gym. Ia terkejut saat mendapati Keano berdiri di lorong, bersandar pada tembok dengan tangan terlipat di depan dada. Wajah pria itu datar, tapi matanya menelusuri tubuh Alzena yang basah oleh keringat dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Sejak kapan kau suka berolahraga?" tanya Keano dingin.
Alzena sedikit terkejut, tapi ia dengan cepat memasang wajah cueknya. "Sejak gue sadar kalau gue butuh tenaga buat cerai sama lo nanti. Lo tahu kan, bawa koper itu berat?"
Rahang Keano mengeras. Ia melangkah mendekat, mengintimidasi Alzena dengan tinggi badannya yang menjulang. "Sudah kubilang, jangan pernah sebut kata itu lagi. Kau tidak akan pergi ke mana pun tanpa izin dariku."
"Oh ya? Kenapa? Takut kehilangan pajangan cantik di rumah ini?" Alzena menantang, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari dada Keano.
Keano tiba-tiba mengulurkan tangannya, menyentuh leher Alzena yang masih basah oleh keringat. Jarinya yang dingin membuat Alzena merinding. Keano bisa merasakan denyut nadi Alzena yang kencang di bawah kulitnya yang tipis.
"Kau sangat berbeda," bisik Keano, suaranya kini terdengar rendah dan serak. "Alzena yang kukenal tidak punya tatapan seperti ini. Dia juga tidak punya keberanian untuk menyentuh peralatanku."
"Mungkin dia cuma lagi akting selama dua tahun ini, dan sekarang dia capek," sahut Alzena sambil menepis tangan Keano. "Sekarang minggir. Gue mau mandi."
Saat Alzena melewati bahunya, Keano tiba-tiba menarik lengan wanita itu. Tarikannya tidak kasar, tapi cukup kuat untuk membuat Alzena berputar kembali menghadapnya.
"Jangan pernah mencoba melakukan sesuatu yang berbahaya di belakangku, Alzena," ancam Keano pelan. "Aku punya mata di mana-mana di rumah ini. Termasuk apa yang kau lakukan dengan laptop itu."
Alzena tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat meremehkan. "Mata-matai aja sepuas lo, Keano. Tapi inget satu hal... seorang hacker—maksud gue, orang yang pinter—selalu tahu gimana cara nutupin jejaknya. Lo cuma bakal liat apa yang gue pengen lo liat."
Alzena melepaskan lengannya dengan sentakan kasar dan berjalan menuju kamarnya, meninggalkan Keano yang terpaku dengan emosi yang bergejolak.
Hacker? Keano menangkap kata itu. Istrinya baru saja menyebut kata hacker secara tidak sengaja.
Keano segera merogoh ponselnya dan menghubungi Evan. "Evan, periksa semua riwayat pencarian di koneksi Wi-Fi mansion selama 24 jam terakhir. Jangan sampai ada yang terlewat."
"Baik, Tuan. Tapi Nyonya Alzena sepertinya menggunakan VPN atau semacamnya, sistem kami kesulitan melacaknya semalam," lapor Evan dengan nada ragu.
Keano mematikan ponselnya. Amarahnya memuncak, tapi ada rasa senang yang aneh. Ia merasa seperti sedang memburu mangsa yang sangat licin. Dan mangsa itu tinggal satu atap dengannya.
Di dalam kamarnya, Alzena langsung mengunci pintu biometriknya. Ia duduk di lantai, bersandar pada pintu sambil memegangi dadanya.
"Hampir aja gue keceplosan," gumamnya. "Keano bener-bener kayak predator. Dia nggak dingin, dia cuma nunggu waktu buat nerkam."
Ia membuka laptopnya lagi. Kali ini ia tidak mencari data Arcelia. Ia masuk ke dalam arsip digital rumah sakit tempat ibunya, Mirelle Halim, sering berkonsultasi. Ia menemukan bahwa Mirelle menderita depresi kronis sejak putri bungsunya hilang.
"Ibu..." Alzena menyebut kata itu dengan sangat canggung. Lidahnya terasa kaku. "Kenapa gue ngerasa pengen peluk tante ini?"
Tiba-tiba, sebuah email masuk ke akun palsu yang ia gunakan untuk memancing data panti asuhan. Isinya hanya satu kalimat singkat:
[Kau terlalu banyak bertanya tentang anak yang sudah mati. Hentikan, atau kau akan menyusulnya.]
Alzena menyeringai. Bukannya takut, ia justru merasa sangat bersemangat. "Hancurin mental orang itu hobi gue. Sekarang lo yang mulai main-mian sama gue."
Ia mulai mengetik balasan: [Sayangnya, gue udah pernah mati sekali. Dan ternyata... di sana bosen banget. Jadi gue mutusin buat balik dan hancurin rencana sampah lo.]
Alzena menutup laptopnya dengan keras. Ia menatap pita merah yang ia temukan kemarin. Memorinya masih samar, tapi satu hal yang ia yakini: ada seseorang di keluarga Halim yang sangat tidak menginginkan Arcelia atau Alzena bahagia. Dan orang itu akan segera menyesal karena telah memancing singa yang baru saja bangun dari tidurnya.
"Besok," gumam Alzena. "Besok gue bakal temuin Ibu Mirelle. Gue harus liat wajah itu secara langsung."
...****************...
Arcelia Vionette
Alzena Mirelle Halim
Keano Alistair Winchester
...----------------...
Cocok gak visual nya?
...****************...
TBC
aku udh mmpir....crtanya seru mskpn pnuh misteri,tp ga sbar krna pnsran....
d tnggu up'ny kk....smnggttt.....😘😘😘