Seorang gadis terbangun di tengah rimbunnya hutan benua Vlagria tanpa ingatan bagaimana ia bisa sampai disana. Ini adalah dunia Celestia Online, sebuah MMORPG megah yang menjanjikan petualangan tanpa batas. Namun, bagi Alice, petualangan itu berubah menjadi teka-teki mematikan. Bisakah Alice pulang ke dunia nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alicea0v, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 1-Persiapan Dan Jamuan Di Ambang Maut
"XENA! HATI-HATI!"
Teriakan Arthur menggema, memantul di antara dinding pertokoan Distrik Komersial kota Silph, Eltra Celestia yang sibuk. Namun, peringatan itu kalah cepat dibandingkan gravitasi.
Xena, sang penyihir dengan potensi destruktif High-Magic Tier 5, baru saja tersandung ambang pintu toko perlengkapan alkimia. Tubuhnya terjerembab ke depan. Dalam upaya panik untuk meraih keseimbangan, tongkat sihirnya menyenggol jajaran botol ramuan di rak terdekat.
PRANG! PYAR! BOOM!
Bukannya pecah secara normal, campuran cairan alkimia itu bereaksi secara instan. Ledakan asap berwarna merah muda cerah membubung tinggi, memenuhi seisi toko hingga tumpah ruah ke jalanan.
“Ramuan ku! Itu bahan langka, kau mau menggantinya dengan apa?!” raung pemilik toko. Suaranya yang melengking menarik perhatian orang-orang yang melintas.
"Uhuk... uhuk..." Xena merangkak keluar dari kepulan asap pink tersebut. Wajah cantiknya kini belepotan serbuk ajaib berkilauan, dan topi kerucut besarnya miring dengan posisi yang menyedihkan.
"Hehe... maaf. Sepertinya aku salah menginjakkan kaki."
Arthur, yang kini tampil gagah dengan pelindung dada baja baru yang mengilap, menepuk jidatnya dengan ekspresi putus asa. Tubuh kekarnya tampak tegang menahan malu.
"Xena, kita bahkan belum keluar kota, dan kau sudah hampir meledakkan satu toko."
"Setidaknya asapnya wangi," gumam Albertio sembari menguji ketajaman katana barunya, sama sekali tidak terusik oleh kekacauan di sekitarnya. Ia menjatuhkan sekantong koin ke tangan pemilik toko, sebuah gestur instan yang seketika meredam kepanikan pria paruh baya tersebut.
"Rival ku yang kaku, tenanglah sedikit. Tanpa kecerobohan Xena, persiapan ini akan membosankan." ucapnya datar.
"Diam kau, pendekar katana bodoh," balas Arthur sinis. Integritas moralnya terusik oleh sikap santai Albertio.
"Kita butuh efisiensi, bukan komedi konyol."
Di sisi lain, Violet sedang asyik mengagumi satu set throwing knives baru yang baru saja dibelinya. Ia mengusap bilah perak itu ke pipinya dengan gerakan mesra, matanya berbinar riang seolah sedang memegang permata berharga.
"Wah, belati-belati ini cantik sekali!" seru Violet dengan nada polos yang kekanak-kanakan.
"Aku tidak sabar ingin melihat seberapa dalam mereka bisa menembus tenggorokan Goblin. Pasti suara 'crot'-nya merdu sekali, ya? Terus, kalau darahnya muncrat, pasti seperti kembang api! Ahahaha.."
Tawanya yang bernada tinggi dan tulus itu membuat beberapa petualang kawakan yang lewat bergidik ngeri. Kontras antara wajah imut dan kata-kata haus darahnya adalah sebuah teror tersendiri.
Alice, yang berdiri tepat di dekat Violet, hanya bisa menelan ludah dengan susah payah. Tubuhnya terasa semakin rapuh mendengar fantasi mengerikan rekan barunya. Di balik helaian rambut merah muda yang membingkai wajahnya, pikiran Alice berputar liar.
"Apa tim ini benar-benar bisa bertahan hidup?" Alice membatin getir. Ia merasa seperti anomali di tengah sekumpulan orang gila yang tidak masuk akal ini.
Setelah selesai melengkapi berbagai perlengkapan petualangan, mereka mulai mencari tempat untuk mengisi perut yang mulai keroncongan. Alice dan kawan-kawan akhirnya berhenti di sebuah restoran yang terlihat cukup menawan, sebuah tempat yang direkomendasikan dengan penuh antusias oleh Xena.
"Lihat, itu adalah 'beeflove beef beef stick'!"Xena menunjuk ke arah restoran di depan mereka dengan mata yang berbinar-binar penuh damba.
"Beeflove? Apa?" Alice mengernyitkan dahi. Logika modernnya mencoba memproses nama unik tersebut.
"Ah, 'beeflove beef beef stick', itu restoran terenak yang menyajikan daging beruang di kota ini! Bukan cuma beruang, ada sup mini kraken, daging Orc, bahkan kerupuk kulit Minotaur! Ehehe...!" Xena menatap kedai itu dengan air liur yang mulai menggenang di sudut bibirnya.
Mata Alice membelalak. Ia mencerna informasi itu dengan ngeri.
"Daging monster? Serius?!"
"Oo... Oooh.. Hebat sekali..!!" Alice Pura-pura antusias demi menghargai temannya, meski batinnya menjerit jijik.
"Astaga... Semoga masih ada makanan yang normal disini!" Alice membatin penuh kecemasan.
"Tenang nona kelinci, mereka tidak menjual sup wanita kelinci kok." goda Violet sembari menyeringai nakal ke arah Alice. Candaan itu sukses membuat Alice semakin canggung.
"A... ahahaha... benar.. yah benar juga... ahahaha.. " Alice tertawa garing untuk menutupi rasa gugupnya.
Gadis itu menatap papan nama restoran itu sekali lagi, lalu mengejanya dengan nada yang teramat polos.
"Beeflove-beef-beef-stick..."
"Pftt... " Arthur refleks menutup mulutnya dengan tangan, berusaha keras menahan tawa melihat betapa lugunya ekspresi Alice saat mengeja nama konyol tersebut.
Meski ini pertama kalinya bagi Arthur ke tempat ini, melihat reaksi Alice adalah hiburan yang tak terduga.
Alice seketika menoleh ke arah Arthur dengan tatapan kesal yang tajam.
"Apa?"
Arthur tertegun sejenak, lalu buru-buru memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Ah tidak... aku hanya... sedang mencium aroma sarung tangan baruku." ucap Arthur sembari menurunkan tangan yang tadi menutupi bibirnya.
"Oh begitu.. " Alice menatap Arthur yang masih membuang muka itu dengan durasi yang sedikit lebih lama dari biasanya.
"A.. Alice? Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Arthur dengan nada suara yang mulai gugup.
Alice hanya menyipitkan matanya, seolah sedang menyelidiki sesuatu, sebelum akhirnya menjawab.
"Tidak ada, aku hanya berpikir, kau ternyata cukup manis jika sedang berbohong."
DEG.
Tubuh Arthur menegang seketika. Pipinya merona merah padam, dan ia mendadak kehilangan kemampuan untuk bicara.
"Hebat sekali.. Kau baru saja meruntuhkan tembok paling kokoh di kota Silph hanya dengan beberapa kata, Alice." sahut Albertio, sengaja menyiramkan minyak ke dalam api yang sedang berkobar di wajah Arthur.
"Arthur, kau kenapa? Sepertinya kau kekurangan energi, ayo kita makan dulu supaya wajahmu tidak semerah itu." tanya Xena dengan wajah tanpa dosa, sementara Violet hanya terkekeh penuh arti di samping mereka.
"Su..sudahlah... ayo masuk." perintah Arthur pelan, berusaha menyembunyikan rasa malunya yang membuncah.
Mereka pun melangkah masuk dan memilih meja panjang di pojok ruangan, agar bisa berkumpul bersama.
Arthur duduk berdampingan dengan Albertio, sementara di seberang mereka, Violet duduk diapit oleh Alice dan Xena.
Tiba-tiba, seorang pelayan yang mengenakan kostum beruang mungkin sebagai maskot restoran, menghampiri meja mereka dengan gaya yang sangat eksentrik.
"Sheeeeelll...amat siang.... nonah-nonah.. dan thuan-thuan yang berbahagia... Pada siang yang penuh dengan gelora membara ini, kalian mau makan apa?" tanya sang pelayan dengan nada dramatis, mirip aktor teater kelas teri di pinggir jalan.
Beruang itu menyodorkan menu dengan gerakan yang sangat berlebihan.
"Hummp!!!" Ia meletakkan menu di atas meja sambil berpose satu tangan di atas kepala, memberikan kesan yang... Bodoh?
Alice mati-matian menahan tawanya yang mulai menggelitik perut, namun ia tetap berusaha memaksakan senyum ramah agar tidak menyinggung perasaan sang pelayan.
"Aku mau daging beruang spesial dengan saus kacang ya! Jangan lupa minumnya anggur!" seru Xena penuh semangat.
"Aku daging sapi saja, kau bagaimana Alice?" tanya Violet sambil menyenggol lengan Alice pelan, menyadarkannya dari lamunan tentang keganjilan tempat ini.
"Eh? Yah aku.. aku sama seperti.." Kata-kata Alice terhenti. Wajahnya mendadak berubah serius dengan kening yang sedikit berkerut.
"Kalau aku makan daging sapi berlebihan, apa beratku di dunia ini akan semakin bertambah drastis seperti di dunia nyata? " Alice berpikir keras, terjebak dalam pertempuran batin antara nafsu makan dan obsesi menjaga proporsi tubuhnya.
"Alice? Kau kenapa?" Tanya Arthur khawatir.
"Apa kau tiba-tiba merasa ragu untuk pergi ke dungeon?" Ia mengira Alice ketakutan menghadapi monster, padahal Alice lebih takut kehilangan bentuk pinggangnya.
"Ini Alice, daging beruang disini lebih enak. Coba saja.." Xena menunjuk menu, yang secara tidak langsung justru memperkeruh pikiran Alice.
Suara-suara mereka akhirnya menyadarkan Alice kembali.
"Ah.. Tidak apa-apa Arthur, aku.. aku mau beberapa roti dan segelas susu saja." Alice tersenyum canggung ke arah maskot beruang di hadapannya.
Mendengar pesanan itu, sang beruang langsung berputar-putar seperti penari balet yang kehabisan panggung.
"Dhi.... terima... pesanan anda sudah masuk ke dalam daftar kegelaphan... nona-nona cantik.." Jari-jarinya bergerak dengan ritme yang dramatis sekaligus aneh.
"Ini orang kenapa ya?" pikir Alice, benar-benar heran sejadi-jadinya.
"Uhum kalau begitu aku akan meminta daging ber... ah maksudku sapi, sama seperti Violet." ucap Arthur dengan nada tenang.
"Aku juga..." tambah Albertio, yang seketika disambut dengan putaran balet serupa dari sang maskot. Wuuush...!!
"Dhiii therima... thuan-thuan.. Silahkan menunggu pesanannyaaah...!!!" Maskot itu melenggang pergi dengan gaya dramatis menuju meja kasir.
Arthur dan Albertio hanya bisa menggelengkan kepala melihat pemandangan itu, sementara Alice menatap kepergian sang maskot dengan tatapan malas yang tak habis pikir.
"Xena, kapan-kapan, jangan ajak kami makan disini lagi." bisik Arthur pelan.
"Arthur! Tempat ini adalah favorit warga Silph! Kau ini benar-benar tidak tahu selera yang bagus ya?" balas Xena dengan wajah kesal yang justru terlihat sangat imut.
Arthur terdiam sejenak, enggan menambah beban emosional di pundaknya. Ia tahu berdebat dengan Xena adalah jalan buntu yang tak berujung.
Setelah keheningan yang cukup lama, Arthur akhirnya menjawab pelan.
"Aku mengerti.. Xena, maafkan aku." Ia meminta maaf atas sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak paham di mana letak kesalahannya, sementara Albertio hanya diam memaklumi nasib rekannya itu.
Sembari menunggu pesanan tiba di meja panjang itu, mereka mulai berdiskusi mengenai Dungeon Athena dengan nada yang lebih serius. Albertio membuka pembicaraan, memecah keheningan yang sempat menggantung.
"Dengar, dungeon yang akan kita masuki ini bukanlah tempat biasa. Apa kalian benar-benar sudah siap?" ucapnya tenang, tatapannya lurus menatap rekan-rekannya satu per satu.
"Apa sebenarnya bahaya utama dari dungeon ini?" Violet ikut merendahkan suaranya, menyadari atmosfer yang mendadak berubah tegang.
"Tempat ini adalah wilayah yang belum terjamah oleh pihak guild. Di dalam sana, mungkin tersimpan harta karun atau rahasia kuno yang sangat berharga," balas Albertio pelan, seolah takut ada telinga lain yang mencuri dengar.
"Aku pernah mendengar legenda kuno tentang dunia ini," timpal Arthur sembari menopang dagu dengan kedua tangannya di atas meja.
"Konon, ada berbagai macam item purba yang menjaga keseimbangan dunia. Sampai sekarang, benda-benda itu belum pernah ditemukan."
"Item purba? Apa maksudmu sejenis Divine Relic Item?" tanya Alice sembari menyipitkan matanya, sebuah kebiasaan yang muncul saat ia sedang berpikir keras.
Alice teringat pada Celestia Online, game yang dulunya ia mainkan melalui Tabung Stelion, peralatan canggih dari tahun 2105. Teknologi itu mampu mengirim kesadaran pemain ke dalam dunia MMORPG berbasis level, dengan batas tertinggi mencapai level 90.
Dalam pengetahuan yang ia miliki, benda-benda penjaga keseimbangan itu dikenal sebagai Divine Relic, pusaka yang mampu membuat penggunanya melampaui batas kekuatan normal.
Di dunia ini, kekuatan penyihir dan ksatria terbagi menjadi delapan tingkat. Tingkat 1 dan 2 adalah sihir rendah yang biasanya digunakan tanpa embel-embel khusus. Tingkat 3 hingga 4 adalah sihir menengah atau Mid-Magic. Tingkat 5 dan 6 merupakan sihir tinggi yang disebut High-Magic, sementara tingkat 7 hingga 8 adalah puncak kekuatan yang dikenal sebagai Super-Magic.
Secara teknis, sihir tingkat 1 dapat diakses sejak level 1, dan setiap kenaikan 10 level memungkinkan seseorang untuk naik ke tingkat sihir berikutnya. Alice yang saat ini berada di level 30 secara teori mampu mengakses kekuatan hingga tingkat 4, atau kategori menengah atas.
"Jika benar item sekelas itu ada di sana, maka kita benar-benar sedang mencari mati!" seru Alice dengan nada yang sedikit panik.
"Apa sebaiknya rencana ini kita batalkan saja?" balas Xena dengan raut wajah ragu.
Arthur dan Albertio terdiam sejenak, saling bertukar pandang sebelum akhirnya Albertio memberikan jawaban.
"Tenanglah. Kita hanya akan menyelidiki lantai atas saja. Kita tidak akan turun ke bagian yang lebih dalam," sahut Albertio dengan nada yang menenangkan.
"Xena, apakah semua persediaan potion sudah disiapkan?" tanya Arthur dengan wibawa kepemimpinannya.
"Ah.. i.. iya... semuanya ada. Mana potion dan life potion ada di sini." Xena merogoh tas sandangnya dengan tergesa-gesa. Namun, karena terlalu gugup, satu botol potion tergelincir dari tangannya.
Prang..!!
Suara pecahan kaca itu membuat mereka semua tersentak. Violet dengan sigap segera menutup tas Xena.
"Jangan dibuang begitu saja, sayang. Potion itu untuk diminum, bukan dilempar ke lantai!" bisik Violet dengan nada memperingatkan.
"Maaf.. aku tidak akan menjatuhkannya lagi," sahut Xena dengan wajah penuh penyesalan.
"Kalian harus berjanji, ya? Kita hanya menjelajahi lantai atas lalu segera pulang," potong Alice kembali, kegelisahan masih terpancar jelas dari raut wajahnya.
"Ya... tentu saja..." balas Arthur mantap, yang disusul dengan anggukan pelan dari Albertio.
Perdebatan mereka seketika terhenti saat sang maskot beruang kembali muncul dari arah dapur, membawa nampan besar berisi pesanan mereka dengan gaya teatrikalnya yang khas.
"Makanan shiaaap.." ia berputar sekali lagi, nyaris menumpahkan sepotong daging dari piringnya, lalu meletakkan pesanan itu dengan sedikit kasar di atas meja.
Wuuush... Braak!!
Alice terkesiap sesaat dengan mata terbelalak. Sebelum ia sempat mengendalikan diri, di hadapannya, "beruang" aneh itu mulai membagikan piring satu persatu dengan gaya teatrikal.
"Daging beruang kematian, dan anggur zaman purba!! Hump!" pria itu melemparkan piring ke sisi Xena. Brak!!
"Daging sapi hasil korupsi bangsawan... Hummp!!" piring daging itu mendarat di depan Violet, Arthur, dan Albertio secara berurutan. Brakk tak tak..!!
"Dua potong roti dan segelas susu dari kerajaan sebelah!" sang maskot memberikan nampan kecil itu sambil membungkuk dalam-dalam di depan Alice, gerakannya benar-benar mirip drama panggung yang berlebihan.
Alice tertegun sejenak, lalu menerima gelas dan roti itu dengan senyum yang dipaksakan.
"Aah.. Terima kasih.." ucapnya dengan nada yang diusahakan tetap ramah.
Di seberang meja, Arthur menggenggam tangannya erat-erat, berjuang keras menahan amarah yang mulai mendidih. Sementara itu, Albertio menepuk tangan Arthur pelan, memberikan dukungan moral seolah-olah mereka sedang berada di tengah pertarungan melawan boss dungeon yang sangat menyulitkan.
"Kalau begituh saya permisi dhuluuu... Babay..." beruang itu memutar tubuhnya dan kembali melenggang menuju kasir.
Keheningan sempat menyelimuti meja mereka, hanya diselingi suara denting sendok dari Xena yang mulai makan dengan sangat lahap hingga mulutnya belepotan.
"Ba.. baiklah teman-teman, ayo kita makan!" Alice mencoba mencairkan suasana.
Mereka akhirnya mulai makan dengan perasaan yang campur aduk, sebagian besar merasa kesal, kecuali Xena yang tampak sangat menikmati hidangannya. Beberapa menit berlalu terasa sangat lama bagi mereka, hingga akhirnya makan siang yang aneh itu pun selesai.
Mereka segera bergegas keluar dari restoran yang bagi Arthur lebih cocok disebut "restoran kehancuran" itu. Wajah Arthur masih menunjukkan sisa-sisa emosi yang bergejolak.
"Mmm.. Restoran aneh apa tadi itu?" gumam Arthur kesal, yang langsung disambut tatapan tajam dari Xena.
"Hmm? Kenapa, Arthur? Makanannya enak, kan?" tanya Xena dengan wajah tanpa dosa.
Arthur menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya kembali.
"Ah ya, benar.. Mari kita bersiap ke dungeon setelah ini," ucap Arthur sembari berjalan cepat membelah kerumunan kota yang padat.
"Dia kenapa sih?" gumam Xena, merasa heran sendiri.
"Xena sayang.. tenang saja, dia hanya... terlalu bersemangat, ahaha.." Violet mendekatkan wajahnya ke arah Xena sambil terkekeh, sementara Albertio mengikuti langkah Arthur tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Wah wah.. Hebat sekali.. Apa benar di dungeon nanti kita akan baik-baik saja?' rengek Alice di dalam hatinya, merasa sedikit was-was dengan dinamika timnya yang unik ini.
Beberapa jam kemudian, mereka sudah berdiri di depan sebuah lubang raksasa di bawah akar pohon purba. Udara yang keluar dari sana terasa dingin dan berbau amis, Ini adalah Dungeon.
"Formasi standar," perintah Arthur, sembari mengenakan kembali helm peraknya.
"Aku di depan. Albertio dan Violet di sayap. Xena di tengah. Alice, tetaplah di sampingku. Jangan lepaskan pandanganmu dari punggungku."
Senter sihir dinyalakan. Cahaya biru pucat menyapu dinding batu yang dipenuhi simbol-simbol kuno yang mulai retak seperti dunia yang sedang mereka tinggali. Alice melangkah masuk ke dalam kegelapan yang menelan mereka. Ia tahu, di dalam reruntuhan ini, satu kesalahan kecil bisa berakibat fatal.
Kegelapan itu menyambut mereka dengan suara geraman yang menggema dari kedalaman tanah. Petualangan yang sesungguhnya telah dimulai.
cape😅