NovelToon NovelToon
Matahari Untuk Erlan

Matahari Untuk Erlan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Erlan Pratama, seorang direktur muda yang ambisius, berhasil memenangkan sengketa hukum atas sebidang tanah strategis yang ditempati rumah susun tua. Dengan rencana besar di kepalanya, ia memutuskan melakukan penggusuran demi proyek pembangunan yang diyakininya akan membawa keuntungan besar. Namun, hari eksekusi yang seharusnya berjalan lancar justru menjadi titik balik dalam hidupnya.

Di tengah kericuhan warga yang menolak digusur, Erlan dikejutkan oleh kehadiran Linda Sari, mantan kekasihnya yang pernah menghilang tanpa kabar. Linda terlihat berbeda, lebih rapuh, namun tetap tegar. Di pelukannya, seorang bayi perempuan berusia tiga tahun menangis ketakutan melihat situasi di sekitarnya. Tatapan Erlan terpaku pada anak itu, memunculkan pertanyaan yang tak bisa ia abaikan.

Pertemuan tak terduga itu membangkitkan kembali kenangan lama, sekaligus membuka luka yang belum sembuh. Erlan mulai meragukan keputusannya, sementara Linda menyimpan rahasia besar yang bisa mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 27

Siang itu Erlan tampak tenggelam dalam pekerjaannya. Berkas-berkas menumpuk rapi di atas meja, layar laptopnya menampilkan laporan demi laporan yang harus ia selesaikan sebelum sore tiba. Wajahnya terlihat tenang, tetapi sorot matanya menyimpan sesuatu yang berbeda dari biasanya—sebuah keteguhan yang sulit dijelaskan.

Di luar ruangannya, Adi dan Rama bergerak cepat. Keduanya hampir tidak punya waktu untuk duduk. Telepon berdering tanpa henti, pesan masuk bertubi-tubi, dan jadwal pertemuan terus berubah. Mereka mengatur komunikasi dengan berbagai pihak, memastikan kerja sama tetap berjalan, sekaligus menyusun agenda untuk peluncuran produk baru perusahaan.

“Pak Erlan, untuk pertemuan dengan pihak distributor sudah kami konfirmasi ulang,” ucap Adi sambil membuka pintu dengan hati-hati.

Erlan hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari layar. “Pastikan tidak ada yang terlewat.”

“Baik, Pak.”

Beberapa saat kemudian, Rama masuk membawa tablet di tangannya. “Pak, ada beberapa jadwal yang perlu disesuaikan. Tadi pagi ada permintaan tambahan dari pihak investor.”

Erlan akhirnya mengangkat kepala. “Tunda yang tidak mendesak. Saya ada urusan lain sore ini.”

Rama mengernyit sedikit, lalu membuka jadwal di tabletnya. “Kalau begitu… jam empat sore masih bisa dikosongkan, Pak. Apakah itu cukup?”

Erlan mengangguk pelan. “Cukup.”

Rama tidak bertanya lebih jauh, tetapi dalam hatinya muncul rasa penasaran. Erlan bukan tipe orang yang mengubah jadwal tanpa alasan penting. Namun, melihat ekspresi atasannya, ia memilih untuk diam.

Setelah Rama keluar, Erlan bersandar di kursinya. Ia menatap langit-langit sejenak, menarik napas panjang.

Hari ini.

Hari di mana ia akan melakukan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Selama ini, ia selalu mengikuti kehendak ayahnya. Apa pun keputusan yang diambil keluarga, ia jalani tanpa banyak protes. Ia menjadi sosok yang diharapkan—putra sulung yang sempurna, penerus perusahaan, simbol kebanggaan keluarga.

Namun hari ini berbeda.

Hari ini, ia akan melawan.

Erlan menatap tangannya sendiri, lalu mengepalkannya perlahan. Semua sudah ia persiapkan. Segala kemungkinan sudah ia pikirkan, termasuk kemungkinan terburuk—diusir dari keluarga, kehilangan jabatan, bahkan kehilangan semua yang selama ini ia miliki.

Namun, anehnya, ia tidak merasa takut.

Yang ia rasakan justru kelegaan.

Pikirannya melayang pada Linda.

Wanita itu mungkin tidak memiliki apa-apa menurut standar keluarganya. Tidak berasal dari keluarga terpandang, tidak memiliki latar belakang yang bisa dibanggakan dalam dunia bisnis.

Tetapi Linda memiliki sesuatu yang tidak pernah ia temukan di tempat lain—kehangatan.

Erlan tersenyum tipis.

Bersama Linda, ia belajar tentang kehidupan yang sebenarnya. Tentang bagaimana rasanya menghadapi kesulitan, tentang bagaimana menghargai hal-hal kecil, tentang bagaimana menjadi manusia, bukan sekadar pewaris kekayaan.

Dulu, ia tidak pernah memikirkan uang. Semua selalu tersedia. Apa yang ia inginkan, langsung ia dapatkan. Ia bahkan tidak pernah benar-benar memahami arti kehilangan.

Namun ketika ia hidup bersama Linda, semuanya berubah.

Ia merasakan bagaimana sulitnya memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia melihat Linda berjuang tanpa mengeluh. Ia belajar bahwa hidup tidak selalu tentang kemewahan, tetapi tentang kebersamaan dan ketulusan.

Dan dari situlah, ia berubah.

Erlan menutup matanya sejenak.

Linda telah mengubahnya menjadi seseorang yang lebih manusiawi.

Karena itu, kali ini, ia tidak akan mundur.

Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya, Erlan berdiri. Ia merapikan jasnya, lalu berjalan keluar ruangan.

“Adi,” panggilnya.

Adi segera menghampiri. “Ya, Pak?”

“Saya akan keluar. Urus sisa pekerjaan hari ini.”

Adi mengangguk mantap. “Baik, Pak.”

Erlan kemudian menoleh ke arah Rama. “Kita berangkat sekarang.”

“Siap, Pak.”

Beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil. Rama duduk di kursi pengemudi, sementara Erlan di belakang, menatap ke luar jendela.

Perjalanan menuju perusahaan utama terasa lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada percakapan. Hanya suara mesin mobil dan lalu lintas kota yang terdengar samar.

Rama sesekali melirik ke kaca spion, memperhatikan Erlan. Namun ia tetap tidak berani bertanya.

Tak lama, mereka tiba di gedung utama perusahaan.

Gedung megah yang selama ini menjadi simbol kekuasaan keluarga Erlan.

Rama menghentikan mobil. “Sudah sampai, Pak.”

Erlan membuka pintu tanpa ragu. “Tunggu di sini.”

“Baik, Pak.”

Langkah Erlan mantap saat ia memasuki gedung. Para karyawan yang melihatnya segera memberi salam, tetapi ia hanya membalas dengan anggukan singkat.

Ia langsung menuju lantai atas, tempat kantor ayahnya berada.

Setiap langkah terasa berat, tetapi ia tidak berhenti.

Sampai akhirnya, ia berdiri di depan pintu yang sangat ia kenal.

Tanpa mengetuk, ia membuka pintu dan masuk.

Di dalam, ayahnya tampak duduk santai di kursi, menikmati secangkir teh. Wajah pria itu tetap tenang, seolah tidak ada yang penting sedang terjadi.

Tatapan mereka bertemu.

Ayahnya mengangkat alis sedikit. “Ada perlu apa?”

Nada suaranya datar. Tidak ada kehangatan, tidak ada rasa penasaran.

Erlan berjalan mendekat dan duduk di kursi di hadapannya.

“Ayah ingat Linda?” tanyanya langsung.

Ayahnya terdiam sesaat, lalu menggeleng ringan. “Tidak.”

Jawaban itu singkat. Dingin.

“Saya tidak ingat orang yang tidak penting.”

Erlan menatapnya tanpa berkedip. “Dia penting bagi saya.”

Ayahnya meletakkan cangkir tehnya. “Kalau begitu?”

“Saya akan menikahinya.”

Kalimat itu menggantung di udara.

Ayahnya menatapnya tajam. “Kamu bercanda?”

“Saya serius.”

Suasana berubah seketika.

“Kamu tahu apa yang kamu katakan?” suara ayahnya mulai meninggi. “Kamu, putra saya, ingin menikahi wanita yang bahkan tidak jelas asal-usulnya?”

Erlan tidak bergeming. “Saya tidak peduli.”

“Kamu seharusnya peduli!” bentak ayahnya. “Keluarga kita punya nama! Pernikahan bukan sekadar urusan perasaan. Ini tentang status, tentang keseimbangan, tentang kekuatan!”

Erlan tersenyum tipis. “Saya sudah lelah dengan semua itu.”

Ayahnya terdiam, terkejut dengan jawaban itu.

“Saya hanya ingin hidup dengan orang yang saya cintai,” lanjut Erlan. “Bukan dengan orang yang dianggap pantas oleh keluarga.”

Ayahnya menghela napas kasar. “Kamu sudah kehilangan akal.”

“Mungkin,” jawab Erlan tenang. “Tapi saya tidak menyesal.”

Beberapa detik berlalu dalam keheningan.

Lalu Erlan melanjutkan, “Dan satu hal lagi… kami sudah punya seorang anak.”

Tatapan ayahnya berubah.

“Apa?”

“Seorang putri.”

Ayahnya menyipitkan mata. “Kamu yakin itu anakmu?”

Pertanyaan itu seharusnya menyakitkan.

Namun Erlan hanya tersenyum.

“Saya tidak butuh pengakuan dari siapa pun.”

Ayahnya berdiri dari kursinya. “Kalau kamu benar-benar ingin melakukan ini… maka kamu tidak lagi menjadi bagian dari keluarga ini.”

Kalimat itu jatuh seperti palu.

Namun Erlan tidak menunjukkan reaksi yang diharapkan.

Ia justru berdiri perlahan.

“Baik.”

Ayahnya terkejut. “Apa?”

“Saya sudah siap dengan itu.”

Erlan memberi isyarat ke arah pintu.

Rama yang sejak tadi menunggu di luar segera masuk membawa sebuah map.

Erlan mengambilnya, lalu meletakkannya di meja.

“Apa ini?” tanya ayahnya curiga.

“Surat pengunduran diri saya.”

Ruangan itu kembali sunyi.

“Saya melepaskan jabatan saya sebagai wakil direktur utama,” lanjut Erlan. “Mulai hari ini, saya tidak lagi terlibat dalam perusahaan ini.”

Ayahnya menatap berkas itu tanpa menyentuhnya.

“Kamu gila,” katanya pelan.

“Mungkin,” jawab Erlan lagi. “Tapi untuk pertama kalinya, saya merasa hidup.”

Ia menatap ayahnya untuk terakhir kali.

“Terima kasih untuk semuanya.”

Tidak ada pelukan. Tidak ada kata perpisahan yang hangat.

Hanya dua orang yang berdiri berhadapan, dipisahkan oleh pilihan hidup yang tidak bisa disatukan.

Erlan berbalik.

Langkahnya mantap saat ia berjalan keluar dari ruangan itu.

Di luar, Rama menatapnya dengan cemas. “Pak…?”

Erlan tersenyum ringan.

“Ayo pulang.”

Untuk pertama kalinya, kata itu terasa berbeda.

Bukan pulang ke rumah mewah.

Bukan pulang ke kehidupan lama.

Tetapi pulang… ke tempat di mana ia benar-benar ingin berada.

Bersama Linda.

Dan putri mereka, Kirana.

1
Nessa
udalah balikan aja kalean
onimaru rascall: bapaknya ga bolehin karena pengen menantu yang setara keluarganya dari segi kekayaan 🤫🤫🤫
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!