NovelToon NovelToon
Hasrat Kumbang Sewaan

Hasrat Kumbang Sewaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Selingkuh
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Viaalatte

Di balik nama samaran “Romeo”, ada seseorang yang hidup dari hasrat orang lain.
Semuanya tampak sederhana—transaksi, waktu, dan kesepakatan tanpa perasaan. Dunia yang dingin, terukur, dan seharusnya tidak menyisakan apa-apa. Tapi semakin lama, batas antara peran dan diri sendiri mulai kabur.
Ketika satu pertemuan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit dari sekadar pekerjaan, “Romeo” mulai menyadari bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Ada perasaan yang tak seharusnya muncul. Ada masa lalu yang perlahan mengejar. Dan ada kenyataan yang memaksa dirinya melihat hidup dari sisi yang belum pernah ia hadapi sebelumnya.
Di saat yang sama, kehidupan di luar peran itu mulai retak—membuka rahasia, luka lama, dan tanggung jawab yang tak bisa lagi dihindari.
Kini, ia harus memilih: tetap menjadi “Romeo” yang dibayar untuk memenuhi hasrat, atau kembali menjadi dirinya sendiri… dengan segala konsekuensi yang menunggu.
Karena tidak semua kumbang sewaan bisa terbang bebas setelah selesai bekerja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viaalatte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Ruang periksa itu terasa tenang.

Gilang duduk di kursi, sedikit condong ke depan. Wildan di sampingnya, bersandar lemah. Ibunya duduk di kursi roda, tangan menggenggam ujung bajunya sendiri.

Dokter membuka berkas di meja, membaca sebentar sebelum akhirnya menatap mereka.

“Pak Gilang, ya?”

Gilang mengangguk. “Iya, Dok.”

Dokter menarik napas pelan. “Saya paham ini pasti berat. Tapi kita coba bahas pelan-pelan, ya.”

Gilang hanya mengangguk lagi. Kali ini lebih kecil.

“Dari hasil pemeriksaan sebelumnya, adik Anda memang terindikasi infeksi HIV,” lanjut dokter dengan tenang. “Tapi ini bukan akhir. Dengan pengobatan yang rutin, kondisinya masih bisa dikontrol.”

Gilang menatap meja, lalu akhirnya bicara.

“Dok…” suaranya sedikit serak, “itu… bisa sembuh nggak?”

Dokter menggeleng pelan. “Untuk sekarang, belum bisa disembuhkan total. Tapi bisa dikendalikan. Banyak pasien yang tetap bisa hidup normal, sekolah, kerja… selama minum obat teratur.”

Gilang diam.

Tangannya mengepal di lutut.

“Terus… sariawan sama kondisi dia sekarang itu karena itu, Dok?” tanyanya lagi.

“Bisa jadi,” jawab dokter. “HIV menyerang sistem kekebalan tubuh. Jadi infeksi kecil seperti sariawan bisa jadi lebih parah atau lebih lama sembuhnya.”

Gilang mengangguk pelan.

Lalu ia terdiam sebentar.

Seperti menimbang sesuatu.

Matanya sempat melirik ke arah ibunya.

“Dok…” ia menarik napas, “HIV itu… bisa nyebabin kanker juga, ya?”

Ruangan itu mendadak lebih hening.

Dokter tidak langsung menjawab. Ia menatap Gilang beberapa detik, lalu mengangguk pelan.

“Dalam beberapa kasus, iya,” katanya hati-hati. “Karena daya tahan tubuh menurun, risiko beberapa jenis kanker bisa meningkat. Tapi itu biasanya terjadi kalau tidak terkontrol atau tidak diobati.”

Gilang menelan ludah.

Matanya kembali melirik ibunya—lebih lama kali ini.

Ibunya menunduk.

Dokter memperhatikan arah tatapan itu.

“Maaf,” katanya pelan, “saya perlu tanya satu hal.”

Ibunya sedikit mengangkat wajah.

“Apakah Ibu pernah menjalani pemeriksaan HIV sebelumnya?”

Ibunya terdiam.

Beberapa detik.

Lalu mengangguk kecil.

“Iya…” suaranya pelan.

Gilang langsung menoleh.

Wajahnya menegang.

Dokter melanjutkan dengan nada yang tetap tenang. “Apakah Ibu sedang menjalani pengobatan untuk itu? Seperti terapi ARV?”

Ibunya menggenggam tangannya lebih erat.

“Dulu sempat…” jawabnya lirih. “Tapi… beberapa bulan ini… saya berhenti.”

Gilang langsung menatapnya.

“Apa?” suaranya rendah, tapi jelas.

Ibunya tidak berani membalas tatapan itu.

Dokter sedikit mencondongkan tubuh. “Bu, obat itu harus diminum rutin. Kalau berhenti, virusnya bisa aktif lagi dan justru memperburuk kondisi, termasuk meningkatkan risiko komplikasi.”

Tidak ada jawaban.

Hanya napas yang terdengar pelan.

Gilang mengusap wajahnya kasar, lalu menunduk.

Beberapa detik ia diam.

Lalu akhirnya bicara lagi, lebih pelan.

“Dok… kalau sekarang mulai lagi… masih bisa, kan?”

Dokter mengangguk. “Masih. Kita bisa mulai lagi. Yang penting konsisten.”

Gilang mengangguk kecil.

Kali ini lebih mantap.

Ia menoleh ke arah Wildan, lalu ke ibunya.

Tangannya perlahan menggenggam sisi kursi roda.

“Berarti… kita mulai dari sekarang aja, ya, Bu.”

Dokter mengangguk pelan.

“Saya buatkan resepnya, ya. Untuk Wildan kita mulai terapi ARV dari awal. Obat ini harus diminum setiap hari dan tidak boleh putus.”

Gilang mengangguk. “Iya, Dok.”

Dokter melanjutkan, “Nanti juga akan ada kontrol rutin untuk melihat perkembangan. Yang penting sekarang mulai dulu dan disiplin.”

Ia lalu menulis resep.

“Untuk Ibu, obatnya dilanjutkan seperti biasa. Saya tambahkan beberapa vitamin untuk bantu kondisi tubuhnya.”

Gilang menerima resep itu. “Baik, Dok. Terima kasih.”

Mereka keluar dari ruang dokter dan menuju apotek.

Setelah menunggu, nama Gilang dipanggil.

“Silakan, Mas.”

Gilang maju ke kasir. Petugas menyebutkan total biaya obat.

Ia langsung mengambil dompet.

Namun ibunya lebih dulu mengeluarkan kartu dari dalam tas.

“Nak, pakai ini aja,” katanya.

Gilang langsung menggeleng. “Nggak usah, Bu. Aku bayar aja.”

Ibunya mengerutkan kening. “Loh, biasanya Ibu pakai ini, kan?”

Gilang diam sebentar. “Nanti aja, Bu.”

Petugas melihat kartu itu. “Boleh saya cek dulu, Bu?”

Ibunya mengangguk dan menyerahkannya.

Gilang tidak sempat menahan.

Petugas mengecek di komputer, lalu berhenti.

“Maaf, Bu… kartunya sudah tidak aktif.”

Ibunya terdiam. “Tidak aktif?”

“Iya, Bu. Sudah lama tidak aktif.”

Ibunya langsung menoleh ke Gilang.

“Lang… ini gimana maksudnya?”

Gilang menunduk.

“Sudah lama, Bu.”

“Sejak kapan?”

“Beberapa tahun.”

Ibunya terdiam, lalu suaranya mulai bergetar.

“Terus selama ini… biaya Ibu…?”

Gilang menjawab pelan. “Aku yang bayar.”

Ibunya langsung menutup mulutnya. Air matanya jatuh.

“Kenapa kamu nggak bilang?”

“Biar Ibu nggak kepikiran.”

Hening beberapa detik.

Gilang lalu menyerahkan uang ke petugas.

“Saya bayar, Mbak.”

Setelah selesai, ia mengambil obat.

Ia menoleh ke ibunya.

“Bu, kita pulang, ya.”

Ibunya mengangguk pelan.

Gilang mendorong kursi roda keluar dari apotek. Wildan berjalan di samping.

Tidak ada yang bicara.

Mereka baru beberapa langkah keluar dari apotek ketika Wildan tiba-tiba berhenti.

Wajahnya terlihat tidak nyaman.

“Kak…” suaranya pelan, “aku mau ke toilet.”

Gilang langsung menoleh. “Sekarang?”

Wildan mengangguk kecil.

Gilang melihat ke sekeliling, lalu menunjuk ke arah lorong.

“Ya sudah, ayo. Di sana kayaknya ada.”

Ia menoleh ke ibunya.

“Bu, tunggu di sini dulu, ya. Sebentar aja.”

Ibunya mengangguk. “Iya… hati-hati.”

Gilang lalu menuntun Wildan pelan ke arah toilet.

Langkah mereka pelan, hati-hati.

Tinggal ibunya sendiri di dekat area apotek.

Ia duduk diam di kursi rodanya, memegang tas di pangkuan. Pandangannya kosong, pikirannya masih tertinggal pada kejadian tadi.

Beberapa orang lalu-lalang, tapi ia tidak terlalu memperhatikan.

Sampai tiba-tiba—

tas kecil di pangkuannya tergeser.

Dompetnya jatuh ke lantai.

Ia belum sempat menyadari.

Seseorang yang berjalan dari arah berlawanan berhenti.

Membungkuk.

Mengambil dompet itu.

“Bu… ini jatuh.”

Ibunya sedikit terkejut, lalu mendongak.

Seorang wanita berdiri di depannya.

Rapi. Tenang.

Valeria.

Ibunya mengerutkan kening sebentar, seperti merasa wajah itu tidak asing, tapi tidak benar-benar ingat.

“Oh… iya, terima kasih,” ucapnya pelan sambil menerima dompetnya kembali.

Valeria mengangguk kecil.

“Tidak apa-apa, Bu.”

Ia sempat menatap sebentar—lebih lama dari sekadar orang asing biasa.

Ada sesuatu yang membuatnya berhenti.

“Mau nunggu keluarga, Bu?” tanyanya sopan.

Ibunya mengangguk. “Iya… anak saya lagi ke toilet.”

Valeria mengangguk lagi.

“Baik, Bu. Hati-hati.”

Ia hampir melangkah pergi.

Namun entah kenapa, langkahnya melambat.

Matanya sempat menyapu sekitar… seperti mencari sesuatu.

Sementara itu, dari kejauhan.....

Gilang sedang berjalan kembali bersama Wildan.

Dan saat pandangannya terangkat—

ia melihatnya.

Valeria.

Berdiri… tepat di depan ibunya.

Langkah Gilang langsung berhenti.

Dadanya terasa langsung sesak.

“Kenapa, Kak?” tanya Wildan pelan.

Gilang tidak langsung menjawab.

Matanya tetap terpaku ke depan.

Beberapa detik.

Lalu ia menarik napas pelan.

“Ayo,” katanya singkat.

Ia kembali berjalan.

Kali ini lebih cepat.

1
hrarou
kasian gilang sayang 🥺
Viaalatte: huhu iya kak🥺, makasih sudah mampir🥰♥️
total 1 replies
Viaalatte
yok baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!