Kiara adalah definisi dari wanita modern yang ambisius. Cantik, cerdas, dan gila kerja. Baginya, satu-satunya hal yang lebih seksi daripada pria tampan adalah saldo rekening yang terus bertambah.
Hingga dia bertemu mengenal Kenan Xequel.
Kenan adalah seorang CEO yang sombong menyebalkan dan sialnya sangat tampan. Dia mewarisi kerajaan bisnis Xequel Group dan terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkannya dengan jentikan jari.
Kiara memutuskan untuk menaklukkan hati pria sialan itu berstatus bosnya, bukan karena cinta saja tapi karena dia menginginkan segalanya.. Love and Money.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momy ji ji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 22.
Kiara hendak melangkah pergi, namun baru dua langkah, Ia merasakan sepasang tangan kekar melingkar di pinggangnya dari belakang.
Kenan memeluknya erat, menyandarkan dagunya di bahu Kiara.
"Tapi itu tidak akan terjadi karena dia kuanggap sebagai keluarga sendiri. Kiara," bisik Kenan tepat di telinganya.
"Lagipula, sekarang aku sudah bertemu denganmu."
Kiara masih tidak bergeming, meskipun detak jantungnya berdebar kencang.
"Kalau Pak Kenan belum bertemu denganku... apa Bapak akan menerima wanita lain?"
Kenan terkekeh pelan, baru sekali ini Kiara mendengar pria itu tertawa meski sedikit dan getarannya terasa hingga ke punggungnya.
"Kiara... kamu cemburu?"
"Jawab dulu pertanyaannya!" seru Kiara kesal, mencoba melepaskan pelukan itu.
Kenan mempererat pelukannya sebentar sebelum akhirnya menjawab.
"Mungkin tidak. karena sejak awal saat aku bertemu dengamu, kamulah yang terlihat sangat menarik di mataku. sementara wanita yang lain... mereka hanya terlihat biasa-biasa saja." Balas Kenan.
Hati Kiara menghangat, Diam-diam dia mengulum senyum dan Kenan mengetahuinya. karena dia bisa melihat pantulan wajah Kiara di kaca dinding samping mereka.
"Hemm... lepaskan dulu Pak. saya mau ke toilet."
Kenan akhirnya melepaskan dekapannya.
"Baiklah."
Di dalam toilet.
Begitu pintu bilik terkunci, Kiara menyandarkan kepalanya di pintu. Ia merutuki dirinya sendiri berkali-kali.
"Apa yang kulakukan? kenapa aku bertingkah konyol seperti tadi?" bisik Kiara frustrasi.
"Saat mendengarnya dari Arkan di mobil, aku merasa baik-baik saja dan tetap terkontrol. tapi kenapa saat membahasnya langsung dengan Kenan... hatiku terasa panas sekali?"
Ia membasuh tangannya di wastafel, menatap pantulan dirinya yang tampak kacau.
Perasaan asing itu mulai merayap masuk ke hatinya, sesuatu yang tak biasa. pikir Kiara menyentuh bagian letak jantungnya yang masih berdetak kuat.
Setelah kepergian Kiara dari ruangannya, aura Kenan kembali berubah menjadi dingin. Ia mengambil ponsel pribadinya dan menekan sebuah nomor.
"Robi, kembali dari luar negeri sekarang juga. biarkan urusan di sana diurus oleh orang kepercayaanmu. Aku butuh kamu besok sudah ada disini." perintah Kenan tanpa basa-basi.
"Lalu, siapkan sebuah kartu rekening baru atas nama Kiara. masukkan saldo 10 milliar disana. satu lagi... beli kembali Penthouse milik Kiara yang dulu sempat dijual. beli atas nama Kiara secara langsung."
Di seberang telepon, Robi terdengar ragu.
"Baik. tapi ada satu hal... Tuan dan Nyonya sudah menyuruh Anda pulang beberapa hari lalu untuk membahas tentang pertunangan."
Kenan menyunggingkan senyum miring yang penuh kemenangan.
"Bilang ke Mom dan Dad aku akan pulang. tapi katakan pada mereka bahwa aku pulang untuk menikah bukan bertunangan dengan Chloe. katakan pada Mom untuk menyiapkan pestanya mulai dari sekarang. dalam satu minggu, aku akan menikahi wanitaku."
Kenan menutup teleponnya, menatap ke jendela besar yang menampilkan langit cerah. Ia sudah memutuskan. masa pacaran tidak lagi penting baginya.
Kiara sudah masuk ke dalam hidupnya dan dia tidak akan membiarkan wanita itu memiliki celah sedikit pun untuk pergi.
***
Lampu-lampu kantor mulai meredup satu per satu, menyisakan keheningan yang tenang di lantai eksekutif. Kiara sedang merapikan beberapa berkas terakhir dan mengelap permukaan meja kerjanya dengan saksama.
Wajahnya sedikit lelah setelah seharian penuh dengan urusan proyek dan banyaknya berkas yang harus di audit dari berbagai divisi. namun binar matanya tetap hidup.
Tiba-tiba, ia merasakan kehadiran seseorang. Kiara menoleh dan mendapati Kenan sudah berdiri di sana, bersandar pada kusen pintu dengan tangan bersedekap. Jasnya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku—tampilan yang selalu sukses membuat Kiara terpesona.
Kiara melempar senyuman tipis yang manis.
"Pak Kenan, semua pekerjaan hari ini tuntas tas tas. jadwal Bapak untuk besok sudah saya siapkan. Jadi, bisakah asisten Bapak yang cantik ini pulang dan tidur di rumah dengan tenang?"
Kenan mengangguk pelan, tatapannya tidak lepas dari wajah Kiara.
"Hemm. Aku akan mengantarmu pulang."
Kiara tertawa pelan, mencoba mencairkan suasana yang mendadak terasa intim. melihat Kenan, entah kenapa pikirannya menjadi kotor.
"Saya bisa pulang sendiri Pak. naik taksi atau ojek online juga cepat."
"Aku bilang aku antar." tegas Kenan tanpa ruang perdebatan.
Kiara menghela napas pasrah, lalu meraih tasnya.
"Baiklah Pak Kenan Xequel. tapi Bapak jalan duluan ke parkiran ya?"
Kenan mengernyitkan dahi.
"Kenapa?" Tanyanya.
"Bapak lupa? tidak ada yang tahu hubungan kita secara resmi. kecuali Arkan dan satu teman saya. apa Bapak mau orang-orang kantor curiga kalau kita pulang bareng?"
"Kita sudah sering jalan bersama dan semua orang di gedung ini sudah tahu itu." balas Kenan.
"Tapi ini jam pulang Pak! suasananya jelas beda!"
Kenan melangkah mendekat, "Aku akan memecat siapa saja yang berani bergosip tentang nama baikmu. ikuti aku sekarang!"
"Ha... ha... ha. Iya Pak, iya! dasar tidak peka." gerutu Kiara sembari membuntuti langkah lebar Kenan dari belakang.
Tuntaskan tanggung jawab..... demi satu miliar... eh maksudku sepuluh miliar!
Mobil mewah Kenan akhirnya berhenti tepat di depan rumah Kiara. suasana jalanan perumahan yang sepi. Kiara sudah turun dari mobil, namun sebelum ia benar-benar melangkah pergi, jiwa jahilnya kembali meronta.
Ia berbalik, mendekati kaca jendela mobil yang terbuka. Kiara membungkuk, Kenan sedang menatapnya. Ia meraih rahang tegas Kenan dengan kedua tangannya yang kecil dan halus, lalu dengan berani ia mengecup bibir pria itu dengan cepat.
"Terima kasih untuk tumpangannya, Pak Pacar." bisik Kiara dengan kedipan mata yang menggoda.
Kiara hendak berbalik dan berlari masuk ke rumah, namun Ia meremehkan kecepatan refleks Kenan.
Dalam sekejap, Kenan sudah keluar dari mobil. meraih pinggang Kiara dan dengan satu gerakan kuat Ia menggendong wanita itu masuk kembali ke dalam kursi penumpang.
"Mau lari ke mana setelah memulai ini, hmm?" desis Kenan menutup pintu dengan satu kali gerakan.
Di dalam mobil yang tertutup itu, mereka saling berciuman panas. gairah yang sempat tertahan seharian meledak dalam keheningan malam. Kenan memeluknya seolah tidak ingin melepaskan Kiara sedikit pun. setelah beberapa menit yang penuh gejolak, Kiara akhirnya melepaskan diri dengan napas terengah.
"Sudah sudah sudah Pak... nanti Ibuku lihat."
Mohon Kiara sembari merapikan atasan pakaiannya yang sangat berantakan.
Kenan mengecupnya sekali lagi baru akhirnya melepaskan Kiara dengan berat hati.
Baru saja Kiara melangkah satu langkah menjauh dari mobil. suara Kenan kembali terdengar, namun kali ini nadanya terdengar sangat berbeda seperti terasa sangat berat.
"Kiara, mulai besok Robi akan mengambil alih tugas sebagai asisten sekaligus sekertarisku."
Kiara mematung. kepalanya menoleh cepat dengan mata membelalak.
"Apa!? tapi... bagaimana? kenapa mendadak begini?"
"Kita bahas saja besok." ucap Kenan tanpa menunggu jawaban, Ia segera melajukan mobilnya meninggalkan Kiara yang terpaku di pinggir jalan.
Kiara menatap lampu belakang mobil Kenan yang semakin menjauh. Air mata mulai menggenang di pelupisnya lalu jatuh membasahi pipinya.
"Dia mau memecatku... dia berbicara begitu berat tadi. Aku tahu kamu tidak tega Kenan Xequel! tapi kenapa harus sekarang?" isak Kiara pelan.
Ingatannya berputar, bagaimana dia berani masuk ruangan Kenan sejak pertama kali dan nasib-nasib sekertaris Kenan yang sudah puluhan lebih dipecat. sekarang dia juga akan bernasib sama? tapi dimana salahnya? karena dia mencium Kenan tadi? tapi pria itu membalasnya.
"Aku tidak mau dijauhkan darimu! enak saja dia memutuskan sendiri. setidaknya dengar pendapatku besok!"
Di dalam mobil yang melaju kencang, Kenan mengemudi sambil melonggarkan dasinya dengan kasar. Ia melihat melalui spion luar, Kiara yang masih berdiri mematung sambil menangis.
Hatinya sedikit berdenyut melihat air mata itu, namun dia harus segera pergi.
Dasar wanita bodoh! Kenapa dia masih berdiri dan menangis di sana? Geram Kenan dalam hati.
Ia harus menjauh karena dia merasa sudah tidak bisa menahan diri lagi. setiap kali dia melihat Kiara, bayangan malam itu dan gairah yang membara selalu menguasai akal sehatnya.
Dia memindahkan Kiara kembali ke divisinya semata-mata agar Ia bisa bekerja dengan tenang tanpa terdistraksi oleh keinginan untuk terus menyentuh wanita itu.
Kiara yang melihat mobil Kenan benar-benar menghilang, menghapus air matanya dengan kasar.
Rasa sedihnya kini bercampur dengan amarah. Ia masuk ke dalam rumah, menghela napas panjang berkali-kali untuk mengontrol emosinya. Kiara tidak ingin Ibu atau Neneknya menyadari bahwa ia baru saja menangis karena seorang pria brengsek.
"Lihat saja besok Pak Kenan. kamu pikir aku akan diam saja? Aku akan protes!" Kata Kiara sembari melangkah masuk ke kamarnya dengan hati yang hancur.
Bersambung...
tetap semangat berkarya 💪💪💪👍👍👍🥰🥰🥰
maafkan daku kak..salah ketik 🤣🤣😭