🌺 Sekuel cerita "Suami Rahasia Anindia", disarankan untuk membaca S1 terlebih dahulu agar ceritanya lebih nyambung untuk dibaca, terima kasih:)
•••
Setelah lulus SMA, Anindia dan Keanu memutuskan untuk melanjutkan pendidikan mereka di Universitas Trisakti Jakarta. Mereka berdua memiliki impian besar untuk masa depan, dan mereka tahu bahwa pendidikan adalah kunci untuk mencapai impian tersebut.
Namun, kehidupan mereka tidaklah semudah yang mereka bayangkan. Mereka harus menghadapi tantangan baru sebagai orang tua muda, mengurus si kecil Shaka yang berusia 1 tahun. Anindia dan Keanu harus membagi waktu antara kuliah, mengurus Shaka, dan menjalani kehidupan sebagai pasangan muda.
Bagaimana Anindia dan Keanu akan menghadapi tantangan sebagai orang tua muda dan mahasiswa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Di antara cemas dan harapan
Keanu terdiam. Pertanyaan Anindia masih menggantung di udara, tapi ia belum juga menjawab. Tangannya yang tadi menggenggam ponsel perlahan mengendur. Sementara pikirannya berjalan jauh lebih cepat dari situasi yang ada di hadapannya.
Keanu mengangkat wajahnya perlahan, menatap Anindia yang kini duduk di sampingnya. Wajah Anindia masih sama seperti beberapa menit lalu, tenang, hangat, bahkan sedikit tersenyum.
"Ada apa, Mas?" Ulang Anindia pelan. Kali ini nadanya sedikit berubah, lebih hati-hati seolah ia mulai menangkap sesuatu yang tidak biasa.
Keanu menarik nafas panjang. Ia mengusap wajahnya sekali lagi, mencoba menenangkan pikirannya. Lalu, tangannya bergerak perlahan meraih tangan Anindia, menggenggamnya lembut.
"Sayang," panggil Keanu lirih.
Hanya satu kata, tapi berhasil membuat jantung Anindia berdegup kencang. Keanu jarang terlihat seperti ini, serius dan berat. Anindia menatapnya lekat, perasaannya mulai terasa tidak tenang.
"Barusan, ada pesan masuk," ujar Keanu hati-hati.
Anindia langsung merespon. "Dari siapa, Mas?"
Keanu mengangkat pandangannya, tatapan mereka kembali bertemu. "Dari Papa Mario," ujarnya.
Deggg!
Seketika, ekspresi Anindia berubah. Tangannya refleks menggenggam balik tangan Keanu, lebih erat dari sebelumnya.
"Kenapa Mas?" Ujar Anindia, suaranya sedikit bergetar.
Keanu tidak langsung menjawab. Ia justru menggeser sedikit posisinya. Tangannya yang satu lagi terangkat, mengusap pelan punggung tangan Anindia. Gerakan kecil yang selalu ia lakukan saat ingin menenangkan.
"Mama Laura," ujar Keanu, suaranya tertahan sejenak. "Masuk rumah sakit."
Hening, seolah waktu berhenti sejenak. Mata Anindia membesar, nafasnya tercekat. Ia menatap Keanu, berharap Keanu akan menambahkan kalimat.
"Kondisinya drop," lanjut Keanu sebelum Anindia sempat berkata-kata.
Tangan Anindia yang tadinya menggenggam tangan Keanu kini mulai melemah. Tatapannya kosong di saat yang bersamaan, matanya terlihat berkaca-kaca.
"Ma... Mama masuk rumah sakit?" Ujar Anindia lirih, nyaris tak terdengar.
Keanu langsung menarik Anindia ke dalam pelukannya. Tubuh Anindia terasa kaku di awal, lalu perlahan melemah dalam pelukan itu. Nafasnya mulai tak teratur, pikirannya dipenuhi dengan berbagai kemungkinan yang tidak ingin ia bayangkan.
"Aku di sini," ujar Keanu dengan suara rendah, namun terdengar tegas. "Kita ke sana sekarang, ya."
Anindia mencengkeram baju Keanu, seolah itu satu-satunya hal yang tetap menahannya tetap berdiri saat ini.
"Mas, Mama gak apa-apa, kan?" Tanya Anindia penuh harap.
Keanu memejamkan mata sejenak, merasa bingung ingin menjawab apa, terlebih ia tidak tahu pasti bagaimana kondisi ibu mertuanya saat ini. Perlahan, ia mengusap rambut Anindia.
"Insya Allah Mama gak apa-apa," ujarnya lembut. "Kita lihat langsung, ya."
Kalimat itu bukan kalimat pasti, tapi cukup jujur dan tetap menjaga harapan itu hidup. Anindia mengangguk kecil dalam dekapan Keanu, meskipun air matanya sudah jatuh tanpa diminta.
Di antara hangatnya pelukan, ada satu hal yang terus mengganggu pikiran Anindia, ibunya. Perlahan, Anindia mengangkat pandangannya. Matanya sedikit basah, tapi kini dipenuhi kebingungan yang nyata. Pasalnya, ibunya baik-baik saja selama ini.
"Mas, Mama sakit apa?" Ujar Anindia lirih.
Untuk sesaat, Keanu terdiam. Bukan karena tidak ingin memberi tahu, tapi memang ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Papa gak jelasin," ujar Keanu pada akhirnya.
"Gak jelasin?" Ulang Anindia seakan tidak percaya.
Keanu menggeleng singkat. "Cuma bilang Mama drop, dan sekarang di rumah sakit."
"Gak mungkin," gumam Anindia dengan gelengan kepala. "Mama sebelumnya baik-baik aja, Mas."
Keanu langsung meraih kedua tangan Anindia, menggenggamnya lebih pasti kali ini.
"Sayang, hei..." Panggil Keanu lembut. "Jangan mikir terlalu jauh dulu."
"Aku takut, Mas," ujar Anindia dengan gelengan kecil. Dan kali ini bukan sekedar takut, melainkan cemas yang dalam.
Keanu mengusap pipi Anindia dengan ibu jarinya, menyeka air mata Anindia yang kembali jatuh. "Aku juga khawatir," ujarnya. "Tapi kita belum tau apa-apa."
"Kita ke sana sekarang," lanjutnya tegas namun tetap lembut. "Kita cari tau langsung. Aku temenin kamu."
Anindia menatapnya, tanpa kata. Tapi, ada sesuatu yang sedikit menenangkan dari cara Keanu berbicara, dan selalu begitu. Di saat Anindia tidak punya jawaban, Keanu tetap punya cara untuk membuat semuanya tidak terasa sendirian.
"Iya, Mas," ujar Anindia pada akhirnya.
Keanu langsung berdiri, menarik Anindia pelan agar ikut berdiri. "Kita langsung berangkat aja ya, sayang," ujar Keanu lembut.
Anindia yang masih berdiri di tepi tempat tidur hanya mengangguk. Tanpa banyak bicara, Anindia meraih tas kecilnya, bahkan tanpa mengecek isinya. Pikirannya sudah terlalu penuh untuk memikirkan hal-hal kecil.
Keanu juga melakukan hal yang sama, ia mengambil dompet dan ponselnya di atas meja, lalu kunci mobilnya. Setelah memastikan semua ada, Keanu langsung mendekat ke arah Anindia.
"Udah, ayo," ujar Keanu.
Baru beberapa langkah berjalan, langkah mereka kembali terhenti. Secara bersamaan, keduanya menoleh ke arah tempat tidur. Shaka masih tertidur pulas. Nafasnya teratur, wajahnya tenang, sama sekali tidak terusik oleh perubahan suasana di sekitarnya.
"Mas," ujar Anindia penuh keraguan. "Shaka..."
Keanu yang memahami langsung mendekat ke arah tempat tidur, lalu membenarkan sedikit posisi selimut Shaka. Tangannya menyentuh kepala kecil itu dengan sangat hati-hati.
"Gak usah dibangunin," ujar Keanu pelan. "Kita titip ke Mama aja."
Anindia mengangguk, meskipun ia merasa tidak tega. Mereka keluar kamar dengan langkah yang cepat, namun tetap berusaha untuk tidak menimbulkan suara.
"Den?"
Bi Yeyen yang baru saja keluar dari dapur sedikit terkejut, ketika melihat langkah tergesa dari keduanya. "Den Keanu dan non Nindi mau kemana pagi-pagi?" Ujarnya bingung.
"Kami mau ke rumah sakit, Bi," jawab Keanu berterus terang. "Mama Laura sakit."
"Ya Allah..." Ucap Bi Yeyen sembari menutup mulutnya dengan tangan.
Tak lama, ibu Keanu juga keluar dari dalam kamar, wajahnya langsung berubah ketika melihat ekspresi keduanya. "Ada apa nak?" Ujarnya.
"Mama masuk rumah sakit, Ma," ujar Anindia lirih.
"Ya Allah... Mama doakan, semoga Mama kamu cepat sembuh ya, Anin." Lanjut ibu Keanu sembari mengusap punggung Anindia.
Anindia hanya mengangguk pelan. Sementara Keanu langsung mengambil alih situasi dengan tenang. "Ma, Shaka masih tidur. Kami titip, ya,"ujarnya.
Ibu Keanu langsung mengangguk. "Iya, biar Shaka Mama sama Bi Yeyen yang jaga."
"Iya den, nanti saya cek juga," ujar Bi Yeyen menimpali.
"Makasih Bi," jawab Keanu kemudian.
Setelah berpamitan, keduanya langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu. Udara pagi masih terasa sejuk, jarak rumah ke rumah sakit memang tidak jauh. Tapi, entah mengapa langkah mereka terasa lebih berat dari biasanya.
Keanu membukakan pintu mobil untuk Anindia. Setelahnya, ia berjalan ke sisi kemudi. Mesin mobil dinyalakan. Tanpa banyak kata, Keanu melajukannya menuju ke rumah sakit.
Hening, tidak ada perbincangan apapun di antara keduanya. Anindia menatap lurus ke depan, tangannya saling menggenggam dalam pangkuannya. Sementara Keanu sesekali melirik ke arahnya, ia tahu Anindia sedang berusaha kuat.
Keanu mengulurkan tangan kirinya sejenak, menggenggam tangan Anindia dengan lembut. Seolah meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Tiba di rumah sakit, mobil berhenti. Mesin dimatikan, tapi tidak ada yang langsung bergerak turun. Untuk beberapa detik, keduanya sama-sama terdiam, seolah ada jeda kecil sebelum menghadapi kenyataan di depan.
"Sayang," panggil Keanu lirih.
Anindia menoleh, tanpa kata. Keanu mengangkat tangannya, merapikan anak rambut Anindia yang menutupi wajahnya. "Aku yakin Mama akan baik-baik aja," ujarnya menenangkan.
Anindia menghela nafas pelan, lalu menganggukkan kepalanya. "Iya Mas, semoga..."
Keduanya turun dari mobil, berjalan berdampingan ke dalam rumah sakit. Aroma khas rumah sakit langsung menyambut mereka. Aroma obat-obatan dan antiseptik langsung memenuhi indra penciuman mereka.
Langkah mereka cepat, tidak berlari tapi jelas terburu. Tatapan Anindia bergerak ke sana kemari, mencari sosok yang ia kenal. Hingga akhirnya, melihat seorang pria paruh baya berdiri di ujung lorong.
Wajah ayah Anindia terlihat lelah. Rambutnya sedikit berantakan, kemejanya tidak se-rapi biasanya. Tangannya menggenggam ponsel, tapi tatapannya kosong, seolah pikirannya berada di tempat lain.
"Pa," suara itu keluar begitu saja dari bibir Anindia.
Ayahnya menoleh, dan dalam satu detik ekspresinya berubah. "Anindia," lirihnya.
Anindia langsung berjalan cepat, lalu memeluk erat ayahnya. "Pa, Mama kenapa?"
Ayah Anindia memejamkan matanya sejenak saat memeluk putri bungsunya. Tangannya menepuk punggung Anindia pelan, mencoba menenangkan meski dirinya sendiri belum sepenuhnya tenang.
"Udah... Udah, nak," ujar ayahnya lirih.
Keanu yang berdiri tak jauh dari sana hanya memperhatikan sejenak, lalu melangkah mendekat.
"Pa," sapa Keanu dengan nada rendah dan penuh hormat.
"Keanu," ujar ayah Anindia dengan anggukan kecil.
Tatapan mereka bertemu singkat, dan Keanu bisa melihat kekhawatiran yang nyata di mata ayah mertuanya. "Bagaimana kondisi Mama, Pa?" Tanya Keanu sopan.
Ayah Anindia menarik nafas panjang. "Drop tiba-tiba," jawabnya pelan. "Tadi pagi Mama kamu tiba-tiba lemas, pusing, terus hampir pingsan."
Anindia langsung menoleh. "Sekarang gimana, Pa?"
"Sekarang lagi di tangani sama dokter, masih di dalam," ujar Ayahnya kemudian.
Anindia menggenggam lengan ayahnya. "Mama baik-baik aja kan, Pa?" Suaranya terdengar bergetar.
Ayahnya tidak langsung menjawab. Ia menunduk sejenak sebelum akhirnya kembali menoleh ke arah anak dan menantunya. "Papa harap begitu."
Keanu langsung merangkul Anindia dari samping. Ia mengusap lengan Anindia, memberikan ketenangan.
"Dokternya bilang apa, Pa?" Tanya Keanu kemudian. "Ada indikasi apa?"
"Masih diperiksa. Katanya terlalu capek juga bisa, tapi belum pasti," ujar ayah Anindia.
Keanu mengangguk singkat. Sebelum ia mengatakan apa-apa, pintu ruangan terbuka. Semua refleks menoleh. Seorang dokter keluar, diikuti satu perawat di belakangnya.
"Bagaimana kondisi istri saya, dok?" Ujar ayah Anindia yang langsung melangkah mendekat.
Dokter itu melepas masker sejenak, menatap mereka satu persatu sebelum akhirnya berujar. "Ibu mengalami penurunan yang cukup drastis," ujarnya tenang.
Jantung Anindia langsung berdegup kencang, refleks ia menggenggam erat tangan Keanu. "Penurunan... Maksudnya gimana dok?"
Dokter menghela nafas pelan, lalu melanjutkan dengan hati-hati. "Kami menduga ini bukan hanya kelelahan biasa," ujarnya. "Ada indikasi kondisi medis yang sudah berjalan cukup lama, tapi mungkin tidak disadari."
Anindia langsung menggeleng kecil. "Gak mungkin," ujar Anindia menyangkal. "Mama baik-baik aja selama ini."
Keanu langsung mengusap lengan Anindia, berusaha untuk menenangkan.
"Untuk memastikan, kami masih perlu melakukan beberapa pemeriksaan lanjutan," lanjut sang dokter. "Kondisi ibu saat ini sudah mulai stabil. Responnya juga cukup baik terhadap penanganan awal."
"Jadi, masih bisa sembuh, dok?" Tanya ayah Anindia kemudian.
"Ada peluang untuk sembuh," ujar dokter itu. "Selama penanganan berjalan baik, dan ibu menjaga kesehatan tubuhnya setelah ini."
Mendengar itu, ketiganya menarik nafas lega. Anindia menutup mulutnya, air matanya kembali jatuh. Tapi, kali ini bukan hanya karena takut, melainkan ada sedikit harapan.
"Alhamdulillah," ujar Anindia lirih.
Keanu menatap dokter dengan sedikit anggukan kepala. "Terima kasih, dok."
Dokter membalas anggukan itu. "Untuk sekarang, pasien masih butuh istirahat. Nanti kalau kondisi lebih stabil keluarga boleh melihat, tapi jangan terlalu lama."
"Saya ingin bertemu dengan ibu saya, apa boleh, dok?" Tanya Anindia penuh harap.
"Tentu boleh," ujar dokter itu kemudian. "Silahkan masuk satu atau dua orang saja dulu, karena pasien masih membutuhkan banyak istirahat."
Setelah perbincangan itu, dokter pun pamit, meninggalkan mereka di tempat. Anindia masuk ke dalam ruangan. Ia melangkah masuk dengan hati-hati. Langkahnya terhenti sejenak, melihat ibunya terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
"Mama," lirih Anindia.
Wajah ibunya tampak pucat, selang infus terpasang di tangannya. Anindia mendekat. Dengan ragu ia mengangkat tangannya, menyentuh tangan ibunya yang terasa dingin.
"Ma," ujarnya lagi, kali ini sedikit bergetar.
Ibunya membuka mata perlahan, senyum tipis terukir di wajahnya. "Anindia," suaranya lemah, nyaris seperti bisikan.
"Iya Ma, ini Nindi," jawab Anindia cepat. "Ma... Mama kenapa?" Lanjutnya sembari menggenggam tangan ibunya lebih erat.
Ibunya tidak langsung menjawab, nafasnya terdengar berat. "Cuma kelelahan," ujarnya dengan tatapan lembut.
"Jangan bohong, Ma," ujar Anindia lirih.
Ibunya menghela nafas pelan. "Pesanan lagi banyak, Mama terlalu maksa."
Anindia menunduk, dadanya terasa semakin sesak. Ia tahu, ibunya memang seperti itu, selalu memaksakan diri dan menyelesaikan semuanya sendiri.
"Jangan sedih, sayang. Mama gak apa-apa," ujar ibunya menenangkan.
Sementara itu, di luar ruangan, Keanu di samping ayah mertuanya. Keanu menatapnya sejenak, lalu akhirnya membuka suara.
"Pa, dokter bilang apa?" Ujar Keanu hati-hati.
Ayah Anindia menoleh. "Drop karena kelelahan. Tensinya turun dan ada beberapa kondisi yang harus dipantau," ujarnya.
"Dokter bilang masih ada peluang sembuh," lanjut ayah Anindia pelan. "Sekarang lagi diobservasi."
Keanu menatap lurus ke depan, seolah menenangkan dirinya sendiri.
"Anindia belum tau semuanya," ujar ayah Anindia lagi. "Papa cuma bilang kondisi Mama-nya drop."
Keanu menghela nafas pelan. "Iya Pa, Keanu juga belum jelasin banyak ke dia."
Hening, keduanya sama-sama tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Keanu melirik ke arah ruangan, tatapannya berubah menjadi lebih berat.
Pagi itu menjadi awal dari rasa cemas yang perlahan tumbuh, di antara harapan yang masih mereka genggam.
^^^Bersambung...^^^
Kebetulan sekali, novel ini, muncul di beranda-ku kak 🙏😁