Araya Lin dipaksa menjadi pengantin
pengganti bagi kakak tirinya. la dinikahkan dengan Arkanza Aditama, seorang CEO miliarder yang dirumorkan kejam, dingin, dan cacat akibat sebuah kecelakaan tragis. Keluarga Araya tertawa, mengira mereka telah membuang anak tak berguna ke dalam 'neraka'.
Namun, di malam pertama pernikahan mereka, Araya terkejut saat melihat pria jangkung dengan tatapan setajam elang berdiri sempurna di hadapannya-tidak cacat sedikit pun. Di sisi lain, Arkanza mengira ia hanya menikahi gadis udik yang bisa ia kendalikan. la tidak tahu bahwa istri kecilnya yang terlihat lugu ini adalah "Z", seorang peretas jenius misterius yang selama ini dicari-cari oleh perusahaannya sendiri.
Ketika dua pembohong ulung terjebak dalam satu atap, akankah pernikahan kontrak ini berakhir dengan pertumpahan darah, atau justru memicu romansa yang tak terhentikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33: Catur Sang Penguasa
Keheningan di dalam kabin kayu itu begitu berat, hingga suara retakan kayu yang terbakar di perapian terdengar seperti ledakan kecil. Arkanza masih berdiri mematung di ambang pintu, napasnya yang memburu perlahan melambat, digantikan oleh ketegangan yang membuat otot-ototnya kaku.
"Kau... benar-benar masih hidup," suara Arkanza keluar pelan, parau, seolah setiap kata harus melewati duri di tenggorokannya.
Bramantyo Aditama bangkit dari kursi besarnya dengan gerakan yang masih sangat sigap untuk pria seusianya. Ia mengetukkan tongkat naga hitamnya ke lantai kayu. Tuk. "Kematian adalah tempat persembunyian terbaik bagi mereka yang ingin menang tanpa terlihat, Arkanza," ucap Bramantyo dingin. Matanya kemudian beralih ke Araya yang berdiri waspada di samping Arkanza. "Dan kau, Araya Lin. Kau memiliki mata ayahmu. Cerdas, tajam, tapi terlalu penuh perasaan."
Araya tidak menunduk. Ia justru melangkah maju, memegang liontin safir di lehernya. "Berhenti bersikap seolah Anda adalah sutradara di sini, Tuan Aditama. Anda membiarkan cucu Anda sendiri hampir mati berkali-kali. Anda membiarkan paman saya menghancurkan hidup saya hanya untuk sebuah 'permainan catur'?"
Bramantyo tertawa kecil, tawa yang tidak mencapai matanya yang kelam. "Cucu saya butuh ditempa oleh api agar menjadi baja, Nyonya. Jika Arkanza tidak bisa melindungimu dari Volkov atau pengejar recehan tadi, dia tidak akan sanggup menghadapi apa yang akan datang."
"Apa yang lebih buruk dari ini?!" bentak Arkanza, ia melangkah maju, menghalangi pandangan kakeknya dari Araya. "Kau menggunakan kami sebagai umpan untuk menarik keluar seluruh sindikat global!"
"Aku melakukannya untuk memusnahkan mereka sekaligus," balas Bramantyo tegas. Ia berjalan menuju sebuah meja bundar di tengah ruangan yang menampilkan proyeksi holografik global. "Project Phoenix bukan sekadar sistem pertahanan. Itu adalah virus yang sudah menyebar di setiap infrastruktur digital dunia. Jika kau menggunakan 'Kill Switch' di leher Araya sekarang, kau akan mematikan seluruh dunia. Kegelapan total. Tanpa rumah sakit, tanpa listrik, tanpa navigasi."
Araya membelalak. "Jadi... liontin ini bukan untuk menyelamatkan dunia?"
"Benda itu adalah penghancur peradaban," bisik Bramantyo. "Tujuanku bukan untuk mematikannya, tapi untuk memastikan hanya Aditama yang memegang kendali atas kunci itu. Dan sekarang, musuh yang sebenarnya—aliansi dari tujuh keluarga elit dunia—sudah mengepung lereng gunung ini."
Tiba-tiba, suara dengungan frekuensi tinggi terdengar di telinga mereka. Kaca-kaca di kabin mulai bergetar.
"Leon!" teriak Arkanza.
Leon yang sejak tadi diam di pintu segera memeriksa tablet taktisnya. "Tuan Besar, mereka menggunakan pemancar pulsa elektromagnetik. Sistem pertahanan kabin akan lumpuh dalam dua menit."
Bramantyo menatap Arkanza dan Araya bergantian. "Waktunya habis. Arkanza, kau harus memilih. Serahkan Araya dan liontin itu padaku agar aku bisa mengakhiri ini dengan kekuasaan mutlak, atau kau lari keluar dari sini dan menjadi musuh dunia selamanya."
Arkanza menatap kakeknya dengan jijik, lalu beralih menatap Araya. Di mata Araya, ia melihat ketakutan namun juga kepercayaan yang tak terbatas. Arkanza menarik napas panjang, ia menarik pistolnya, namun bukan diarahkan ke kakeknya, melainkan ke arah meja proyeksi holografik.
DOR!
Meja itu meledak hancur. Proyeksi itu lenyap.
"Aku tidak akan menjadi pionmu lagi, Kakek," ucap Arkanza sambil merangkul bahu Araya erat. "Dunia bisa hancur, atau dunia bisa selamat, aku tidak peduli. Tapi siapa pun yang mencoba menyentuh istriku—termasuk kau—akan kukirim ke neraka lebih dulu."
Arkanza menoleh ke arah Leon. "Leon! Jika kau benar-benar setia pada Aditama, tunjukkan padaku jalan keluar dari sini yang tidak diketahui kakekku!"
Leon terdiam sejenak, menatap Bramantyo yang wajahnya kini mengeras karena murka. Setelah hening yang menegangkan, Leon membungkuk hormat ke arah Arkanza.
"Ada jalur evakuasi bawah tanah menuju hanggar helikopter rahasia di balik tebing, Tuan Muda. Ikuti saya."