NovelToon NovelToon
Mr. Profesor

Mr. Profesor

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dosen / Cintapertama
Popularitas:163
Nilai: 5
Nama Author: Amabillis.13

Zoya telah jatuh cinta kepada dosennya bernama Arlo. Arlo adalah sosok dosen yang dingin dan tidak ramah... dia kikuk dengan hal asmara.
lalu bagaimana zoya akan meluluhkan hati Mr. profesor?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amabillis.13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 24

Jaiden mengajak Zoya makan di sebuah restoran mewah yang menyediakan private room. Sebelum mereka datang, Jaiden sudah lebih dulu memesan makanan, sehingga begitu mereka duduk, hidangan langsung diantarkan satu per satu ke atas meja.

Dan semuanya…

Adalah makanan favorit Zoya.

Begitu melihat meja yang penuh dengan hidangan kesukaannya, mata besar Zoya langsung berbinar terang.

Jaiden yang melihat reaksi itu langsung merasa geli. Sudut bibirnya terangkat tipis sambil mengejek,

“Dasar foodie…”

Sambil berbicara, ia mengambil serbet dengan gerakan elegan, melipatnya menjadi dua, lalu meletakkannya di pangkuannya dengan lipatan menghadap ke arah tubuhnya. Setelah selesai, ia mendongak menatap Zoya yang sudah mulai makan dengan lahap namun tetap terlihat anggun.

Melihat adiknya makan dengan pipi sedikit menggembung seperti tupai kecil membuat Jaiden hanya bisa menggeleng geli.

Benar-benar tidak punya citra sebagai nona keluarga besar.

Setelah merasa cukup kenyang, Zoya melirik Jaiden yang masih makan dengan santai. Ia pun perlahan memperlambat kecepatan makannya, menyesuaikan ritme dengan kakaknya nya.

Jaiden hanya melirik sekilas sebelum kembali melanjutkan makan.

Beberapa saat kemudian, ia menepuk bibirnya dengan serbet dan akhirnya menatap Zoya.

“Ayo kita bicara.”

Zoya yang sudah kenyang langsung bersandar malas di kursinya. Dengan wajah puas, ia menggoyang-goyangkan kakinya pelan di bawah meja seperti anak kecil yang sedang berada dalam suasana hati sangat baik.

“Bicara tentang apa?” tanyanya sambil menatap Jaiden.

Jaiden memicingkan mata.

“Tentu saja tentang dirimu.” Tatapannya mengandung tekanan. “Apa hubunganmu dengan profesor itu?”

Zoya langsung tahu… Benar saja, kakak keduanya pasti sudah menyelidikinya.

Mana mungkin pria seperti Jaiden membiarkan adik perempuannya mengejar seorang pria tanpa mencari tahu lebih dulu?

Zoya mendongak menatap kakaknya tanpa takut sedikit pun.

“Ya seperti yang kamu tahu,” katanya santai. “Aku menyukai dosenku sendiri.”

Tepat setelah mengucapkan itu, ponselnya bergetar… Zoya segera membuka layar.

Matanya langsung berbinar.

Pesan dari Arlo.

Pria itu mengirimkan sebuah dokumen soal dan memintanya mengerjakan bagian tertentu sebelum besok diperiksa olehnya.

Melihat pesan itu, sudut bibir Zoya langsung melengkung manis. Jemarinya bergerak cepat membalas pesan tersebut.

Sepanjang proses itu, ia bahkan lupa bahwa Jaiden sedang duduk tepat di depannya.

Melihat adiknya terus sibuk dengan ponsel sambil tersenyum sendiri, urat di pelipis Jaiden berkedut.

Akhirnya ia memanggil dengan suara rendah namun penuh tekanan,

“Taritzuya Hazel Paradise.”

Seketika tubuh Zoya membeku.

Ia perlahan mendongak dan langsung bertemu dengan wajah gelap Jaiden.

Dengan gerakan sangat patuh, Zoya mematikan layar ponselnya lalu memasukkannya ke dalam tas.

Jaiden menatapnya serius.

“Apakah kamu lupa kalau kamu punya tunangan?”

Mendengar itu, Zoya langsung duduk tegak.

“Aku sudah bilang sejak dulu kalau aku tidak menerima perjodohan!” bantahnya cepat. “Sekarang sudah zaman modern! Siapa yang peduli dengan perjodohan kuno seperti itu?! Aku tidak menerimanya! Titik!”

BRAKK!

Jaiden memukul meja cukup keras hingga gelas di atasnya bergetar.

“Ini bukan keputusanmu sendiri, Yaya!” bentaknya. “Ini menyangkut dua keluarga besar. Kamu tidak bisa bertindak semaumu!”

Tatapannya menajam.

“Kalau penolakanmu memang berarti, pertunangan itu pasti sudah dibatalkan sejak dulu. Tapi sampai sekarang kedua keluarga tidak pernah menyetujuinya.”

Zoya ikut menepuk meja dengan marah.

“Kalau begitu aku akan memutuskannya sendiri!” katanya keras kepala. “Lagipula aku sudah menemukan pria yang lebih baik!”

“Heh…”

Jaiden mencibir sambil menyandarkan tubuhnya.

“Yakin?” katanya malas. “Bukankah sekarang kamu masih mengejarnya? Belum tentu dosenmu itu menyukaimu.”

Ia sengaja berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada penuh arti,

“Apalagi… setahuku Profesor Arlo juga punya tunangan.”

Mendengar itu, ekspresi Zoya langsung berubah ragu.

Ia sedikit memajukan tubuhnya.

“Kamu tahu siapa tunangan Profesor Arlo?”

Jaiden mengangguk pelan.

Zoya semakin mendekat.

“Siapa?”

Jaiden menatap wajah penasaran adiknya sambil tertawa dingin dalam hati.

Tentu saja aku tahu.

Bukankah tunangan Arlo sedang duduk di depannya sekarang?

Namun di luar, Jaiden hanya ikut memajukan tubuhnya dan berkata dengan tenang,

“Yaya, jangan mengalihkan topik. Tidak penting siapa tunangan Arlo. Intinya sekarang…” Ia mengetuk meja perlahan. “Kamu sedang menjadi pihak ketiga.”

“Aku bukan pihak ketiga!” bantah Zoya cepat. “Arlo bilang dia bahkan belum pernah bertemu tunangannya itu sejak kecil!”

Jaiden menekan lidahnya ke pipi bagian dalam ia memarahi adiknya dalam hati. Ya, karena kamu sendiri yang menolak bertemu orang.

“Bahkan,” lanjut Zoya tanpa menyadari akan menusuk harga diri kakaknya sendiri, “Arlo juga ingin memutuskan pertunangan itu.”

Senyum Jaiden langsung membeku.

Dalam hati ia mendadak marah besar.

Adiknya sendiri boleh menolak.

Tapi mendengar Arlo ingin memutuskan Zoya?

Tiba-tiba ia merasa sangat tersinggung.

Namun sebelum emosinya benar-benar meledak, Zoya melanjutkan dengan wajah serius,

“Tapi tunangannya menghilang dua tahun lalu dan tidak bisa dihubungi.”

Mendengar itu, Jaiden langsung tertawa dingin dalam hati oa mengeluh. Ia merasa, Arlo benar-benar hidupnya menyedihkan.

Sementara pria yang sedang dikasihani itu…

Saat ini duduk sendirian di kantornya sambil melamun.

Memang menyedihkan.

Di tangannya ada buku matematika tebal, tetapi selama setengah jam terakhir ia hanya membaca halaman yang sama berulang kali.

Kadang matanya melamun.

Kadang melirik jam di dinding.

Kadang tanpa sadar mengambil ponselnya lalu meletakkannya lagi.

Ia terus memikirkan Zoya.

Apa yang sedang mereka lakukan sekarang?

Apakah mereka masih makan?

Mengapa belum pulang?

Meski wajahnya tetap tenang dan dingin, pikirannya sama sekali tidak bisa fokus.

Sebenarnya ia ingin mengirim pesan seperti:

“Kamu makan di mana?”

“Atau kapan pulang?”

“Jangan terlalu lama di luar.”

Namun setelah mengetik beberapa kata, Arlo selalu menghapusnya kembali.

Ia tidak punya alasan untuk bertanya seperti itu.

Pada akhirnya, ia hanya bisa mengirim pesan berupa tugas akademik agar terlihat wajar.

Namun setelah Zoya membalas pesannya sekali, tidak ada pesan lain lagi setelah itu.

Arlo menatap layar ponselnya cukup lama.

Ia sendiri tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.

Tetapi satu hal yang pasti…

Ia benar-benar ingin Zoya membalas pesannya lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!