Vanya yang mabuk parah dan ditinggal pacarnya malam itu, berjalan sendirian. Lalu didatangi oleh dia orang begal yang hendak memperkosanya, untungnya ada Reyhan soerang pengemudi ojol yang melihat mereka, Reyhan menolong vanya yang pingsan dari begal itu. Namun setelah Vanya sadar dan teriak warga memergokinya dan di fitnah berbuat mesum.
Vanya dan Reyhan dipaksa untuk dinikahkan, dan ayah Vanya yang merasa harga dirinya jatuh menyetujui pernikahan itu dan kemudian memberi syarat kontrak satu tahun kepada Reyhan yang memberatkan Reyhan.
Vanya menganggap bahwa Reyhan bagian dari begal itu, sehingga Vanya membencinya.
namun karena kebaikan Reyhan dan kekonyolannya Vanya akhirnya vanya merasa salah dengan prasangkanya, setelah bukti-bukti terkuak.
Setelah habis kontrak satu tahun itu Reyhan pergi, dan Vanya menyesal dan kehilangannya lalu mencarinya sampai seperti orang gila...
bagaimana kisah mereka, dan bagaimana akhir mereka??
kisah CHICK-LIT ROMANCE
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: FITNAH KEJI DAN KAKI YANG TERINJAK
Pagi itu, kediaman keluarga Hutama yang biasanya tenang mendadak berubah menjadi panggung sandiwara yang mengerikan. Matahari baru saja mengintip di sela-sela pohon mahoni, namun raungan sirine polisi sudah membelah udara, memekakkan telinga siapa pun yang mendengarnya. Dua mobil polisi berhenti tepat di depan gerbang besar, mengundang tanya para tetangga yang mulai mengintip dari balik tirai jendela mereka.
Bramantyo keluar dengan langkah terburu-buru, wajahnya bingung dan pucat pasi, masih mengenakan jubah tidurnya yang berbahan sutra. Di sampingnya, Derian sudah berdiri tegak. Jika orang melihat sekilas, Derian nampak cemas, namun jika diperhatikan lebih dalam, ada kilat kepuasan yang tersembunyi di balik matanya yang licik.
"Selamat pagi, Pak. Benar ini rumah Pak Bramantyo Hutama?" tanya seorang petugas kepolisian dengan nada bicara yang tegas dan tak bisa dibantah.
"Iya, benar. Ada apa ini, Pak? Kenapa rumah saya dikepung polisi seperti ini?" tanya Bram dengan suara yang sedikit bergetar.
"Maaf, Pak Bram. Kami menerima laporan dan pengakuan resmi dari saksi kunci terkait kasus pembegalan yang menimpa putri Anda beberapa waktu lalu. Menurut saksi tersebut, pelaku utama saat ini bersembunyi di rumah ini. Namanya Reyhan. Ini fotonya," petugas itu menyodorkan selembar kertas berisi foto Reyhan.
Bramantyo terhenyak seolah dihantam godam besar di dadanya. Jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat. "Apa?! Reyhan? Tidak mungkin... dia itu hanya supir kami. Dia baru saja kembali karena kakinya patah!"
"Pelaku yang sudah kami tangkap di sel menyatakan dengan jelas bahwa Reyhan adalah otak di balik aksi tersebut. Dia yang merencanakan semuanya agar terlihat seperti pahlawan. Kami mohon izin untuk melakukan penggeledahan dan penangkapan," tegas polisi tersebut.
Bramantyo, yang pikirannya sudah diracuni oleh bisikan-bisikan Derian selama berhari-hari, akhirnya mengangguk lemah dengan sisa kewibawaannya yang runtuh. "Silakan, Pak. Kamarnya... ada di bagian belakang. Di gudang."
Penyergapan di Gudang Dingin
Suara sepatu bot polisi yang menghantam lantai keramik terdengar seperti lonceng kematian yang bergema di lorong-lorong rumah. Vanya, yang mendengar keributan itu, keluar dari kamarnya dengan wajah yang pucat seperti kertas. Ia diikuti oleh Melly, ibunya, serta Kang Ujang yang berjalan paling belakang dengan raut muka yang sangat tersiksa.
"Saudara Reyhan! Keluar sekarang! Angkat tanganmu dan jangan melawan!" teriak salah satu polisi tepat di depan pintu gudang yang kusam itu.
Pintu kayu itu terbuka perlahan, mengeluarkan bunyi derit yang memilukan. Reyhan muncul di ambang pintu. Wajahnya tenang, meski terlihat lelah dan sedikit pucat. Ia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, meskipun tubuhnya harus bersandar pada kusen pintu karena kakinya yang masih dibalut gips tak sanggup menopang berat badannya dengan sempurna.
"Maaf, salah saya apa, Pak?" tanya Reyhan. Suaranya tidak melengking ketakutan, justru rendah dan penuh wibawa, membuat beberapa polisi sempat tertegun sesaat.
"Anda diduga terlibat aksi pembegalan berencana terhadap Nona Vanya Hutama. Kami punya saksi kuat yang menyatakan Anda adalah dalang dari drama berdarah itu!"
"Saya tidak melakukan itu—" Ucapan Reyhan terputus kasar saat seorang polisi menarik tangannya dengan paksa untuk dipasangi borgol besi yang dingin.
Dilema di Tengah Hujan Fitnah
Vanya berlari mendekat, matanya berkaca-kaca menatap pria yang baru semalam ia ajak bicara di dalam gudang itu. Ia masih ingat bagaimana Reyhan memintanya mengecek CCTV, namun kini realita di depan matanya jauh lebih kejam.
Derian muncul seperti pahlawan kesiangan. Dengan gerakan yang nampak protektif, ia merangkul bahu Vanya, seolah ingin menunjukkan bahwa dialah satu-satunya tempat bersandar yang aman.
"Lihat itu, Vany! Benar kan kataku selama ini?" bisik Derian tepat di telinga Vanya, suaranya seperti desisan ular yang berbisa. "Dia mendekatimu hanya untuk mempelajari jadwalmu, lalu dia menyuruh komplotannya untuk menyerangmu. Tujuannya apa? Agar dia bisa pura-pura menolong dan memeras keluargamu kelak."
Vanya menggelengkan kepalanya. Hatinya seperti sedang ditarik oleh dua arah yang berlawanan. "Nggak mungkin... Rey, coba jelaskan! Katakan kalau ini semua fitnah! Katakan sesuatu, Rey!"
Reyhan menatap mata Vanya dalam-dalam. Di tengah kerumunan orang yang menghujatnya dengan tatapan jijik, hanya sorot mata gadis itu yang ia pedulikan. "Saya bukan begal, Nona. Saya sudah satu tahun hidup di rumah ini. Apakah selama ini saya pernah mengambil satu sen pun yang bukan hak saya? Apakah saya pernah menyakiti Anda?"
Vanya ragu. Logikanya berkata bahwa polisi tidak mungkin salah tangkap apalagi ada pengakuan saksi, namun hatinya yang paling dalam mengingat bagaimana Reyhan selalu melindunginya dengan cara yang paling tulus, tanpa pernah meminta imbalan.
"Jangan percaya mulut manisnya, Vany!" teriak Derian, mencoba memprovokasi suasana agar semakin panas. "Dia itu penipu ulung! Lihat saja, bahkan kakinya itu... jangan-jangan cuma pura-pura sakit supaya kita semua kasihan dan tidak curiga!"
Bramantyo mendekat, wajahnya merah padam karena amarah yang memuncak. Ia merasa kebaikannya selama ini diinjak-injak. "Benar itu, Reyhan? Kamu memanfaatkan kepercayaan keluarga kami hanya untuk merampok putriku sendiri?"
Reyhan melirik Derian dengan tajam, sebuah tatapan yang membuat Derian sempat bergidik ngeri. "Coba Nona dan Tuan nilai sendiri... apakah saya terlihat seperti orang yang begitu miskin hingga harus merampok orang yang saya lindungi?"
Kekejaman Derian yang Membuta
Derian yang merasa terpojok oleh ketenangan Reyhan mendadak kehilangan kendali. Ia tidak ingin rahasianya terbongkar. Ia harus memastikan Reyhan hancur saat ini juga.
"Alah! Aktingmu menjijikkan sekali!" seru Derian.
BRAAAK!
Tanpa diduga oleh siapa pun, Derian melayangkan tendangan keras dengan sepatu pantofelnya tepat ke arah kaki kanan Reyhan yang sedang dibalut gips putih itu.
"Aaaarrgh!" Reyhan mengerang kesakitan yang luar biasa. Tubuhnya seketika ambruk ke tanah aspal yang kasar. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Rasa nyeri yang menusuk seolah-olah tulang yang baru saja mau menyambung itu dipaksa patah kembali.
"Der! Apa-apaan kamu ini?! Dia sudah diborgol!" teriak Vanya histeris. Ia mencoba maju untuk menolong Reyhan yang meringkuk kesakitan, namun tangan Derian menahannya dengan sangat kuat.
"Lihat, Vany! Dia sengaja berteriak kencang supaya kamu merasa kasihan! Ini semua bagian dari aktingnya!" Derian tertawa sinis, matanya melotot tajam pada Reyhan yang tergeletak. "Bawa dia, Pak! Sampah seperti ini tidak pantas ada di lingkungan terhormat!"
Polisi segera menyeret Reyhan dengan kasar menuju mobil. Kang Ujang yang berdiri di kejauhan hanya bisa mengepalkan tangan hingga kukunya memutih dan melukai telapak tangannya sendiri. Hatinya menjerit ingin membela, ingin mengatakan bahwa Reyhan adalah penyelamat nyawa nonanya, namun bayangan ancaman Derian yang akan menghancurkan keluarganya membuat lidahnya kelu bagai disemen.
Vanya berdiri mematung di tengah halaman. Ia melihat tubuh Reyhan yang tak berdaya dimasukkan ke dalam mobil polisi. Sesaat sebelum pintu ditutup, Reyhan sempat menoleh. Tidak ada kemarahan, tidak ada dendam. Matanya hanya menyiratkan kekecewaan yang mendalam, seolah berkata: Apakah sedalam itu ketidakpercayaanmu padaku, Nona?
"Benarkah dia penjahat?" bisik Vanya pada dirinya sendiri, suaranya nyaris hilang ditelan angin.
"Sudahlah, Vany. Untung ada aku yang sigap membongkar kedoknya," ucap Derian sambil mengusap-usap bahu Vanya dengan tangan yang tadi ia gunakan untuk menendang Reyhan.
Vanya melepaskan rangkulan Derian dengan gerakan kasar. Ia berbalik dan masuk ke dalam rumah dengan hati yang hancur berkeping-keping. Di satu sisi, bukti polisi nampak sangat nyata. Namun di sisi lain, ia merasa separuh jiwanya baru saja dibawa pergi ke dalam sel yang gelap dan dingin.
Di Balik Jeruji: Sang Naga yang Terluka
Sesampainya di sel tahanan sementara, Reyhan disatukan dengan beberapa tahanan lain yang bertampang sangar. Kakinya berdenyut-denyut hebat, gipsnya nampak sedikit retak akibat tendangan Derian tadi. Namun, ia tidak mengeluh. Ia duduk dengan punggung tegak di pojok ruangan yang pengap.
Seorang tahanan bertubuh besar mendekat, hendak menggertak "orang baru" yang nampak lemah itu. Namun, saat Reyhan mendongak dan menatap pria itu dengan mata dingin khas Keluarga Dirgantara—mata seorang penguasa yang sedang murka—tahanan itu mendadak ciut dan mundur teratur tanpa sepatah kata pun. Ada aura kematian yang terpancar dari diamnya Reyhan.
Reyhan merogoh bagian dalam gipsnya yang ternyata memiliki celah kecil yang sangat rahasia. Dari sana, ia mengeluarkan sebuah alat komunikasi kecil yang sangat canggih.
"Mainkan peranmu sepuasnya, Derian," gumam Reyhan sangat pelan, hampir berupa bisikan gaib. "Karena saat aku keluar dari sini, bukan hanya kariermu yang akan tamat, tapi seluruh duniamu akan aku ratakan dengan tanah hingga tak bersisa."
Reyhan memejamkan mata, menahan perih di kakinya. Ia tahu, ini adalah bagian dari "ujian" ayahnya untuk melihat sejauh mana ia bisa bertahan di titik terendah. Dan bagi seorang Reyhan Dirgantara, fitnah murahan tidak akan pernah bisa mengubur kebenaran selamanya.
cerita drama seorang CEO dan gadis angkuh yang jatuh cinta padanya. dibalut dengan komedi biar tidak membosankan