transmigrasi jadi tokoh yang harusnya mati mengenaskan? tidak, Terima kasih.
saat suami CEO-ku meminta cerai, aku pastikan 2 garis biru muncul terlebih dahulu. permainan baru saja dimulai, sayang.
#jadi antagonis#ceo#hamil anak ceo#transmigrasi#ubah nasib#komedi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
putri tanpa mahkota
Beberapa hari terakhir, keadaan rumah Wijaya aman. Damai. Tentram.
Tidak ada teriakan Chindy yang ngomel karena bajunya dipinjem art. Tidak ada suara gebrak meja Eric pas rapat dadakan di ruang kerja. Cuma ada suara sendok ketemu piring pas sarapan, suara TV kecil Bi Ijah di dapur, sama tawa Cika yang udah mulai balik lagi.
Mereka belajar dari kesalahan. Setelah kejadian di ruang tengah itu, semua kayak ditampar. Menciptakan keluarga yang tentram, yang saling denger, ternyata jauh lebih Cika butuhkan daripada sekadar uang bulanan yang masuk ke rekening. Uang gak bisa peluk Cika pas nangis.
Dan hari ini, hari yang dinanti tiba. Hari ulang tahun Cika yang ke-17.
Vivian dan Eric sudah sampai di lokasi sejak sore. Sebuah taman luas, kepemilikannya masih atas nama keluarga Wijaya. Taman pribadi yang biasanya sepi, sekarang didekor sedemikian rupa. Lampunya gantung-gantung kayak kunang-kunang. Meja-meja bulat ditutup taplak putih, di atasnya ada rangkaian bunga mawar putih dan baby’s breath. Tidak terlalu kanak-kanak, karena ini ulang tahun yang ke-17. Umur tanggung. Tidak pula terlalu meriah sampai dikira resepsi pernikahan. Pas. Elegan. Hangat.
Panggung kecil ada di tengah, background-nya tirai bludru biru dongker dengan taburan lampu kecil kayak bintang. Di depannya, kue ulang tahun 3 tingkat berdiri anggun. Putih, dihias mawar gula dan pita silver.
"Sekarang, aku lihat Cika lebih ceria," ucap Eric. Dia berdiri di samping Vivian, kedua tangan masuk saku celana. Masih dingin, masih datar, tapi nadanya... senang. Lega. Matanya gak lepas dari Cika yang lagi fitting akhir sama Chindy di tenda samping.
"Iya," sahut Vivian singkat. Dia juga lagi merhatiin Cika dari jauh. Tangannya otomatis ngelus perut yang udah mulai kelihatan buncit kalau pakai dress ketat. Hamil 4 bulan.
Mereka kini duduk di sebuah bangku taman, tak jauh dari tempat acara. Agak minggir, biar bisa ngawasin semua tanpa ganggu tukang dekor yang masih pasang-pasang lampu. Mata keduanya tertuju pada pemandangan itu: pelayan yang hilir mudik, Chindy yang teriak-teriak ngatur MUA, Bu Ratna yang cek list tamu undangan. Rame. Tapi rame yang sehat.
"Aku rasa kamu bukan Vivian yang dulu," ucap Eric lagi. Tiba-tiba. Tanpa nengok. Matanya tetep ke depan.
Vivian terlonjak. Jantungnya deg. _Apa sekontras itu perubahan-nya? Apa dia curiga aku bukan Vivian asli?_ Tangannya yang lagi ngelus perut berhenti. "Maksudmu Vivian yang selalu buat onar? Suka selingkuh itu?" Tanya Vivian. Dia coba bercanda, tapi suaranya agak kaku. Matanya kini tertuju pada Eric, yang masih datar menatap ke arah orang-orang yang sedang sibuk bekerja. Profil samping Eric kena sinar lampu taman. Tegas.
"Ya," sahutnya. Satu kata. Singkat. Tapi berat.
Vivian buang napas, pura-pura santai. "Vivian yang itu masih aku," sahutnya. Dia senyum miring. "Tapi sekarang aku hamil. Butuh banyak biaya. Butuh banyak istirahat. Siapa yang mau selingkuh sama perempuan hamil ini? Jalan aja gampang capek." Dia nunjuk perutnya. "Lagipula, selingkuh capek. Mending turu."
Eric tak jawab. Hanya terdiam. Di kepalanya seperti muncul banyak pertanyaan, tapi bingung tanya yang mana duluan. _Kenapa berubah? Karena hamil? Karena Cika? Atau karena... aku?_ Tapi mulutnya kelu. Dia cuma melirik perut Vivian sekilas, terus balik lagi natap panggung. Rahangnya sedikit mengeras.
Vivian gak maksain. Dia juga diem. Mereka duduk berdampingan, tapi pikiran masing-masing jauh. Sampai suara Chindy teriak dari tenda, "Kak Vivian! Sini bentar! Bantuin resletingnya Cika nyangkut!"
....
Acara dimulai pukul 7 malam. Langit udah gelap, dan taman Wijaya berubah jadi negeri dongeng.
Dibuka dengan pesta kembang api kecil. _Dor! Dor! Pyar!_ Cahaya warna-warni meledak di atas taman, bikin semua tamu undangan—temen sekolah Cika, rekan bisnis Bu Ratna, sama keluarga inti—pada noleh ke atas sambil "Waaaah".
Cika nampak cantik. Benar-benar cantik. Dengan gaun ala Cinderella yang dibuatkan khusus oleh Chindy. Bukan biru, tapi _dusty blue_. Bahannya tule berlapis, roknya ngembang, tapi gak norak. Di bagian dada ada payet halus bentuk bintang-bintang kecil. Rambutnya di-sanggul setengah, dikasih tiara tipis. Dia bukan anak kecil lagi. Dia putri.
Sementara keluarga yang lain, memakai pakaian senada yang tak kalah indah. Tema malam ini adalah _putri kerajaan_. Dresscode-nya _royal blue & silver_.
Bu Ratna pakai kebaya modern royal blue, anggun. Chindy pakai gaun silver dengan belahan tinggi, seksi tapi elegan. Eric pakai setelan jas biru dongker, dasi silver. Dan Vivian... Vivian pakai dress _maternity_ satin warna _dusty blue_ juga, ngepas di dada tapi longgar di perut. Simpel, tapi karena auranya, dia keliatan paling... mahal.
Tema _putri kerajaan_ ini adalah ungkapan bahasa mereka: Cika adalah putri mereka yang berharga. Biarpun tak punya mahkota beneran, tapi seluruh "istana"—seluruh keluarga Wijaya—harus hormat padanya. Harus jaga dia. Harus muterin dunia buat dia.
Saat acara tiup lilin, Cika ditemani ibunya di podium. Di depan-nya terdapat kue berlapis yang indah, lilin angka 17 menyala goyang kena angin malam. Penuh harapan. Penuh doa baik. Penuh maaf yang gak diucapin tapi kerasa.
Sementara Eric, Vivian dan Chindy berdiri tak jauh dari mereka. Dengan posisi Eric ada di tengah mereka. Chindy di kanan, Vivian di kiri. Seolah Eric memang sengaja menengahi, jadi tameng, agar 2 perempuan itu tak bertengkar di waktu bahagia. Trauma acara keluarga sebelumnya masih ada.
Band akustik mulai main. Semua orang berseru, bernyanyi, _"Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday, happy birthday Cikaaaa..."_
Cika merem. Ngambil napas. Meniup lilin. _Fuuuhh~_
Lilinnya padam. Semua tepuk tangan. _Prok prok prok!_ Kembang api mini nyala lagi di samping panggung.
Cika langsung balik badan, memeluk ibunya. Erat. "Terimakasih, Ibu, telah mengusahakan ini semua," ucapnya dengan senyum yang masih mengembang. Air matanya ada, tapi ini air mata bahagia. Bu Ratna nangis. Beneran nangis. Dipeluk anak bungsunya di depan banyak orang. "Ibu yang minta maaf, Sayang... Ibu telat."
Tak lupa Cika turun dari podium, berlari kecil ke arah kakaknya. Memeluk Eric yang sudah mempersiapkan pesta semeriah ini. Eric yang biasanya kaku, sekarang bales meluk. Ngepat-ngepat punggung Cika. "Selamat ulang tahun, Dek." Cuma itu. Tapi bagi Cika, cukup.
Lanjut pada Chindy. Cika meluk Kak Chindy yang sudah membuatkan gaun super indahnya, yang begadang 3 malam jahit payet satu-satu. "Makasih, Kak. Cantik banget gaunnya. Aku kayak beneran putri." Chindy cuma noyor jidat Cika, "Ya iyalah. Kakakmu siapa dulu." Tapi matanya berkaca.
Terakhir, Vivian.
Cika berhenti satu meter di depan Vivian. Dia menatap wajah Vivian beberapa detik. Wajah yang keliatan lelah. Kantung matanya ada. Tapi senyumnya tulus. Wajah orang yang memaksakan diri mempersiapkan pesta semeriah ini biarpun sedang hamil muda. Yang bolak-balik cek vendor, yang marah-marah sama WO karena bunganya kurang, yang sempet mual di mobil pas survei tempat.
Wajah orang yang dulu paling ia benci. Paling membuatnya hancur dengan kata "mandiri". Tapi sekarang, Vivian ganti semuanya dengan kebahagiaan lebih. Kebahagiaan yang tak pernah Cika dapatkan biarpun dengan Ayahnya. Karena Ayahnya sayang, tapi Ayahnya udah gak ada. Vivian ada. Di sini. Sekarang.
"Kak," ucapnya. Pelan. Lirih. Panggilan yang biasanya Cika hindari, yang biasanya diganti "Kakak Ipar", sekarang terdengar sangat tulus. Dari hati.
Langsung, Cika maju dan memeluk Vivian. Erat. Kepalanya nyender di bahu Vivian.
Vivian kaget sepersekian detik. Terus langsung balas memeluk, satu tangan ngelus punggung Cika, satu tangan nopang perutnya sendiri. Sambil menepuk punggungnya sesekali. "Sudah besar, tidak boleh nangis," sahutnya. Suaranya bergetar. "Nanti make-up-nya luntur. Jelek."
Cika ketawa di tengah pelukan. "Kakak juga nangis tuh."
Eric yang lihat dari jauh, diem. Dadanya anget. Untuk pertama kalinya setelah 2 tahun, dia lihat adiknya senyum lepas kayak gitu. Dan itu karena Vivian. Istrinya. Yang dulu dia nikahi karena perjodohan.
Malam itu, Cika jadi pusat perhatian. Beneran. Bukan karena kasihan. Tapi karena semua orang di "istana" itu sayang dia.