"Pencarian Pusaka Primordial"
Dunia yang damai ternyata hanyalah lembaran kertas di mata para dewa.
Pahlawan legendaris bernama Raka mengorbankan jiwa dan raganya yang merupakan tetesan "Tinta Primordial" untuk membebaskan dunia dari belenggu Naskah Takdir. Pengorbanannya memberikan kehendak bebas bagi seluruh penduduk fana. Namun, di dimensi kosmik yang jauh lebih tinggi, sebuah tempat bernama Ruang Redaksi, kebebasan ini dianggap sebagai "Kecacatan Cerita" yang harus segera dihapus."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abas Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
B 31: Rayuan Sang Bidadari
"Raka, kau pulang lebih awal hari ini?"
Sesosok wanita cantik keluar dari gubuk mereka. Itu adalah Sekar. Namun, ia tampak lebih muda, lebih cerah, dan tanpa beban kesedihan yang selama ini menghiasi wajahnya. Ia mendekati Raka, melilitkan lengannya di leher pria itu dengan manja.
"Mandilah, aku sudah menyiapkan air hangat dan pakaian bersih," ucap Sekar lembut.
Malam itu, di dalam gubuk yang diterangi lampu minyak yang temaram, Sekar mendekati Raka.
Suasananya menjadi sangat intim. Sekar melepaskan kebaya tipisnya, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sangat sempurna, terlalu sempurna, tanpa bekas luka.
"Mari kita mulai hidup baru kita, Raka. Lupakan tentang Sektor Terlarang. Lupakan tentang sembilan matahari. Di sini, kau hanya suamiku," bisik Sekar sambil menarik Raka ke atas ranjang bambu mereka.
Raka terjebak dalam gairah yang meluap. Ia mencium "Sekar", merasakan kelembutan kulitnya yang luar biasa.
Ahhh... Suara desahan Sekar terdengar sangat merdu di telinganya. Namun, saat Raka menyentuh punggung Sekar, ia merasa ada sesuatu yang salah. Tubuh itu tidak memiliki getaran energi kehidupan murni yang biasa ia rasakan pada Sekar yang asli. Tidak ada "api" yang menyatu dengan sukmanya.
Raka berhenti mendadak. Ia menatap mata Sekar dalam-dalam. "Kau bukan Sekar-ku."
Wanita itu tersenyum manis, namun matanya tetap kosong.
"Aku adalah kehangatan yang kau inginkan, Raka. Kenapa kau memilih rasa sakit jika kau bisa memiliki kebahagiaan abadi di sini?"
Tidak! "Karena kebahagiaan tanpa rasa sakit adalah dusta!" Ucap Raka.
Raka mencoba memanggil energi Crimson-nya, namun di dalam kehidupan sukma ini, kekuatannya terkunci oleh kode-kode Nexus. Ia merasa lemah, kembali menjadi manusia biasa yang tidak berdaya.
"Mulai menolak Sukma Raka. Tingkatkan dosis endorfin!" suara The Archivist bergema dari langit yang tiba-tiba berubah menjadi warna biru digital yang retak.
Tiba-tiba, Pak Darman berubah menjadi sosok yang menyeramkan, mencoba mencekik Raka.
"Tetaplah di sini, Raka! Ikutlah mati bersama kami!"
Raka tersungkur di tanah. Namun, di tengah keputusasaannya, ia teringat pada Nara yang sedang berjuang di dunia nyata. Ia teringat pada miliaran jiwa yang terperangkap dalam tabung-tabung biru tersebut.
Mereka semua sedang mengalami "surga palsu" ini sementara raga mereka diperas habis oleh mesin.
"Vanya! Aku tahu kau masih di sana! Bantu aku!" teriak Raka ke dalam lubuk jiwanya.
"Raka... gunakan rasa sakitmu! Rasa sakit adalah satu-satunya hal yang tidak bisa dipalsukan oleh mesin!" Suara Vanya terdengar seperti bisikan di balik badai.
Raka mengepalkan tinjunya dan menghantamkan tangannya ke batu tajam di tanah hingga berdarah.
KRAKKKK!
Rasa sakit yang nyata itu menjadi jangkar. Darah merah yang mengalir di simulasi Sukma ini mendadak berubah menjadi warna Crimson. "Matahari Crimson: Pembakar Dusta!"
BOOOOMMMMM!
Ledakan energi merah meletus dari jantung Raka, membakar seluruh padang rumput, gubuk, dan sosok Pak Darman serta Sekar palsu tersebut.
Mereka semua menjerit saat tubuh digital mereka terurai menjadi barisan kode yang terbakar.
AAAAAAKKKKHHHH!
Dunia di sekitar Raka retak layaknya kaca yang dipukul palu godam.
PRANGGG!
Kembali ke Kenyataan yang Berdarah
Raka membuka matanya kembali di aula Nexus. Tubuhnya tersentak hebat, napasnya memburu hingga ia muntah darah hitam. Di depannya, konsol utama tempat ia terhubung kini mengeluarkan asap dan percikan api biru.
"Raka! Kau kembali!" Nara berlari mendekat, ia sendiri terluka parah dengan bekas cakaran kabel di bahunya.
Di depan mereka, The Archivist tampak terguncang. Wajah-wajah di tubuhnya menjerit secara bersamaan.
"Data corrupt! nomor 13 menghancurkan Core-01! Memulai protokol penghapusan massal jiwa-jiwa terperangkap!"
"Jangan berani-beraninya!" geram Raka.
Meskipun kepalanya terasa seperti akan pecah, Raka bangkit berdiri. Ia melihat jutaan tabung jiwa mulai berkedip merah, tanda bahwa mesin akan menghapus mereka semua untuk mencegah Raka membebaskan mereka.
"Nara, pegang tanganku! Kita harus melakukan Transmisi Balik!" perintah Raka.
Raka tidak akan menyerang The Archivist secara fisik. Ia akan menggunakan energi Crimson-nya untuk "menyiram" seluruh sistem Nexus dengan satu emosi yang paling kuat yaitu "Kemanusiaan."
"Kalian ingin mengunduh jiwa? Maka rasakanlah beban dari setiap air mata dan kemarahan yang pernah ada di dunia ini!"
Raka menempelkan kedua tangannya ke lantai logam Nexus. Cahaya merah merambat melalui kabel-kabel raksasa seperti aliran darah di dalam pembuluh nadi.
Raka menjerit saat ia merasakan miliaran memori dari jiwa-jiwa yang terperangkap mulai mengalir melewati otaknya secara bersamaan.
"Aaaaaakkkkkhhhhhh!"
Aula Nexus berguncang hebat. Ini bukan lagi perang fisik, melainkan perang antara Kehendak Manusia melawan Logika Mesin. Di luar sana, armada "Cahaya Terakhir" melihat Sektor Nexus yang tadinya biru dingin, kini perlahan-lahan mulai membara dengan warna merah tua yang menyala."
"Aula utama Sektor Nexus tidak lagi dingin dan kaku. Jutaan tabung kristal biru yang tadinya memenjarakan jiwa-jiwa manusia kini pecah secara bersamaan.
PRANGGG!
Suara kaca yang hancur bersahutan dengan dengungan frekuensi tinggi yang memekakkan telinga.
Dari dalam tabung-tabung itu, miliaran butiran cahaya putih perak melayang keluar. Mereka adalah roh-roh tanpa raga yang telah terperangkap selama berabad-abad.
Mereka melayang di udara, menciptakan samudra cahaya yang sangat luas hingga memenuhi seluruh cakrawala Sektor Nexus. Suara isak tangis dan tawa bahagia dari miliaran entitas tanpa suara itu bergema langsung di dalam batin Raka.
Syuuuuuuuuuu...
"Raka... mereka semua bebas," bisik Nara, suaranya parau karena kelelahan. Ia berdiri di tengah lautan roh tersebut, tangannya terangkat mencoba menyentuh butiran cahaya yang melintas di depannya.
Namun, kebebasan itu hanyalah awal dari tragedi baru. Tanpa raga materi, roh-roh ini mulai memudar karena tarikan gravitasi kosmik yang keras.
Mereka seperti uap air di tengah gurun pasir, jika tidak segera diberi "wadah", mereka akan lenyap selamanya menjadi energi hampa.
"Kalian pikir kalian telah menang?"
Sebuah suara dingin, yang terdengar seperti ribuan mesin yang berputar dengan presisi sempurna, menggelegar dari pusat galaksi Nexus.
Dinding-dinding logam di depan Raka tiba-tiba terlipat dan menyusun diri kembali membentuk sesosok entitas raksasa setinggi gunung. Ia tidak memiliki kulit atau daging, tubuhnya terbuat dari geometri cahaya putih yang terus berubah, Sang Arsitek Agung.
"Jiwa-jiwa ini adalah properti Sektor Terlarang. Jika mereka tidak bisa menjadi prosesor, maka mereka akan menjadi bahan bakar!" Sang Arsitek Agung mengangkat tangannya yang berbentuk prisma raksasa.
ZINGGGGGGG!
Sebuah pusaran energi penyerap muncul di atas lautan roh, mulai menghisap butiran-butiran cahaya itu dengan paksa.
Roh-roh itu menjerit dalam frekuensi yang memilukan.
AAAAAAKKKKHHHH!
Bersambung....