NovelToon NovelToon
Siasat Manis Istri Kedua

Siasat Manis Istri Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Konflik etika / Pelakor
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

Update setiap hari

"Di rumah ini, aku adalah madu yang paling manis, namun di dalam nadiku mengalir racun yang paling mematikan."

Gendis hanyalah seorang wanita dengan tutur kata lembut dan senyum yang menenangkan. Tidak ada yang menyangka, di balik wajah polosnya, ia menyimpan dendam membara terhadap Maya—istri pertama dari pengusaha muda sukses, Baskara. Baginya, kebahagiaan yang Maya miliki saat ini dibangun di atas puing-puing kehancuran keluarga Gendis di masa lalu.

Demi menuntaskan dendamnya, Gendis rela menanggalkan harga diri. Ia masuk ke dalam rumah tangga itu sebagai istri kedua, menjadi bayang-bayang yang perlahan-lahan menggerogoti kebahagiaan Maya dari dalam. Dengan siasat yang begitu halus dan manis, Gendis merebut simpati ibu mertua yang kaku, perhatian para pelayan, hingga seluruh ruang di hati Baskara.

Setiap tetes air mata yang jatuh di rumah itu adalah bagian dari simfoni balasan Gendis. Namun, saat rencana besarnya hampir mencapai puncak dan Maya mul

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: DEBU YANG TERSISA DI AMBANG PINTU

Gedung Hardianto Group pagi ini terasa berbeda. Tidak ada lagi bisik-bisik ketakutan di koridor, tidak ada lagi tatapan curiga dari balik kubikel karyawan. Penangkapan Tuan Kusuma telah menjadi pembersihan besar-besaran yang menyapu habis kabut hitam yang selama sepuluh tahun menyelimuti perusahaan itu. Namun bagi Larasati, kemenangan ini tidak serta-merta membawa tawa yang lepas. Ia justru merasa sangat lelah—sebuah kelelahan jiwa yang membuatnya ingin tidur selama seribu tahun.

Ia duduk di ruang kerjanya yang kini terasa terlalu luas. Di atas mejanya, setumpuk dokumen restrukturisasi menunggu tanda tangannya. Aditama masuk, kali ini tanpa berkas di tangan, melainkan sebuah amplop kecil berwarna biru pucat.

"Ini dari panti rehabilitasi," ucap Aditama pelan. "Maya meminta bertemu. Katanya, ini permintaan terakhirnya sebelum dia dipindahkan ke lembaga pemasyarakatan karena keterlibatannya dalam konspirasi Tuan Kusuma."

Larasati menatap amplop itu dengan tatapan hambar. "Kenapa aku harus menemuinya, Adit? Bukankah semuanya sudah jelas? Dia sudah kalah. Ayahnya sudah hancur. Suaminya sudah bukan miliknya lagi. Apa lagi yang dia inginkan?"

"Dia bilang... dia punya sesuatu milik ayahmu yang tidak pernah ditemukan oleh siapa pun. Sesuatu yang dia simpan di bawah ubin rumah lama kalian," jawab Aditama ragu-ragu.

Larasati tertegun. Ayahnya memang seorang kolektor benda antik dan sering menyimpan catatan harian di tempat-tempat yang tak terduga. Rasa penasaran itu akhirnya mengalahkan rasa muaknya. "Siapkan mobil. Kita pergi sekarang."

Perjalanan menuju panti rehabilitasi terasa sangat panjang. Larasati menatap ke luar jendela, melihat pepohonan yang berlari menjauh. Ia teringat masa-masa di mana ia harus merendahkan dirinya sebagai Gendis hanya untuk mendapatkan sedikit informasi dari Maya. Betapa waktu telah memutarbalikkan nasib mereka. Kini, dialah sang penguasa, dan Maya hanyalah debu di bawah kakinya.

Sesampainya di sana, Larasati menemukan Maya duduk di ruang kunjungan yang dingin. Wajahnya tampak sangat pucat, hampir transparan. Matanya yang dulu selalu berkilat penuh kebencian kini tampak redup, seperti lilin yang hampir habis sumbunya.

"Kamu datang juga, Ratu," suara Maya terdengar parau, nyaris seperti bisikan angin.

Larasati duduk di seberangnya, dipisahkan oleh meja kayu yang kusam. "Katakan apa yang ingin kamu katakan, Maya. Aku tidak punya banyak waktu untuk mengenang masa lalu yang pahit."

Maya tersenyum tipis, sebuah senyum yang lebih mirip dengan seringai kesakitan. "Kamu menang, Larasati. Kamu mendapatkan semuanya. Perusahaan, harta, dan... Baskara. Tapi tahukah kamu? Menang di atas penderitaan orang lain itu rasanya seperti memakan buah yang cantik tapi beracun di dalamnya."

"Jangan berceramah tentang racun padaku, Maya. Kamulah yang pertama kali menyajikannya di meja makanku," balas Larasati dingin.

Maya menarik napas panjang, bahunya yang kurus tampak naik turun dengan susah payah. "Di rumah lama itu... di bawah ubin pojok kamar kerja ayahmu, ada sebuah kotak kayu kecil. Di dalamnya ada rekaman suara terakhir ayahmu sebelum dia pergi ke rumah sakit. Bukan rekaman medis, tapi pesan untukmu. Aku menemukannya saat ayahku menyita rumah itu, dan aku menyimpannya karena aku ingin kamu menderita karena tidak pernah mendengar kata-kata terakhirnya."

Larasati mengepalkan tangannya. "Kenapa kamu memberitahuku sekarang?"

"Karena aku lelah membencimu," bisik Maya, setetes air mata jatuh di pipinya yang tirus. "Membencimu itu melelahkan, Larasati. Itu menguras seluruh energiku hingga aku tidak punya sisa untuk mencintai diriku sendiri, apalagi anakku yang sekarang entah di mana. Aku ingin pergi ke penjara dengan hati yang kosong. Aku tidak ingin membawa bebanmu lagi."

Larasati berdiri tanpa mengucap sepatah kata pun. Ia tidak memberikan simpati, namun ia juga tidak memberikan makian. Ia melihat Maya bukan lagi sebagai musuh bebuyutan, melainkan sebagai peringatan hidup—bahwa dendam, jika dibiarkan terlalu lama, akan memakan pemiliknya sendiri.

Sore itu, Larasati pergi ke rumah lama keluarga Hardianto—rumah yang dulu dihuni oleh Baskara dan Maya. Rumah itu kini kosong, sedang dalam proses renovasi untuk dijadikan museum yayasan pendidikan Hardianto.

Dengan bantuan seorang tukang, Larasati membongkar ubin di pojok ruang kerja ayahnya yang dulu gelap dan berdebu. Benar saja, di sana tertanam sebuah kotak kayu jati kecil yang dibungkus plastik tebal.

Larasati membawa kotak itu ke taman belakang, duduk di bangku kayu yang dulu sering ia gunakan untuk membaca buku bersama ayahnya. Dengan tangan gemetar, ia membuka kotak itu. Di dalamnya ada sebuah tape recorder kecil dan secarik kertas yang sudah menguning.

Ia menekan tombol play.

Suara berat dan penuh wibawa ayahnya terdengar, meski diselingi batuk yang sesak. "Laras, anakku... jika kamu mendengar ini, berarti Ayah sudah tidak bersamamu lagi. Ayah tahu Paman Kusuma dan Tuan Pratama sedang merencanakan sesuatu yang besar. Ayah sengaja membiarkan mereka merasa menang, karena Ayah ingin kamu belajar bahwa kekuasaan sejati bukan pada harta, tapi pada kesabaran. Jangan balas dendam dengan cara mereka, Laras. Jika kamu membalas kegelapan dengan kegelapan, maka dunia akan tetap gelap. Jadilah cahaya, Nak. Ambil kembali milik kita dengan cara yang terhormat. Ayah mencintaimu..."

Suara itu terputus oleh suara pintu yang terbuka di rekaman tersebut, diikuti oleh suara langkah kaki yang berat—mungkin itu saat Tuan Kusuma masuk.

Larasati memeluk alat perekam itu ke dadanya, tangisnya pecah sehebat-hebatnya. Selama dua tahun ini, ia merasa menjadi pahlawan karena telah menghancurkan musuh-musuhnya. Namun mendengar pesan ayahnya, ia menyadari bahwa ia hampir saja kehilangan jiwanya dalam proses pembalasan dendam itu.

Baskara datang tak lama kemudian. Ia menemukan Larasati sedang menangis bersimpuh di atas rumput taman yang mulai tumbuh liar. Tanpa banyak tanya, Baskara berlutut dan memeluknya erat.

"Dia tidak ingin aku menjadi monster, Baskara," isak Larasati di bahu pria itu. "Ayah ingin aku mengambil kembali semuanya dengan hormat, tapi aku... aku menggunakan siasat yang sama kotornya dengan mereka."

Baskara mengusap rambut Larasati dengan lembut. "Kamu tidak menjadi monster, Laras. Kamu adalah seorang pejuang yang sedang bertahan hidup. Yang penting bukan bagaimana kamu memulai, tapi bagaimana kamu mengakhirinya. Dan sekarang, kamu sudah mengakhirinya dengan kebenaran."

Larasati mendongak, matanya yang merah menatap wajah Baskara yang tulus. "Aku ingin memulai hidup yang baru, Baskara. Benar-benar baru. Tanpa bayang-bayang Hardianto Group yang penuh darah, tanpa status 'Istri Kedua' yang menghantui."

"Maka mari kita mulai," ucap Baskara mantap. "Aku sudah mendapatkan kontrak pembangunan jembatan di desa kecil di Jawa Tengah. Tempatnya tenang, orang-orangnya sederhana. Aku ingin kamu ikut denganku ke sana, setidaknya untuk beberapa minggu. Lepaskan blazermu, lepaskan jabatan CEO-mu sebentar. Jadilah Larasati yang hanya ingin melihat matahari terbit tanpa beban di pundaknya."

Larasati tersenyum tipis di balik tangisnya. Ide itu terdengar sangat indah—seperti sebuah mimpi yang mustahil namun kini ada di depan mata. "Apakah Aditama bisa menangani kantor?"

"Aditama adalah orang yang paling setia yang pernah aku kenal. Dia akan menjaganya untukmu," jawab Baskara.

Malam itu, Larasati kembali ke apartemennya dan mulai mengemas pakaian yang sederhana. Ia meninggalkan perhiasan mahalnya, tas-tas brended-nya, dan semua atribut kekuasaannya di dalam brankas. Ia hanya membawa kotak kayu milik ayahnya dan satu foto pernikahannya dengan Baskara—foto yang dulu ia benci, namun kini ia lihat sebagai awal dari sebuah perjalanan panjang menuju pendewasaan.

Saat ia akan keluar pintu, ia melihat bayangannya di cermin. Ia tidak lagi melihat "Gendis" yang penakut, juga tidak melihat "Larasati sang Ratu" yang dingin. Ia melihat seorang wanita yang telah berdamai dengan luka-lukanya.

"Selamat tinggal, masa lalu," gumamnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!