Gwen baru sadar bahwa menjadi dewasa itu tidak seasyik telenovela favoritnya. Tagihan menumpuk, kopi tidak pernah cukup, dan setiap pertemuan keluarga selalu berakhir dengan satu pertanyaan maut: “Kapan nikah?” Bisakah Gwen bertahan, menghindari pertanyaan itu, dan tetap mempertahankan kebebasannya—tanpa menyerah pada “dunia dewasa” yang penuh aturan absurd?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Honey Brezee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31 - Hari yang Tak Direncanakan
Pagi itu datang bersama sinar matahari yang menerobos masuk lewat celah tirai kamar tamu.
Udara masih terasa sedikit pengap meski malam sudah berganti. Lampu tidur di sudut ruangan masih menyala redup, seolah tak pernah benar-benar dimatikan sejak semalam.
Gwen membuka mata perlahan. Butuh beberapa detik sebelum kesadarannya pulih sepenuhnya. Ia masih berada di kamar tamu apartemen Pandji. Selimut menutupi tubuhnya sampai pinggang. Di sisi luar ranjang, Pandji masih tertidur telentang dengan mulut sedikit terbuka, satu tangan menindih bantal, tangan lainnya masih memeluk bungkus snack keju yang semalam entah kapan berpindah ke atas ranjang.
Pemandangan itu sendiri sudah cukup lucu.
Namun saat pandangannya turun ke bawah, ke sisi lantai dekat ranjang, sudut bibir Gwen langsung terangkat.
Aga masih tertidur di kasur lipat tipisnya. Satu lengan terlipat di bawah kepala. Selimutnya sudah melorot setengah. Kaus longgar yang dikenakannya sedikit terangkat di bagian pinggang karena posisi tidurnya yang berantakan. Wajah pria itu tampak jauh lebih tenang daripada biasanya.
Ada rasa iba kecil yang ikut terselip.
Mungkin karena terlalu lama ditatap, Aga bergerak sedikit. Keningnya berkerut pelan. Lalu matanya terbuka perlahan.
Tatapan mereka langsung bertemu.
Ada jeda beberapa detik.
Lalu sudut bibir Aga terangkat tipis. "Selamat pagi," bisiknya dengan suara serak khas orang baru bangun.
Gwen refleks melirik ke arah Pandji yang masih mendengkur. "Pagi."
Aga bangun perlahan sambil meringis tipis. "Punggungku protes."
Gwen menahan tawa. "Itu artinya kamu sudah tua."
"Aku belum tua," jawab Aga sambil duduk. "Aku korban keadaan."
"Korban kebodohan sendiri," gumam suara berat dari atas ranjang.
Gwen dan Aga menoleh bersamaan.
Pandji rupanya sudah bangun. Matanya masih setengah terpejam, rambutnya acak-acakan, tapi mulutnya jelas sudah aktif seperti biasa.
Aga mendecak. "Pagi-pagi udah nyebelin."
Pandji menguap lebar lalu duduk sambil mengusap muka. "Pagi-pagi gue lihat lo masih hidup di kasur lipat aja udah syukur."
Gwen tertawa kecil sambil turun dari tempat tidur.
Tak lama kemudian, mereka bertiga sudah berada di ruang makan kecil dekat dapur. Meja masih dipenuhi sisa-sisa semalam—bungkus ayam goreng, burger yang tinggal setengah, botol minuman, dan beberapa snack yang belum habis. Pandji duduk paling santai dengan roti di tangan, seolah malam sebelumnya tak ada kejadian apa-apa.
Gwen sudah ganti baju rumahan sederhana—kaos oversize berwarna krem yang sebenarnya milik Pandji, celana pendek santai, dan rambut diikat asal ke belakang. Sementara Aga duduk di seberangnya dengan secangkir kopi hitam dan ekspresi orang yang belum sepenuhnya berdamai dengan hidup.
Laptop Gwen terbuka di atas meja. Beberapa file desain resort Raymond Tan masih terpampang di layarnya—gambar perspektif bangunan utama, area lobby, site plan, dan catatan revisi yang menumpuk di salah satu sisi layar. Begitu melihat itu, ekspresi Gwen berubah otomatis.
"Aduh," gumamnya pelan.
Ia langsung duduk lebih dekat ke laptop dan mulai meraih ponselnya.
Pandji melirik sekilas. "Mulai lagi."
Gwen mengusap pelipis. "Aku harus cek grup kantor. Semalam aku bener-bener nggak sempat buka."
Aga yang sejak tadi diam akhirnya bersuara, "Hari ini jangan buka kerjaan dulu."
Gwen menoleh. "Nggak bisa."
"Bisa."
"Aku serius." Gwen memutar laptop sedikit ke arahnya sendiri. "Ini proyek resort Raymond Tan. Kalau ada perubahan, aku harus siap. Aku nggak bisa santai."
Aga menyeruput kopinya pelan. "File presentasi finalnya kemarin udah kamu kirim, kan?"
Gwen mengernyit. "Iya, tapi itu bukan berarti aku bisa leha-leha."
"Kalau belum ada feedback dari Raymond Tan atau project manager, kamu paling cuma buka file yang sama dan stres sendiri."
Pandji yang sedang menggigit roti langsung mengangguk. "Nah. Itu Mbak banget. Hobi nyusahin diri sendiri."
Gwen mendelik pada adiknya. "Kamu diam."
Aga menyandarkan tubuh dengan santai. "Makanya ikut aku hari ini."
Gwen menoleh lagi. "Ke mana?"
"Kencan."
Pandji hampir menyemburkan air minumnya. "Buset. Pagi-pagi langsung to the point."
Gwen menatap Aga tak percaya. "Nggak bisa."
"Bisa."
"Aku kerja."
"Nggak. Hari ini kamu nggak akan benar-benar kerja."
Gwen memicingkan mata. "Kamu cenayang?"
Aga mengangkat bahu kecil. "Bukan."
"Terus?"
Aga menatapnya tenang. "Feeling aja."
Pandji yang mendengar itu langsung batuk kecil.
Gwen menoleh ke arahnya. "Kenapa?"
"Nggak," jawab Pandji cepat. "Roti nyangkut."
Tatapan Aga sempat bergeser ke Pandji sepersekian detik. Cukup tajam untuk mengingatkan. Cukup jelas untuk dipahami.
Pandji langsung pura-pura fokus ke rotinya lagi.
Gwen masih menatap Aga. "Kamu kok yakin banget?"
Aga tak menjawab langsung. "Cek aja grup kantor."
"Kalau ternyata aku tetap kerja?" tanya Gwen.
"Aku buka semua bajuku dan telanjang di depanmu sekarang," ucap Aga, nada suaranya sengaja dibuat menantang.
"Dih." Pandji melirik Aga dari ujung kepala sampai kaki dengan tatapan meremehkan. "Kayak badan lo bagus aja buat dipamerin."
Ia lalu menoleh ke Gwen, menghela napas panjang dengan ekspresi pura-pura prihatin. "Mbak, kalau masih waras mending jangan lihat," tambahnya datar. "Kasihan matamu, serius," tambahnya datar tanpa dosa.
Gwen mendengus pelan, menatap keduanya dengan kesal. "Kalian berdua ini kenapa sih, kayak anak kecil banget?"
Aga cuma terkekeh rendah, masih santai. "Dia aja yang ribut."
Pandji langsung menyahut cepat, nada suaranya nyolot. "Lah dia yang mau bikin trauma kakak gue."
Gwen mendesah pelan. Meski masih sebal pada tingkah mereka berdua yang seperti anak kecil, ia tetap meraih ponselnya dan membuka grup tim proyek resort Raymond Tan.
Ia menggulir layar beberapa pesan. Lalu diam. Gerakan jarinya berhenti.
Pandji ikut mencondongkan badan sedikit. "Apa?"
Gwen membaca sekali lagi pesan terbaru dari project manager. Meeting review dengan Raymond Tan dan tim investor diundur ke besok sore karena klien masih berada di luar kota. File presentasi sudah diterima, dan karena sesi revisi lanjutan baru akan dimulai setelah review berikutnya, seluruh tim diminta standby dari rumah dan diberi jeda satu hari untuk beristirahat.
Gwen mengangkat kepala perlahan. Tatapannya langsung tertuju pada Aga. Pria itu sedang menatapnya sambil menahan senyum tipis yang nyaris menyebalkan karena terlalu yakin.
"Gimana?" tanyanya santai.
Gwen masih memegang ponselnya. "Meeting-nya diundur."
Pandji menepuk meja sekali. "Hah? Beneran?"
Gwen mengangguk pelan. "Tim libur hari ini."
Aga meletakkan cangkir kopinya. "Tuh kan."
Pandji menatap Aga lekat-lekat. "Lo tahu dari Raym—"
"Feeling aja," potong Aga cepat—terlalu cepat untuk terdengar santai.
Sunyi sepersekian detik.
Gwen mengernyit. "Dari siapa?"
Pandji membeku.
Aga menoleh santai ke Gwen, lalu tersenyum tipis seolah tak ada yang aneh. "Dari feeling, sayang."
Pandji langsung menutup wajah dengan telapak tangan. "Gue capek."
Gwen masih menatap mereka berdua bergantian. Ada yang terasa aneh. Namun sebelum sempat memikirkannya lebih jauh, rasa lega karena kerjaannya benar-benar pending lebih dulu menguasai kepalanya.
Ia mengembuskan napas panjang. "Ya ampun," gumamnya. "Aku kira hari ini bakal penuh revisi."
Aga menatapnya lurus. Suaranya melunak. "Makanya aku bilang, jangan buka kerjaan dulu."
"Kamu nyebelin banget." gerutu Gwen
Aga mencondongkan tubuh sedikit. "Tapi kamu tetap suka."
Pandji menunjuk Aga. "Nah, ini. Sakitnya tuh di percaya dirinya."
Aga baru menoleh sekilas ke arahnya. "Lo diam."
Pandji mendecak. "Iya, iya. Silakan lanjut saling bikin malu."
Aga kembali menatap Gwen. "Jadi, sekarang nggak ada alasan lagi. Ikut aku."
Gwen masih berusaha menenangkan wajahnya sendiri. "Kencan ke mana memangnya?"
"Rahasia."
"Kalau aku nggak suka?"
"Aku pindah tempat."
"Kalau aku capek?"
"Aku gendong juga bisa."
Pandji memejamkan mata. "Ya Tuhan."
Gwen menatap Aga tak percaya. "Aku serius."
"Aku juga serius." Sudut bibir Aga terangkat nakal. "Apalagi kalau kamu capeknya manja."
"Aga!"
"Kenapa? Itu lucu."
Pandji geleng-geleng kepala. "Bukan lucu. Menjijikkan. Lanjut."
Gwen buru-buru meraih gelas minumnya. "Kalau aku nggak mau pergi?"
"Aku rayu."
"Kalau aku tetap nolak?"
"Aku rayu lagi."
"Kalau aku masih nolak?"
Aga tersenyum miring. "Berarti aku harus cari cara yang lebih efektif."
Pandji langsung mengangkat tangan. "Jangan dijelasin. Tolong jangan."
Wajah Gwen makin panas. "Kamu tuh—"
"Bucin?" potong Aga santai.
"Mesum," balas Gwen spontan.
Aga tertawa rendah. "Kalau sama kamu, iya."
Pandji menepuk meja sekali. "Nah, akhirnya. Pengakuan dosa."
Gwen menggeleng, tapi senyumnya mulai lolos juga. "Nggak tahu malu."
Aga menatapnya lekat-lekat. "Soal kamu, aku memang nggak punya malu."
Sunyi kecil jatuh di antara mereka. Lalu Gwen mengembuskan napas pelan.
"Ya udah."
Aga langsung menangkap. "Itu artinya iya?"
Gwen mendelik tipis, pipinya masih merah. "Iya."
Senyum Aga langsung berubah penuh kemenangan.
Pandji menjatuhkan tubuh ke sandaran kursi. "Mantap. Gue resmi jadi korban romansa pagi ini."
Lalu, seolah baru sadar sesuatu, Pandji mendadak bangkit.
"Oke," katanya. "Gue mandi dulu ya, bentar."
Aga mengernyit. "Buat apa?"
Pandji menatapnya heran. "Buat apa? Ya buat bersih-bersih. Gue ikut juga."
Aga menatapnya datar beberapa detik. "Lo nggak ada sidang?"
"Nggak, hari ini gue bolos. Bokap pasti kasih izin. Tinggal bilang lagi nemenin mbakku tersayang.” Ucap Pandji santai.
Aga dan Gwen saling bertatapan. Ada pesan tersirat di mata Aga—seperti ingin mengatakan "ini masalah" namun Gwen balas menatapnya dengan "ya udah gapapa".
Pandji berjalan ke arah kamar mandi. "Gue cepet kok, lima menit."
Begitu pintu kamar mandi tertutup dan terdengar suara air mengalir, Aga langsung berdiri. Matanya menyipit ke arah pintu, lalu ke Gwen.
"Kita pergi sekarang," ucapnya dengan nada mendesak.
Gwen mengernyit. "Hah? Tapi Pandji—"
"Biarin," Aga memotong. "Dia mandi lima menit, kita kabur sekarang."
"Aga!" Gwen berbisik keras. "Kita nggak bisa ninggalin dia begitu aja!"
"Bisa." Aga meraih tangan Gwen, menariknya berdiri. "Kencan kita berdua aja. Nggak ada Pandji. Nggak ada yang ganggu."
Gwen mencoba menarik tangannya. "Tapi aku belum siap-siap. Aku masih pake baju rumahan!"
Ia menunjuk kaos oversize dan celana pendeknya dengan panik. Rambutnya masih berantakan, wajahnya masih polos tanpa makeup, dan ia bahkan belum sempat menyikat gigi.
Aga menatapnya dari ujung kepala sampai kaki. Senyumnya terbit, bukan senyum mengejek, tapi senyum hangat yang membuat Gwen semakin salah tingkah.
"Kamu cantik," katanya sederhana.
"Aga, aku serius! Aku nggak bisa keluar begini!"
"Kenapa?" Aga masih memegang tangannya erat. "Kamu tetap Gwen. Pakaian nggak bakal mengubah itu."
"Tapi orang-orang akan lihat—"
"Aku yang lihat," potong Aga. "Bukan orang lain. Dan aku bilang kamu cantik."
Gwen menggerutu, wajahnya merah. "Kamu tuh nggak ngerti aja. Aku perlu ganti baju, dandan sedikit, minimal pakai sepatu yang proper—"
"Nggak ada waktu." Aga menariknya ke arah pintu apartemen. "Pandji selesai mandi sebentar lagi. Kalau kita nggak kabur sekarang, dia bakal ikut."
"Aga!"
"Percaya sama aku." Aga berhenti sejenak, menatapnya lurus. "Kencan kita berdua aja. Tanpa adikmu yang nyebelin. Tanpa yang ganggu. Cuma kamu dan aku."
Gwen masih ragu. Ia melirik ke kamar mandi, lalu ke pintu apartemen, lalu ke bajunya yang santai. "Tapi aku malu—"
"Jangan malu." Aga meraih wajahnya dengan tangan bebas, membuat Gwen menatapnya. "Kamu tetap cantik. Dan hari ini, aku nggak mau berbagi kamu dengan siapa pun. Termasuk Pandji."
Gwen menatapnya beberapa detik. Ada keteguhan di mata Aga yang membuatnya akhirnya menghela napas pasrah.
"Dasar posesif," gumamnya.
Aga tersenyum kemenangan. "Hanya sama kamu."
Dengan tangan yang masih terjalin, Aga membuka pintu apartemen perlahan. Mereka menyelinap keluar seperti pencuri, berusaha tidak menimbulkan suara.
Tak lama kemudian, mereka sudah berdiri di koridor apartemen. Gwen masih menggerutu pelan sambil melihat penampilannya—kaos oversize, celana pendek, sandal jepit yang dipinjam dari Pandji.
“Aku kayak orang gila,” keluhnya.
Aga justru tertawa kecil. "Orang gila yang cantik."
"Dasar!"
Mereka berjalan cepat menuju lift. Saat pintu lift terbuka dan mereka masuk, barulah Gwen merasa lega sekaligus gugup.
Ia menatap refleksinya di dinding lift. Penampilannya jelas belum siap untuk dunia di luar sana.
"Aku nggak percaya aku setuju," gumamnya.
Aga menekan tombol lobi. "Kamu nggak akan nyesel."
"Kamu yakin?"
Aga menoleh. Senyumnya pelan, tapi penuh keyakinan—tenang, seolah ia benar-benar tahu apa yang ia lakukan.
“Yakin.”
Gwen menatapnya beberapa detik.
Dan entah kenapa, kali ini ia memilih percaya—tanpa banyak tanya.
Seolah untuk pertama kalinya, ia benar-benar ingin tahu ke mana Aga akan membawanya.
kau yang merajai hatiku, jiwa ragaku hanya untukmu..🎼🎼❤️🩹