NovelToon NovelToon
DARI MAFIA JADI CEO

DARI MAFIA JADI CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / CEO / Persahabatan
Popularitas:234
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

seorang yang miskin dan berubah rekrut menjadi mafia dan dipercaya menjadi CEO perusahaan besar
perebutan takhta dan warisan.
Aryo adalah karakter underdog yang kuat—seorang anak yatim piatu yang bukan sekadar beruntung, tapi memang memiliki kualitas "Dewa" yang diakui oleh sang kakek. Ini menciptakan dinamika yang berbahaya dengan Paman Budiono yang merasa memiliki "hak lahir" sebagai anak tertua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 6

Setelah jamuan makan yang hangat itu berakhir, Aryo berdiri dan menjabat tangan Ayah Sinta dengan mantap. Langkah kaki mereka keluar dari kedai kayu itu disambut oleh udara malam yang dingin, namun atmosfer di luar sudah jauh berbeda dari biasanya.

Langkah Pertama di "Dunia Baru"

Begitu pintu kedai terbuka, derit engselnya seolah menarik perhatian warga yang sedari tadi mengintip dari balik tirai jendela rumah mereka. Kali ini, tidak ada jendela yang ditutup dengan keras. Sebaliknya, beberapa pintu justru terbuka perlahan.

Aryo berjalan menuju motor besarnya yang terparkir paling depan. Jaket kulit hitamnya yang penuh goresan akibat bentrokan tadi sore berkilat tertimpa lampu jalan.

"Yo," panggil Dio pelan, sambil menunjuk ke arah ujung jalan.

Beberapa warga desa—Pak RT yang sudah tua, seorang ibu pemilik warung kelontong, dan beberapa pemuda tanggung—berdiri di sana. Mereka tidak membawa pentungan atau wajah ketakutan. Pak RT melangkah maju, tangannya yang gemetar membawa sebuah bungkusan kain berisi roti hangat.

"Aryo..." suara Pak RT parau. "Terima kasih. Kami... kami minta maaf karena selama ini hanya melihat knalpotmu, bukan hatimu."

Aryo terdiam sejenak. Ia tidak terbiasa dengan rasa terima kasih yang tulus. Baginya, penolakan adalah makanan sehari-hari. Ia menerima bungkusan itu dengan anggukan kecil yang sopan. "Sudah tugas kami menjaga wilayah, Pak. Kami tidak ingin desa ini rusak oleh mereka yang tidak punya aturan."

Pesan Terakhir Malam Itu

Sinta berdiri di ambang pintu kedai, melipat tangan di dada dengan senyum kecil yang tak lepas dari wajahnya. Ia melihat pemandangan yang selama ini hanya ada dalam mimpinya: Aryo, sang "brandalan" yang ia cintai, akhirnya diakui oleh dunianya.

Aryo naik ke atas motornya. Ia menyalakan mesin. Suara raungannya masih sama—keras, dalam, dan menggetarkan kaca jendela. Namun malam ini, suara itu tidak terdengar seperti polusi. Bagi warga desa, itu adalah suara lonceng penjaga.

"Aan, pastikan anak-anak elit tetap patroli di perbatasan sampai subuh," perintah Aryo melalui interkom di helmnya.

"Siap, Bos. Data koordinat sudah masuk. Polisi juga sudah mulai bergerak mengamankan sisa-sisa geng tadi di jalan lintas," jawab Aan sambil menghidupkan motornya, cahayanya memantul di kacamata yang kini tampak sangat berwibawa.

Ancaman di Balik Bayangan

Saat rombongan motor itu perlahan meninggalkan desa dengan kecepatan rendah—sebuah tanda hormat baru bagi warga—Aryo melirik ke arah spionnya. Di kegelapan hutan di pinggir desa, ia melihat sepasang lampu motor lain yang menyala sebentar lalu padam.

Itu bukan anggotanya.

Aryo tahu, pengakuan warga desa hanyalah kemenangan kecil. Di luar sana, organisasi yang lebih besar dari sekadar geng motor kacangan pasti tidak akan tinggal diam setelah puluhan ribu orang "tunduk" pada satu komandonya tadi sore.

"Perjalanan baru dimulai," batin Aryo sambil memutar gasnya lebih dalam, membelah malam menuju markas pusat The Great Mawar.

Cahaya merah dari lampu belakang motor Aryo perlahan menghilang di tikungan jalan desa yang gelap. Sinta masih berdiri di depan kedainya, memeluk dirinya sendiri karena hawa dingin, namun matanya tetap tertuju ke arah hutan di mana lampu misterius tadi sempat terlihat.

Sebagai anak Kepala Desa, Sinta punya insting yang tajam. Ia tahu kedamaian ini baru saja dibeli dengan harga yang mahal.

Strategi di Balik Layar

"Bapak," panggil Sinta tanpa menoleh. Ayahnya berdiri di belakangnya, ikut menatap kegelapan. "Aryo baru saja menjadikan desa kita titik koordinat utama dalam peta perang antar geng. Kita tidak bisa diam saja."

Ayah Sinta menghela napas panjang. "Aku tahu. Tapi apa yang bisa dilakukan petani tua seperti aku melawan orang-orang dengan senjata dan motor cepat itu?"

"Bukan senjata, Pak. Informasi," sahut Sinta tegas. Ia masuk kembali ke kedai, mengambil sebuah buku catatan kusam yang selama ini ia gunakan untuk mencatat utang pelanggan. Di halaman belakang, ternyata ia sudah memetakan rute-rute jalan tikus desa yang bahkan tidak diketahui oleh Google Maps.

Di Markas The Great Mawar

Sementara itu, di sebuah gudang tua yang disulap menjadi markas canggih, Aryo melepas helmnya. Keringat membasahi rambutnya yang berantakan. Aan langsung menghampirinya dengan tablet di tangan.

"Yo, kita punya masalah," Aan menunjukkan layar yang penuh dengan titik-titik merah yang bergerak. "Lampu yang kau lihat di hutan tadi? Itu bukan intel polisi. Itu unit pelacak dari 'Grup Hitam'. Mereka bukan geng motor biasa, mereka tentara bayaran yang disewa oleh sindikat yang kauruntuhkan tadi sore."

Dio, yang tadinya masih asyik mengunyah sisa ayam goreng dari kedai Sinta, langsung berubah serius. Ia mengeluarkan sebilah pisau lipat dan mulai memainkannya di jemari. "Jadi, mereka ingin balas dendam karena kita mempermalukan mereka di depan warga desa?"

"Bukan sekadar dendam," Aryo duduk di kursi kebesarannya yang terbuat dari ban bekas yang disusun rapi. "Mereka ingin mengambil alih desa Sinta. Desa itu adalah jalur distribusi strategis yang selama ini 'bersih'. Jika mereka bisa menguasai desa itu, mereka punya jalur aman masuk ke kota."

Aliansi yang Tak Terduga

Tiba-tiba, ponsel Aan berdering. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

> "Jangan lewatkan jembatan tua di perbatasan timur. Ada kado untukmu di bawah pilar ketiga. - S."

>

"S? Sinta?" gumam Aan heran.

Aryo langsung berdiri. "Dio, ambil lima unit elit. Kita ke jembatan sekarang. Jangan nyalakan lampu sampai kita sampai di sana."

Sesampainya di jembatan tua, mereka menemukan sebuah kotak hitam kecil yang direkatkan di pilar. Di dalamnya bukan bom, melainkan sebuah HT (Handy Talky) milik desa dan secarik peta rinci dengan tanda silang di beberapa titik hutan.

Suara Sinta terdengar kresek-kresek dari HT tersebut. "Aryo, kau mendengarku? Mereka sedang mengepung desa lewat jalur sungai. Kalian punya waktu sepuluh menit sebelum mereka sampai di belakang kedai Bapak. Jangan lewat jalur utama, mereka sudah memasang ranjau paku di sana."

Aryo tersenyum tipis. Gadis kedai itu bukan sekadar pembuat sambal yang enak, dia adalah mata-mata terbaik yang pernah ia miliki.

"Aan, kunci koordinat yang diberikan Sinta. Dio, siapkan penyambutan hangat," perintah Aryo. "Malam ini, kita tunjukkan pada 'Grup Hitam' bahwa Ksatria Mawar punya mata di setiap sudut desa."

Suasana di pinggiran sungai yang biasanya hanya terdengar gemericik air, mendadak berubah mencekam. Kabut tipis menyelimuti permukaan air, menyembunyikan pergerakan lima perahu karet hitam yang melaju tanpa suara mesin. Di dalamnya, orang-orang berpakaian taktis dari Grup Hitam bersiap melakukan infiltrasi ke jantung desa.

Namun, mereka tidak tahu bahwa setiap jengkal tanah itu kini punya "telinga".

Jebakan Sinta: "Jaring Mawar"

"Target terlihat di sektor B-4," suara Sinta terdengar dingin dan fokus melalui HT di telinga Aryo. Ia memantau dari menara pengawas air di ujung desa menggunakan teropong malam milik ayahnya. "Aryo, mereka masuk lewat dermaga bambu tua. Arusnya sedang kuat, itu titik lemah mereka."

Aryo memberi isyarat tangan. Tanpa suara, puluhan motor elit The Great Mawar yang sudah dimodifikasi dengan knalpot senyap merayap di balik rimbunnya pohon bambu.

"Dio, eksekusi!" perintah Aryo pendek.

BRAK!

Sebuah batang pohon besar yang sudah digergaji setengah oleh warga desa (atas arahan peta Sinta) tumbang tepat di depan perahu terdepan, menciptakan gelombang besar yang mengacaukan formasi mereka. Di saat yang sama, lampu sorot dari puncak menara—yang dinyalakan oleh Sinta—menghantam mata para penyusup, membutakan mereka seketika.

"Sekarang!" teriak Aryo.

Raungan mesin motor meledak bersamaan. Cahaya lampu depan motor-motor itu menyambar kegelapan seperti kilat. Dio melompat dari tebing kecil dengan motornya, mendarat tepat di pinggir sungai sambil melepaskan tembakan gas air mata ke arah perahu-perahu itu.

Duel di Tepian Sungai

Di tengah kekacauan itu, seorang pria bertubuh tegap dengan tato kalajengking di lehernya melompat ke darat. Ia adalah Baron, pemimpin unit taktis Grup Hitam. Ia mencabut sebuah belati militer dan menatap Aryo yang baru saja turun dari motornya.

"Jadi, ini 'Raja' yang dipuja-puja desa ini?" ejek Baron dengan suara serak. "Hanya seorang bocah dengan jaket kulit murahan."

Aryo tidak membalas dengan kata-kata. Ia melepas sarung tangan kulitnya, menunjukkan buku-buku jari yang sudah kapalan karena ribuan perkelahian jalanan.

"Jaket ini mungkin murah," kata Aryo tenang, "tapi tanah yang kau injak ini terlalu mahal untuk sampah sepertimu."

Baron menerjang. Gerakannya presisi, hasil latihan militer bertahun-tahun. Namun, Aryo bukan petarung yang mengikuti buku teks. Ia adalah petarung insting. Ia menghindar dengan gerakan tipis, membiarkan ujung belati Baron hanya merobek udara.

Saat Baron mencoba melakukan serangan balik dengan tendangan memutar, Aryo menangkap kakinya dan menggunakan momentum itu untuk menghantamkan lututnya ke dada Baron.

DUAK!

Baron terhuyung mundur, namun segera bangkit. Ia menyadari satu hal: Aryo tidak bertarung sendirian. Di sekeliling mereka, warga desa mulai keluar dengan obor dan kentongan, menciptakan lingkaran cahaya yang mengepung sisa-sisa anggota Grup Hitam.

Kemenangan Kolektif

"Menyerahlah, Baron," Aan muncul dari balik pepohonan, memegang tablet yang kini terhubung ke sistem keamanan wilayah. "Polisi sudah memblokade jalur keluar hutan. Sinta sudah mengirimkan rekaman drone kalian ke pusat. Kalian tidak punya jalan pulang."

Baron menoleh ke sekeliling. Ia melihat anak buahnya sudah dilumpuhkan oleh Dio dan tim elit lainnya. Ia juga melihat warga desa yang biasanya penakut, kini berdiri tegak di samping anggota geng motor dengan wajah geram.

Aryo melangkah maju, berdiri hanya beberapa senti dari wajah Baron. "Di desa ini, kami tidak mengenal kasta. Kau melawan satu, kau melawan seluruh desa."

Malam itu berakhir dengan sirene polisi yang menjemput para tentara bayaran tersebut. Saat matahari mulai menampakkan semburat merah di ufuk timur, Aryo kembali ke depan kedai.

Sinta turun dari menara pengawas, wajahnya kotor terkena debu, tapi matanya bersinar. Tanpa kata-kata, ia melemparkan sebotol air mineral ke arah Aryo yang ditangkap dengan satu tangan.

"Kerja bagus, Kapten," ujar Sinta bangga.

Aryo menenggak air itu, lalu menatap desanya yang kini aman. "Kita butuh lebih banyak HT. Dan mungkin... aku butuh asisten strategi tetap di markas."

Sinta tertawa. "Gajinya harus lebih besar dari hasil jualan nasi liwet, ya!"

Konflik fisik mungkin selesai, tapi aliansi baru antara 'Geng Motor' dan 'Warga Desa' ini pasti akan menarik perhatian organisasi yang lebih besar lagi. Apakah kamu ingin saya menceritakan masa lalu Aryo yang sebenarnya (tentang panti asuhan itu), atau kita langsung lompat ke ancaman baru yang lebih politis?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!