Tujuh tahun Sheilla mencintai Ardhito dalam diam, sejak masa SMA yang polos hingga dewasa. Namun di tahun kedelapan, takdir justru memberinya luka. Akibat jebakan salah sasaran di sebuah kamar hotel yang dirancang teman-teman Ardhito, keduanya terpaksa menikah demi menutupi skandal.
Pernikahan yang Sheilla dambakan berubah menjadi neraka. Ardhito yang merasa dijebak melampiaskan amarahnya melalui pengabaian dingin dan kekerasan fisik (KDRT). Di tengah sisa-sisa cintanya yang hancur, Sheilla harus memilih: terus bertahan sebagai martir cinta yang tak terbalas, atau mengumpulkan keberanian untuk pergi dan menyembuhkan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocolate_coffee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sunyi yang Berteriak
Matahari mulai merangkak naik, menembus celah gorden kamar utama yang mewah. Ardhito mengerang, kepalanya terasa berdenyut akibat sisa wiski semalam. Ia meraba sisi tempat tidurnya yang dingin dan kosong. Biasanya, ia tidak peduli. Justru ia senang jika tidak melihat wajah Sheilla di pagi hari. Namun, ada sesuatu yang aneh pagi ini. Bau masakan yang biasanya menusuk hidung aroma nasi goreng atau omelet yang selalu Sheilla siapkan meski tak pernah ia sentuh sama sekali tidak tercium.
Rumah itu hening. Sunyi yang tidak biasa. Sunyi yang seolah-olah menekan gendang telinganya.
Ardhito bangkit, mengenakan kaus oblongnya dengan malas, lalu melangkah keluar. "Sheilla! Kopi!" teriaknya dengan suara serak khas bangun tidur.
Tidak ada jawaban.
"Sheilla! Kamu tuli?" bentaknya lagi sembari melangkah menuju dapur.
Dapur itu bersih mengkilap. Tidak ada piring kotor, tidak ada uap dari teko air, tidak ada sosok wanita dengan celemek yang biasanya langsung menunduk takut saat ia datang.
Ardhito mendengus, "Baguslah kalau dia akhirnya menyerah jadi istri teladan."
--
Ia melangkah menuju ruang tengah, bermaksud mencari ponselnya. Namun, langkahnya terhenti saat melewati meja rias di dekat kamar tamu kamar yang selama ini ditempati Sheilla. Pintunya terbuka lebar.
Ardhito masuk dengan kening berkerut. Kamar itu tampak terlalu rapi. Seprai ditarik kencang, tidak ada satu pun pakaian yang tersampir di kursi. Di atas meja rias, sebuah benda kecil berkilau tertimpa cahaya matahari.
Cincin pernikahan mereka.
Di sampingnya, selembar kertas dengan tulisan tangan yang ia kenal baik. Ardhito meraih kertas itu, membacanya dengan cepat. Awalnya, ia ingin tertawa sinis. Drama apa lagi ini? pikirnya. Tapi saat matanya mencapai kalimat terakhir Jangan cari aku, karena bagimu, aku memang tidak pernah ada jantungnya mendadak berdegup aneh.
Ada rasa hampa yang tiba-tiba menyergap, sebuah perasaan asing yang tidak ia mengerti. Ia membuka lemari pakaian di kamar itu. Kosong. Hanya menyisakan beberapa gantungan baju yang bergoyang pelan tertiup angin dari ventilasi.
--
Ardhito duduk di pinggir tempat tidur Sheilla. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar memperhatikan kamar ini. Kecil, pengap, dan jauh dari kemewahan kamar utama. Ia baru sadar, selama tiga bulan ini, ia telah mengurung Sheilla di tempat yang lebih mirip gudang daripada kamar seorang istri.
Ia teringat kejadian semalam. Tamparan itu. Wajah Sheilla yang hancur, mata yang biasanya menatapnya dengan pemujaan kini menatapnya dengan kekosongan yang mengerikan.
"Dia pasti cuma ke rumah orang tuanya," gumam Ardhito mencoba menenangkan diri. "Nanti juga balik lagi kalau butuh duit."
Ia menyambar ponselnya, mencari kontak Sheilla. Ia menekan tombol panggil.
“Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi...”
Ia mencoba lagi. Tetap sama. Ia beralih ke WhatsApp. Foto profil Sheilla sebuah foto bunga matahari yang melambangkan kesetiaan telah hilang. Berganti dengan lingkaran abu-abu kosong. Ia telah diblokir.
Tiba-tiba, Ardhito teringat sesuatu. Ia berjalan menuju tempat sampah di dapur. Di sana, ia melihat sisa fettuccine yang ia tumpahkan kemarin sore sudah mulai mengering. Ia juga melihat pecahan piring yang belum sempat dibersihkan sepenuhnya. Di salah satu pecahan keramik itu, ada noda merah kecil. Darah Sheilla.
--
Ardhito terdiam. Ia teringat tujuh tahun lalu, saat ia sengaja menjatuhkan buku-bukunya di koridor SMA agar gadis pemalu itu punya alasan untuk bicara padanya. Ia sebenarnya tahu Sheilla mencintainya. Ia selalu tahu. Dan ia menikmati perhatian itu, menjadikannya cadangan saat ia bosan dengan wanita lain.
Ia pikir Sheilla adalah konstanta. Seseorang yang akan selalu ada, tak peduli seberapa keras ia memukulnya, tak peduli seberapa dalam ia menghinanya.
Namun, menatap kamar yang kosong ini, Ardhito merasakan sesuatu yang menyesakkan di tenggorokannya. Bukan karena ia mendadak cinta, tapi karena ia baru menyadari bahwa ia baru saja kehilangan satu-satunya orang di dunia ini yang bersedia mencintai monsternya tanpa syarat.
Rumah mewah ini tiba-tiba terasa terlalu luas. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ardhito merasakan ketakutan yang nyata. Ketakutan akan kesunyian yang ditinggalkan oleh Sheilla.
To Be Continue...
-- Hallo terimakasih sudah selalu memberikan support kepada Author, Sehat selalu untuk kalian semua ya. Dukung selalu Author setiap harinya, dan jangan lupa komen selalu agar author makin semangat buat uploadnya hihi --