NovelToon NovelToon
Cinta Yang Kembali Di Hari Vonis

Cinta Yang Kembali Di Hari Vonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dark Romance / Angst
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: linda huang

Rasa putus asa menyelimuti Jessica Zhou saat hakim menjatuhkan vonis hukuman mati atas dirinya karena dituduh membunuh kedua orang tuanya demi warisan.

Bandingnya ditolak. Harapan seakan habis.

Hingga kasus itu sampai ke tangan Hakim Li—Adrian Li—yang dijuluki “Hakim Gila” karena ketegasan dan caranya yang tak biasa dalam mencari kebenaran.

Adrian, yang selama ini hanya fokus pada pekerjaannya, dicintai oleh dua wanita: Jessica Zhou dan Holdie Fu. Holdie berambisi tinggi dan berusaha mendapatkan hati pria dingin itu, sementara Jessica memilih memendam perasaannya setelah cintanya ditolak sepuluh tahun lalu.

Kini, nasib Jessica berada di tangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

“Berapa lama lagi setelah peninjauan Hakim Li?” tanyanya pelan, seolah hanya memastikan sisa waktunya sendiri.

Jeff yang duduk di seberangnya menarik napas sebelum menjawab. “Tidak lama. Biasanya hanya satu minggu atau dua minggu.”

Jawaban itu membuat udara di antara mereka terasa semakin berat.

Jessica menunduk sesaat, lalu mengangkat wajahnya kembali. Matanya tidak lagi memohon—hanya pasrah.

“Paman… apakah aku bisa minta tolong?” suaranya lembut namun jelas. “Setelah aku meninggal, jasadku tolong dikremasi… dan abuku dilarung ke laut.”

Jeff terkejut. “Jessica, jangan berpikir seperti itu!”

Namun Jessica hanya tersenyum tipis, senyum yang menyakitkan untuk dilihat.

“Kejadian itu memiliki sidik jari dan semua bukti yang mengarah padaku. Jadi sudah pasti aku tidak punya kesempatan lagi.” Ia berhenti sejenak, menelan getir di tenggorokannya. “Setelah berkas ini lewat dari tangan Hakim Li… itu berarti aku hanya menunggu waktu. Aku sudah pasrah, karena tidak bisa membuktikan bahwa diriku tidak bersalah.”

Jeff menghela napas panjang, wajahnya tampak masam dan penuh penyesalan—setidaknya di permukaan.

“Jessica… maafkan paman karena tidak bisa membantumu. Paman hanya bisa melihatmu menerima tuduhan dan hukuman yang tidak seharusnya,” ucapnya lirih.

Jessica menggeleng pelan.

“Paman, jangan menyalahkan dirimu. Mungkin ini memang sudah nasibku. Aku hanya bisa menerima.”

Di balik ketenangannya, hatinya seperti terkoyak. Ia bukan takut mati—ia takut kebenaran terkubur bersamanya.

***

Di sisi lain kota, suasana rumah keluarga Zhou jauh dari kata hangat.

Nico dan Catty duduk di sofa ruang tamu yang luas namun terasa kosong. Tirai tertutup rapat, membiarkan ruangan diselimuti cahaya senja yang muram.

“Berkas itu sudah dikirim ke Pengadilan Tinggi Provinsi Kota S. Setelah peninjauan selesai, maka eksekusi akan dilaksanakan,” ujar Nico dengan suara datar, menatap kosong ke depan.

Catty mengepalkan tangannya di atas lututnya. Wajahnya dipenuhi amarah yang belum padam.

“Aku tidak menyangka adik kita sendiri ternyata adalah pembunuh. Demi harta warisan, dia tega menyakiti orang tua kita.” Ia menghembuskan napas kasar. “Dia pantas mati.”

Nico terdiam beberapa saat, rahangnya mengeras.

“Dia memang adik kandung kita… tapi aku tetap tidak bisa memaafkan perbuatannya.”

Kebencian telah menutup ruang bagi keraguan.

“Sampai kapan pun aku tidak akan melupakan apa yang dia lakukan,” lanjut Catty dingin. “Walau saat itu dia sudah mati.”

***

Kota S.

Gedung Pengadilan Tinggi Provinsi.

Langit sore terlihat kelabu dari balik jendela besar ruang kerja Adrian Li. Di atas mejanya terbentang berkas Ferry Yu—setiap halaman telah ia beri tanda dan catatan kecil di sudutnya.

Jaksa Wu berdiri di hadapannya, menyerahkan satu map lain yang lebih tebal.

“Dia adalah petinggi kepolisian. Atasan Detektif Max. Vic Lim,” ucap Jaksa Wu pelan. “Dialah yang menetapkan Ferry Yu sebagai tersangka.”

Tatapan Adrian berubah tajam.

Ia membuka berkas itu dengan perlahan, membaca setiap detail tanpa melewatkan satu baris pun.

“Dua vila atas namanya sendiri. Satu mobil mewah keluaran terbaru,” gumam Adrian dingin. “Dengan gaji seorang polisi… ini tidak wajar.”

Jaksa Wu mengangguk.

“Benar. Terlebih lagi, pelaku yang tewas adalah putra dari teman dekatnya. Sementara satu pelaku lain dibebaskan tanpa alasan jelas, padahal jelas terlibat.”

Adrian menutup map itu dengan suara pelan namun tegas.

“Artinya ini bukan soal hukum,” katanya. “Ini soal hubungan pribadi.”

“Vic Lim menjadikan Ferry Yu kambing hitam demi melindungi koneksi pribadinya,” lanjut Jaksa Wu.

“Jaksa Wu, besok datangi kantornya. Sita semua dokumen keuangan. Bekukan asetnya." perintah Adrian.

Jaksa Wu mengangguk." Baiklah."

“Tahan dia untuk pemeriksaan internal. Ambil keterangan sampai dia mengaku,” lanjut Adrian tanpa ragu. “Jika dia menolak bekerja sama, hubungi aku. Dan mengenai hubungannya dengan keluarga pelaku pemerkosaan… sebarkan ke media.”

Jaksa Wu mengernyit.

“Rencana Anda… ingin menimbulkan gejolak publik?”

Adrian tidak langsung menjawab. Beberapa detik hening menggantung.

“Benar,” ucapnya akhirnya. “Masyarakat paling membenci penegak hukum yang tidak adil.”

Nada suaranya tetap tenang, tapi dinginnya terasa menusuk.

“Negara tidak membutuhkan orang seperti dia. Aku ingin namanya tercemar sebelum vonis dijatuhkan. Biarkan publik tahu siapa Vic Lim sebenarnya.”

“Dan mengenai pelakunya, besok akan saya temui?” tanya Jaksa Wu hati-hati.

Adrian menyandarkan dirinya.

“Tidak perlu,” jawabnya singkat. “Aku yang akan menemuinya.”

Jaksa Wu terdiam sesaat.

"Kalau sampai jatuh langsung ke tangan Hakim Li… pelaku pasti akan disiksa habis-habisan. "batinnya.

Ia kemudian melirik ke tumpukan berkas di sudut meja Adrian. Di antara map-map tebal itu, satu berkas bersegel merah tampak mencolok.

“Hakim Li,” ujar Jaksa Wu, “mengenai tersangka yang membunuh kedua orang tuanya demi warisan… apakah Anda belum membacanya?”

Adrian bahkan tidak menoleh.

“Belum ada waktu,” jawabnya tenang. “Lagi pula masih ada waktu. Tanpa tanda tanganku, mereka tidak bisa melaksanakan eksekusi.”

Kini ia mengangkat pandangannya.

“Kenapa kau bertanya tentang kasus itu?”

Jaksa Wu ragu sepersekian detik.

“Tidak… hanya merasa sayang saja. Gadis berusia dua puluh enam tahun. Seharusnya sedang mengejar impian, bukan menunggu hukuman mati.” Ia berdiri dan memberi hormat ringan. “Kalau tidak ada urusan lain, saya pamit.”

“Silakan,” jawab Adrian singkat.

Pintu tertutup perlahan.

Ruangan kembali sunyi.

Adrian memutar pulpennya di antara jemari, tatapannya kosong beberapa saat. Angin dari pendingin ruangan membuat lembar-lembar kertas di atas meja sedikit bergetar.

Tanpa sadar, pandangannya jatuh pada map bersegel merah itu.

Beberapa detik ia hanya menatapnya.

Lalu tangannya bergerak.

Ia menarik berkas itu dari tumpukan.

Nama yang tertera di halaman depan membuat jemarinya berhenti.

Jessica Zhou.

1
Raine
nah sesuai dugaan sebelumnya, kalau jj dalangnya dan cuman pura pura koma
erviana erastus
ya jj itu pura2 koma 🤭🤭🤭
Nadila Fathania Alfi
makin seru 😍😍
Melinda Cen
seruu lanjutkan lg
Nadila Fathania Alfi
min bikin cerita jangan pendek", panjang panjang aja 😄😄
erviana erastus
apakah dalangx JJ pura² koma🤔🤔🤔
Anonymous
Seru2…. Up yg bnyk Thor 💪💪💪
Melinda Cen
lanjut bykkan eps nya
Dian Fitriana
update
Melinda Cen
perbyk dong eps nya kk lg seru nih
Dian Fitriana
update
erviana erastus
selamat hakim chen kamu bakalan habis sama Adrian Li 🤭
Maria Mariati
kapokkk hadapin tuh hakin neraka ,main2 sama nyawa orang,siap2 hadapin hakim neraka
Dian Fitriana
update
erviana erastus
habis hidup mu chen ckckck keluar kadang harimau masuk ke kandang macan 🤣
Melinda Cen
lanjut kan kk, perbyk eps nya biar ga penasaran😄
Dian Fitriana
update
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
seru kayaknya
Melinda Cen
perbyk dong eps nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!