NovelToon NovelToon
Petualangan Suketi

Petualangan Suketi

Status: sedang berlangsung
Genre:Antagonis Jahat / Era Kolonial / Komedi / Nyai / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:66.8k
Nilai: 5
Nama Author: Hayisa Aaroon

Karma tidak pernah salah alamat.

Gusti Kanjeng Raden Ayu Kusumawati—ningrat tinggi yang ditakuti, yang telah menghancurkan hidup puluhan perempuan yang mencoba merebut suaminya—terbangun di ranjang dengan pria Eropa yang mengira dia pelacur seharga 550 gulden.

Namanya sekarang Suketi binti Suketo. Statusnya gundik. Milik mantan perwira laut setinggi dua meter. Pria itu posesif. Tergila-gila. Dan tidak akan melepaskannya untuk alasan apa pun.

Akankah Kusumawati berhasil kembali ke kehidupan lamanya yang nyaman penuh pelayan dan kemewahan? Atau kesialan akan terus mengejarnya, memaksanya membayar dosa-dosa masa lalu dengan cara yang tidak pernah dibayangkannya?

Dilarang plagiat, mengambil sebagian scene atau mengubah cerita menjadi video atau bentuk lainnya. Laporkan plagiat ke Ig/FB: @hayisaaaroon.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayisa Aaroon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Tidak Takut Bupati

Kusumawati merasakan darah surut dari wajahnya.

"Kau pikir aku takut dengan Bupati?" Jan Coen melanjutkan, suaranya masih santai tapi ada keangkuhan di baliknya. "Aku perwira angkatan laut selama dua puluh tiga tahun sebelum ditugaskan di hutan. Aku memberantas bajak laut yang mengganggu jalur perdagangan. Entah sudah berapa banyak yang kubunuh, aku sendiri sudah tidak ingat."

Jari-jarinya menyusuri tulang belakang Kusumawati, membuat perempuan itu menegang.

"Sekarang aku ditempatkan di hutan karena tidak ada orang lain yang sanggup. Penebang liar, pemburu gelap, pencuri kayu—semua kuburu sampai ke ujung rimba. Yang melawan, kutembak di tempat. Yang menyerah, kuserahkan ke pengadilan. Aku sudah membunuh lebih banyak orang dari yang bisa kau bayangkan. Kau pikir aku akan gemetar karena ancaman Bupati?"

Kusumawati tidak bisa berkata apa-apa. Tenggorokannya tercekat.

‘Pria ini ... benar-benar tidak punya takut.’

‘Bagaimana aku bisa lolos?’

Seakan membaca pikirannya, Jan Coen mendekatkan wajahnya. Hidung mereka hampir bersentuhan.

"Dan kalau kau berpikir untuk kabur," suaranya turun menjadi bisikan, "akan kukejar sampai ke neraka sekalipun."

Kusumawati menahan napas.

"Dan kalau tertangkap," Jan Coen tersenyum, mata birunya menajam, "akan kukatakan pada semua orang bahwa Raden Ayu Kusumawati punya hubungan gelap denganku. Bahwa kita sudah tidur bersama. Berkali-kali. Dengan sangat liar."

Mata Kusumawati melebar.

"Kau tidak akan berani, itu juga akan mempermalukan dirimu sendiri. Kau perwira."

"Kenapa tidak berani? Aku bahkan tidak punya malu. Malu hanya untuk orang-orang kota yang senang bersosialisasi. Aku …? Aku bahkan tidak peduli apa yang orang lain pikirkan tentang diriku. Dan kenapa aku harus malu? Justru ini sebuah kebanggaan, aku telah meniduri perempuan terpenting di kadipaten ini."

Jan Coen menyeringai. "Tubuhmu penuh bekas. Tanda ciumanku ada di mana-mana. Dan orang-orang di penginapan ini jadi saksinya."

Kusumawati menegang.

"Mau kau kembali ke kadipaten sebagai Raden Ayu yang terhormat?" Jan Coen berbisik di telinganya. "Atau sebagai perempuan yang sudah ternoda oleh pria Eropa kasar?"

Kusumawati tidak menjawab. Tidak bisa menjawab.

Tangannya yang bertumpu di dada Jan Coen gemetar. Bukan karena takut. Tapi karena murka yang tidak bisa dilampiaskan.

‘Dia mengikatku dengan aib.’

Jan Coen mengecup keningnya dengan lembut, kontras yang mengerikan dengan ancaman yang baru saja diucapkannya.

"Jadi, Sayang …," suaranya kembali riang, seperti tidak terjadi apa-apa, "masih mau ke kamar kecil?"

"Ya."

Suara Kusumawati keluar datar. Kosong. Seperti orang yang sudah kehabisan tenaga untuk melawan.

"Ya, aku mau ke kamar kecil."

Jan Coen tersenyum puas. Dia bangkit dari kursi, mengangkat Kusumawati bersamanya seperti mengangkat anak kucing.

"Aku bisa jalan sendiri," protes Kusumawati dengan saura lemah.

"Kau memang betina tangguh. Memilih berjalan sendiri meski ada orang yang dengan sukarela membopong. Aku suka itu."

Jan Coen menurunkannya dengan hati-hati, memastikan kaki yang dibalut kain tidak menyentuh lantai terlalu keras. "Tunggu sebentar."

Dia berjalan ke lemari, mengambil kemeja putih yang tergantung di sana. Kemeja Eropa yang besar, yang akan terlihat seperti gaun jika dipakai Kusumawati.

"Pakai ini dulu." Dia menyodorkan kemeja itu.

Kusumawati menatap kemeja itu dengan tatapan pilu, bahkan selembar kain saja sekarang dia tak punya.

Lalu dengan menarik napas dalam dia meraih, memakainya dengan gerakan cepat. Kancing dikancingkan satu per satu. Lengan digulung sampai siku karena terlalu panjang. Ujung kemeja mencapai pertengahan paha yang dibalut selimut.

Lebih baik daripada hanya selimut, setidaknya.

"Kau mau lihat kamar mandi di sini?" Jan Coen bertanya dengan nada yang terdengar ... geli. "Aku tidak yakin kau akan betah."

"Kenapa?"

"Lebih baik pakai yang ada di sini. Di balik pembatas itu." Dia menunjuk penyekat kertas lukis di sudut kamar. "Pispot sudah dibersihkan."

Kusumawati mengerutkan dahi. "Aku mau melihat kamar mandinya dulu."

Jan Coen mengedikkan bahu. "Terserah. Ini penginapan murah, tak akan ada kamar mandi mewah di sini."

Dia membimbing Kusumawati keluar kamar, menyusuri lorong penginapan yang sempit. Beberapa pelayan Tionghoa yang lewat langsung menunduk, tidak berani menatap.

Mereka berhenti di depan sebuah pintu kayu di ujung lorong. Jan Coen membukanya.

Bau tak sedap menyergap lebih dulu. Pesing dan sesuatu yang membusuk.

Kusumawati melongok ke dalam. Kamar mandi umum dengan tegel yang sudah retak-retak.  Bak air besar di sudut. Jamban jongkok dari semen dengan beberapa ekor kecoa besar merayap santai, antena bergerak-gerak.

Kusumawati mundur dengan cepat, punggung menabrak dada Jan Coen yang berdiri di belakangnya.

Jan Coen tertawa.

"Sudah kubilang." Dia menutup pintu dengan santai. "Penginapan murah. Kamar mandinya juga murahan. Lebih baik pakai yang di kamar. Daripada nanti kecoa masuk ke lubangmu, aku yang rugi."

Kusumawati tidak menjawab. Wajahnya pucat. Bayangan kecoa itu masih berputar di kepalanya.

‘Duh Gusti ... tempat macam apa ini ….’

Jan Coen membimbingnya kembali ke kamar. Begitu sampai, dia berjalan ke sudut di mana penyekat kertas lukis berdiri, tampak anggun dengan gambar burung bangau dan bunga teratai, menyembunyikan pispot di baliknya.

"Nah." Dia menepuk penyekat itu. "Silakan."

Kusumawati menatap penyekat itu dengan perasaan campur aduk. Pispot. Buang air di dalam kamar. Seperti binatang.

Tapi lebih baik daripada kamar mandi dengan kecoa.

Dia melangkah ke balik penyekat dan berhenti.

Jan Coen mengikutinya. Berdiri di samping penyekat. Menatap dengan mata yang berbinar.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Kusumawati dengan suara tercekik.

"Menunggu."

"Di sini?!"

"Ya."

"Keluar!"

"Aku tidak mau."

"Aku tidak bisa buang air kalau kau—"

"Bisa." Jan Coen menyilangkan tangan di dada. "Kemarin juga bisa."

Kusumawati merasakan wajahnya memanas. Ingatan tentang Jan Coen yang melongok dari balik penyekat, menatap dengan mata lapar saat dia sedang buang air.

"Keluar!" bentaknya lagi, suara nyaris pecah. “Selain tidak punya malu, kau benar-benar menjijikkan. Aku tidak pernah membayangkan bisa berakhir dengan laki-laki sepertimu.”

Jan Coen tidak bergerak. Malah tersenyum lebih lebar.

"Kau tahu," ujarnya dengan nada santai yang seperti terhibur, "penyekat ini menghalangi pemandangan."

Sebelum Kusumawati sempat bereaksi, tangan besar Jan Coen meraih penyekat dan melipatnya dan diletakkan di samping.

Pispot dan ember kayu berisi air sekarang terekspos sepenuhnya, tapi bukan pispot murahan seperti kemarin.

Ini pispot keramik putih dengan motif biru khas China, bentuknya lebih mirip jamban duduk dengan tepian yang halus. Jelas barang mahal yang baru dibeli.

"Aku sudah minta pelayan mengambil yang lama," ujar Jan Coen dengan nada bangga. "Yang ini lebih bagus. Cocok untuk pantat ratuku."

Kusumawati menatap pispot itu, lalu menatap Jan Coen.

‘Dia mau aku jadi tontonan. Laki-laki ini benar-benar gila.’

"Aku tidak akan buang air dengan kau menatap seperti itu."

"Kalau begitu, memohonlah."

Kusumawati mengerjap. "Apa?"

1
Elsker
ndoro ..sehat kah?
Muhammad Arifin
Nang Endi doro siji Iki 😭😭
Rani Za
Udah selesai kah ini ceritanya?
lilyrose
kapan update bab baru kak?
🅶ɪꜱ_❀∂я ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝© §͜¢•🦢🍒
ndoro kemana Kok menghilang
Elsker
ndoro...sehat???kapan update lagi?semoga sehat selalu
Rahma Amma
ndoro kok blm up?????
Muhammad Arifin
Nang Endi doro siji Iki ☹️☹️
Anindya
ndoro melupakan keti
lilyrose
thanks ndoro...lanjuttt ya😊🙏
rama Rasyidin
terbayang y jadi raden Ayu kusumawati itu wulan guritno🤭... dan Rio dewanto jadi Soedarsono
R_Bell
ndoro, mohon di up lagi. astaga, sudah 10 hari menunggu. rasanya 💔🤣🤭🥲
Linceu thea
lanjut ndoro 🙏
Hana Nisa Nisa
ditjnggu kelanjutannya ndoro yg arjo juga
Su Hendri
haduh penuh teka teki euy... ceritanya keren banget. greget dan bikin penasaran. d tunggu up selanjutnya kk
Teh Qurrotha
apa kenes mengikuti jejak Raden Ayu Aryani
Fetri Diani
dari der dor banget nyonya lim.. ky pagiku anak 3 berNgkat sekolah semua.. 💃
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
ibu kandung arjo merasa ancaman besar dari kenes ,
pemberontak yg licik ,
kusumawati terbujuk kah ,kembali ke kadipaten dgn situasi kadipaten ,walau pun bukan soedarsono yg mnjdi bupati
tapi selama ini kadipaten lah yang selalu mnjdi prioritas selama hidup nya
Teh Qurrotha
kira kira apa Gusti ayu mau?
berat sama si Jan cok
Teh Qurrotha
kyknya tidak mudah, bupati Udh kepincut kenes, pengen segera malam pertama
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!