Cuma niat periksa batu ginjal, si komandan dingin malah "salah dibuka celananya" oleh dokter magang sok berani.
Satu kalimat "saya tanggung jawab", dan Keisha resmi jadi istri kontrak Sang Komandan Meriam—pewaris konglomerat Prawira yang paling ditakuti.
Perjanjiannya: tidak boleh saling sentuh.
Kenyataannya: komandan berhati es itu **tak pernah tahan semalam pun**.
"Katanya kontrak, Pak?"
"Kontraknya," bisiknya sambil menariknya mendekat, "mulai malam ini kita tulis ulang."
Yang mereka kira dokter miskin, ternyata putri konglomerat Wijaya yang hilang.
Yang dikira pernikahan palsu, ternyata jerat paling manis.
**Nyonya Meriam sudah pulang—dan sang serigala tak akan melepasnya lagi.**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 2
Rumah yang Retak
Tiga lembar tagihan tergeletak di atas meja makan yang retak.
Keisha memandang angka paling bawah sampai matanya perih. Biaya perawat, susu enteral, popok dewasa, fisioterapi pasif, dan obat yang tidak seluruhnya ditanggung BPJS. Di samping total itu ada catatan cicilan bulan lalu yang belum lunas.
Ponselnya bergetar.
Ia refleks menegang, takut melihat surat panggilan dari bagian pengaduan rumah sakit. Namun layar hanya menampilkan pengingat pembayaran kamar rawat Mama.
Entah mengapa itu terasa lebih menakutkan.
Sore telah turun di perumahan lama Bekasi. Dari jendela rumah tempat ia dibesarkan, terdengar pedagang bakso memukul mangkuk dan suara anak-anak bermain sepeda di gang. Dulu Mama selalu muncul dari dapur saat mendengar suara itu, memasukkan uang ke telapak tangan Keisha, lalu menyuruhnya membeli dua porsi.
Sekarang dapur itu dingin.
Keisha menyelipkan tagihan ke dalam map bersama akta lama Griya Anindita yang baru diambilnya dari lemari. Bingkai foto di atas meja ikut menarik pandangannya. Anindita berdiri di depan toko furnitur pertamanya, mengenakan blus sederhana dan senyum selebar papan nama buatan tangan.
AnHome belum menjadi jaringan toko saat foto itu diambil. Hanya kios sempit, dua tukang, dan seorang perempuan yang menolak menyerah.
"Mama membangun semuanya dari nol," gumam Keisha. "Jadi aku juga tidak akan menyerah."
Ia memasukkan foto itu ke dalam tas, mengunci rumah, lalu bergegas mengejar perjalanan kembali ke Bandung. Malam sudah pekat ketika ia tiba di bangsal perawatan jangka panjang RSUD Bandung.
Anindita terbaring di ranjang dekat jendela.
Tubuh yang dulu selalu bergerak itu kini diam di bawah selimut putih. Selang makanan masuk melalui hidung. Monitor sederhana di samping ranjang menunjukkan irama stabil, sementara pelembap membuat bibirnya tidak pecah. Empat tahun berlalu sejak kecelakaan yang merenggut kesadarannya, tetapi Keisha masih berharap mata itu akan terbuka setiap kali ia masuk.
"Assalamualaikum, Mama."
Keisha meletakkan tas, mencuci tangan, lalu memeriksa kulit di tumit dan punggung tangan Anindita. Tidak ada luka tekan baru. Posisi tubuh sudah diubah sesuai jadwal. Ia mengoleskan pelembap pada jemari ibunya perlahan.
"Aku pulang ke rumah tadi." Senyum tipis muncul di bibirnya. "Meja makan kita masih retak. Mama selalu bilang mau menggantinya setelah cabang ketiga untung, tapi sampai punya belasan cabang tetap saja tidak diganti. Pelit sekali."
Tak ada jawaban.
Hanya bunyi monitor yang teratur.
Keisha menunduk dan menempelkan kening ke punggung tangan Anindita. "Tapi aku lebih suka meja itu tetap di sana. Jadi Mama harus bangun dan memarahiku karena belum membuangnya."
Pintu kamar terbuka sebelum ia sempat mengusap matanya.
Herman Sucipto masuk lebih dulu. Kemejanya rapi, jam tangannya mengilap. Della mengikuti di belakang dengan tas bermerek di lengan dan sebuket bunga yang masih terbungkus plastik minimarket.
"Icha." Nada Herman terdengar seolah ia ayah yang datang karena khawatir. "Kenapa tidak bilang kamu ke Bekasi?"
Keisha berdiri di sisi ranjang. "Saya hanya mengambil dokumen Mama."
Tatapan Herman langsung turun ke tasnya. "Dokumen apa?"
"Bukan urusan Pak Herman."
Senyum di wajah laki-laki itu menipis.
Della meletakkan bunga di atas kabinet tanpa mencari vas. "Kami datang untuk melihat keadaan Bu Anin. Mas Herman tidak tidur nyenyak memikirkan biaya rumah sakit."
Keisha menatap tas mewah Della, lalu bunga murah yang mulai layu di ujungnya.
"Kalau benar memikirkan Mama, Tante bisa mulai dengan tidak menaruh bunga berbungkus plastik di dekat alat medis."
Wajah Della mengeras. Ia menarik bunga itu lagi.
Herman mengeluarkan map cokelat. "Cukup. Kita perlu bicara sebagai keluarga."
"Keluarga tidak membicarakan pasien seolah dia sudah tidak ada di ruangan."
"Anin tidak bisa mendengar kita."
Keisha menggenggam pagar ranjang sampai buku-buku jarinya memutih. "Dokter bilang pasien dengan gangguan kesadaran mungkin masih merespons suara yang dikenal. Jadi jaga ucapan Pak Herman di depan Mama."
Herman membuka map dan menyodorkan beberapa lembar formulir. Judulnya membuat dada Keisha sesak: permohonan pulang atas permintaan keluarga dan pembatasan perawatan lanjutan.
Tanda tangan wali masih kosong.
"Apa ini?"
"Keputusan yang masuk akal." Herman melipat tangan di dada. "Empat tahun, Icha. Dokter tidak pernah menjanjikan Anin akan bangun. BPJS hanya menanggung bagian tertentu, sementara kamu terus memilih terapi tambahan, perawat khusus, dan obat yang mahal."
"Terapi itu mencegah kontraktur. Perawat khusus mencegah luka tekan dan infeksi. Susu enteral menjaga nutrisinya. Itu bukan pemborosan."
Della menghela napas panjang. "Sayang, semua anak ingin berbakti. Tapi ada saatnya kamu harus ikhlas. Jangan habiskan masa depanmu untuk tubuh yang hanya bernapas."
Keisha bergerak satu langkah.
"Jangan sebut Mama tubuh."
Suara itu keluar begitu tenang hingga Della mundur tanpa sadar.
Herman mengetuk formulir dengan telunjuk. "Jangan emosional. Griya Anindita juga sedang kesulitan. Arus kas turun, beberapa proyek gagal. Perusahaan tidak bisa terus menjadi mesin uang untuk biaya pengobatan."
"Aneh." Keisha mengeluarkan salinan laporan dari tasnya. "Penjualan tidak turun sebanyak itu, tetapi penarikan dana operasional naik tiga kali lipat. Ada pembayaran ke pemasok yang tidak pernah dipakai Mama. Ada juga renovasi rumah atas nama orang lain."
Mata Della bergerak cepat ke arah Herman.
Keisha menangkapnya.
"Uang perusahaan ke mana, Pak Herman?"
"Kamu dokter, bukan auditor."
"Saya anak pendirinya."
"Anak angkat," potong Della.
Dua kata itu jatuh lebih dingin daripada udara bangsal.
Keisha sudah tahu sejak empat tahun lalu bahwa Anindita menemukannya sebagai bayi dan membesarkannya tanpa ikatan darah. Fakta itu tidak pernah mengurangi satu malam pun ketika Mama menemaninya demam, satu rupiah pun yang dikeluarkan untuk sekolahnya, atau satu pelukan pun yang menyelamatkannya dari rasa takut.
Ia mengangkat wajah.
"Benar. Mama mengangkat saya. Artinya dia memilih saya." Tatapannya beralih dari Della kepada Herman. "Sedangkan orang-orang yang dipilihnya sebagai pasangan justru sibuk menghitung kapan dia mati."
"Jaga mulutmu!" bentak Herman.
Monitor berdetak lebih cepat satu angka.
Keisha segera memeriksa Anindita, lalu menekan tombol panggil untuk memastikan perawat menilai kondisinya. Setelah yakin tidak ada perubahan berbahaya, ia mengambil formulir dari tangan Herman dan merobeknya menjadi empat bagian.
Sobekan kertas jatuh ke lantai.
"Saya tidak akan menyetujui penghentian perawatan. Jangan bawa surat seperti ini lagi."
"Kamu pikir gajimu cukup?" Herman mendesis. "Cicilanmu sudah menumpuk."
"Saya akan ambil jaga tambahan. Saya bisa menjual motor. Saya bisa pindah kos yang lebih murah."
"Lalu setelah itu? Menjual ginjalmu?"
"Kalau perlu, saya akan cari sepuluh cara lain sebelum membiarkan Pak Herman mencabut satu-satunya kesempatan Mama."
Della menarik lengan Herman. "Mas, percuma bicara dengannya sekarang."
Mereka pergi setelah Herman memungut map kosongnya. Pintu menutup keras, meninggalkan bau parfum Della dan serpihan kertas di lantai.
Keisha baru membiarkan bahunya jatuh setelah langkah mereka menghilang.
Ponselnya bergetar lagi. Kali ini nama Bu Sukma muncul di layar. Keisha menerima panggilan video dan segera melihat wajah perempuan yang sudah seperti ibu kedua baginya.
"Icha, kamu menangis?"
"Tidak." Keisha mengusap pipi. "Cuma alergi sama orang tidak tahu malu."
Bu Sukma mendecakkan lidah. "Herman datang lagi?"
Keisha menceritakan formulir itu, laporan AnHome, dan ancaman biaya. Kalimatnya sempat patah ketika ia menatap Anindita, tetapi Bu Sukma tidak menyela sampai selesai.
"Mama menemukan aku saat tidak ada siapa-siapa yang menginginkanku, Bu," katanya pelan. "Dia memberiku nama, rumah, sekolah, semuanya. Aku tidak akan tanda tangan. Apa pun yang terjadi."
"Jangan tanda tangan apa pun tanpa bicara denganku dan pengacara," jawab Bu Sukma. "Kamu tidak sendirian."
Napas Keisha akhirnya terasa sedikit longgar.
Bu Sukma lalu menyipitkan mata. "Kemarin kamu bilang ada masalah di tempat kerja. Bagaimana komplain pasien itu?"
Bayangan masker hitam, ritsleting celana, dan sepasang mata mengejek muncul sekaligus. Wajah Keisha langsung panas.
"Belum ada surat resmi. Pria aneh itu cuma memotret kartu identitasku dan menyuruhku menunggu tanggung jawab."
"Pria aneh? Tampan?"
"Bu Sukma!"
Tawa kecil terdengar dari ponsel. Untuk sesaat, kamar itu terasa tidak terlalu dingin.
Keisha masih berbicara dengan Bu Sukma ketika pintu terbuka sekali lagi. Herman berdiri di ambang, rupanya kembali hanya untuk mengambil kunci mobil yang tertinggal di kabinet.
Ia menatap serpihan formulir di lantai, lalu tersenyum tanpa kehangatan.
"Kamu boleh keras kepala sekarang," katanya. "Tapi saat uangmu habis, keputusan itu bukan lagi milikmu."
Keisha mematikan pengeras suara. "Tidak ada yang akan menghentikan perawatan Mama."
Herman mengambil kuncinya.
"Kita lihat saja. Karena wali sah-nya saya."