Ervana yang lahir dari keluarga Moses merasa hidupnya berubah setelah kehadiran anak angkat keluarganya yang begitu disayang semua anggota keluarganya. Orang tuanya dan kakak laki-lakinya lalu memperlakukan Renita, adik angkatnya dengan penuh kasih sayang. Ia diasingkan, semua hal yang menjadi miliknya kini direbut perlahan oleh Renita Moses. Air mata dan kesakitan itu membuatnya nyaris gila. Ervana kalah dan memilih mengakhiri hidupnya dengan cara yang tak biasa, bunuh diri. Namun, jiwanya yang terperangkap dalam kegelapan sepertinya masih enggan untuk meninggalkan dunia penuh dosa ini. Ervana lalu kembali dengan versi baru yang membuat keluarganya tercengang.
"Aku kembali hanya untuk memberi pelajaran pada mereka bahwa aku tidak pantas diperlakukan seburuk ini". Persis ketika ia membuka matanya, kehidupan baru menyambutnya. Ervana lalu hidup menurut kepercayaannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourfee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6. Topeng Renita
"Sepertinya kau begitu berhasil menjerat seorang Morgan Aston". Ervana tersenyum kecut mendengar suara penuh amarah. Beberapa langkah di depannya, Renita berdiri sambil bersedekap angkuh. Tubuh tinggi semampai gadis itu berbalut gaun mewah rancangan desainer kelas atas. Gaun berpotongan rendah itu membalut sempurna tubuhnya.
"Aku bahkan tidak tau apa maksudmu". Ervana berbicara santai, tak terpengaruh dengan amarah mengebu-gebu adik angkatnya itu.
"Kau sendiri bahkan tau jika Kak Lucas membencimu karena kau dianggap seorang penggoda. Kau lihat ini? Renita menunjukkan sebuah rekaman video yang berisi percakapannya dengan Lucas. Seperti sebuah kesengajaan, gadis itu mematikan ponselnya persis ketika Lucas menjelaskan alasan kenapa pria itu membenci adiknya sendiri.
"Aku perlu tau alasannya, Renita". Ervana yang sampai saat ini begitu merindukan momen keakrabannya bersama sang kakak, tentu saja tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Jika ia tau letak kesalahannya, ia akan memperbaiki diri lalu Lucas kembali menyayanginya. Pemikiran sederhana khas seorang adik yang merindukan kakak kandungnya.
"Alasannya hanya satu, kau terlalu murahan". Bisik gadis itu di telinga Ervana.
"BOHONG". Ervana berteriak nyaring bak orang kesetanan. Renita tersenyum puas karena berhasil mempermainkan emosi sang kakak. Persis ketika ketegangan memuncak, Renita mengirim pesan ke grup keluarga Moses, ayah, ibu, dan kakak tolong ke sini. Aku ingin menyampaikan sebuah hal penting. Aku di dekat kolam renang. Pesan terkirim, saat itu juga Renita mulai memanfaatkan momen ini dengan baik.
"Bohong? Untuk apa aku berbohong? Kau memang putri kandung yang bodoh". Gadis itu mencekik erat leher sang kakak dengan amarah dan kebencian yang menggunung.
"Lepaskan!" Ervana berusaha mati-matian untuk menjauhkan tangan sang adik dari lehernya namun ia tidak bisa. Renita bak orang kesetanan sekarang. Rasa dengkinya membuat ia buta hati. Persis ketika ia mendengar suara langkah kaki mendekat, Renita mulai berhitung dalam hatinya. Satu, dua, tiga PLAK, BYURR.. Ervana mengerjap kaget melihat kegilaan sang adik. Keluarga Moses mendekat, terlalu panik melihat pemandangan itu. Renita baru saja dicebutkan ke dalam sebuah kolam renang yang begitu dingin dan pelakunya adalah Ervana yang menatap nanar ke arah sang sang ibu yang sepertinya sangat siap untuk menghabisinya.
"PANGGIL PETUGAS KEAMANAN". Efendi berteriak nyaring.
"Tidak perlu". Lucas melepaskan jas mahalnya lalu menceburkan dirinya ke dalam kolam itu, lalu mengangkat pelan tubuh basah Renita ke tepian.
"Uhuk uhuk". Gadis itu terbatuk dengan gerakan yang sedikit berlebihan.
"Kak kenapa kau sangat tega? Aku tau kau begitu membenciku tapi bukan begini caranya. Kau bisa bicara baik-baik pada ayah untuk mengembalikanku pada keluargaku". Renita mulai terisak.
"Aku tid-"...
"DIAM!" Lucas bangkit lalu menampar wajah sang adik. Ervana meringis, darah segar mengalir dari sudut bibirnya yang robek.
"Ervana, kau kenapa jadi semakin liar? Ibu tidak menyangka telah melahirkan anak sepertimu". Eva berbicara penuh kebencian. Sementara itu, Efendi Moses mendekat lalu menarik kasar rambut panjang putrinya.
"Bisakah sekali saja kau tidak membuat masalah? Aku begitu malu membesarkan anak sepertimu". CUIH, Ervana merasa wajahnya sedikit basah. Sang ayah baru saja meludahinya!
"Aku tidak mendorong Renita". Air mata menggenang di pelupuk matanya, sedikit lagi gadis itu pasti menangis. Bagaimana bisa keluarganya lebih percaya pada orang asing daripada putri kandungnya?
"Berhenti membela diri sebelum aku membunuhmu". Lucas mendekat lalu menatap nyalang wajah sendu adiknya.
"Hahahaha". Ervana tertawa sumbang, tawa yang sarat akan rasa sakit dan kepedihan.
Lucas menaikkan sebelah alisnya, terlalu takut menghadapi adiknya yang tiba-tiba menjadi gila.
Sementara itu, beberapa pengawal datang lalu menyerahkan handuk pada Renita yang masih mempertahankan actingnya sebagai sosok paling tersakiti.
"Bukankah di tempat ini ada CCTV? Kurasa bukti sekuat itu bisa menjelaskan segalanya". Ervana memundurkan tubuhnya selangkah, seolah enggan berdekatan dengan sang kakak. Renita menegang, terlalu takut jika kebenaran terkuak.
"Kak". Cicit gadis itu dengan lemah. Ervana tersenyum tipis menyaksikan drama murahan itu.
"Kau tidak apa-apa, Sayang?" Elen membersihkan sisa-sisa air kolam di wajah Renita dengan hati-hati seolah takut melukai kulit pucat itu.
"Aku kedinginan". Bibirnya bahkan terlibat bergetar. Renita sukses menjalankan perannya sebagai anak angkat keluarga Moses yang tertinggal.
"Tidak usah mengecek rekaman CCTV-nya aku takut kebenarannya akan semakin menghancurkan hubunganku dan Kak Ervana. Anggap saja ia tidak sengaja mendorongmu".
Air mata bahkan mengalir dari sudut mata Renita. Anak pungut ini terlihat berbakat menjadi seorang sutradara, batin Ervana berbisik geli.
"Kau benar, Nak! Lebih baik kita pulang sekarang. Kebenarannya sudah sejelas itu dan ayah yakin sekali jika kau tidak berbohong". Efendi membenarkan ucapan sang anak angkat, mengabaikan tatapan penuh kecemburuan milik Ervana. Malam itu, sebuah topeng keburukan yang selama ini dipakai Renita telah hancur, namun hanya Ervana seorang yang menyadarinya. Biarkan saja, ini terlalu awal untuk menjelaskan banyak hal, batin gadis itu penuh ketegaran. Tubuhnya menggigil kedinginan sekarang. Rasa sakit dan ketegangan berbaur menjadi satu, membuat segalanya menjadi lebih rumit sekarang. Cara Lucas Moses menamparnya hanya karena ingin membela Renita benar-benar membuatnya seperti kehilangan separuh kewarasannya. Ini menjengkelkan sekaligus menyedihkan. Bagaimana bisa keluarga sesempurna ini tega menyakiti hati Ervana. Gaun indah yang melekat di tubuh mungilnya harusnya membuat ia berbahagia, namun rasanya begitu tidak masuk akal jika ia tertawa di tengah badai sederas ini. Air matanya bahkan jatuh membasahi pipinya, memudarkan riasan sederhana yang dipolesnya.
Beruntung sekali tidak ada tamu undangan yang menyaksikan momen menyedihkan itu. Keluarga Moses memang pandai membuat perhitungan dan menjaga nama baik. Tidak boleh ada yang tau jika Ervana diperlakukan seburuk ini.
"Menjengkelkan sekali! Aku bahkan tak diberi kesempatan untuk membela diri. Anak angkat itu memang sangat licik". Gadis itu terduduk di kursi panjang di pinggiran kolam, meratapi nasib buruk yang rasanya begitu akrab dengannya.