sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, kesedihan demi kesedihan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kansszy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6
Basyir pulang pukul delapan malam dengan lengan dibebat
"kami akhirnya berhasil menguasai pasar induk... Kopong sedang menyelesaikan sisanya menyumpal mulut petugas dan wartawan agar kejadian tidak tersebar ke mana mana. Kopong ahli sekali soal itu, dan orang orang akan melihatnya seperti kebakaran biasa" Basyir bercerita antusias. Dia tidak peduli meski pakaiannya kotor serta rambutnya acak acakan,
"apa yang kau lakukan hari ini, Kenzy? Apa tugasmu dari Kenzo?"
aku menggeleng tidak tertarik membahasnya.
"ini apa?" Basyir menunjuk heran buku buku tebal di atas tempat tidurku.
aku tidak menjawab.
"Sejak kapan ada orang di rumah ini yang membaca buku"
Aku menelan ludah
Basyir tertawa, akhirnya dia bisa menebak apa yang terjadi. "kami seharian melakukan hal seru di luar sana, Kenzy. Memukuli preman pasar yang banyak tingkah, dan kau justru disuruh membaca."
Sial. Aku melotot kepada Basyir yang menertawakanku.
"aku mandi, Kenzy. Belajar yang rajin kau" Basyir melambaikan tangan, kembali ke kamarnya.
Aku menghembuskan nafas kesal.
Waktu itu aku belum paham apa yang direncanakan oleh Kenzo, baru beberapa tahun kemudian aku menyadarinya. Kenzo punya rencana besar. Dengan usianya yang menginjak lima puluhan, dis sedang menatap masa depan keluarga Thong yang gemilang. Dia telah menyiapkan rencana agar keluarga kami tidak hanya menjadi penguasa di provinsi. Rencana yang justru tidak ku sukai waktu itu.
Karena aku belum paham, setelah seminggu penuh hanya dijejali buku buku, aku memutuskan menemuinya di ruang kerja bangunan utama. bilang aku akan berhenti membaca semua buku buku itu
"kau harus terus belajar, Kenzy" Kenzo menatapku marah, wajahnya tidak suka.
Aku menggeleng.
Kau harus terus belajar, KENZY!!" Kenzo membentak ku. niatku sudah kokoh, aku tidak datang jauh-jauh ke sini hanya untuk belajar, aku ingin bekerja.
"apa yang sebenarnya kau inginkan?" Kenzo mengendurkan terakannya, berusaha sedikit terkendali. Ia merapikan kertas kertas yang sedang ia periksa, melangkah mendekatiku.
"aku ingin balas dendam dengan klan yang telah membunuh keluarga ku"
"membalas dendam? kenapa kau tidak lakukan saja sendiri, hah?"
aku diam.
"Masa depan keluarga Thong bukan di tangan orang orang yang pandai berkelahi. masa depan keluarga ini berada pada orang orang yang pintar. Kita tidak akan terus menerus hanya menjadi keroco dalam dunia hitam. hanya memalak, memeras, dan menyeludupkan barang barang. Itu bisnis kotor. Kita akan menjadi lebih besar dari itu semua. Dan untuk menjalankannya, aku butuh orang pintar. Itulah yang disebut visi, melihat masa depan. kau harus belajar setinggi mungkin. biarkan saja Basyir, yang memang tidak punya otak untuk mengunyah pelajaran, yang menjadi tukang pukul. kau tidak."
aku tetap menggeleng
"astaga Kenzy! Omong kosong untuk balas dendam. lihatlah. aku sudah berpuluh puluh tahun merencanakan balas dendam dan apa yang kudapat? Hanya hinaan. Kita hanya dianggap keluarga rendah. Jangan tanya di pulau seberang, ibu kota, mereka hanya memicingkan mata tidak peduli. Kita dianggap sama dengan preman pasar induk yang kita kalahkan. Tidak berkelas. Murahan."
Aku tetap diam.
"kau harus belajar, Kenzy. Frans akan mengajarimu secara privat di rumah ini."
"aku tidak mau" aku memotong.
Kenzo mendengus keras. andai saja aku orang lain, mungkin sejak tadi dia sudah menyambar kayu dan memukulku tanpa ampun. Dua hari lalu aku pernah melihat Kenzo mengamuk saat anak buahnya tidak becus mengurus pekerjaan, dia memukulinya hingga berdarah
Tauke meremas jemarinya dengan geram, akhirnya menghembuskan nafas.
"baiklah... Baiklah Kenzy aku tahu, membaca buku itu tidak seru. Sementara setiap pagi kau hanya mendengarkan cerita hebat dari Basyir dan pemuda lainnya di meja panjang saat sarapan. Membuat kau hanya jadi bahan olok olok. Baiklah Kenzy! aku tahu, memukuli orang lain itu lebih seru, lebih menantang. Malam ini, kau ikut denganku, akan kuberikan apa yang kau mau."
Percakapan itu berakhir cepat. Aku pikir aku telah mendapatkan yang aku inginkan dan Kenzo mengalah. Namun saat malam tiba, ternyata yang terjadi adalah sebaliknya.
...****************...
Hari ini.
tiga puluh menit sejak telepon Basyir, sedan hitam yang kukendarai merapat di sebuah kawasan elite ibu kota. Pintu gerbang yang terbuat dari baja setebal lima senti terbuka secara otomatis saat mengenali wajahku. Ini adalah markas besar keluarga Thong yang dilengkapi dengan teknologi mutakhir. Semua penghuni rumah dipindai dengan alat canggih.
aku memarkirkan mobil di depan rumah utama. parkiran ini bisa menampung empat puluh mobil. luas markas besar keluarga Thong sendiri hampir enam hektar, dikelilingi tembok setinggi empat meter yang depannya dikamuflase oleh rumah rumah mewah. Jika seseorang melintas di jalan utama kawasan elit ibu kota itu, tidak ada yang menyangka jika dibalik rumah rumah itu ada kompleks bangunan rahasia. Mereka hanya akan menduga sebagai rumah rumah biasa.
ada beberapa anggota keluarga yang sedang berkumpul di depan bangunan utama, saat melihatku, mereka menghentikan percakapan, mengangguk dalam dalam dan memberikan hormat. Aku hanya membalas sekilas.
"kau sudah ditunggu, Kenzy" Basyir menyambutku di ruangan depan, ruangan luas berlantai marmer dan lampu kristal seberat satu ton di langit langit nya, yang diangkut langsung dari turki
Aku mengangguk, "Kenzo ada dimana?"
"kamar belakang"
Basyir mendahuluiku menaiki anak tangga, aku berjalan di belakangnya. Kami melintasi lorong lantai dua tanpa banyak bicara, tiba di ujungnya. Basyir mendorong pintu kayu jati berukir dan masuk lebih dulu. kamar tidur dengan ukuran enam kali enam meter segera menyambutku.
"akhirnya kau datang, Kenzy. Waktuku sudah tiba, Kenzy"
Aku menelan ludah mendengar kalimat pembukaannya. Aku segera tahu apa yang hendak dia bicarakan.
"aku akan mati" Kenzo menatapku, berkata tanpa basa-basi.
aku menghembuskan nafas
"aku tahu kau tidak suka membicarakan ini. Tapi keluarga ini butuh pemimpin baru. dan kaulah orangnya. Kaki tangan pertamaku. bersama Parwez, Basyir, dan yang lain, keluarga ini akan semakin besar"
"kita bisa mengatakan ini lain waktu, Kenzo." aku memotong.
"diam kau Kenzy, kau selalu menghindari percakapan ini. cepat atau lambat, aku akan mati. dan siapa yang akan memegang kekuasaan besar keluarga kalau bukan kau."
"Basyir?" ucapku
"kau berharap dengan si otak udang itu? Kau tahu dia hanya memiliki pikiran untuk bertarung? bagaimana bisnis keluarga kita besok jika dia hanya fokus dengan pasukan militer, heh?"
Aku terdiam.
"bayangkan saja jika dirimu yang berkuasa. Bayangkan semua orang tunduk dihadapanmu. Bayangkan saja kau memerintah penyerangan balas dendam yang kau inginkan"
aku tidak anak kecil yang dapat di iming imingi oleh sesuatu untuk melakukan sesuatu.
"mari kita bikin perjanjian, jika aku terbunuh nanti, biarkan saja Basyir yang memegang semuanya, namun jika aku mati secara alami, kau lah yang berkuasa"
aku melotot mendengar apa yang telah dikatakan oleh Kenzo.