NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Favorit Brams Ravendra

Istri Kontrak Favorit Brams Ravendra

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Romantis / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Komedi / Tamat
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sibewok

Ranum Haura. Gadis muda berusia 20 tahun, pergi ke kota untuk menghadiri interview di sebuah perusahaan farmasi. Namun interviewnya gagal, karena ia harus meluangkan waktunya menolong pria yang terlihat sesak nafas.

Ranum yang punya keahlian pijat refleksi, segera menolongnya, ia menekan titik syaraf pria paruh baya yang bernama Pak Barra itu.

Atas bentuk terima kasihnya, Pak Barra menjodohkan Ranum dengan cucunya, CEO kaya raya, tampan, bernama Brams Satria Ravendra.

Tapi. Brams menyodorkan pernikahan Kontrak pada Ranum tanpa sepengetahuan kakeknya.

Dan ketika Ranum diketahui hamil, Ranum pun diam-diam pergi meninggalkan Brams, sebelum kontraknya selesai.
Apakah Brams akan melepaskan Ranum?

Simak kisah selengkapnya. Jangan lupa. Ulasan, like, komentarnya ya. Untuk dukung novel ini. 😊🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibewok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 - Menghadapi Suami Mabuk

Brams terkekeh, lalu berusaha bangkit lagi dari duduknya, Namun ia oleng lagi, dan kali ini refleks, Ranum menangkap lengannya.

Tangan mereka bersentuhan.

Brams menatapnya.

Mata itu, meski mabuk, tampak… terpaku.

“Ranum…” suaranya turun, lebih lembut.

“…kau wangi. Seperti… rumah.”

Ranum terdiam sejenak.

Lalu menggeleng cepat. Sambil membuang nafas panjang.

“Ayo pulang. Pak Barra sakit karena ulah Anda.”

Brams mengerutkan dahi.

“…Kakek?”

“Iya. Sekarang ikut saya.” Ranum menyampirkan tangan Brams ke pundaknya.

Brams tertawa pelan sambil mengikutinya.

“Pengantin desa… menjemput suaminya… dari club malam… ini lucu sekali…”

Ranum ingin memukulnya dengan sepatu. Tapi ia menahan diri. Karena tugasnya malam ini hanya satu. Membawa Brams pulang.

Setelah membawa masuk Brams ke dalam mobil di bantu supir. Ranum berakhir duduk di samping Brams. Supir menutup pintu dan mulai menjalankan mobil.

Hening sebentar.

Lalu…

Brams bersuara pelan sambil memejamkan mata.

“…Aku mabuk.”

Ranum memutar bola mata.

“Aku tahu.”

Brams membuka satu mata, menatap Ranum dengan malas tapi nakal.

“Kau marah padaku?”

“Tidak.”

Ranum merapatkan jilbabnya, ketus.

Brams mengerutkan dahi, lalu tertawa pelan.

“Kau yakin?”

Ranum menghindar menatapnya.

“Hanya sedikit. Karena Anda langsung pergi ke klub dua jam setelah akad. Itu membuat Kakek Khawatir.”

Brams mendekat sedikit, meski tubuhnya oleng dan kepalanya hampir menempel di bahu Ranum.

“Kalau aku bilang… aku sedang merayakan pernikahan kontrak kita, apa kau percaya?” bisik Brams tepat di telinga Ranum yang tertutup jilbab.

Ranum mendelik.

“Rayakan? Dengan wanita-wanita tadi?!”

“Hmm…” Brams tersenyum kecil.

“Aku cuma… menghabiskan waktu.”

“Dengan cara buruk, dan membuat kakek mu cemas di rumah.” balas Ranum cepat.

Brams menghembuskan napas dan bersandar.

Duk! Kepala Brams jatuh ke bahu Ranum.

“Astaga!” Ranum kaget.

“Diam. Aku pusing,” gumam Brams.

Ranum ingin memindahkan kepalanya, tetapi Brams sudah nyaman, bahkan tangannya terangkat dan menyentuh lengan Ranum seolah memastikan ia tidak kabur.

Ranum menoleh ke supir, canggung.

Supir pura-pura fokus ke jalan padahal kupingnya pasti panas.

“Brams, tolong… posisi seperti ini tidak pantas.”

Brams menggerakkan wajahnya sedikit, napas hangat menyentuh leher Ranum.

“Pantas atau tidak… aku suamimu, kan?”

Ranum tercekat.

Pipinya panas.

“Ya… tapi kita kan hanya…”

Brams menggumam sambil memejamkan mata.

“Mmm. Kau malu.”

“Saya tidak malu!” bantah Ranum lirih.

“Kau malu,” ulang Brams, nadanya santai menyebalkan yang penuh kemenangan.

Ranum mencubit lengannya.

“Aww! Hey!” Brams akhirnya membuka mata.

“Jangan goda saya,” ujar Ranum tegas.

Brams tersenyum miring.

“Kau manis kalau marah.”

Ranum ingin teriak.

Supir hampir batuk darah mendengar itu.

Setelah beberapa menit berlalu, mereka sampai kembali di Rumah Ravendra.

Begitu mobil berhenti, Ranum menarik napas panjang.

Ia menepuk pelan pipi Brams.

“Bangun. Kita sudah sampai.”

Brams membuka mata, malas, tapi kemudian tertawa kecil saat melihat wajah Ranum yang kesal.

“Kau baik sekali,” bisiknya.

“Dan kau istri yang… patuh.”

“Saya melakukannya untuk Kakek Anda. ingat.”

“Bohong,” jawab Brams cepat.

“Kau melakukannya karena kau peduli.”

“Tidak!” Ranum membantah spontan.

Brams tampak puas.

“Lihat? Kau gugup.”

“Tidak!”

“Hm. Pipi merah. Nafas cepat. Suara bergetar. Kau gugup.”

Ranum terdiam, wajahnya semakin merah.

Brams terkekeh. Sambil mengerjakan matanya yang sudah sayu karena mabuk.

“Manis sekali.”

Ranum sudah melayangkan tangannya, ingin memukul. Tapi ia urungkan.

Supir membukakan pintu.

Ranum turun dulu, lalu membantu Brams keluar.

Baru saja mereka masuk ke dalam rumah, suara berat Pak Barra menyambut.

“Brams!”

Ranum terlonjak.

Brams hanya mendengus lirih.

Pak Barra berjalan cepat menghampiri, wajahnya kecewa, lelah, dan sedikit marah.

“Ini malam pernikahan mu dan kau menghabiskan malam di Club? Apa kau tidak malu pada Ranum?!”

Brams mengusap wajahnya.

“Kakek, Ssshhh...” Desis Brama.

“Kau memalukan!” Pak Barra menunjuk Brams.

Brams menahan kepala yang pening.

“Ya ampun, Kakek, aku cuma...”

“Tidak ada alasan!” bentak Pak Barra.

Ranum akhirnya masuk dan berdiri di antara mereka.

“Kakek,” ucap Ranum pelan. “Tolong jangan dimarahi dulu. Brams… mungkin bingung dengan situasi baru.”

Pak Barra terdiam.

Brams pun menatap Ranum, bingung.

Ranum melanjutkan, suara lembutnya membuat ruangan mencair.

“Saya sudah berjanji membawa Brams pulang.”

Ia menatap Pak Barra.

“Sekarang biarkan ia beristirahat dulu. Nanti kita bisa bicara dengan kepala dingin.”

Pak Barra menatap menantu itu lama.

Kemudian ia mengangguk pelan.

“…Baiklah, Nak.”

Ranum membungkuk hormat.

Brams menatapnya, tak percaya.

“…Kau membelaku,” gumam Brams.

Ranum menatapnya balik.

“Karena Anda sedang mabuk. Dan saya tidak mau Anda bertengkar dengan Kakek.”

Brams mendekat sedikit.

Matanya yang merah tampak lebih jernih sekarang.

“Ranum…” suaranya rendah.

“…kau terlalu baik.”

Ranum menggeleng cepat.

“Saya hanya tidak ingin membuat Kakek anda tambah kahwatir.”

Brams tersenyum miring, tapi kali ini tidak sinis, tidak meremehkan.

Lebih… lembut.

“Kalau begitu,” ucap Brams sambil mencondongkan tubuh, “temani aku ke kamar. Aku terlalu pusing untuk jalan lurus.”

Ranum mendesah panjang.

Brams memegang lengan Ranum.

Jemarinya hangat. Genggamannya kuat, tapi juga hati-hati.

Dan sambil mereka berjalan menuju tangga, Brams sempat berbisik.

“Apa kau ingat aku, Ranum…?”

Ranum berhenti.

“…Apa maksud Anda?”

Brams tersenyum samar, seperti seseorang yang menyimpan rahasia masa lalu.

“Tidak ada. Lupakan.”

Ranum menatapnya lama.

Brams hanya tersenyum lagi, senyum mabuk yang misterius.

Dan keduanya melangkah naik ke lantai dua.

Bersambung…

1
partini
wow
partini
betul ke cucumu Dammmm stupid
masa iya ga lihat cara devan ke istri nya macam mana 🤦
partini
waduh buta ga yah,,aihhh Kunti bogel beraksi
tuh kucing bukan dapat tuan tapi dapat Ba Bu
Meow: buta sementara kak, biar Brams di buat repot dulu sebelum di tinggal Ranum 🤭
total 1 replies
한스 |HANSEN|Author DarkRomance
bantu kakak 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!