NovelToon NovelToon
Menyamar Demi Cinta Tulus

Menyamar Demi Cinta Tulus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Tara Yulina

Cilla Anaya Salsabila,
putri tunggal pemilik perusahaan besar dan pewaris saham kampus barunya. Semua orang mengaguminya—kecuali dirinya sendiri, karena ia tak pernah tahu siapa yang benar-benar tulus.

Saat pindah ke kampus baru, Cilla memilih menyamar menjadi gadis culun. Tanpa kemewahan, tanpa nama besar, hanya dirinya apa adanya.

Ia ingin satu hal:
menemukan cinta yang memilih hatinya… bukan hartanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tara Yulina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Zayn dan Irama

Tak lama kemudian, Zayn dan Cilla menyelesaikan praktik pengolahan makanan mereka, mulai dari appetizer, main course, hingga dessert.

"Kue buatanku akhirnya jadi!" seru Cilla girang sambil memandangi hasil karyanya.

"Gue juga udah selesai nih, shrimp cocktail salad," sahut Zayn sembari menata piringnya.

Cilla menoleh, matanya berbinar. "Wah, itu makanan kesukaan aku banget!"

"Serius? Lo suka shrimp cocktail salad juga?" tanya Zayn seolah tak percaya.

Cilla mengangguk mantap.

Zayn terkekeh tipis. "Ternyata selera kita sama ya. Gue juga paling doyan sama menu ini."

Keduanya kemudian saling mencicipi masakan satu sama lain sembari mengecek kerapian plating dan detail hidangan mereka. Zayn mengambil garpu kecil, lalu mencicipi dessert buatan Cilla.

"Hmm, lo jago juga bikin kue. Rasanya pas, manisnya nggak berlebihan. Perfect, luar biasa," puji Zayn tulus setelah suapan pertama.

Cilla tersenyum malu-malu. "Biasa saja, kok. Aku memang sudah belajar bikin kue dan masak dari kecil."

"Siapa yang ngajarin lo?" tanya Zayn penasaran.

"Bibi Ningsih, ART aku di rumah," jawab Cilla spontan.

Zayn sontak terhenti, matanya sedikit membelalak. "ART? Lo punya ART?"

Suasana mendadak canggung. Zayn tampak terkejut, pikirannya mulai bertanya-tanya apakah Cilla sebenarnya adalah orang kaya, sangat kontras dengan rumor yang beredar di antara teman sekelas mereka.

Cilla tersentak. Jantungnya berdegup kencang saat menyadari kata-kata yang baru saja meluncur dari bibirnya. Ia segera memutar otak, mencari alasan yang masuk akal agar identitas aslinya tidak terbongkar.

"Eh, m-maksud aku... ART temenku!" ralat Cilla cepat, sedikit terbata. Ia tertawa canggung sambil mengibaskan tangan di udara. "Iya, itu maksudnya. Jadi, aku sering banget main ke rumah dia, terus aku diajarin sama Bibi Ningsih itu."

Zayn menyipitkan mata, menatap Cilla dengan tatapan menyelidik. "Serius? Segitunya sampai lo bisa jago begini cuma karena sering main?"

Cilla mengangguk mantap, berusaha menguasai diri agar ekspresinya terlihat meyakinkan. "Iya, soalnya aku suka banget masak, jadi kalau ke rumah dia bukannya main game, aku malah nangkring di dapur bareng bibi."

Cilla mengembuskan napas pelan, berharap Zayn percaya. Ia hanya ingin kehidupan sekolah yang tenang dan sederhana, tanpa embel-embel status keluarga yang bisa membuatnya merasa dibeda-bedakan oleh teman-temannya.

Zayn manggut-manggut, meski masih ada sedikit ganjalan di hatinya. "Oh, kirain lo emang punya ART sendiri. Habisnya gaya ngomong lo tadi kayak udah terbiasa banget."

"Nggaklah, mana mungkin," pungkas Cilla sambil tersenyum tipis, meski dalam hati ia merutuki kecerobohannya sendiri.

Zayn akhirnya mengangguk, tampak menerima alasan Cilla meskipun sedikit sangsi.

"Oke, sekarang gantian aku yang cicipin shrimp cocktail salad buatan kamu," ujar Cilla, mengalihkan pembicaraan agar jantungnya berhenti berdegup kencang.

"Silakan. Kalau ada yang kurang, langsung komen aja ya," sahut Zayn sambil menyodorkan piringnya.

Cilla meraih sendok dan garpu, lalu mengambil sepotong udang dengan perlahan. Ia menutup mata sejenak, meresapi perpaduan rasa dan tekstur yang menyentuh lidahnya.

"Hmm, kalau menurut aku, rasanya sudah pas. Tapi..." Cilla menggantung kalimatnya sebentar. "Tekstur udangnya kurang lembut, sedikit terlalu lama dimasak. Terus warnanya juga agak pucat, kurang menggoda tampilannya."

Zayn kembali memperhatikan hidangannya dengan saksama. Ia mengamati detail yang disebutkan Cilla tadi. "Bener juga kritikan lo. Lo bener-bener hebat ya, Ci. Otak lo cerdas banget soal ginian."

Cilla tersenyum bangga, rasa percaya dirinya bangkit. "Iya dong, ini Cici! Orang lain boleh meremehkan penampilan aku yang kelihatan culun atau cupu, tapi jangan pernah remehkan kemampuan aku."

Zayn terkekeh melihat kepercayaan diri gadis di depannya. "Iya, gue akui kemampuan lo emang good job. Mulai dari cara lo jawab pertanyaan dosen, cara lo kritik masakan gue, sampai hasil kue lo yang emang enak banget."

Cilla hanya tersenyum simpul. Meskipun ia harus menyembunyikan identitas aslinya di balik kacamata dan penampilan sederhana, ia tidak bisa menyembunyikan bakat yang sudah mendarah daging. Namun, di tengah pujian itu, pikiran Cilla tiba-tiba melayang jauh ke luar kampus.

"Gimana kabar kafe gue sekarang, ya? Orang-orang di sana bisa handle semuanya nggak, ya?" batin Cilla cemas.

Hanya segelintir orang yang tahu bahwa gadis "cupu" di depan Zayn ini sebenarnya adalah pemilik sebuah kafe populer yang sedang berkembang pesat.

"Ci, masih ada satu menu yang belum kita buat bareng-bareng, yaitu main course. Tapi kita lanjut besok saja ya, sudah makin malam," ujar Zayn sambil melirik jam dinding.

"Iya, kamu benar, Zay. Ya sudah, kalau begitu aku pulang dulu ya," pamit Cilla.

"Gue antar," tawar Zayn cepat.

Cilla menggeleng pelan. "Nggak usah, repot-repot."

"Ini sudah malam, nggak baik cewek pulang sendirian. Jangan sampai lo kenapa-kenapa di jalan," tegas Zayn tak ingin dibantah.

Hati Cilla menghangat mendengar perhatian itu. "Lo memang baik ternyata, Zay. Lo nggak mandang fisik sama sekali. Tapi... gue nggak tahu gimana kelanjutan rahasia ini ke depannya," batin Cilla bimbang.

Akhirnya, Zayn mengantar Cilla pulang menuju kostannya menggunakan motor. Di tengah perjalanan, untuk memecah keheningan dan mengusir angin malam, Cilla mulai bersenandung lagu "Payphone" milik Maroon 5.

"Now baby don't hang up, so I can tell you what you need to know. Baby I'm begging, just please don't go. So I can tell you what you need to know. I'm at a payphone trying to call home, all of my change I spent on you..."

Tiba-tiba, suara berat Zayn menyambung lirik tersebut dengan pas.

"Where have the times gone, baby? It's all wrong..."

Cilla sempat terdiam sejenak, terkejut karena ternyata Zayn juga hafal lagu itu. Tak lama kemudian, Cilla tertawa kecil dan mereka pun melanjutkan lirik lagu itu bersama-sama di sepanjang jalan.

"Where are the plans we made for two? If happy ever after did exist, I would still be holding you like this. All those fairy tales are full of shit. One more fucking love song, I'll be sick. Now I'm at a payphone..."

Malam itu, suasana yang awalnya canggung berubah menjadi hangat. Di bawah lampu jalanan, melodi lagu dan tawa tipis mereka menyatu, membuat jarak di antara keduanya perlahan mulai terkikis.

Tak lama kemudian, motor Zayn berhenti tepat di depan gerbang kostan Cilla.

"Lo ngekost ya? Emangnya rumah asli lo di mana?" tanya Zayn sambil membukakan kaca helmnya, penasaran.

"Rumah asli aku jauh banget dari kampus, makanya aku milih ngekost biar nggak telat," jawab Cilla memberikan alasan yang aman agar rahasianya tidak terbongkar.

Zayn mengangguk paham, lalu menatap Cilla sebentar. "Makasih buat hari ini ya, Ci. Ternyata lo orangnya asyik juga diajak ngobrol."

Cilla mengangguk dengan senyum tipis. "Sama-sama. Kamu hati-hati ya di jalan."

Setelah motor Zayn berlalu dan menghilang di kegelapan malam, Cilla masih berdiri di depan gerbang. Ia tersenyum-senyum sendiri tanpa alasan yang jelas. Ada rasa hangat yang menjalar di hatinya. Ia merasa Zayn memang berbeda—pria itu tidak sedingin atau seburuk yang ia bayangkan saat pertama kali mereka bertemu dalam keadaan dirinya terluka.

Cilla masuk ke dalam kamar kosnya sambil tersenyum sendiri. Matanya menatap bayangan di cermin, mengingat momen kecil bersama Zayn saat mereka bekerja sama menyelesaikan tugas dari Pak Raka. Entah mengapa, kenangan sederhana itu terus terulang di pikirannya dan membuat sudut bibirnya tak berhenti tersenyum.

Perlahan, Cilla melepaskan kacamata yang selama ini menjadi bagian dari penyamarannya. Ia membuka ikatan rambutnya, lalu merapikan rambut yang tadi dikepang hingga terurai jatuh di bahunya.

Setelah itu, Cilla merebahkan tubuh di atas ranjang kos. Ia menatap langit-langit kamar sambil menghela napas pelan.

"Andai Zayn tahu siapa gue sebenarnya, mungkin semuanya bakal terasa lebih indah," gumamnya pada diri sendiri.

Namun sesaat kemudian, ia menggeleng pelan.

"Tapi gue nggak akan mengubah tujuan gue menyamar seperti ini. Gue pengen benar-benar tahu siapa yang tulus menerima gue apa adanya. Gue pengen menemukan cinta sejati gue."

Cilla tersenyum tipis. Meski terkadang terasa berat, ia yakin suatu hari nanti penyamarannya akan membawanya pada jawaban yang selama ini ia cari. Di luar jendela, malam semakin larut, sementara di dalam kamar kecil itu, hati Cilla diam-diam dipenuhi harapan tentang seseorang bernama Zayn.

Sementara Cilla tertidur, semesta diam-diam menyiapkan kejutan untuknya.

1
falea sezi
lanjut donk
Tara Yulina: terimakasih,aku bakal lanjutin dengan penuh semangat ☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!