Zielga Nadine adalah seorang forensik kepolisian yang terkenal karena kecerdasannya dalam memecahkan kasus-kasus tersulit. Kemampuannya membawa banyak penghargaan dan membuat namanya dikenal sebagai salah satu ahli forensik terbaik.
Namun di balik sosoknya yang brilian, Zielga menyimpan masa lalu yang kelam. Semasa SMP, ia mengalami perundungan brutal dan kehilangan harga dirinya berkali-kali. Luka itu tak pernah sembuh—dan menjadi api yang membakar seluruh hidupnya.
Bagaimana jika forensik jenius yang dipercaya semua orang ternyata menyimpan agenda gelap?
Inilah kisah benturan antara dendam yang membara dalam diri Zielga dan upaya polisi mengungkap kebenaran.
Siapa yang akan menang: Zielga, yang bertekad membalas semua rasa sakitnya, atau aparat kepolisian yang tanpa sadar sedang memburu rekan mereka yang paling mereka hormati?
Di atas kertas bertuliskan “Keadilan”, sebuah pertempuran dimulai.
cerita ini hanya fiksi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gdc Hb vl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 5
"Ini di temukan di dalam kamar anda" ucap ziel sambil menyodorkan botol kecil berisi serpihan kaca ke arah vanya.
Vanya berkedip, keningnya berkerut dengan ekspresi bingung membuat aksa dan ziel terdiam saat melihat reaksinya.
"Apa,serpihan kaca!?" Tanya vanya saat memandang botol kecil yang di pegang oleh ziel, ia bingung dan tak mengerti apa yang di maksud oleh polisi tersebut.
Melihat reaksi bingung dan ke tidak tahuan yang tergambar jelas di wajah vanya, ziel mengangguk dan menyimpan botol tersebut kembali ke sakunya.
"Kalau begitu nona vanya kami minta maaf telah mengganggu waktu anda, kami permisi!"
Ziel segera pergi menarik paksa lengan aksa yang masih agak bingung dengan tingkat lakunya.
Ketika mereka sudah sampai ke mobil "aksa bertanya.
" ziel, apa yang terjadi, kita belum menyelidiki sepenuhnya"
"Masuk, aku akan menjelaskan di mobil!" Mendengar ucapan ziel aksa segera masuk ke bagian kursi penumpang dekat pengemudi sedangkan ziel masuk sebagai pengemudi mobil.
Ziel segera menginjak pedal gas, pergi dari pekarangan rumah vanya.
Di perjalanan..
"Ziel ada yang perlu kau jelaskan" ucap aska sambil memandang ziel.
Ziel menatap aksa sebentar sebelum memfokuskan lagi pandangan ke jalan.
Dia melemparkan botol tabung kecil yang berisi serpihan kaca tadi ke arah aksa.
Kening aska berkerut ketika memandangi botol yang ziel lemparkan.
"Kaca!?" Tanya aksa dengan penasaran.
"Ini adalah serpihan kaca yang kami ambil dari tenggorokan korban saat di otopsi" jelas ziel, kemudian melanjutkan
"Kau lihat ekspresi vanya tadi, saat aku menunjukkan barang bukti ia tak mengerti bahkan tak tau apa yang sebenarnya arti dari benda tersebut, hal ini menunjukkan bahwa tersangka benar-benar tak mengerti bagaimana cara pelakunya memperlakukan korban dengan kejam"
"Tapi bukan kah ini bisa di rekayasa dengan ia sudah siap!"
"Tidak, aku sudah mengecek semua ruangan nya dan tidak ada yang mencurigakan, barang ini hanya pancingan untuk reaksi apa yang ia tunjukkan"
Biasanya orang normal akan sangat sulit mengontrol rasa terkejut, bahkan orang yang bisa menahan diri saja, tubuhnya masih akan bereaksi walaupun cuma beberapa detik"
Drrr
Saat ziel sedang menjelaskan tiba-tiba suara ponsel aksa menghentikan perkataan nya.
Aksa segera menekan tombol hijau yang ada di ponsel
"Halo!" Sapa aksa.
"Kapten vanya bulan pelaku kami menemukan bahwa dia terbukti ada di pesta saat kejadian!" Di seberang sana suara davis memecah keheningan di mobil.
"Baiklah kalau begitu, cari apakah ada petunjuk lain yang bisa kita dapat!"
"Siap kapten!"
Tut
Setelah aksa mematikan panggilan dia menatap ziel dengan kagum.
"Wah kau hebat sekali forensik ziel, bagaimana prediksi mu bisa seakurat ini, padahal davis baru memberitahu sekarang!" Ziel menoleh sebentar menatap aksa lalu menatap jalan kembali sambil mengemudi.
"Tak perlu berlebihan, itu hal biasa" ucap ziel.
Aksa hanya menatap ziel sebentar sebelum menatap jalan.
"Ziel kau ini udah hebat masih saja rendah, baiklah kalau begitu, kita cari petunjuk lain di gan" aksa kemudian membuka jendela mobil, melihat pemandangan jalan yang mereka lalui.
Namun tanpa aska sadari sedikit pun ziel menarik sudut bibirnya sebentar sebelum mengembalikan wajahnya yang datar.
Senyuman kemenangan telah terpancar dari wajah ziel ketika melihat aska percaya padanya.
Ya dari awal ini rencana ziel, ia meminta davis mencari siapa saja yang sudah menjadi pacar mirza hingga davis mendapatkan sedikit petunjuk.
Sat itu pula ziel mengeluarkan barang bukti pada vanya membuat vanya menampilkan wajah bingung di hadapan aska, hal ini tentu menguntungkan ziel.
Dengan membuat ekspresi di hadapan aksa teori yang ziel jelaskan akan masuk akal di mata aska.
Dan hal inilah membuat ziel akan jauh dari kata tersangka atau menjadi salah satu orang terlibat pada kejadian yang tengah di selidiki.
***
Di gang tempat perkara kejadian bau tak sedap tercium oleh hidup ziel dan aksa.
Kotak sampah yang berada di sudut gang, kantong sampah yang banyak di hinggapi lalat hijau yang menandakan tempat tersebut tak sehat.
Aksa dan ziel terus meneliti gan tersebut mulai dari sudut gang serta dinding dan juga beberapa tempat lainnya berharap ada petunjuk yang dapat mereka temukan.
Saat ziel dan aksa sedang meneliti, ziel tak henti-hentinya mencuri pandangan dari aksa tanpa aksa ketahui.
Ziel berharap aksa menyerah karena ia sendiri pelakunya, mana mungkin ia yang seorang forensik cerdas tak dapat menghilangkan tanda sesuatu yang bisa jadi bukti, sedangkan dia saja orang yang mampu menemukan pelaku kejahatan lewat bukti tersulit sekalipun.
"Apa kau menemukan sesuatu ziel!?" Tanya aska di sela-sela pencarian nya.
Ziel yang mendengar hal itu segera menghampiri aska dan berdiri di sampainya.
"Tidak ada apa-apa di sini, aku rasa pelaku sangat profesional!" Ucap ziel sambil menatap aska yang sedang memegang dagunya seolah berpikir.
"Ya, di sini juga tidak aja, hanya orang profesional yang akan melakukan hal ini, tak ada petunjuk sama sekali!"
Aska kemudian menatap ziel sebentar lalu berkata.
"Tapi apa kau benar-benar tak memiliki asumsi atau dugaan untuk hal ini, bukankah kau biasanya bisa menyimpulkan sesuatu yang bisa jadi petunjuk!"
Ziel terdiam sejenak, dia membulat matanya tanpa di lihat oleh aska sebelum memasang ekspresi seperti biasa.
Ziel kemudian mengangkat tangannya sambil memegang dagunya memberikan gerakan seolah berpikir.
"Sebenarnya aku memiliki sesuatu yang bisa di simpulkan dalam hal ini" aska segera menatap lekat ziel mendengar kan apa yang akan ziel katakan.
"Apa!"
Melihat reaksi aska ziel mendekatkan bibirnya ke arah telinga aska
"Lebih baik kita pergi ke kator, berbicara di mobil, siapa tau pelakunya sedang mengamati" bisik ziel pada aska.
Aska terdiam sejenak, matanya segera mengamati area sekitar, dia melihat beberapa orang lewat di depan gang
Banyak dari orang tersebut menatap gang yang di pasangi tali polisi sebentar sebelum kembali melanjutkan langkah mereka.
Hal ini tentu menimbulkan kecurigaan mungkin saja di antara orang-orang yang hanya melihat sekitar dengan alasan kepo adalah pelakunya.
Aska segera mengangguk mengerti, ia dan ziel segera memasuki mobil dan pergi dari pekarangan tkp.
***
Di mobil.
"Jadi ada petunjuk!" Tanya aska sambil menyetir.
Ia berbicara duluan karena dari tadi ziel hanya menatap jalanan yang mereka lalui tanpa mengucapkan satu kata pun.
"Aku rasa pelakunya orang yang benar-benar profesional!"
"Bisa kau jelaskan"
"Pelakunya pasti berpengalaman" Aska menoleh sebentar ke arah ziel meminta penjelasan lebih lanjut tentang perkataan ziel.
Helaan nafas terdengar dari mulut ziel saat aska meminta penjelasan, ia sedikit malas untuk membuat skenario palsu saat ini, namun tak ada pilihan lain.
"Ada berapa banyak polisi yang memiliki gelar di kota ini yang telah pensiun atau di pecat, ada berapa banyak forensik yang hebat di pecat atau pensiun, kita tidak mengetahui pasti bukan berapa banyak polisi, forensik, detektif, dan orang yang cerdas di kota ini, yang mampu mengunakan pengalaman mereka sebagai cara untuk bergerak tanpa jejak, atau ada berapa buronan yang tak tertangkap di kota ini, mereka yang telah terekspos identitas nya saja masih belum tertangkap apa lagi yang abu-abu tanpa bayangan seperti ini!" Ziel menatap luar mobil melalui kaca mobil yang berwarna kehitaman.
Melihat Pemandangan pepohonan serta perumahan yang mereka lalui mata ziel sedikit sayup 'benar sangat lucu membuat skenario palsu untuk diri sendiri' batin ziel.
Ia tersenyum kecut menatap dirinya sendiri melalui bayangan yang samar lewat kaca mobil, senyuman kembali lebih lebar ketika batinnya berkata 'betapa munafiknya hal ini'.
"Apa ada yang lucu ziel" lamunan ziel segera buyar ketika aska menyapa dirinya.
Aska yang tak sengaja melihat ziel tersenyum sedikit bingung, apa yang sebenarnya forensik hebat ini seyumkan.
"Tidak ada, aku hanya memuji sang pelaku, yang bisa menghilangkan bukti dari pengamat ku!" ziel menjawab aska sambil tersenyum sayup ke arah aska.
Melihat senyuman ziel aska mengangguk mengerti, karena dia pikir ziel mungkin benar tentang hal itu, dan mata ziel yang seolah menggambarkan sedikit kekecewaan di mata aska.
Aska diam seolah-olah telah mengerti apa yang sebenarnya ziel pikirkan karena ia sudah mengenal ziel selama 3 tahun itu menurut pengamatan nya tanpa ia tau bagaimana ziel sebenarnya.