Tak pernah di sangka kehidupan bahagia keluarga Azka akan berakhir mengerikan hanya karena Ayahnya di tuduh menghamili anak dari seorang kaya dan sangat berpengaruh di desanya.
Azka yang sakit hati, terpaksa mengambil jalan pintas untuk membalaskan kekejaman para warga yang sudah di butakan oleh uang.
Dia terpaksa bersekutu dengan Iblis untuk membalaskan sakit hatinya.
Bagaimanakah nasib Azka, selanjutnya? Yu ikuti kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KETAKUTAN PARMI
Malam semakin larut, semua rombongan pengantar jenazah begitu kelelahan saat sampai di rumah.
Seno sampai di depan rumahnya, dia perlahan mengetuk-ngetuk pintu rumahnya.
ток...
ΤΟΚ...
Parmi dari dalam pun membuka pintu. "Mas, sudah pulang. Larut banget Mas, pulangnya." Parmi bertanya sambil menguap. Terlihat jam dinding menunjukan pukul 2 dini hari.
Seno tak menjawab, dia hanya diam saja di depan pintu. Lagi Parmi tanpa curiga berkata lagi sambil menarik suaminya masuk ke dalam.
"Yudi itu, memang lelaki tidak baik, Mas. Dia kan selama ini hanya menumpang makan di rumah keluarganya. Tidak mau bekerja, bahkan sudah mempunyai istri pun kebiasaannya masih sama, tetap menganggur. Palingan istrinya yang mengiriminya santet biar cepet mati. Eh mati beneran, untunglah istrinya. Ya kan, Mas?" Parmi tertawa kecil, sambil menutup pintu lalu memnguncinya.
Seno masih berdiri diam di tempat sambil menundukan kepala. Parmi yang merasa ucapannya tak di hiraukan pun kesal. Dia berdiri tepat di depan suaminya sambil melipat kedua tangan di dadanya.
"Kamu kenapa sih Mas, sedari tadi di ajak ngobrol diam saja. Kamu pikir aku ini radio? Ngomong cuma di dengerin doang." Keluh Parmi yang kesal.
Seno masih tetap diam.
Parmi yang mulai naik pitam, langsung mengeluarkan suara ketusnya. "Kalau nggak mau di ajak ngomong tuh, bilang, Mas! Jangan diem aja kayak orang kesambet setan kuburan kamu!"
Perlahan Seno mengangkat kepalanya, matanya memerah dan menatap tajam ke arah Parmi. Bibirnya mulai menyunggingkan senyuman aneh, persisnya seperti seringai yang menakutkan.
"PARMI! AKU LAPAR. HIHI... AKU MAU MAKΑΝ."
Tiba-tiba suara seno berubah seperti suara wanita.
Parmi sontak terkejut. "M-Mas? Kamu-kamu nggak apa-apa kan? Jangan bercanda ah, ini sudah sangat larut. Nggak lucu!" Parmi mencoba menenangkan diri, walau merasa ketakutan.
"Parmi, aku lapar dan haus. Tolong cepat ambilkan aku makanan sekarang juga. CEPAT!" Suara Seno tiba melengking keras. Membuat Parmi makin ketakutan.
"I-iya, Mas." Terpaksa Parmi pergi kedapur untuk menyiakan makan buat suaminya yang ia rasa sangat aneh itu.
Setelah menghangatkan makanan sisa tadi sore, Parmi pun segera menaruhnya di meja.
Seketika Seno memakannya dengan lahap tanpa sisa.
Namun hal aneh pun terlihat oleh mata Parmi.
KRIUK!
KRIUK!
Seno memakan juga piring beling yang telah kosong tersebut.
Sontak parmi terkejut. "MAS! JANGAN DI MAKAN!
ITU BAHAYA!" Teriak Parmi, hendak mengambil piring yang sedang asik di kunyah oleh Seno.
Namun, tindakannya terhenti kala sorot mata merah tajam menatapnya. Tubuh Parmi seketika bergetar. "Me-Mas...! Ka-kamu kenapa?" Dengan terbata Parmi bertanya.
Seno seketika menyeringai kembali. Cairan merah pun keluar dari rongga mulutnya, juga bibirnya yang terlihat sobek oleh pecahan kaca piring yang ia makan.
"Aku Seruni, Parmi. Kamu tidak mengenaliku? Hihi...
! Kamu lupa sama aku? Hihi...!" Suara lengkingan tawa pun membangunkan seluruh keluarga Parmi yang sudah terlelap.
Kedua anak gadis Parmi, dan juga Randi, anak bawaan dari Seno keluar semua.
Tubuh Parmi bergetar ketakutan.
"Bu-bukan! Kamu pasti setan! Seruni sudah mati! Dia sudah lama mati!" Teriak Parmi yang kepanikan.
Fitri, Fika, dan Randi, menatap ngeri kepada Seno yang mulutnya brlumuran cairan merah, seperti habis memakan daging mentah.
"Bapak!" Sebut semuanya. Lalu mendekati Parmi.
"Bu, Bapak kenapa?" Tanya Randi penasaran.
Parmi hanya diam sambil menelan Ludahnya kasar.
Seno kembali menyeringai, lalu tertawa lantang.
"HAHAHA...! Bagaimana Parmi, apa kamu sudah siap ikut aku? Haha...!" Seno tertawa dengan suara yang masih terdengar wanita.
Semua pun menegang, kecuali Parmi yang memang sudah ketakutan sejak tadi.
"Pergi! Pergi kamu setan! Jangan ganggu keluargaku!" Teriak Parmi.
Seno perlahan berjalan, namun kakinya tak menapak di tanah. Dia maju kearah Parmi berdiri. Semua pun panik lalu menghindar.
Seno mulai mengamuk, membuang dan menggulingkan meja-meja, dan juga kursi di ruangan itu.
PRANG...!
BRUK...!
BRAK...!
"Bapak! Sadar Pak. Sadar!" Teriak anak-anak nya.
Sambil terus menghindar dari barang-barang yang Seno lemparkan.
"HIHIHI....! AKU BUKAN BAPAKMU! HIHIHI...!" Seno yang kesurupan makin membabi-buta.
"Fitri! Cepat panggil pak Imam." Teria Fika.
Fitri segera berlari lewat pintu belakang.
Seno mulai beringas. Dia pun kini telah tepat di hadapan Parmi.
"Kamu akan ikut aku sekarang juga, Parmi! Hihihi...!"
Wajah Parmi yang sudah pucat pasi tak bisa bergerak. Entah mengapa tubuhnya terasa sangat kaku.
Seno seketika mencengkeram leher Parmi.
"Akh!!!" Parmi tak bisa berkata-kata saat merasakan tangan dingin suaminya.
"Bapak! Jangan, Pak!" Randi dan Fika berusaha menarik tubuh Seno.
"Fika, bantu aku pegangi tangan bapak satunya." Fika pun menurut. Namun, tetap saja Seno tak bergeming.
Malah cengkeramannya semakin kuat.
Wajah Parmi mulai memutih, seperti tak ada darah yang mengalir. Saat dia merasa hidupnya akan berakhir, Pak Imam beserta beberapa warga dan Fitri datang.
Segera Pak Imam mengumandangkan ayat Alqur'an.
Beberapa menit kemudian, cengkeraman Seno mulai lemah.
"Hentikan Imam bod*h! Hentikan! Aaakkkhh!!! Panas...! Panas...!" Seno menutup telinganya lalu terjatuh di lantai dengan kakinya yang menendang-nendang kosong di lantai.
"ΑΑΑΚΚΚΗHH!!!" Teriak Seno sambil mendelikkan bola matanya. Mulutnya menganga lalu keluarlah asap hitam dan segera menguap ke udara.
Parmi dengan rakus menghirup udara.
"Hahhkk! Hahhkk! Dasar setan sialan! Hampir saja aku mati!" Maki Parmi sambil memegangi leher nya yang
kesakitan.
Pak Imam dan semuanya mendekati Seno.
Pak Imam memeriksa denyut nadi Seno.
"Alhamdulillah, dia baik-baik saja. Sebaiknya cepat di bawa ke Puskesmas. Biar di obati mulutnya yang terluka."
Ucap Pak Imam.
"Baik pak Imam." Randi segera membopong Ayah nya, di bantu warga lain. Sedangkan Fitri dan Fika membantu Ibu nya yang terlihat masih pucat.
"Bu, di habisin air minumnya." Titah Fitri yang begitu sedih melihat ibunya yang kesakitan.
"Alhamdulillah, sudah baikan Parmi?" Tanya Pak Imam.
"Ya baikanlah! Pak Imam kenapa sih lama sekali datangnya. Saya hampir mati tadi di cekek sama setan kuburan tadi. Pak Imam sih, main ajak suami saya nguburin pria yang banyak dosa. Akhirnya suami saya kerasukan kan?" Omel Parmi kesal. Dia berpikir ini semua adalah salah dari Pak Imam.
"Ibu!" Lirih dari kedua putrinya merasa tidak enak kepada Pak Imam.
Pak Imam hanya menarik napas dalam. "Maaf kalau begitu, Parmi." Pak Imam yang tidak mau ada perdebatan pun hanya meminta maaf berharap semua akan tenang kembali.
Namun Parmi, malah makin tidak terima." Gampang sekali ya Pak Imam ini ngomong! Itu suami saya, mulutnya terkena luka! Siapa yang mau membayar obatnya? Saya nggak mau ya, Pak, kalau saya harus keluar duit dengan perbuatan yang saya tidak lakukan. Kalau Pak Imam tidak membawa suami saya, semua nggak bakal seperti ini."
Cerca Parmi lagi dengan nada yang sangat tinggi.
Satu warga yang masih setia menemani Pak Imam pun ikut bersuara. "Eh, Embak Parmi! Seno itu ikut atas kemauannya sendiri ya? Kami tidak pernah mengajak-ngajak, apa lagi memaksa. Jadi, apa yang terjadi kepada Seno, bukan tanggung jawab Pak Imam, atau pun tanggung jawab kami." Jawab warga tersebut kesal.
"Sudah, Pak Imam! Nggak usah di ladenin. Ayo pulang." Ucap Pak Loso lalu merangkul pundak Pak Imam menuju keluar. Pak Imam hanya bisa patuh.
"Eh, dasar nggak tau diri ya? Saya belum selesai bicara malah di tinggal pergi. Sini kalian! Kalian harus bertanggung jawab." Teriak Parmi kesal.
"Bu! Udah Bu. Ibu dan Bapak udah baikan aja udah syukur." Ucap Fika.
"Iya, Bu. Lagian ini udah hampir pagi, nggak enak di dengar tetangga." Imbuh Fitri.
Bukannya mendengarkan perkataan anak-anak nya.
Parmi malah makin emosi. Akhirnya dia pun mengomel kepada kedua anaknya.
Fika dan Fitri memutuskan mendengarkan saja omelan dari ibunya.
Dari arah luar, berdiri sesosok berbaju hitam menatap rumah kediaman Parmi dengan sorot mata tajam.
Randi yang kebetulan pulang untuk mengambil barang Ayah nya terkejut melihat sesosok asing di balik pohon rindangnya.
Randi mendekati. "Heh! Siapa kamu! Kamu pencuri ya?" Ujar Randi sedikit keras.
Namun, bukannya menjawab sosok berbaju hitam itu malah lari. Randi mencoba mengejarnya hingga kakinya tidak sengaja tersangkut akar pohon.
BRUUKK!!!
Randi tersungkur di tanah.
Sosok itu kian menjauh dan hilang di tikungan jalan.