Di dunia kultivasi yang mengandalkan kekuatan jiwa bawaan sebagai penguat teknik beladiri, Vincent sering diremehkan karena hanya memiliki soul tumbuhan, hal itu membuatnya dipandang sebelah mata dan sering dianiaya oleh sesama murid sekte tempatnya tinggal.
Dan potensi kekuatannya mulai terlihat setelah dilatih oleh ratu Lily, seorang ras elf yang tidak sengaja ia temui ketika dalam keadaan terluka parah. Beliau adalah seorang kultivator domain celestial yang terlempar ke domain fana setelah dikeroyok oleh empat kaisar penguasa dunia tersebut.
Ratu Lily yang nota benenya memiliki soul yang sama dengan Vincent dan sudah ahli dalam penguasaannya, tertarik untuk mengajari Vincent mengembangkan potensi soul tumbuhan tipe langka yaitu soul pohon adam yang merupakan rajanya tumbuhan.
Akankah dengan kekuatan Jiwa kayu yang dilatih dibawah bimbingan ratu Lily ia dapat berdiri di puncak dunia kultivasi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vheindie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Penjelajahan Goa
Di kantor yang megah, dua orang tengah duduk saling berhadapan dan sesekali melihat keluar jendela sekedar mengamati antrian orang-orang diluar gedung. Seorang pria berusia empat puluhan dengan pakaian jubah sutra. kumis kecilnya sering bergetar saat tawanya terdengar dan pria satunya yang mengenakan jubah berwarna gelap berusia lima puluhan dengan kulit yang mulai terlihat keriput. Keduanya adalah pejabat tertinggi di distrik Durma, mereka tengah mendiskusikan perihal goa misterius yang terbentuk sekitar dua minggu yang lalu.
Memang ada banyak binatang spiritual ganas yang keluar dari dalam goa sejak kemunculan pertama yang mengakibatkan kerusakan dan korban jiwa di area penduduk sekitar. Namun ada keuntungan besar yang kemungkinan bisa mereka hasilkan jika berhasil menyingkirkan binatang spiritual yang ada di dalamnya.
Han itu sudah terbukti ketika beberapa kultivator asli penduduk distrik Durma berhasil masuk beberapa meter ke dalam goa. Dimana salah seorang yang berhasil selamat dari goa dan berhasil mendapatkan banyak batu jiwa kualitas rendah dan beberapa batu jiwa kualitas menengah.
"Tuan Lou apa anda setuju dengan kontrak yang mereka tawarkan?" ucap pria tua tersebut.
"Hmm... Paman Gram, apa kau pikir jika aku komplain atau mengajukan permintaan penambahan bagian mereka akan menggubrisnya?" Tanya balik Tuan Lou. Orang yang dipanggil paman Gram hanya bisa menunduk tak berdaya.
"Aku hanyalah seorang Wedana biasa yang cuma manut sama atasan. Apalagi kali ini selain kepala Karesidenan, ada perwakilan dari sekte kabut yang juga meminta bagian terbesar dari hasil sumber daya yang akan dihasilkan gua bukit lumut tersebut."
"Tapi tuan, kita hanya mendapatkan 15% dari pembagian tambang goa lumut, apa tidak terlalu kecil? Sementara kepala Residen tuan Barna yang cuma tumpang kaki mendapatkan 40% dan sekte kabut meminta jatah 45%. Ini terlalu menguntungkan mereka, padahal sumber daya berada di rumah kita dan kita juga yang menemukan goa itu dengan banyak kultivator serta prajurit lokal yang menjadi korban," paman Gram masih tetap tidak setuju dengan isi kontrak yang diajukan oleh kedua perwakilan baik dari kepala karesidenan dan sekte kabut. Ia berpikir kesempatan untuk menambang batu jiwa sangatlah langka dan tentu akan menjadi bisnis yang dapat meningkatkan kesejahteraan untuk wilayah mereka.
"Aku paham maksud paman Gram. Tapi saat ini kita tidak punya seorang kultivator yang tersisa, karena sebagian besar dari mereka telah tumbang pada operasi pertama dan hanya menyisakan satu orang kultivator body strength tahap enam yang masih terluka parah."
"Dan saat ini, kita hanya bisa mengandalkan perekrutan kultivator jalanan sebagai prajurit bayaran untuk menemani para kultivator dari pihak Karesidenan dan sekte kabut yang tentunya lebih terlatih."
"Lihatlah. Dari sekian banyak orang yang ada dibawah sana, apa mungkin ada yang bisa bersaing dengan para murid sekte Kabut ataupun dua orang kesatria milik Karesidenan?" ujar Lou sambil menatap orang-orang yang tengah mengikuti pendaftaran prajurit bayaran untuk menjelajahi goa lumut bersama prajurit yang dipimpin oleh kesatria tingkat tiga dan tiga murid inti sekte kabut yang menurut kabar salah satunya telah mencapai tingkat Spirit.
"Tidak kusangka banyak sekali yang mendaftar," ucap Vincent menyapu pandangan. Ia tidak menyangka kantor Wedana sudah megah dan sangat berbeda ketika ia sering diajak bersama ayahnya untuk membayar pajak hasil kebun.
"Huh. Siapa juga yang tidak tertarik dengan imbalan besar. Selain itu, janji setelah misi pun sangat menggiurkan bagi kami para kultivator otodidak," timpal Adrian yang memegang secarik kertas selebaran.
"Oy... Vincent, kenapa kau malah ikut mendaftar? Bukankah kau warga sini. Kenapa tidak langsung bergabung saja? Pasti mereka akan langsung menerimamu," lanjutnya yang tidak mengerti kenapa Vincent harus repot-repot mengantri.
"Aku meninggalkan distrik ini sejak kecil dan hanya segelintir orang yang aku kenal, apalagi aku tidak punya kartu tanda penduduk. Jadi mana mungkin mereka mengenalkan," jawab Vincent.
"Masuk akal juga sih," gumam Adrian mengangguk paham.
"Brother Vincent. Kemarin aku tidak sengaja mendengar percakapanmu dengan prajurit penjaga gerbang, apa benar kau pernah menjadi seorang pelayan di sekte kabut?" tanya Adrian yang sempat mendengar orang yang ada di depannya pernah tinggal disalah satu sekte pelindung kerajaan Serena meski hanya menjadi seorang pelayan.
"Ya kau tidak salah dengar, aku dibawa dari distrik Durma oleh ketua sekte dan disuruh menjadi pelayan di sana," jawabnya tanpa merasa malu.
"Lima orang selanjutnya!" teriak prajurit memecah obrolan setiap peserta.
"Sepertinya sekarang giliran kita," ujar Adrian. Ia melangkah penuh semangat ke meja pendaftaran.
"Sekarang tempelkan lengan pada bola kristal yang ada di depan kalian," perintah sang kesatria utusan karesidenan.
"Hmm... Oliver Sergei. Kesatria bintang tiga, Spirit tingkat dua puncak," gumam Vincent saat melihat name tag milik kesatria dan mengukur tingkat kultivasinya sebelum meletakkan telapak tangan pada bola kristal.
"Cukup! Kalian berempat masuk ke tim inti. Dan kau, masuk ke tim pengangkut barang" ujarnya.
Adrian merasa heran kenapa Vincent yang tingkat kultivasi sama dengannya masuk ke tim pengangkut barang, tapi ia tidak berani mengungkapkan rasa penasarannya pada komandan kesatria tersebut.
"Widji! Berapa banyak yang terdaftar?"
"Sekitar 80 orang pak. 65 orang tim inti 15 pengangkut barang," jawab prajurit bernama Widji. Memang ada lebih dari seratus orang yang mendaftar tapi selain 80 orang yang lolos sisanya hanyalah orang-orang biasa yang cuma berharap pada sebuah keberuntungan.
"Rustam! Kelompok tadi yang terakhir?"
"Iya pak!" jawab prajurit Rustam tegas.
Kesatria Sergei menatap semua peserta yang tengah berkumpul dan ia menatap Vincent cukup lama. "Tsk... Hanya ada segelintir yang tingkat kultivasinya berada diatas tahap lima body strength, sisanya cuma sampah belaka. Apalagi anak muda barusan, tingkat kultivasi berada di body strength lima tapi soulnya sangat tidak berguna sama sekali."
"Apa mereka tidak akan menjadi beban dalam operasi kali ini?"
"Kalau beban memang beban, tapi tergantung cara kita menggunakannya. Aku berencana menjadikan para beban ini sebagai pion untuk mengurangi kerugian dipihak kita," senyum licik mengembang di wajah sang penyandang gelar orang terkuat ketiga dan ahli strategi kedua di Karesidenan Zolford tersebut.
Para prajurit ikut tersenyum dengan rencana atasan mereka, tapi Sergei tidak tau bahwa Vincent sudah memprediksi niat tidak baiknya itu.
"PENGUMUMAN!! Kalian yang sudah terpilih sebagai penjelajah goa lumut diharapkan berkumpul jam tujuh pagi. Jika ada yang telat datang, maka akan dianggap mengundurkan diri dan dikenai denda sebesar 15 koin perak kecil."
"Jam tujuh? Apa tidak terlalu pagi?"
"Sial aku harus menyiapkan segalanya sedari malam."
"Oy kawan... Jangan lupa bangunkanku."
Setelah pengumuman semua prajurit mulai meninggalkan lapangan Kawedanan, kecuali kesatria Sergei yang masuk ke gedung Wedana untuk menemui dua petinggi distrik Durma dan tidak lama kemudian semua peserta pun mulai bubar satu persatu.
"Vangsat... Kalau jalan pakai mata!" Bentak salah satu dari lima orang yang baru tiba.
"Kau bosan hidup hah?" ancamnya sambil mengeluarkan niat membunuh.
"Kultivator spirit tahap pertama," ucap orang yang temannya diancam. Ia gemetar karena perbedaan kultivasi mereka jauh berbeda.
"Bukankah jubah itu?"
"Kau benar. Tidak salah lagi mereka adalah murid inti sekte kabut," timpal orang satunya lagi.
"Jangan ikut campur, kalau tidak nyawamu akan melayang sia-sia."
Orang yang dicekik berusaha melepaskan dan meminta ampunan, namun bukannya dilepas secara baik-baik. Ia membantingnya sekuat tenaga ke tanah hingga memuntahkan darah.
"Tsk... Geng pembully, ternyata mereka tidak pernah berubah. Malah semakin arogan saja, kenapa ketua sekte mengutus mereka? Apa tidak ada lagi kelompok yang lebih baik dari sekumpulan badjingan ini?" gumam Vincent yang mengenal kelompok perwakilan sekte kabut dan tidak lain adalah gengnya Ah Jun.
"Kau kenal kelompok itu?" Tanya Adrian.
"Tentu saja. Mereka adalah kelompok pecundang yang berlindung dibawah ketiak kakek mereka," jawab Vincent acuh. Ia menatap Ah Jun dengan tatapan penuh amarah hingga aura membunuhnya sampai terasa padanya.
"Hentikan!" seru Ah Jun.
"...."
"Kenapa bos?" tanya bawahannya menatap bingung.
"Sudah kubilang hentikan!" bentaknya.
"Baik bos."
"Kau! Bawa pergi dia dari hadapan kami, sebelum bos kami berubah pikiran."
"Terimakasih tuan."
"Ayo pergi."
Sementara Ah Jun terus mengedarkan mata ke setiap penjuru dan penasaran dengan aura membunuh yang tadi mengarahkan padanya.
"Sial... Siapa orang yang barusan mengarahkan niat membunuh padaku, mengerikan sekali. Dia pasti seorang master tersembunyi atau.... Hmm... Tidak mungkin. Tidak mungkin, Karesidenan Zolford punya seorang kesatria tingkat tinggi," gumam Ah Jun.
Sementara Vincent tersenyum tipis dan menarik kembali aura membunuhnya. "Ayo kita pergi," ajaknya pada Adrian.