Kisah Lyla, seorang make-up artist muda yang menjalin hubungan diam-diam dengan Noah, aktor teater berbakat. Ketika Noah direkrut oleh agensi besar dan menjadi aktor profesional, mereka terpaksa berpisah dengan janji manis untuk bertemu kembali. Namun, penantian Lyla berubah menjadi luka Noah menghilang tanpa kabar. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka lagi. Lyla yang telah meninggalkan mimpinya sebagai make-up artist, justru terseret kembali ke dunia itu dunia tempat Noah berada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meongming, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 : Pesan Rahasia
Malam harinya di meja makan, Lyla duduk bersama ayah dan ibunya. Suasana tampak biasa, tapi ada yang berbeda malam itu.
Drrt—
Lyla melirik ponselnya di samping piring.
Satu notifikasi masuk.
Dari nomor tak dikenal.
“Lyla, ini nomorku.”
Mata Lyla membulat. Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat. Dia langsung tahu itu dari siapa—Noah.
Dengan cepat dia menekan layar, menyembunyikan ponsel di bawah meja sambil berusaha menahan senyum bodohnya.
Namun—
“Ahem,” Ayahnya menegur pelan. “Lyla, saat makan jangan main ponsel.”
Lyla terkejut.
“Ah! Iya, Ayah… maaf!”
Dengan buru-buru dia letakkan ponsel di meja. Belum sempat membalas…
Ayah menatapnya lagi, sekarang dengan ekspresi lebih serius.
“Ayah dengar dari Ibu, kamu ikut klub. Klub teater? Dan… latihan juga di masa liburan begini?”
Ibunya hanya tersenyum kecil di samping, sibuk menyendok sayur ke piring Lyla.
Lyla mengangguk cepat.
“Oh itu… sebenernya aku cuma jadi perias. Nggak ikut tampil…”
Ayah mendengus pelan tapi tidak marah.
“Hmm. Ya sudah. Ayah senang kamu punya kegiatan. Tapi jangan sampai lupa belajar, ya. Sebentar lagi kamu naik ke kelas tiga.”
Lyla tersenyum kecil. “Iya, Ayah.”
Tapi dalam pikirannya…
‘Aku belum balas pesan Noah…’
Tangannya diam-diam bergerak mengambil ponselnya . Lyla mencoba curi-curi waktu.
perlahan… tangannya menyelinap ke bawah meja, meraih ponsel yang tadi ia letakkan di atas meja.
Ibunya sedang sibuk bercerita soal tetangga baru, Ayah sibuk makan—ini kesempatan emas.
Tap.
Dia membuka pesan dari Noah.
Mengetik singkat:
“iyaa ”
Tapi jempolnya malah terpeleset.
SEND!
Ia membeku.
Layar ponsel menampilkan balasan yang terkirim:
“iyaa ❤️”
DEG.
Lyla menatap layar, wajahnya langsung memerah.
“Eh.?”
Mulutnya menganga kecil. Panik.
‘Astaga… itu tadi bukan emoticon senyum?!’ bisiknya dalam hati.
Dia cek lagi, berharap matanya salah.
Tapi tidak, masih terpampang jelas emoticon hati merah itu. Lyla menatap layar ponselnya dengan ngeri.
Pesan yang tadi dia kirim:
“iyaa ❤️”
...sudah centang dua.
Sudah dibaca.
"Huh?!"
Matanya membesar.
Wajahnya langsung merah padam.
Napasnya sesak.
Tubuhnya refleks berdiri dari kursi.
“ASTAGAAA!!”
Kursinya tergeser ke belakang dengan suara nyaring. Ayah dan Ibu yang sedang menyuap makan malam langsung menoleh bersamaan.
“Kamu kenapa, Lyla?” tanya sang Ibu dengan alis terangkat.
Lyla berdiri membeku, ekspresi seperti orang baru saja kehilangan kunci rumah di tengah badai.
“Itu... aku... ngga papa… tadi... kepikiran sesuatu aja.” ucapnya gugup.
Ayah menyipitkan mata.
Ibu menahan senyum, mulai curiga.
Lyla buru-buru menunduk ke ponsel lagi.
Tangannya gemetaran.
Mencoba hapus pesan, tapi...
“Gak bisa dihapus! Udah dibaca!” Suara hatinya menjerit.
‘Kenapa aku pencet love?! Harusnya cuma senyum!!’ Pasti Noah mikir aku cewek gila.. Ya Tuhan... ya Tuhan…’
Sejam kemudian Lyla menatap layar ponselnya.
Pesan “iyaa ❤️” itu masih di sana.
Centang dua.
Sudah dibaca.
Tapi...
Noah tidak membalas.
Satu menit…
Dua menit…
Tiga menit…
Sunyi.
Lyla mulai berjalan mondar-mandir di kamarnya, rambut diikat asal-asalan sambil bergumam sendiri.
“Aduh, aduh, aduh, kenapa sih aku ceroboh banget!”
Dia menjatuhkan ke kasur mengangkat bantal dan menenggelamkan wajahnya ke situ, lalu berguling ke sisi lain kasur seperti cacing kepanasan.
“Mungkin dia lagi mandi?”
“Mungkin dia nggak sadar itu love?”
“Mungkin dia pikir aku lebay!”
“Atau... dia ilfeel?”
“UWAHHHH!”
Dia menjerit tanpa suara, menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya. Beberapa detik kemudian, dia membuka selimutnya sedikit dan menatap ponsel lagi.
Masih tidak ada balasan.
Lyla mengetik:
“Tadi typo maksudnya bukan love hehe ”
Tapi dia nggak kirim.
Dihapus.
Ditulis ulang.
“Maaf ya salah pencet ”
Dihapus lagi.
Akhirnya…
“Aduh sudahlah, jangan makin mempermalukan diri sendiri.”
Dia melempar ponsel ke bantal, duduk diam, lalu melipat tangan dan menatap langit-langit kamar.
“Kalau besok dia bersikap beda, aku pura-pura nggak inget apa-apa. Titik.”