Alone Claney hidup dalam kesendirian seperti namanya. Ibu suri yang terpikat padanya pun menjodohkan Alone dengan putra mahkota, calon pewaris tahta. Tak seperti cerita Cinderella yang bahagia bertemu pangeran, nestapa justru menghampirinya ketika mengetahui sifat pangeran yang akan menikahinya ternyata kejam dan kasar.
Karena suatu kejadian, seseorang datang menggantikan posisi pangeran sebagai putra mahkota sekaligus suaminya. Berbeda dengan pangeran yang asli, pria ini sungguh lembut dan penuh rasa keadilan yang tinggi. Sayangnya, pria itu hanyalah sesosok yang menyelusup masuk ke dalam istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yu aotian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 : Bujukan yang Terabaikan
Masing-masing dari kami mulai menampakkan wajah serius dengan sepasang mata yang saling menilik tajam.
"Apa yang kau inginkan?" tanyanya dengan dingin.
"Sebuah bantuan."
"Bantuan apa?" Baru saja aku hendak menjelaskan, dia malah kembali berkata, "Ah, biar kutebak. Telah terjadi sesuatu pada penerus tahta. Oleh karena itu kau memintaku berpura-pura menjadi dia, suamimu." Kata terakhir ia ucapkan dengan penuh penekanan.
Aku tercengang seketika. "Bagaimana bisa kau ...."
"Seorang calon ratu datang jauh-jauh ke sini hanya untuk mencari saudara kembar dari suaminya. Bukankah itu karena sesuatu telah terjadi pada calon penerus tahta?" Sudut bibirnya mendadak membentuk bulan sabit.
Ternyata dia memiliki kemampuan membaca situasi. Tebakannya sangat tepat bahkan tanpa perlu kujelaskan lagi. Namun, ada yang lebih membuatku terkejut. Kupikir dia sama seperti pangeran Julian yang tak tahu memiliki kembaran. Ternyata dia bahkan tahu status kembarannya yang merupakan calon pewaris tahta negeri ini. Ini artinya dia pun tahu asal-asul dirinya sendiri.
"Benar. Aku datang ke sini untuk mengajakmu bekerja sama. Aku ingin kau ikut bersamaku ke istana dan berperan sebagai saudara kembarmu, pangeran Julian."
"Sayangnya aku tak tertarik masuk ke istana. Jadi aku tak bisa membantumu. Maaf, Kakak ipar!" tolaknya dengan memasang mimik muka yang menyebalkan.
Aku buru-buru berucap, "Tenang saja, ini akan menguntungkan untukmu."
"Bahkan jika itu mendatangkan keuntungan berlipat-lipat, aku tak akan melakukannya," balasnya tegas.
Dia sama sekali tak memberiku kesempatan bernegosiasi. Bahkan dia tak bertanya alasanku memintanya untuk menyamar sebagai saudaranya.
Aku terkesiap saat pria itu hendak pergi seolah ingin mengakhiri pembicaraan kami yang belum selesai. Aku lantas mengejarnya sambil berusaha merayunya.
"Hei, dengarkan aku! Dengan menjadi dia, kau akan menikmati fasilitas istana dan duduk di singgasana dengan pakaian yang mewah. Kehidupanmu akan benar-benar terjamin. Kau akan mendapatkan pelayanan terbaik selama 24 jam. Oh, iya, kembaranmu sebulan lagi akan dilantik menjadi Duke. Begitu ia menjadi Duke, daerah kekuasaannya akan mencakup seluruh wilayah yang ada di sini hingga pelabuhan utama. Jika kau menjadi dirinya, kau bisa—"
Dia langsung memotong kalimatku. "Kedengarannya menarik, tapi aku sama sekali tak butuh tahta atau sejenisnya. Aku menyukai kehidupanku yang seperti ini. Jadi sebaiknya kau segera pulang dan jangan muncul lagi!"
Dia terus berjalan. Gagal membujuknya, aku pun menakut-nakutinya. "Aku tahu kau adalah pemimpin pasukan yang kerap merampok pejabat. Tidakkah kau khawatir ketika pulang ke istana nanti aku akan membocorkan identitasmu? Aku akan melukis wajahmu dengan detail lalu menyerahkannya pada menteri kehakiman. Kau akan segera menjadi buronan kerajaan!"
"Silakan saja! Maka orang yang lebih dulu ditangkap mungkin adalah suamimu karena wajah kami mirip."
Ah, sial. Aku hampir lupa bahwa dia memiliki wajah yang sama dengan pangeran Julian.
Langkahku terhenti seketika. "Apa kau tak ingin mencari tahu kenapa aku memintamu menyamar sebagai dia?"
"Tidak!" Dia terus berjalan tanpa rasa penasaran.
Aku menarik napas panjang, lalu berkata, "Dia mengalami koma dan tak kunjung sadar."
Dia mematung seketika. Tanpa menoleh, dia berkata dengan nada datar, "Maka kau dan seluruh orang yang ada di istana seharusnya memanggil dokter. Bukan aku!"
"Ini tidak sesederhana yang kau pikirkan! Orang-orang di istana tidak mengetahui kondisinya! Aku hanya memintamu menggantikan dia untuk sementara waktu. Begitu dia pulih, kau bisa kembali ke kehidupanmu ini."
"Meskipun hanya sehari, aku tak akan menjadi dia," jawabnya kukuh.
Ternyata membujuk pria ini tak semudah menemukannya. Tak menyerah, aku berusaha mengekornya. Kupijaki bekas tapak kakinya di hamparan salju. Selangkah demi selangkah. Entah mengapa, ini mendadak terasa mengasyikkan.
Dia berbalik, memergokiku yang sedang fokus meniti jejaknya.
"Jangan mengikutiku!"
"Aku akan terus mengikutimu sampai kau mau bekerja sama denganku."
"Kau akan menyesal karena mengabaikan laranganku!" cetusnya.
Dia lanjut berjalan. Langkahnya semakin lebar hingga jarak antara kami berdua cukup jauh. Aku bahkan sampai harus berlari agar tak tertinggal jauh. Theo, Ciro, dan Sam terus mengawalku dari belakang dengan kuda mereka.
"Nona, sebaiknya Anda ikut naik karena jalan sangat licin." Sam menawarkan aku naik ke kudanya.
"Tidak apa-apa. Kalian tidak perlu terus mengikutiku seperti ini. Cukup memantau saja. Aku khawatir dia tak akan senang."
"Tapi Nona ...."
"Aku akan baik-baik saja." Aku meyakinkan mereka. "Lebih baik kalian perbaiki kereta kuda yang rusak agar lebih kokoh. Karena kita akan pulang bersamanya," ucapku sambil memandang punggung pria itu.
Entah sudah berapa lama aku mengikutinya menyusuri hamparan salju. Yang pasti, sudah memakan waktu berjam-jam. Wilayah ini memang terkenal dengan waktu malam yang lebih panjang.
Udara dingin mengecup tiap inci kulitku. Kakiku mulai pegal dan lecet. Beberapa kali aku terpeleset dan jatuh karena takut tertinggal jauh darinya. Sementara dia terus berjalan lurus tanpa menoleh sedikit pun. Tak peduli seberapa kencang aku berteriak saat terjatuh, ia tak pernah berhenti.
Aku segera berlari saat melihatnya mulai berbelok dan memasuki kawasan yang dipenuhi pepohonan pinus. Mataku melebar tak percaya saat jalan yang dia lewati kali ini lebih terjal di mana penuh dengan bebatuan dan perbukitan. Mau tak mau, aku pun harus ikut mendaki. Kuangkat gaunku tinggi-tinggi agar memudahkan kakiku mendaki. Namun, baru dua langkah, aku langsung terpeleset dan terguling ke bawah.
"Akh!" Aku memekik kesakitan.
Lagi-lagi dia tak menoleh ke arahku. Aku melihatnya hampir sampai di atas sana. Tak mau kehilangan jejaknya, aku pun buru-buru berdiri. Sayangnya, baru saja mencoba bangkit, aku malah kembali terduduk sambil meraung menahan sakit. Sepertinya kakiku terkilir. Tak cuma itu, ujung gaunku tersangkut di ranting pohon hingga membuat sobekan yang cukup panjang. Mantel bulu panjang yang kukenakan pun telah jatuh ke bawah.
Aku mendongak ke atas sambil berteriak padanya. "Bright, tolong aku!"
Dia akhirnya menoleh. Namun, air mukanya tampak datar-datar saja meski telah melihatku jatuh dengan cukup mengenaskan seperti ini. Walau begitu, ia akhirnya turun menghampiriku. Ada sedikit malu karena penampilanku saat ini terasa berantakan. Rambutku mungkin sudah tak tertata lagi.
Saat berjongkok tepat di hadapanku, matanya langsung terarah pada ujung gaunku yang tersangkut di ranting kayu.
"Bukankah sudah kubilang jangan membuntutiku!"
"Aku tidak mungkin terus mengikutimu jika kau langsung menyepakati permintaanku!"
"Kau tuan putri yang keras kepala ternyata."
"Dan kau pangeran yang tak berperasaan!"
Dia membeku sesaat. "Aku bukan pangeran!" Suara dinginnya kembali menggaung.
Ia meraih ujung gaunku yang tersangkut. Aku terperanjat ketika merobeknya hingga memendek sebatas lutut.
"Hei, kenapa kau merobeknya?"
"Jika ingin mempertahankan gaunmu secara utuh, maka teruslah di sini sendirian!"
Tak peduli dengan sikap ketusnya, aku malah menggunakan kesempatan ini untuk kembali membujuknya, "Tolong pertimbangkan lagi permintaanku! Mari kita membuat kesepakatan yang saling menguntungkan. Aku punya penawaran yang menarik—"
"Stop! Jangan membicarakan hal-hal yang membuatku meninggalkanmu sendiri di sini!"
"Jangan terus mengancamku seolah aku takut sendirian. Aku sudah terbiasa hidup sendiri. Tapi, untuk kali ini ... aku tidak boleh sendiri, karena kau harus ikut bersamaku!"
.
.
.
Like dan komeng
pastinya luar dalam dilayani🤭
Bgmn y Bright memperlakukan Barbara serba salah y......
dan selanjutnya apa yang akan terjadi...Kooong
Pangeran bright.....,, waspada,, hati2 jangan smpe si batubara mencurigaimu....
segala kebutuhan terpenuhi kog sama dia, kebutuhan perut dan bawah perut wkwkwk