Julius sedang berada di puncak karier dan kesuksesan sebagai seorang musisi ketika berita duka itu datang.
Berita tentang sahabatnya yang seorang model majalah pria dewasa tewas dan di isukan mabuk sebelum loncat dari lantai 4 Apartemen sungguh membuat Julius berhenti sejenak.
Julius yang bermasalah di masa lalu putuskan untuk membereskan segalanya. Ia juga tidak percaya sahabatnya itu tewas bunuh diri.
Julius pun pergi sendirian.
Pacarnya yang seorang artis jelas tidak terima dengan keputusan Julius yang tiba-tiba meninggalkan ketenaran dan hidup mapan.
Di saat yang sama, Nani mencari Julius dan bertemu dengan Angela.
Angela curiga, Nani cinta pertama Julius dan Nani Yakin, Angela belum putus dengan Julius. Walau demikian, keduanya sepakat untuk sama-sama mencari Julius.
Sampai akhirnya, Nani dan Angela jadi tahu siapa dan bagaimana kehidupan Julius seutuhnya.
Sisi gelap dunia hiburan, persabatan dan cinta.
Kisah inspiratif tentang seorang pemuda yang jatuh bangun mengejar mimpi.
tidak cengeng, tapi sanggup membuatmu nangis. Tidak gombal, tapi sanggup membuatmu jatuh hati.
jujur, terbuka dan menginspirasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yamazakura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8 Tahun yang Lalu
“Untuk band berikutnya, dari kelas 2 a. Langsung saja kita sambut! Dream Projects band.” Julius, Dodi, Firman dan Gugun pun naik pentas. Keempat culun itu naik sambil cengar-cengir. Seperti saran Nani.
“biar gak grogi, biasakan tersenyum lebar saat pertama kali naik pentas.”
Di antara puluhan siswa-siswi yang berseliweran gak jelas tampak Nani melambaikan tangan dan berteriak.
“Hey!” Julius tersenyum mendapati Nani dan belasan temannya yang lain yang sangat menanti penampilan perdananya di atas panggung. Lantas Nani tampak sibuk merekam dengan handycam.
Tanpa ragu, Julius pun mengawali dengan ritme gitar yang stabil, disusul bass, lalu drum dan kemudian vokal dan melodinya. Mereka selamat membawakan dua buah lagu dan sukses membuat puluhan temannya manggut-manggut.
“Siapa dulu dong manajernya,” celoteh Nani pada teman dan guru kesenian yang memuji penampilan Julius dan kawan-kawan.
Selesai manggung, Julius dkk ketawa-ketiwi di sudut kantin.
“gue deg-degan. Terus, kulit muka gue kayak jadi tebel gitu,” kata Firman.
“Gue juga Fir, beneran,” tukas Dodi.
“Terus tadi, kamu ngapain ngumpet di belakang si Gugun. Kan koreografi gak gitu,” tanya Nani pada Dodi.
“Boro-boro mikirin koreografi. Lutut gue gak copot aja udah untung. Hahaha!”
“Oh iya Nan, mana rekamannya. Coba lihat,” tanya Julius.
“Ini.”
Sore kemudian mereka pun berpisah untuk pulang. Firman membonceng pada Julius. Karena memang mereka satu kampung. Selesai mengantarkan Firman, Julius tidak langsung pulang ke rumah neneknya di mana selama ini ia tinggal. Julius tancap gas ke rumah ayahnya. Di kampung seberang. Karena memang selama ini Julius tinggal di rumah neneknya dengan alasan kasihan sama sang Nenek tinggal sendirian setelah kepergian sang Kakek. Julius sangat bersemangat, ia hendak menunjukkan nilai ujian semester yang membaik dan handycam yang menyimpan rekaman dirinya itu. Berharap ayahnya menepati janji. Ayahnya minta bukti, kalo memang serius bermain musik ayahnya bakal membelikannya gitar elektrik.
Sesampainya di pekarangan rumah ayahnya, Julius terbelalak. Rumah ayahnya rusak parah. Seperti terbakar.
Tiba-tiba seorang tetangga muncul dan berkata.
“Emang kamu gak tahu.”
“Gak tau apa Kek?”
“Kamu baik-baik saja?” kata orang tua itu. Julius jadi makin tidak mengerti. Orang tua itu menatap iba.
“Sudah 2 hari bapakmu pindah.”
“Pindah???” Hati Julius serasa tersengat. Orang tua itu menghampiri Julius.
“Pindah ke mana? Lalu kenapa ini?? Kebakaran???” tanya Julius.
“Aki(kakek) berhasil menyembunyikan Keluargamu, dan meloloskannya dari kampung ini. Sebaiknya kamu segera pergi dari sini.” Sungguh Julius tidak mengerti apa maksudnya orang tua itu berkata demikian. Julius menurut saja. Sebelum Julius benar-benar berlalu, orang tua itu berucap lagi.
“Kami percaya sama bapakmu.”
Julius tidak sanggup lagi menduga-duga, yang jelas kini ia harus mencari ke mana keluarganya pindah. Hati Julius hancur. Berserakan. Seperti taman bunga yang dibuatnya di halaman rumah ayahnya itu bersama dua adik perempuannya yang masih sangat belia.
Keluar dari gang menuju jalan besar, Julius mendapati beberapa pasang mata menatap sinis. Bahkan ada yang seperti pemburu menatap mangsa. Julius jadi ngeri dan segera tarik gas.
Malamnya Julius Naik ke atas ranggon (sejenis pos ronda tapi berkaki panjang. Jadi untuk mencapainya harus naik tangga. Seperti menara pengawas terbuat dari bambu jenis gombong) tidak jauh dari pelataran depan rumah neneknya itu dan memetik gitar. Pikirannya berkecamuk. Ranggon itu sudah seperti sarang baginya. Kadang ia membawa buku-buku pelajaran, kadang ia mengundang teman, bahkan kalo susah tidur ia jadi bagian dari siskamling dan ranggonnya jadi tempat singgah hansip-hansip dikampungnya itu. Julius menatap purnama yang tertegun menemani. Purnama yang selalu ia tunggu dan rindukan. Seolah bulan purnama itu miliknya pribadi tempat membisikkan keluh kesah dan menggantungkan impian.
“Kenapa nasibku jadi begini?” gumam Julius pada pucat pasi Purnama yang menggenang di relung malam.
Malam baru jam 21:30 WIB. Tapi kampungnya sudah sepi. Hanya bulan purnama yang pucat memancarkan aura mistis dari tadi menemani. Tidak lama kemudian datang seseorang menembus gelap menggunakan sepeda motor bebek yang setelah dekat Julius mengenalnya. Itu pamannya.
“Paman!”
“Di situ kau rupanya, cepetan turun.” Julius pun turun menyambut pamannya yang dari kota (adik kandung ayahnya Julius).
“Kamu baik-baik saja kan? Ada orang yang mengganggumu tidak?”
“Mm? Tidak, emangnya ada apa sih paman??”
“Nanti paman ceritakan. Sekarang kamu berkemas dan ikut paman. Bapakmu sangat khawatir kamu kenapa-napa di sini.”
“Berkemas???” Hati Julius jadi meringis. Julius menurut saja walau dengan berat hati meninggalkan sang Nenek sendirian. Sebentar paman, Juli mau ngasihin dulu barang punya temen.” Yang dimaksud Julius adalah handycam punya Nani. Tapi ia menitipkannya pada Firman. Karena rumah Firman tidak seberapa jauh.
“Ya sudah, cepetan. Paman tunggu.” Julius pun berlalu. Pamit pada Firman, pamit pada neneknya. Dengan hati penuh ketidakngertian Julius menurut saja dan mengemasi pakaiannya dengan hati getir. Terakhir ia menatap gitarnya. Terlalu ribet ia rasa. Ia pun urung membawa gitar akustiknya itu. Malam yang sunyi, malam yang penuh misteri. Seekor burung hantu terbang tanpa suara dari puncak pohon ke pematang sawah.
Julius pun mengikuti pamannya, menyibak malam.
Perjalanan yang jauh, Perkampungan yang sepi ia tinggalkan, deretan sawah ladang ia lalui. Ia pun sampai ke rumah pamannya di pinggiran kota. Malam telah keram. Ternyata keluarganya ada di situ dan adiknya yang paling kecil sedang terbaring sakit. Tapi adiknya itu yang baru berusia 4 tahunan masih sanggup berkata pada Julius walau dengan suara yang parau.
“Kakak, boneka Pooh punya Lia dibawa gak?” Hati Julius tiba-tiba tergores. Perih.
“Mmm, nanti kakak belikan yang baru yah. Kamu sembuh dulu aja,” ucap Julius. Lembut. Didapatinya sang Ayah sedang termenung di beranda depan. Perlahan Julius menghampiri ayahnya setelah mengecup kening Lia.
“Ayah, apa yang telah terjadi.” Ayahnya tidak buru-buru menjawab.
“Sepertinya kamu juga harus pindah sekolah.” Julius sungguh ingin tahu apa penyebab semua ini. Tapi, malah pernyataan yang tidak mengenakan itu yang ia dapat. Julius tidak mungkin memaksa ayahnya untuk bercerita.
Barulah setelah ayahnya tidur dan seisi rumah tertidur, pamannya mulai bercerita. Ternyata ayahnya Julius yang belum lama menjabat kepala desa di kampung itu ada yang memfitnah. Entah fitnah seperti apa yang sampai menggerakkan massa mengepung dan membakar rumah ayahnya. Julius tidak terlalu paham akar permasalahannya, Julius masih terlalu muda untuk paham. Yang jelas, sekarang ia harus pindah sekolah dan berpisah dari teman-teman terbaiknya. Jiwa mudanya meletup-letup. Tapi ia masih bisa memendamnya dan diam.
Tidak lama kemudian, sang paman pun tertidur. Rumah yang tidak seberapa besar itu tampak seperti kamp penampungan korban bencana dengan orang-orang tidur bergelimpangan. Julius duduk bersandar pada tiang kayu di teras depan rumah pamannya itu. Termenung dan termenung. Hatinya masih belum percaya. Nasibnya bisa jadi begitu naas dalam seketika.
Besoknya, pagi-pagi sekali Julius terbangun dan menghirup udara segar. Meskipun tak sesegar udara di rumah neneknya yang memang masih banyak pohon dan ladang. Tapi Julius tetap bersyukur dan hidup harus tetap semangat dan optimis. Ia pun bangkit dan mendapati bibi dan pamannya sedang bersih-bersih.
“Ayah ke mana Paman?”
“Ayahmu ke rumah sakit, adikmu harus dirawat, semuanya ikut.” Dalam hati Julius hanya bisa berharap, adiknya cepat sembuh. Julius pun membantu pamannya beres-beres. Perabotan yang sudah tak terpakai dikeluarkan, lemari butut, koper-koper yang bertumpuk dan sebagainya. Sebelum koper-koper dan lemari dibuang. Julius dan pamannya memeriksa isinya. Mungkin ada surat-surat penting. Syukur-syukur ada perhiasan almarhumah neneknya yang terselip. Baju-baju neneknya, seragam-seragam kakeknya. Semua disortir. Yang masih layak pakai untuk disumbangkan dan yang tidak layak dibuang. Ada satu barang usang yang menarik perhatian Julius. Yaitu sebuah gitar akustik dari atas lemari almarhum kakaknya. Julius ambil dan bersihkan debunya Dengan telapak tangan. Kilap gitar itu nampak dan debunya berpindah ke tangan Julius.
“Ini punya Paman?” Tanya Julius.
“Bukan, itu punya kakekmu. Dari dulu paman dilarang membuangnya. Padahal paman ingin sekali membuangnya.”
“Buat Juli aja ya Paman?”
“Itu sudah rusak,” jawab sang Paman. Julius mengamati gitar itu. Berat dan besar sekali.
“Masih bisa diperbaiki kok.”
“Ya sudah, buat kamu saja.”
“Terima kasih Paman.”
Selesai mengeluarkan perabotan yang tidak terpakai. Julius dan pamannya kembali merapikan seisi rumah dengan posisi perabotan yang masih terpakai diatur lagi agar lebih rapi dan lega. Selesai mandi Julius kembali pada gitar itu dan ingat cerita ayahnya. Dulu, setelah pensiun dari Angkatan Darat kakeknya mendirikan grup orkes melayu. Aneh memang, tapi itulah kenyataannya dan yang tersisa mungkin hanya tinggal gitar itu dan box-box speaker yang kini jadi kandang ayam di samping rumah pamannya itu dan foto-foto di dalam album.
bagussss bgt thor dan ini kadang masalah yg d alami semua orang
bentar lagi masuk bagian inti teka tekinya neh
liat nani berasa liat diri sendiri, dulu temenan 10 orang, 8 cwo dan 2 cwe, sekali2 nya nonton konser grtisan tuh, yg ngeslank bareng jinggo, pulang jam 2 malem baju basah nyampe rumah abang gw dah nungguin, kabayang kan lanjutan nya apa, auto d ceramahin mpe seminggu kdepan
kadang perih dan sakit itu perlu, dalam mencapai impian, suatu saat nanti kita sukses akan terasa lebih hebat
baru ngeh q bacanya kebalik, baca purnama k2 dulu yg ini