Dalam hidup Kyra, ia hanya ingin merasakan arti sebuah keluarga. Namun, keinginan sederhananya itu harus ia pendam, karena kedua orang tuanya tidak menginginkan kehadirannya yang dianggap sebagai pembawa sial.
Setelah banyaknya penderitaan, Kyra akhirnya melangkah keluar dari bayang-bayang trauma untuk menuntut balas pada orang tuanya yang telah membuangnya.
Namun, saat Kyra berhasil bertemu dan tinggal dengan kedua orang tuanya, ia justru dijadikan kambing hitam untuk menggantikan posisi sepupunya dalam sebuah pernikahan bisnis. Jebakan takdir ini justru dimanfaatkan Kyra sebagai senjata untuk menghancurkan keluarganya sendiri.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apakah rencana balas dendam Kyra berhasil? Siapa pria yang harus Kyra nikahi? Mengapa kedua orang tua Kyra menganggap jika Kyra adalah pembawa sial?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Suasana di meja makan seketika membeku. Kata-kata yang meluncur dari bibir Brian begitu santai, namun memiliki bobot kekuasaan yang luar biasa. Di keluarga Raymond, keputusan Brian adalah mutlak. Jika ia mengatakan tidak, maka jangankan menginjakkan kaki di halaman mansion, mendekati pagar gerbang utama pun keluarga Andreas tidak akan diizinkan.
Kyra menatap suaminya lekat-lekat, ada kilatan keterkejutan di balik manik matanya yang jernih. Pria dingin yang baru mengenalnya selama beberapa hari ini, yang awalnya tampak begitu mengintimidasi dan siap mengulitinya hidup-hidup, kini justru memberikan hak penuh padanya untuk menentukan siapa yang boleh dan tidak boleh masuk ke dalam wilayah kekuasaannya.
"Kau serius?" tanya Kyra memastikan, suaranya sedikit bergetar karena rasa tidak percaya.
Brian mengangkat sebelah alisnya, lalu menyesap kopi hitamnya sebelum menjawab. "Apa aku terlihat sedang melontarkan lelucon, Nyonya Raymond?" tanyanya balik dengan nada rendah yang berwibawa.
"Rumah ini milikmu juga sekarang, tidak ada orang yang berani menginjakkan kaki di sini tanpa izin dari pemiliknya... termasuk keluarga sendiri," ucap Brian.
Mama Ivy yang duduk di ujung meja tersenyum tipis menyaksikan interaksi antara anak dan menantunya itu, ia meletakkan cangkir porselennya dengan anggun dan menatap Kyra dengan penuh kehangatan.
"Brian benar, Kyra. Mulai sekarang, statusmu adalah bagian dari keluarga ini. Jika mereka datang hanya untuk memanfaatkan posisimu atau membuatmu tertekan, kau berhak menolak kehadiran mereka. Jangan biarkan masa lalumu terus mendikte masa depanmu," sahut Mama Ivy lembut.
Dada Kyra mendadak terasa hangat, ucapan itu begitu kontras dengan apa yang biasa ia dengar di mansion keluarga Andreas, di mana ia selalu diposisikan sebagai beban dan objek penderita. Air mata haru sempat mendesak naik ke pelupuk matanya, namun Kyra dengan cepat menepisnya. Ia bukan lagi gadis lemah yang bisa ditindas sesuka hati.
"Terima kasih, Ma," ucap Kyra tulus.
Brian melirik Mark yang berdiri tegak di dekat pintu ruang makan. Tanpa perlu diberi aba-aba panjang, asisten pribadi itu langsung mengerti maksud tuannya.
"Baik, Tuan. Saya akan segera menghubungi pihak keluarga Andreas dan menyampaikan penolakan tersebut dengan tegas," ujar Mark sopan.
"Bagus, katakan pada mereka agar tidak mencoba datang ke sini kalau tidak ingin urusan bisnis mereka hancur dalam waktu kurang dari satu jam," balas Brian dingin.
"Baik, Tuan," jawab Mark.
Sementara itu, di kediaman keluarga Andreas, suasana tampak sangat tegang dan kacau. Papa Freddy mondar-mandir di ruang tamu mewah mereka sambil menggigit kuku jarinya, sementara Mama Dania duduk di sofa dengan wajah cemas luar biasa.
"Bagaimana ini, Papa? Telepon kita tidak diangkat oleh pihak keluarga Raymond!" seru Mama Dania panik, tangannya meremas lembaran saputangan hingga kusut.
"Kalau sampai Kyra mengadu yang tidak-tidak tentang perlakuan kita selama ini, kelangsungan bisnis kita benar-benar habis!"
Nenek Fia mendengus kasar dari kursi sudut ruangan, wajah tuanya tampak berkerut menahan amarah dan ketakutan. "Sudah kubilang anak pembawa sial itu tidak bisa diandalkan! Seharusnya dulu kita langsung membuangnya jauh-jauh agar tidak menjadi duri dalam daging seperti ini!" maki Nenek Fia.
Tante Thania yang berdiri di dekat jendela hanya bisa terdiam dengan gigitan bibir bawahnya, ia tahu betul betapa bahayanya keluarga Raymond jika sampai merasa dibohongi.
Tiba-tiba, suara dering ponsel Papa Freddy berdering nyaring di atas meja marmer. Pria paruh baya itu langsung melompat menyambar ponselnya dengan tangan bergetar hebat.
^^^Papa Freddy: Halo! Mark? Bagaimana? Apa saya dan keluarga saya bisa berkunjung ke kediaman Raymond sekarang?^^^
Suara dingin dan datar Mark terdengar dari seberang telepon, membuat darah Papa Freddy seolah berhenti mengalir.
Mark: Tuan Freddy, Tuan Muda Brian dan Nyonya Kyra memutuskan untuk menolak kunjungan Anda, dan pesan dari Tuan Muda jangan pernah mencoba mendatangi kediaman keluarga Raymond tanpa undangan resmi atau konsekuensinya adalah kehancuran mutlak bagi perusahaan Anda.
Tut... tut... tut....
Sambungan telepon langsung terputus secara sepihak. Papa Freddy tertegun mematung di tempatnya, ponsel di tangannya meluncur bebas dan jatuh membentur lantai marmer hingga hancur berkeping-keping, wajahnya sepucat mayat dan bola matanya melotot kosong.
"Pa! Ada apa? Apa kata mereka?" teriak Mama Dania histeris melihat suaminya kehilangan kendali.
"Kita... kita sudah hancur," bisik Papa Freddy dengan suara parau nyaris tak terdengar, tubuhnya lemas seketika dan ia jatuh bersimpuh di lantai ruang tamu yang megah itu.
"Apa maksud Papa?" tanya Mama Dania.
"Tuan Brian menolak kedatangan kita," jawab Papa Freddy.
"Ini pasti ulah anak pembawa sial itu, dia sengaja melakukannya untuk balas dendam ke kita," ucap Tante Thania.
Keluarga Andreas benar-benar berada di ambang jurang keputusasaan. Di mansion megah mereka yang biasanya dipenuhi tawa angkuh dan keserakahan, kini yang terdengar hanya helaan napas berat dan isak tangis tertahan dari Mama Dania.
Penolakan dari keluarga Raymond bukan sekadar tamparan keras di pipi mereka, melainkan vonis mati bagi masa depan finansial dan sosial dinasti Andreas. Perusahaan Papa Freddy yang selama ini bertahan di atas tumpukan utang dan janji-janji palsu kini kehilangan satu-satunya jangkar penyelamat.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" bentak Nenek Fia dengan suara serak penuh amarah, memukul meja dengan tongkat kayunya hingga menimbulkan suara berderak nyaring.
"Anak pembawa sial itu... baru sehari menjadi menantu di sana, dia sudah berani memutus tali silaturahmi dengan keluarganya sendiri! Tidak tahu diuntung!"
"Ini semua salahmu, Mbak Dania!" maki Tante Thania pada iparnya dengan mata melotot penuh kebencian.
"Kenapa dari awal Mbak tidak mendidik anak itu dengan benar? Kenapa tidak Mbak biarkan saja dia membusuk di gudang selamanya?"
Mama Dania menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, air matanya tumpah ruah bukan karena penyesalan telah menyiksa Kyra selama puluhan tahun, melainkan karena ketakutan luar biasa akan kemiskinan dan kehancuran status sosial yang akan segera merenggut kenyamanan hidup mereka.
"Cukup!" bentak Papa Freddy dengan suara parau. Pria itu bangkit perlahan dari lantai, wajahnya tampak sepuluh tahun lebih tua dalam kurun waktu beberapa jam saja, pandangannya kosong menerawang ke depan.
"Kita tidak bisa melawan keluarga Raymond. Kalau Tuan Muda Brian sudah mengeluarkan titah seperti itu, jangankan mendatangi mansion mereka, bernapas di ibu kota saja kita bisa dibuat kesulitan,"
"Lalu kita harus bagaimana, Pa?" teriak Mama Dania histeris.
Papa Freddy hanya bisa terdiam membisu dan meratapi kebodohan mereka sendiri yang telah menyerahkan senjata paling mematikan langsung ke tangan gadis yang selama ini mereka anggap remeh.
.
.
.
Bersambung.....
Sikap tegas suami melindungi, mendampingi, dan memvalidasi trauma sang istri dapat memulihkan rasa aman serta mempercepat proses pemulihan mental dan fisik korban...👍🏻👍🏼👍
Bagus,tu