Terpaksa menggantikan sang kakak untuk menikahi pria yang tidak diinginkan kakaknya. Menjalani pernikahan lebih dari 3 tahun, pernikahan yang terasa hambar, tidak pernah disentuh dan selalu mendapatkan perlakuan yang sangat dingin.
Bagaimana mungkin pasangan suami istri yang hidup satu atap dan tidak pernah berkomunikasi satu sama lain. Berbicara hanya sekedar saja dan bahkan tidak saling menyapa
Pada akhirnya Vanisa menyerah dalam pernikahannya yang merasa diabaikan yang membuatnya mengajukan permohonan perceraian.
Tetapi justru menjelang perceraian, keduanya malah semakin dekat.
Apakah setelah bertahun-tahun menikah dan pada akhirnya pasangan itu memutuskan untuk berpisah atau justru saling memperbaiki satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6 Insiden
Vanisa hanya diam saja melihat apa yang terjadi di depannya. Bagaimana terjadi perdebatan dan saling sindir menyindir antara ibu mertuanya dan ibunya. Dia tidak berkutik sama sekali atau berusaha untuk menghentikannya.
"Saya sudah sangat muak mengikuti drama keluarga kalian. Mempermalukan di acara pernikahan dengan Putri pertamamu yang lari dan diganti dengan putrimu yang tidak bisa melakukan apapun. Hanya diam melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat,"
"Saya juga sangat muak dengan semua ini. Untuk apa juga saya harus tetap menutupi nama baik keluarga kalian yang menggantikan calon pengantin wanita kepada anakku. Jadi jangan salah paham jika sampai saat ini putrimu tidak dipublikasikan itu sama sekali bukan keinginan kami. Tetapi menantumu sendiri!" tegas Lara dengan penuh penekanan.
Sarah tampak kesal mendengarnya. Vanisa hanya diam saja dengan wajahnya yang terlihat murung. Seperti ada kekecewaan di dalam dirinya saat mendengar semua pernyataan dari ibu mertuanya.
Dia berpikir jika selama ini keluarga Arvin yang mungkin belum bisa menerima dirinya sebagai menantu karena memang seharusnya bukan dia yang menikahi Arvin dan ternyata Arvin sendirian tidak ingin mempublikasikan dirinya dan hanya mengurungnya di dalam penjara.
"Dia memang masih menunggu pengantin yang sebenarnya. Maka itu alasannya membuatku hanya menjadi patung," batin Vanisa dengan mata berkaca-kaca yang sejak tadi menahan diri.
"Sampai di sini saja pertemuan hari ini. Saya berharap kamu mendengarkan apa yang baru saja saya katakan. 1 lagi kamu tidak perlu mengajar lagi!" tegas Lara yang mengambil tasnya.
"Mahira. Nenek pulang dulu ya," Lara berpamitan dengan mencium Mahira dan Mahira yang melambaikan tangan sembari mulutnya yang juga tidak lupa berbicara dengan sangat random.
Lara yang tidak mengatakan apa-apa langsung keluar dari ruangan itu yang sudah menyampaikan hal yang menurutnya sangat penting kepada Vanisa.
Vanisa memejamkan mata yang berusaha untuk tenang dan membuka kembali yang ingin meneguk orange jus yang sejak tadi diaduk.
"Dasar keluarga gila!" umpat Sarah dengan kesal dan bahkan menarik gelas Vanisa sampai membuat minuman itu tumpah ke bajunya yang akhirnya tidak jadi membuat Vanisa minum.
"Ini semua gara-gara kebodohan kamu. Kamu dengar sendiri apa kata wanita itu hah! Dia sama saja ingin menyadarkan kamu. Bahwa kamu selama ini jadi istri memang sangat tidak berguna. Lihat saja suami kamu sendiri yang tidak ingin mempublikasikan kamu. Dia benar-benar tidak menganggap kamu ada!" tegas Sarah yang melampiaskan kemarahannya kepada Vanisa.
"Usia kamu bukan belasan tahun lagi. Kenapa sampai detik ini kamu masih saja bodoh yang kamu tahu hanya merawat cucunya saja. Kamu sadar tidak kalau kamu hanya dijadikan sebagai baby sitter dari anak itu!" tegas Sarah.
"Mama tidak perlu berbicara seperti itu di depan anak kecil. Walau Mahira masih kecil. Tetapi pendengarannya sangat kuat, ini tidak baik untuk psikolog Mahira," ucap Vanisa memberikan ingat.
"Alah! kamu terus saja memikirkan psikolog ini dan itu. Perbaiki dulu psikolog kamu agar cara berpikir kamu bagus. Kamu lihat anak itu hah! Kalau saja kamu berhasil memikat hati Arvin. Kamu pasti sudah menjadi seperti Mitha memiliki anak, dianggap sebagai menantu. Tidak hanya seperti patung di rumah!"
"Mereka sama sekali tidak akan peduli pada kamu, kamu punya anak atau tidak. Mereka tidak akan bertanya atau tidak akan mendesak kamu. Karena apa hah! Karena mereka sudah mendapatkan cucu dari putra pertama mereka dan tidak ada yang perlu mereka harapkan dari kamu. Kamu sampai kapanpun hanya akan tetap menjadi patung, hiasan yang tidak berguna dan tidak dilihat sama sekali!" tegas Sarah yang benar-benar emosi yang meluapkan semua kemarahannya kepada Vanisa dengan rasa kegeramannya.
"Cape Mama bicara dengan kamu!" tegas Sarah berdiri dari tempat duduknya yang mengambil tasnya.
"Jahat!" Sarah yang tidak jadi pergi ketika mendengar Mahira berbicara yang membuat Sarah mendengar dan menatap tajam Mahira.
Terlihat kebencian di wajah Sarah pada anak kecil yang tidak berdosa itu. Vanisa yang melihat hal itu langsung berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Mahira yang menggendong Mahira dengan cepat yang seolah takut terjadi sesuatu padanya karena membuat Sarah marah.
"Anak kecil sok tahu!" kesal Sarah yang langsung pergi.
Vanisa membuang nafas perlahan ke depan yang benar-benar sangat lega. Untung saja emosi ibunya tidak juga dilampiaskan kepada Mahira.
"Aunty pulang!" Mahira yang mulai merengek karena sangat bosan dengan suasana itu.
"Iya kita pulang," ucap Vanisa yang memang merasa tidak ada gunanya pertemuan itu. Bukan perutnya yang kenyang tetapi telinganya dan juga hatinya yang kenyang dengan semua kata-kata dari dua orang yang sepertinya tidak pernah memikirkan perasaannya.
****
Vanisa yang menyetir mobil dengan Mahira yang tertidur di box bayi. Vanisa beberapa kali membuang nafas kasar. Dia masih mengingat semua perkataan dari ibu mertuanya
"Aku memang harus menyelesaikan pernikahan ini. Untuk apa pernikahan ini dilanjutkan. Jika dia sampai detik ini masih menunggu pengantin yang sebenarnya," ucap Vanisa yang sudah yakin akan perceraian yang akan diajukan.
Vanisa memejamkan matanya sebentar dan baru saja terpejam. Tiba-tiba Vanisa dikejutkan dengan mobil yang menyerempet dirinya dan terus saja mepet-mepet padanya yang membuat Vanisa kaget.
"Ada apa ini?" ucapnya yang memikirkan jalannya.
Tetapi mobil tersebut sepertinya sengaja melakukan itu. Vanisa melihat dari kaca spion untuk memastikan keadaan Mahira untung saja aman. Tetapi tetap saja berkendara seperti itu yang membuat Vanisa khawatir akan membangunkan Mahira.
Untuk menghindari mobil tersebut membuat Vanisa melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tetapi mobil itu malah mengejar Vanisa.
"Ya. Allah siapa orang itu? Kenapa dia mengejarku?" Vanisa terus ketakutan yang bertanya-tanya.
Sampai mobil tersebut kembali menyerempet mobil Vanisa yang bagian ujung belakangnya sudah lecet yang membuat Vanisa beberapa kali terkejut karena suara hantaman. Vanisa yang mulai tidak fokus dengan kepanikan yang bolak-balik melihat kaca spion dan menyetir dengan kecepatan tinggi.
Sampai tiba Vanisa yang melihat ke depan dan betapa terkejutnya dia saat melihat mobil truk besar yang mengarah padanya membuat Vanisa langsung membanting stir ke kanan yang mengakibatkan Vanisa menabrak pembatas jalan.
Brukkkk.
Hantaman yang cukup kencang itu membuat Vanisa merem mendadak dan membuat kepalanya terbentur setir mobil.
Hah- hah-hah-hah
Suara nafasnya yang terdengar tidak stabil mengangkat kepalanya dan melihat ke belakang. Vanisa yang sangat khawatir dengan Mahira yang membuat Vanisa buru-buru keluar dari mobil dan membuka pintu mobil belakang yang langsung mengambil Mahira dari stroller bayi tersebut dan memeluk begitu erat.
"Alhamdulillah kamu tidak apa-apa," ucap Vanisa dengan nafas yang belum stabil dan untung saja Mahira tidak rewel yang tidak menangis sama sekali.
Tin-tin-tin-tin-tin.
Suara klakson mobil yang terdengar begitu kencang yang membuat Vanisa menoleh ke belakang yang ternyata mobil yang sejak tadi mengejar dia masih terus mengejar dan melaju dengan kecepatan.
Vanisa yang langsung menghindar memeluk Mahira begitu erat.
Brukk.
Mobil BMW hitam itu langsung menabrak mobilnya yang bahkan membuat mobil itu sampai terangkat dan kembali terjatuh ke aspal. Vanisa yang juga sudah terduduk di aspal terjatuh karena mengelakkan mobil tersebut kaget melihat semua kejadian itu di depan matanya. Dia benar-benar seperti orang yang sedang diserang.
Bersambung......
lalu siapa orang yg mengingunkan alvin jatuh ya?
apa motifnya hingga vanisa yg di culik?
jd makin penasaran aku