Apa?!! Menikahi Musuhku? Apa itu mungkin?... Namaku adalah Demian Wulfric, yaitu raja dari kerajaan Endom, kerajaan terkuat di belahan bumi Eropa. Aku disebut sebagai raja dari kayangan, karena parasku yang sangat rupawan dan sifatku yang sangat dingin.
Selama hidupku, aku menanggung amarah yang amat dalam kepada musuh yang telah membunuh orang tuaku dan memporak-porandakan rakyat serta kerajaanku.
Namun, takdir berkata lain, aku terpaksa harus menikahi putri dari musuhku, yaitu putri dari kerajaan Alamore yang bernama Putri Aurora Delacour. Ia adalah putri yang sangat cantik jelita yang memiliki 'Mutiara Abadi' di dalam tubuhnya. Mutiara yang membuatku sangat bergantung kepadanya dan aku harus menahan rasa cinta yang mendalam kepadanya, hanya karena masa lalu yang sangat menyakitkan di antara kami.
Bagaimana kisah perjalanan cinta kami selanjutnya? Jangan lewatkan kisah kami ya...
Jangan lupa like, komen & dukung cerita ini dengan 5 Vote yaah...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ekouchi Aya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Putri Aurora Pemikat Hati
Di pagi hari yang cerah, udara yang sangat segar, mendukung pasukanku untuk bersiap-siap untuk menyerang kerajaan Alamore. Hari yang kutunggu - tunggu pun telah tiba yaitu membalaskan dendamku yang selama ini kusimpan selama dua puluh lima tahun.
Ratusan prajurit telah berbaris rapi, dengan membawa pedang dan perisai mereka siap untuk melaksanakan aba-aba dariku.
"Apakah kalian sudah siap?" tanyaku pada seluruh prajurit dengan penuh semangat.
"Siap, Yang Mulia!!!" seru para prajurit dengan serentak.
"Yang Mulia, para Kesatria elit sudah kami siapkan dan mereka siap di barisan depan," lapor Ken penuh keyakinan.
"Kalau begitu, ayo kita berangkat dan hancurkan kerajaan musuh," ujarku tanpa keraguan sedikit pun.
Kupimpin prajurit menuju kerajaan Alamore. Setelah menghabiskan beberapa hari dalam perjalanan, kami pun sampai di lembah kerajaan Alamore dan bersiap - siap untuk menyerang.
"Tak kusangka, aku akan menghadapi musuh yang sama, sebagaimana dua puluh lima tahun yang lalu." Pamanku tersenyum sambil menaiki kudanya.
"Kali ini kita akan menang, Paman," yakinku pada paman.
"Sepertinya kerajaan Alamore sudah siap untuk berperang, Yang Mulia," ujar Kai sambil meneropong kondisi kerajaan Alamore dari jauh.
"Bagus, kalau begitu kita serang sekarang," perintahku dengan lugas.
"Seraaaangggg!!!" Ken menyerukan tanda untuk menyerang.
Di seberang pasukanku, sudah siap Raja Stiven bersama pasukannya. Ia terlihat gagah dan menawan. Mereka pun menyerang dengan tanpa rasa takut. Menurut informasi yang kudengar, Raja Stiven adalah raja yang sangat bijaksana dan baik hati. Dia juga ahli dalam ilmu beladiri. Selain itu, pamanku pernah bercerita, jika Raja Stiven mulai bertarung di medan perang ketika usianya yang masih belia.
"Saudaraku, kerahkan semua kekuatan kalian!!!" Raja Stiven mulai menghampiriku dan menghentakkan pedangnya.
Kami semua pun bertarung dengan sekuat tenaga. Saat itu suasana terasa bising. Hanya suara hentakkan pedang yang memenuhi gendang telingaku. Teriakan para prajurit membuatku bertambah semangat untuk melawan musuh yang ada di depan mata.
"Apa kau begitu bangga dengan kerajaanmu?" tanyaku sembari terus bertarung.
"Karajaanmu telah menghianati kerajaan kami," saut Raja Stiven.
"Bukankah kerajaanmu yang menyerang kerajaan kami terlebih dahulu," kataku mengelak.
"Penghianatan yang kalian lakukan membuat kerajaan kami hampir runtuh," timpal Raja Stiven.
"Kami tak pernah berkhianat, tapi orang tuaku meninggal hanya karena kesalah pahaman orang tuamu pada orangtuaku," tambahku ingin segera menyudahi peperangan.
Matahari pun terlihat mulai terbenam, akan tetapi peperangan masih tetap berlangsung. Dalam peperangan kali ini, pasukanku mampu memporak porandakan kerajaan Alamore beserta rakyatnya. Menghancurkan pusat kota dan membakar tempat-tempat penting kerajaan.
Karena kondisi mulai memburuk, Raja Stiven pun terluka parah dan memutuskan untuk memilih melarikan diri. Sebelum itu, Raja Stiven telah menyusun siasat untuk menyelamatkan anggota keluarganya yang masih tersisa yaitu adik semata wayangnya.
Dia menjauhi area pertempuran dan berlari sempoyongan ke ruangan rahasia kerajaan, di mana ruangan itu terdapat suatu pintu rahasia menuju suatu tempat yang di khususkan untuk menyembunyikan adiknya.
Ketika Raja Stiven memasuki pintu rahasia itu, rupanya pamanku sempat mengikutinya dan membawaku menuju ke sana. Tak kusangka tempat itu adalah tempat yang sangat indah. Kehijauan yang menakjubkan mata. Kuhirup udara segar dari tempat itu, bagai tempat yang penuh dengan energi yang sangat kuat.
"Tempat apa ini, Paman?" tanyaku takjub dengan keindahannya.
"Entahlah, Yang Mulia, udara di sini sangat hangat dan nyaman," saut paman.
Tiba - tiba dari arah belakang kami berdua, munculah Raja Stiven yang hendak membunuhku dengan pedangnya. Namun dengan cepat, Kai menyerang Raja Stiven dari arah belakang yang mengakibatkan Raja Stiven terluka parah.
"Yang Mulia, apa Anda baik-baik saja?" tanya Kai khawatir aku terluka.
"Iya, aku baik baik saja, berkat kau aku terselamatkan," terangku masih terkaget.
Seraya itu datanglah seorang gadis yang membuat mata kami semua terbinar akan kehadirannya.
"Kakak !" teriak gadis itu sambil mengusap air matanya
"Aurora, jangan mendekat kemari!" Raja Stiven melarangnya.
Detik itu pun aku tersadar.
"Kenapa aku merasa pernah melihat gadis ini?, dia tak asing bagiku," bisikku dalam hati.
Mataku mulai berbinar-binar.
Dia sungguh gadis yang sangat cantik, rambut hitam panjangnya, kulit putihnya, wajah yang seindah rembulan, auranya membuat siapa saja yang melihatnya pasti akan jatuh hati padanya. Kami pun masih terpaku melihat gadis itu.
"Biarkan aku mengobatinya," kata gadis itu sangat pemberani.
"Jangan, Tuan Putri," dayang berparas kecil menggandeng tangannya untuk menghentikan gadis itu mendekati kami.
"Lepaskan aku Mia!" Julukan dayang itu. "Aku harus mengobati luka Kakakku," tambah gadis itu keras kepala.
"Aurora, cepat pergi dari sini!" imbuh Raja Stiven dengan penuh kekuatan untuk bergerak.
Aku pun mulai tersadar.
"Siapa kau?" tanyaku.
"Kau, Raja kejam, cepat biarkan kami hidup dan silahkan pergi dari sini!" sentak gadis yang bernama Aurora itu sambil menunjuk ke arahku.
"Dia rupanya putri mendiang Ratu Alamore yang berhasil diselamatkan ketika perang silam, Yang Mulia," jelas paman mendekat ke arah bahuku.
"Ternyata kau juga putri dari musuhku, berarti aku juga harus membunuhmu," kataku dengan kejam.
"Bunuh saja aku, tapi setelah aku mengobati Kakakku," sahut Putri Aurora.
Aurora pun berlari dan membawa belati kecil hendak menyerang ku. Karena dia hanyalah seorang gadis, tentu aku bisa menahannya dengan satu tangan.
"Mati saja kau!" saut Aurora mengutukku.
Ku genggam pergelangannya sambil menatap wajah indahnya. Setelah itu aku tersadar bahwa dialah wanita yang selama ini muncul dalam mimpikan.
"Kau ingin mati?!" tanyaku mengancam, "atau kau ingin menyaksikan kakakmu menjemput ajalnya?" Amarahku tak tertahankan.
"Aku tak takut padamu!" seru Aurora.
"Aurora..." panggil Raja Stiven terbata- bata.
Putri Aurora pun melepaskan pergelangan tangannya dari genggamanku dan segera memeluk kakaknya yang berlumuran darah.
"Aku akan segera mengobatimu, sebentar," kata Aurora dengan terisak tangis.
"Sudahlah, aku tak apa, maafkan Kakakmu yang tak bisa menjagamu dengan baik" Raja Stiven berusaha mengangkat tangannya untuk membelai rambut adik kesayangannya itu.
"Kakak, aku akan menyembuhkan Kakak," kata Aurora lagi.
Keinginan Aurora pun tak terpenuhi, karena ajal telah menjemput kakak satu-satunya itu dan membuat Aurora sangat merasa kehilangan.
"Kakak!!!" teriak Aurora menangis tersedu-sedu.
"Tuan Putri, ayo kita pergi dari sini," ajak Mia dengan rasa takut.
"Aku ingin tetap di sini," kata Aurora putus asa.
"Aku sudah kehilangan semua keluargaku." Aurora mengusap air matanya.
Aurora pun berusaha berdiri karena lemas.
"Kenapa di dunia ini harus ada kalian?", teriak Aurora penuh sesal.
Dia menggenggam belati kecil di tangannya. Tak kusangka dia menancapkan belati kecil itu ke dadanya dan berniat untuk mengakhiri hidupnya.
"Bukankah kalian ingin kami semua mati?!" Aurora menancapkan belati ke dadanya sendiri
"Tidakkkk, Tuan Putri!!" teriak Mia.
Aurora pun berlumuran darah. Ketika itu, aku bingung apa yang harus aku lakukan.
Tak menunggu lama, kami melihat keanehan pada rambut Aurora yang seketika itu berubah menjadi putih sedikit demi sedikit.
"Apa yang sedang terjadi, Paman?" tanyaku penuh keanehan.
"Tidak mungkin, jangan-jangan dia adalah pewaris mutiara abadi?" paman mendekati tubuh Aurora.
"Tuan tolong selamatkan Tuan Putri kami, jika dia sampai meninggal akan berbahaya dan akan membawa malapetaka," kata Mia dengan penuh kecemasan.
"Apakah, mutiara abadi ada dalam tubuhnya?" tanya pamanku dengan cepat.
"Iya, Tuan," jawab Mia lugas.
Aku sama sekali tidak mengerti akan situasi ini, tapi sepertinya paman sangat khawatir dengan Aurora.
seorang raja ko sifatnya seperti itu menyebalkan