Anton adalah seorang pria biasa yang hidupnya hancur dalam semalam setelah dicampakkan dan dipermalukan secara brutal oleh pacarnya demi seorang anak konglomerat. Di titik terendahnya, saat rasa sakit dan keputusasaan memuncak, Anton secara tak terduga membangkitkan [Sistem Mata Dewa] yang memberinya kemampuan luar biasa untuk melihat menembus segala jenis benda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Byur!
Segelas air dingin mendarat tepat di wajah Anton.
Air itu menetes dari rambutnya, membasahi kemeja usangnya yang sudah mulai pudar warnanya.
Anton hanya bisa terdiam sambil menatap wanita di depannya dengan tatapan tidak percaya.
"Rina, apa maksud semua ini?" tanya Anton dengan suara bergetar.
"Kamu masih berani bertanya apa maksudnya?" balas Rina dengan nada tinggi.
Wajah cantik Rina yang biasanya tersenyum manis kini hanya menampilkan ekspresi jijik yang luar biasa.
Di sebelah Rina, berdiri seorang pria tampan dengan setelan jas mahal dan senyum meremehkan.
"Kita putus, Anton," ucap Rina tanpa ragu sedikit pun.
"Tapi kenapa?" Anton mencoba maju selangkah. "Aku sudah bekerja siang malam, menabung demi masa depan kita."
"Masa depan apa?" Rina tertawa sinis. "Masa depan hidup miskin bersamamu di kontrakan sempit?"
Pria berjas di sebelah Rina merangkul pinggang wanita itu dengan posesif.
"Dengar ya, gembel," ucap pria itu sambil menatap Anton dari atas ke bawah.
"Namaku Dimas, dan aku bisa memberikan Rina apa saja yang dia mau," lanjutnya dengan bangga.
Anton mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Rina, kamu meninggalkanku hanya karena uang pria ini?" tanya Anton, berharap ada sedikit penyesalan di mata Rina.
"Tentu saja!" jawab Rina cepat. "Dimas membelikanku tas seharga gaji setahunmu."
Dimas mengeluarkan sebuah kunci mobil dari sakunya dan memutarnya di jari.
"Lihat ini? Aku baru saja membelikan Rina mobil baru untuk jalan-jalan," pamer Dimas.
"Sementara kamu?" Dimas mendengus geli. "Kamu bahkan harus meminjam motor temanmu untuk menjemputnya."
Dada Anton terasa sesak seolah dihantam batu besar.
"Aku mengorbankan segalanya untukmu," gumam Anton, "Aku bahkan membeli cincin ini untuk melamarmu hari ini."
Anton merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil yang sudah lusuh.
Rina menatap kotak itu sebentar sebelum tertawa terbahak-bahak.
Hahahaha... "Cincin murahan dari pasar malam?" Rina menepis tangan Anton dengan kasar.
Brak!
Kotak itu jatuh ke tanah beraspal dan cincin perak murahan di dalamnya menggelinding keluar.
"Jangan membuatku tertawa, Anton," kata Rina dingin.
"Pergilah dan jangan pernah mencari aku lagi," tambah Rina sambil memalingkan wajahnya.
Dimas melangkah maju dan dengan sengaja menginjak cincin perak itu hingga penyok.
Krak!
"Ups, maaf," ucap Dimas tanpa rasa bersalah sama sekali.
"Kamu!" Anton tidak bisa menahan amarahnya lagi dan berniat memukul wajah sombong Dimas.
Namun, sebelum tinju Anton sampai, dua pengawal berbadan besar tiba-tiba muncul dari belakang Dimas.
Bugh!
Salah satu pengawal itu menendang perut Anton dengan sangat keras.
Anton terpental ke belakang dan jatuh berguling di atas aspal yang basah oleh hujan gerimis.
Kepalanya membentur trotoar dengan bunyi benturan yang mengerikan.
Darah segar mulai mengalir dari pelipisnya, mengaburkan pandangannya.
"Sampah tetaplah sampah," suara Dimas terdengar samar di telinga Anton.
"Ayo sayang, kita pergi dari sini," ajak Dimas kepada Rina.
"Tentu saja, udara di sini membuatku mual," balas Rina manja.
Suara langkah kaki mereka dan deru mesin mobil mewah perlahan menjauh, meninggalkan Anton yang terkapar tak berdaya.
Anton mencoba membuka matanya, tapi rasa sakit di kepalanya sungguh luar biasa.
"Apakah hidupku akan berakhir menyedihkan seperti ini?" batin Anton dengan penuh kepahitan.
Dia merasa sangat tidak berguna, direndahkan, dan dibuang seperti sampah jalanan.
Tiba-tiba, sebuah suara mekanis yang dingin dan tanpa emosi bergema di dalam kepalanya.
[Mendeteksi gelombang otak tuan yang sangat kuat akibat penderitaan.]
[Sistem Mata Dewa sedang melakukan sinkronisasi dengan tuan.]
Anton terkejut bukan main.
"Suara apa itu?" batin Anton kebingungan, mencoba menahan rasa sakit.
[Sinkronisasi mencapai 50%... 80%... 100%.]
[Sinkronisasi berhasil.]
[Sistem Mata Dewa telah diaktifkan.]
Rasa sakit di kepala Anton tiba-tiba menghilang, digantikan oleh sensasi hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Terutama di bagian kedua matanya, rasanya seperti ada energi asing yang mengalir masuk.
Anton perlahan bangkit dan duduk di pinggir trotoar.
Dia mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali.
Saat dia membuka matanya kembali, dunia di sekitarnya tampak sangat berbeda.
Pandangannya menjadi sangat tajam, bahkan dia bisa melihat butiran debu yang berterbangan di udara.
[Tuan telah menerima kemampuan awal: Penglihatan Tembus Pandang Tingkat 1.]
[Kemampuan ini memungkinkan tuan untuk melihat struktur internal benda mati dengan ketebalan maksimal 10 sentimeter.]
Anton menelan ludah, masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Penglihatan tembus pandang?" gumam Anton pelan.
Dia mencoba menatap sebuah tas ransel milik seorang pejalan kaki yang kebetulan lewat di depannya.
Fokuskan pikiran, perintah Anton dalam hati.
Seketika itu juga, lapisan luar tas tersebut seakan menghilang dari pandangan Anton.
Dia bisa melihat dengan jelas isi di dalam tas itu.
Ada sebuah laptop, botol minum berwarna biru, dan sebuah dompet kulit berwarna cokelat.
Anton mengucek matanya dengan keras.
Dia kembali menatap tas itu dan isinya masih terlihat sangat jelas.
"Ini nyata," batin Anton dengan detak jantung yang berpacu kencang.
"Aku benar-benar bisa melihat menembus benda!" teriak Anton dalam hati.
Senyum tipis mulai terbentuk di sudut bibirnya.
Rasa sedih dan putus asa yang tadi menyelimuti hatinya perlahan menguap.
Kekuatan ini adalah kunci, kunci untuk mengubah nasib buruknya selama ini.
Dengan kemampuan melihat menembus benda, Anton tahu persis di mana dia bisa mendapatkan uang dengan cepat.
"Pasar barang antik," gumam Anton sambil mengepalkan tangannya.
Banyak barang berharga yang tersembunyi di balik lapisan lumpur atau cat kusam di pasar itu.
Orang biasa hanya bisa menebak-nebak, tapi Anton kini bisa melihat kebenaran di baliknya.
Dia menatap ke arah jalan raya tempat mobil Dimas dan Rina pergi.
"Kalian merendahkanku karena aku tidak punya mobil dan uang," batin Anton dengan tatapan tajam.
"Tunggu saja, Rina."
"Aku akan membeli mobil yang bahkan tidak sanggup dibeli oleh pacar barumu itu."
"Aku akan membuat kalian berdua berlutut dan memohon ampun di hadapanku."
Anton mengusap darah di pelipisnya dan berdiri dengan tegap.
Langkah kakinya kini terasa jauh lebih mantap dari sebelumnya.
Malam ini, sejarah baru dalam hidup Anton baru saja dimulai.
Tujuan pertamanya besok pagi sudah sangat jelas.
Dia akan pergi ke Pasar Loak dan Barang Antik Sudirman untuk menguji kehebatan mata barunya ini.