Putu Saraswati, seorang gadis yang tidak pernah percaya dengan mistis, harus dihadapkan pada sebuah kenyataan menyakitkan, dimana sepupunya Kadek Dwi, harus mengalami sakit keras setelah acara Metatah dan pernikahan yang dilaksanakan secara bersamaan.
Segala upaya di lakukan, dari dokter dan juga dukun, tetapi tidak ada yang sanggup mengobatinya...
Bagaiamana kondisi Kadek Dwi, dan perjuangan Putu Saraswati dalam mengungkap teror yang menimpa keluarga dan juga warga desanya...
ikuti kisah selanjutnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sakit Yang Tidak Terdeteksi
Kadek Satya terlihat merasa cemas. Malam pengantin yang seharusnya indah berubah menjadi sangat mencekam, dan mimpi indah untuk berbulan madu ke Sanur tampaknya harus pupus.
Ia melihat jam di dinding yang tertempel di ruang IGD, dan memperlihatkan pukul tiga pagi dini hari.
Aroma disinfektan yang bercampur dengan dupa menempel di pakaiannya, dan menguar menjadi satu.
Di ranjang rumah sakit, Dwi terbaring dengan jarum infus yang tertancap di pergelangan tangannya. Sedangkan selang oksigen terpasang di hidungnya. Wajahnya cukup pucat seperti kapas. Kedua matanya bergerak-gerak di halik kelopak, disertai dengan igauan yang terus di lantunkannya.
"Tunggu, nanti saja, aku belum mau ikut," racaunya dengan mata yang tertutup.
Kadek Satya menghampirinya. "Siapa, Sayang. Siapa yang kamu maksud?" tanya sang suami pada istri yang di cintainya.
"Itu, dia datang mau jemput," suara Dwi terdengar parau, seolah baru saja habis menangis semalaman.
"Tidak ada siapapun, Sayang. Tidak ada yang menjemputmu, kamu istirahat saja," Kadek Satya berusaha untuk sabar.
Dokter jaga melepas stetoskop di telinganya. Ia melirik monitor yang sedang memantau detak jantung Dwi yang tak sadarkan diri.
"Detak jantung normal. Tensi 110/70. Saturasi 98. Semua normal, Pak. Tidak ada trauma, tidak ada tanda infeksi," sang dokter menjelaskan dengan cukup detail.
Kadek Satya menggenggam erat jemari tangan sang istri yang terasa cukup dingin. "Lalu... Mengapa istri saya sampai seperti ini, Dok? Sejak dari Pura sampai tina di sini ia tidak juga sadarkan diri,"
Dokter tersebut menggantungkan stetoskop di lehernya, dan ia menghela nafasnya dengan berat.
"Kami sudah melakukan cek lab darurat. Darah lengkap, gula darah, fungsi hati dan juga ginjal. Semuanya dalam batas norma." Dokter memperlihat hasil uji lab di di layar monitor. "Kami mencurigai jika ini psikis. Syok berat karena sebuah hal yang kita tidak tahu itu apa. Besok akan kita lakukan observasi dulu. Kalau besok belum sadar juga, maka kita akan tunjuk psikiater,"
Putu Angga melongo. Ia yang sedari tadi berdoa kepada Sang Hyang Widhi mendadak lemas. "Psikis? Anak saya gak gila, Dok! Anak aneh sejak keluar dari Pura. Pasti ada makhluk ghaib yang mengganggunya,"
Nyoman Sari bergegas memegang pundak sang suami yang terlihat panik. Ia menggelengkan kepalanya, dan mengusap punggung sang istri dengan lembut.
"Di rumah sakit tidak boleh ngomong begitu, Sayang," bisiknya. "Mungkin kita harus membawanya ke psikiater," Nyoman Sari setuju dengan saran dokter.
Dokter tersebut mengulas senyum datar. Sebab bagi warga Bali adalah hal yang wajar, jika penyakit yang menimpa seseorang, maka mereka akan mempercayai dalam hal mistis sekaligus medis.
Sang dokter berpamitan untuk keluar, dan ia juga bingung harus melakukan tindakan apa, sebab tidak ada obat yang harus di berikan.
Malam semakin larut. Waktu memperlihatkan pukul empat pagi. Dwi tiba-tiba kejang dengan gerakan yang pelan. Matanya terbuka dengan mendadak, tetapi dengan pandangan kosong.
"Bu..." panggilnya, tetapi pandangannya menatap langit-langit ruang IGD, tanpa melihat ke arah Nyoman Sari.
"Di depan rumah... Ada nenek-nenek bawa bokor pitra yadnya,. Rambutnya panjang sampai ke tanah. Katanya... mau jemput Dwi..." ucapnya dengan tatapan yang kosong.
Kadek Satya langsung merangkul sang istri. "Dwi, kamu ingat aku. Aku Kadek, suamimu.."
Dwi justru membalas dengan senyuman. Namun senyum itu teras asing. "Aku harus pergi, Kadek. Aku sudah berjanji di altar..." setelah mengucapkan kalimat itu, tiba-tiba ia jatuh pingsan.
Tiiit!
Tiiiit!
Tiiiiit!
Suara monitor tetap bernyi dengan suara yang normal.
*****
Pagi menjelang. Komang Shinta mengetuk pintu kamar Saraswati. "Putu, bangun... Kamu harus bekerja," ucapnya dari depan pintu.
"Hah!" Saras terbangun, dan membuka matanya. Kepalanya masih terasa sakit. Ia juga bingung, bagaimana bisa ia berada di kamar, sedangkan malam tadi terakhir ia mengingat masih di Pura Dalem.
Wuuuussh!
Sekelebat asap hitam yang berbau dupa dari kayu cendana hadir memenuhi ruangan kamar.
"Saras," bisik sosok pria tampan tersebut.
"Hah! Apaan, sih! Ngagetin saja," omel Saras dengan nada kesal, sembari memijat kepalanya yang terasa sakit.
"Putu..." suara Komang Shinta kembali terdengar di telinganya. Ia tidak dapat mengenali suara tersebut, tetapi baginya seperti dejavu.
"Itu, ibumu. Wanita yang sudah melahirkanmu," bisik Kalandra.
Saras menoleh ke arah sosok pria tersebut.
"Baiklah, aku akan melihatnya." Saras turun dari ranjangnya, dan menemui wanita yang sudah memanggilnya.
Saat pintu terbuka, ia memandang Komang Shinta dengan bingung, tetapi tadi Kalandra sudah membisikkan padanya, jika itu adalah ibunya.
"Ya, Bu...." jawabnya dengan gugup.
"Kamu baru bangun? Gak ke puskesmas?" tanya wanita tersebut.
"Iya, Bu. Ini mau mandi dulu," jawabnya dengan ragu dan kaku.
Komang Shinta mengerutkan keningnya, dan menyelidik dengan pandangannya. "Kamu sakit?" tanyanya dengan rasa penasaran, lalu meletakkan punggung tangannya di kening puterinya.
"Tidak, Bu." mendadak Saras teringat akan Dwi. "Bagaimana kabar Dwi? Apakah dia sudah sehat?!" ucapnya dengan panik.
Komang Shinta melongo. "Dwi? Sakit apa?" ia merasa belum mendapatkan kabar apapun dari adim perempuannya.
Kadek Arya yang mendengarnya mendadak terdiam. Firasat buruk akan kejadian metatah semalam langsung memenuhi pikirannya. Hanya saja, ketika tidak dilibatkan dalam sebuah masalah, lalu mengapa harus bersusah payah menyodorkan diri untuk membantu.
Baginya, sekali di hardik, maka itu adalah terakhir ia bersuara.
Saras terdiam. Ia bingung harus mengatakan apa, sebab ia takut menjelaskan bagaimana ia bisa berada di Pura Dalem saat malam tadi.
"Oh, tidak... Aku hanya bermimpi Dwi sedang sakit," jawabnya berbohong. "Putu mau mandi, Bu." ucapnya dengan nada kaku. Ia benar tidak mengingat Komang Shinta, dan beruntungnya Kalandra mengingatkan akan hal itu.
"Oh, baiklah. Nanti kamu sarapan, ibu mau ke pasar, untuk membeli keperluan sesajen canang sari," ucap Komang Shinta, lalu beranjak dari depan pintu kamar.
Saras mengangguk, dan bergegas menutup pintu. Ia berniat untuk mandi, tetapi bayangan tentang Dwi masih terlintas jelas di benaknya.
Saat ia tiba di depan pintu kamar mandi. Ia di kejutkan oleh Kalandra yang juga berada di dalamnya. "Hei... Kamu sedang apa di sini?!" tanya Saraswati, sembari berkacak pinggang.
"Ya mau mandi..."
"Buruan keluar. Jangan alasan, ntar kamu ngintip." sungut Saraswati, dan membuat Kalandra langsung ngacir.
****
Komang Shinta sedang berada di pasar tradisional. Ia memilih kembang kenanga, cempaka, dan irisan daun pandan untuk keperluan sajen Canang Sari yang nantinya akan di letakkan di depan pintu gerbang rumah.
Tak lupa ia membeli bunga sedap malam yang akan ia letakkan di Pura kelurga, dan terletak tepat di depan halaman rumah.
Treeet!
Treeet!
Terdengar suara ponselnya bergetar, sebuah panggilan masuk yang berasal dari Nyoman Sari.
"Hallo," sapa Komang Shinta, saat panggilan dengan nomor adik perempuannya tersambung.
"Ada apa, Mang?" tanyanya dengan nada yang cukup lembut.
"Mbok Gek, bisa tolong aku. Aku di rumah sakit, bawakan pakaian ganti," pintanya pada sang kakak perempuan.
Sesaat Komang Sari melongo. "Di rumah sakit? Siapa yang sakit?" cecarnya dengan rasa tak sabar.
"Aku gak bisa jelasin di telepon. Nanti di rumah sakit kita bicarakan," sahut Nyoman Sari dengan nada cemas, lalu mengakhiri panggilan teleponnya.
Komang Shinta mempercepat belanjanya, dan akan menuju ke rumah sakit.
~Bokor Cawan Pitra Yadnya adalah cawan besar yang terbuat dari alumunium, kuningan dan lainnya. Biasanya bokor pitra yadnya di gunakan sebagai wadah menampung abu kremasi.
~Mbok Gek \=Panggilan untuk wanita yang lebih tua atau kakak
Karena bagaimanapun Saraswati anaknya.. 🤧
hadeh punya bapak kok bisa ya memlilih kasta dr anak
aq bgg deh
gila ya hany kasta yg di pandang nya gemblung
kyk keturunan ningrat ya kek gtu
tp skrg udah g sih hehehehe
kmaren akun yg dulu khapus. 😌
hadeh smownkapan itu akan berkahir kasiham saras
Kayaknya Wayan Ratri nggak akan berhenti, sebelum mendapatkan apa yang ia mau.. 😌
masa iya air lebih kental dr darah
weeh piye iki
ada ya pepatah mantan anak
ini gila deh