Jika menikah hanya dijadikan sebuah alat pertukaran yang saling menguntungkan satu sama lain tanpa didasari rasa cinta, akankah kebahagiaan itu tercipta?
Kinara seorang gadis yang selalu pesimis dengan masa depannya. Ia memutuskan menikah dengan Gema Putra Mahardika laki-laki yang sudah merenggut nyawa kedua orang tuanya. Hal tersebut rela ia lakukan demi kelangsungan hidup seorang gadis kecil yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit yang menggantungkan hidupnya hanya pada Kinara.
Akankah cinta hadir di antara mereka meski semua bermula dari terpaksa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ismi Sima Simi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Balasan Setimpal
Kinara dan Gema mengarahkan pandangannya ke arah sumber suara. Seorang wanita paruh baya dengan gaya elegan berjalan ke arah mereka.
"Ibu?" gumam Gema dengan tatapan tidak percaya.
Wanita paruh baya itu terus berjalan mendekat ke arah Kinara yang belum masih terduduk di ranjang pasien. Kinara yang belum pernah sama sekali bertemu wanita yang ada di hadapannya itu hanya menatap penuh tanya.
"Apa kau bilang ingin memenjarakan putraku?" tanya ibu Gema menatap tajam Kinara yang tercengang mendengar penuturannya.
"Ya. Putra Anda sudah membuat orang tua saya meninggal. Apa lagi hukuman yang pantas untuk pembunuh seperti dia," jawab Kinara dengan penuh emosi setelah sadar dengan situasinya.
"Sam!" Wanita itu memanggil paman Sam yang berdiri di samping pintu.
Paman Sam masuk ke dalam dengan membawa sebuah koper dan stopmap di tangannya. pria itu berjalan mendekati Kinara dan menaruh koper itu di sampingnya. Kinara menatap bingung, apalagi ketika Paman Sam membuka koper itu di hadapannya. Gadis itu menautkan kedua alisnya saat melihat isi koper. Kinara menatap Gema yang hanya diam tertunduk, kemudian pandangannya beralih pada wanita itu lagi.
"Apa maksud, Anda?" Kinara mulai tersulut emosi.
"Heh! Jangan sok polos. Kau butuh uang, kan? Ambil semua itu dan jangan ganggu membuat putraku dalam masalah."
Kinara membelalakkan matanya mendengar ucapan wanita itu. Dia beranjak dari duduknya dan mendekat ke arah ibu Gema. Rahang perempuan berwajah oval tersebut mengeras. Dia menggertakkan gigi-giginya menahan amarah yang memuncak di kepalanya. Tangan Kinara terkepal erat, hingga membuat luka robek sebelumnya di telapak tangannya kembali berdarah. Gadis itu menatap penuh amarah pada ibu Gema.
"Saya akan memberikan hukuman setimpal untuk anak Nyonya. Waktu saya sudah terbuang percuma di sini, dua nyawa harus dibalas dengan adil. Kita akan bertemu di pengadilan." Kinara melenggang pergi meninggalkan semua orang yang tidak percaya dengan jawaban Kinara.
Ibu Gema mendengus kesal mendengar jawaban Kinara. Wanita itu menatap kesal pada Kinara yang hilang di balik pintu dengan menyatukan giginya dengan kuat. Pandangannya beralih pada Gema yang masih berdiri di tempatnya.
"Dasar anak bodoh! Bukankah ayahmu sudah bilang jangan membuat onar selama pencalonan ayahmu sebagai perdana menteri. Apa kau tuli?" Wanita itu meluapkan emosinya pada Gema.
"Harusnya kau bersama ayah di luar negeri sana, kenapa kau harus ada di sini?" Gema melempar pertanyaan kembali pada ibunya.
Ibu Gema menyunggingkan senyum sinis. "Urus dia, jangan sampai ada berita buruk yang tersebar," perintahnya pada Paman Sam dan melenggang meninggalkan ruangan itu.
Gema mengacak rambutnya frustasi setelah ibunya pergi. Dia menatap Paman Sam yang sedang menutup kembali koper yang ada di hadapannya.
"Apa Paman tau kenapa ibu ke sini?" tanya Gema menyelidik.
"Nyonya Laras sepertinya ada urusan dengan rekan bisnisnya, Tuan. Nyonya baru saja sampai dan menanyakan keberadaan Tuan."
"Hmm, sudah kuduga. Mana mungkin dia datang untukku. Berikan berkas itu padaku," ucap Gema sambil menyahut map yang dibawa Paman Sam.
Paman Sam menyerahkan map tersebut pada Gema. Pria itu memandangi sampulnya sesaat sebelum akhirnya membuka map tersebut. Alis Gema hampir menyatu saat membaca isi map tersebut.
"Apa ini berkas perempuan tadi?" tanya Gema dengan nada tak percaya dan diangguki oleh Paman Sam.
"Di mana adiknya?"
Paman Sam mengangkat wajah yang sebelumnya fokus pada ponsel. Pria paruh baya itu menatap Gema yang sudah menunjukkan ekspresi suram.
"Dia dirawat di lantai dua, Tuan."
Gema meninggalkan tempatnya, dengan langkah lebar pria itu menuju lift yang ada di ujung lorong. Pikirannya menjadi lebih kacau sekarang. Kilasan-kilasan balik tentang Ibu Sari saat meminta tolong padanya kembali bermunculan di kepalanya. Beberapa kali dia mengusap kasar wajahnya. Ujung mata Gema melirik pada ujung lengannya sebelah kanan, noda darah masih tersisa di ujung lengan tersebut.
Setelah pintu lift terbuka, dengan diarahkan oleh Paman Sam Gema melanjutkan langkahnya menuju ruangan tempat adik Kinara dirawat. Pria muda itu menghentikan langkahnya saat sampai di depan ruangan yang terlihat sangat biasa dan sempit menurutnya. Dari kaca kecil yang ada di tengah pintu, Gema melihat ke dalam ruang perawatan Kiyana.
Gema menaikkan alisnya saat manik matanya menangkap sesosok tubuh kecil yang terbaring di atas ranjang. Tubuh yang sangat kurus, bahkan seolah tidak ada daging yang menempel di wajah dan tangannya. Berbagai macam selang terpasang di tubuh kecil anak itu. Tatapan iba dari sorot mata Gema begitu jelas. Hatinya terasa sakit melihat kondisi seorang anak yang baru saja menjadi yatim piatu akibat ulahnya tersebut.
Bersambung ....
********************************
Terima kasih banyak atas dukungan teman-teman pembaca setia novel Simi. Simi mohon dukungan kalian agar novel ini tetap berjalan dengan cara memberikan
Like dengan klik gambar jempol sampe warnanya jadi merah.
Favoritin dengan klik gambar love sampe warnanya jadi merah.
Komentarin setiap babnya banyak-banyak, sebanyak kenanganmu bersama mantan juga boleh.
Kasih rate bintang 5 yaa, di bagian depan novel ada gambar bintang di pojokan, klian klik dan klik bintang yang ke lima sampe semua berubah warna jadi kuning.
Terakhir ....
Kasih vote juga dooong, 10poin aja nggak apa-apa kok biar author semakin semangat buat update.
Oke kita lanjutkan lagi ceritanya. Terima kasih banyak.
berani tidak author buat scen kayak gini
aku paling sebel kalo BAB kepanjangan. selain itu, kalo mau beralih ke cerita baru pun, aku akan cari episode yg tidak terlalu panjang, kalo bisa di bawah 100 chapters.
Jadi, episodenya pendek, cerita per BAB/chapter nya juga pendek. setelah itu baru deh berharap cerita nya bagus.