[ SEDANG REVISI ]
Apa yang akan kamu lakukan jika ternyata kamu menikah dengan seorang pria pemarah dan sangat egois?
Kalista, seorang wanita smart dan penuh prestasi, terpaksa menerima pahit takdir hidupnya, ketika ia tahu jika pria yang menjadi suaminya ternyata sosok pria pemarah dan sangat egois.
Kalista bahkan seperti tidak pernah melihat cinta dan kasih sayang dari diri suaminya itu. Sampai pada suatu hari, dia berada di ujung kesabarannya saat mengetahui jika suaminya punya hubungan dengan wanita lain.
"Aku minta cerai! " Ucap Kalista
Tiga kata yang keluar dari mulut Kalista yang sudah sejak lama ia pendam dan bungkam.
Apakah keputusan Kalista untuk berpisah dengan suaminya merupakan keputusan yang tepat?
Benarkah jika suaminya, berselingkuh dengan wanita lain seperti dugaan Kalista?
Dan benarkah jika Raditya Gunawan, pria yang sudah memberikan Kalista dua orang anak perempuan itu, sama sekali tak menaruh hati kepada Kalista?
Siapkan kesabaran dan tisu sebelum me
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lv Edelweiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CLBK ( CINTA LAMA BELUM KELAR )
"Kamu sekarang kegiatannya apa? " tanyaku pada Demian saat kami sudah duduk di sebuah cafe.
"Masih sama kayak dulu Lis, ngurusin perusahan Papa di bidang ekspedisi." jawabnya seraya mengambil gelas jusnya.
"Kamu gimana?" tanyanya balik.
"Aku sekarang jadi ibu rumah tangga aja Dem. Aku nggak kerja." jawab ku apa adanya.
"Wah sayang banget ya, perempuan secerdas dan penuh prestasi kayak kamu cuma berdiam diri di rumah." Demian mengasihani aku yang hanya jadi ibu rumah tangga, padahal aku punya banyak sekali bakat.
"Yah mau gimana lagi Dem, aku sibuk ngurusin anak-anak." kata ku sambil tertawa pelan.
"Aku dengar-dengar, kamu uda nikah ya? Kamu kok nggak ngundang-ngundang aku sih. Sombong banget." Cetus ku.
"Maaf ya, kemarin nikahannya mendadak gitu. Nggak ada persiapan yang giman-mana. Yang hadir juga cuma keluarga inti aja kok." jelas Demian.
"Jadi istri kamu sekarang dimana?" tanyaku sedikit kepo dengan rumah tangganya.
Dia lalu menyeruput jus dragon fruit-nya. Lalu menarik nafas dalam.
"Kami uda nggak bersama Lis..." jawabnya lirih.
"Eh, maaf.. maaf... Aku nggak tahu. Istri kamu meninggal?" tanyaku penasaran.
"Cerai! Kami bercerai sudah sejak 5 bulan yang lalu." jawab Demian.
Aku tertegun sejenak. Aku baru saja tahu jika dia sudah menikah melalui akun sosial medianya, eh sekarang aku mendengar kalau dia udah cerai aja. Bisikku.
"Anak...?" tanyaku.
"Kami nggak punya anak Lis. Dia menunda momongan dengan alasan masih mau berkarir katanya." suara Demian terdengar berat saat menceritakan perihal rumah tangganya.
"Kamu yang sabar ya Dem..." aku berusaha menghiburnya.
"Makasih ya Lis, andai dulu aku..." tapi Demian tidak melanjutkan kata-katanya.
"Apa Dem..." tanyaku.
"Ah, enggak apa-apa..." dia lalu tertawa dan kembali meminum jusnya.
Aku menenangkan Kaila yang sudah mulai tidak betah duduk lama-lama. Nampaknya dia haus dan ingin menyusui, tapi mana mungkin aku memberikan Kaila Asi di depan Demian.
"Kamu ikut kan ke acara reuni sekolah kita?" tanya Demian mengubah topik pembicaraan kami.
"Insha Allah sih ikut..."
"Ikut aja, seru kok. Lagian kamu nggak pernah ikut selama kita lulus." Demian ternyata memperhatikan kehadiranku yang selalu absen di acara reuni sekolah.
"Iya, soalnya...." aku mau bilang kalau mas Raditya tidak mengizinkan, tapi aku pikir tidak perlu juga Demian tahu soal betapa egoisnya suamiku.
"Kenapa Kalista?" tanya Demian.
"Eh, enggak apa-apa. Aku punya baby Dem, susah kalau ikut acara ngumpul-ngumpul gitu." aku beralasan lain.
Kaila sudah semakin tidak mau tenang. Sepertinya dia sudah tidak bisa menunggu lagi untuk menyusu.
"Aku kayaknya harus pulang deh, kapan-kapan kita ngobrol lagi ya?" aku berdiri dan merapikan gendongan Kaila.
"Bisa?" Demian bangun dan mendekatiku. Dia membantuku memasang kunci gendongan Kaila.
Deg!
Jantung ku tiba-tiba saja berdebar kencang. Sudah lama aku tidak dapat perhatian seperti ini dari laki-laki. Padahal cuma dibantu mengancing gendongan doang, tapi kok rasanya beda ya? Astaghfirullah, ada apa denganku.
"Udah, ini udah kuat. Kamu hati-hati ya?" pesan Demian.
Aku buru-buru mengambil tas dan kunci motor. Bahaya kalau lama-lama duduk dengan dia. Aku bisa semakin salah tingkah nanti.
"Iya, a.. a... aku pulang dulu ya Dem. Maaf sekali lagi masalah tadi, mobil kamu." kata ku sebelum meninggalkannya.
"Aman, lupain aja. Bahkan aku seneng kamu nabrak mobil aku. Kalau kamu nggak nabrak mobilku kan, kita nggak bakalan ketemu." Demian menganggap musibah tadi seolah anugrah baginya.
"I.. iya juga ya... Ya udah, bye Dem..."
Aku berlalu pergi keluar cafe. Demian terus melihatku sambil tersenyum manis. Iya, manis. Senyum yang hampir tak pernah ku lihat ada di bibir mas Radit. Suamiku.
...****************...
Aku duduk di depan TV dengan Kaila dan Kinan. Kinan sedang mewarnai lukisannya yang tadi tidak selesai dia kerjakan di sekolah.
"Bunda... awannya warna apa?" tanya Kinan.
"Awan itu warna putih." jawab ku.
Dia lalu mencari pewarna yang berwarna putih.
"Tapi nggak ada color yang berwarna putih Bunda." katanya lagi.
"Yah nggak usah di warnai nak, kan buku nya uda putih. Kinan warnai langitnya aja, ya?" jelas ku.
"Langit warna biru ya Bunda?" tanyanya lagi.
Aku mengangguk dan tersenyum padanya. Ku usap pucuk kepalanya.
Tiba-tiba mas Radit datang. Tumben banget dia mau keluar ngumpul sama kami. Biasanya dia suka menyendiri dikamar sambil bermain game online.
"Motor kenapa?" tanyanya padaku.
"Oh, nabrak mobil orang tadi." jawabku santai.
"Kamu selalu gitu, nggak pernah hati-hati." dia mulai marah.
"Aku nggak sengaja mas, dia yang ngerem mendadak. Aku udah hati-hati kok." kata ku membela diri.
"Alah, emang kamunya aja yang teledor. Kamu itu orangnya sembrono. Di rumah ini, apa sih yang nggak rusak ditangan kamu " dia mulai menyudutkan ku.
"Astaga mas, kok gitu sih bicaranya? Yah jelaslah di rumah ini semua rusak ditangan aku, yah karena emang aku yang meng-handle semua isi rumah ini. Emangnya ada pembantu? Kamu juga kalau 24 jam di rumah, semua bisa rusak di tanganmu." aku tidak terima dia sudutkan.
"Trus gimana? Yang punya mobil mau ganti rugi nggak?" dia beralih topik.
"Aku nggak minta, karena ternyata teman SMA ku."
"Siapa? " dia malah jadi kepo.
"Demian..." jawab ku pelan.
"Oh, mantan kamu...? Pantes kamu nggak minta ganti rugi." dia mulai sensi.
"Apaan sih mas, nggak ada hubungan deh. Lagian kalau pun itu orang lain, aku juga nggak bakal minta ganti rugi kok. Cuma lecet dikit doang aja, heboh banget." aku kesal dan mengajak anak-anak untuk masuk kamar.
"Ayo Kinan...." katan ku sambil menggendong Kaila.
Mas Radit benar, Demian memang mantan pacar ku saat masih duduk di bangku SMA. Dia adalah kakak kelasku. Saat itu aku kelas 10 dan Demian kelas 12. Dia menembak ku 3 bulan sebelum dia lulus. Kemudian kami berpisah begitu saja karena Demian harus melanjutkan studinya ke Singapura.
Jadi aku dan Demian tidak begitu punya banyak kenangan masa-masa pacaran. Bahkan kami tak sempat mengutarakan kata putus. Hanya beberapa foto lawas kami yang masih aku simpan. Dan foto itulah yang pernah ditemukan oleh mas Radit, saat mencari sesuatu di box dalam lemari pakaian.
Tapi aku sudah membuang foto itu, sesuai perintah mas Radit. Yah memang aku tak boleh lagi menyimpan kenangan bersama mantan karena sekarang aku sudah menjadi istri orang.
Kaila dan Kinan sudah tertidur. Aku lalu membuka ponselku yang sedari tadi nangkring di dalam tas, sejak pulang dari cafe. Semenjak menjadi seorang ibu, aku memang sedikit tidak perduli dengan HP. syukur-syukur bisa rehat sejenak untuk tidur siang setelah seharian mengurus anak-anak dan rumah, yang sangat menguras tenaga dan pikiran ku.
Ternyata ada satu buah pesan di whatsapp. Aku membuka pesan tersebut, yang dikirim dari nomor yang belum aku simpan contact-nya.
"Hai Kalista, ini aku Demian..." tulis pesan itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Semua berawal dari sini....