Ardan Putra Anjaya seorang dosen lulusan khairo di Universitas Trisakti Bangsa. Penerus satu-satunya keluarga Anjaya. Demi bakti pada orang tua Ardan menerima perjodohan dengan wanita pilihan sang Bunda.
Zahwa Andana Srinata salah satu mahasiswa tempat Ardan mengajar. Memiliki paras yang cantik dan budi pekerti yang baik membuat Marwa menjadi idola kampus, tak ada lelaki yang tak tertarik dengannya. Namun prinsip warna tetap teguh tiada kata pacaran sebelum menikah sesuai ajaran orang tuanya.
Akankah pernikahan Ardan dan Zahwa berakhir bahagia? jika disaat benih cinta mulai muncul kedatangan orang masa lalu yang tak lain adalah kakak dari Zahwa datang untuk menagih janji Ardan untuk menikahinya? apakah yang akan dilakukan Ardan mempertahankan pernikahannya atau justru meninggalkan Zahwa demi sang kakak istrinya???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulia Nofika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kencan Pertama
Bak remaja dilanda asmara, itulah ibarat untuk menggambarkan dua insan yang sedang bahagia itu, dengan bergandengan tangan dan senyum yang mengembang pasangan kekasih halal itu melangkahkan kakinya memasuki salah satu mall terbesar yang ada dikotanya.
Jika boleh jujur mall adalah salah satu tempat yang paling dihindari oleh Ardan, ntah apa alasannya tapi yang pasti ia begitu enggan jika sudah berhubungan dengan itu. Tapi sekarang apa boleh buat, istrinya begitu ngotot mengunjunginya.
Selama berada didalam mall itu Zahwa begitu merasa begitu risih, karena menjadi pusat perhatian pengunjung. Terlebih lagi pandangan para wanita-wanita disana yang tak lepas dari suaminya, ia tau suaminya memang tampan tapi tidakkah mereka menganggap kehadiranya disisi suaminya.
" Kamu kenapa kok lesu gitu?" Ardan bingung ntah apa yang tejadi pada istrinya itu, pasalnya pertama kali memasuki mall ini ia terlihat sangat antusias tapi sekarang ia justru tak lagi bersemangat.
"Apa kamu tak senang? atau apa ada yang mengganggu fikiranmu?" Tanya Ardan kembali karna tak kunjung menerima jawaban istrinya.
" Aku senang mas, aku hanya kesal saja, lihatlah wanita-wanita itu kenapa juga mereka menatapmu seperti itu, mereka tidak melihatku apa? sampai-sampai tatapan mereka seperti orang kelaparan saja" Seru Zahwa dengan menekuk wajahnya.
Mendengar jawaban istrinya, membuat Ardan tertawa dan itu tambah membuat Zahwa semakin kesal.
" Kenapa malah ketawa sih mas, aku itu lagi kesal tau! mas juga kenapa dari tadi senyam-senyum mulu mau tebar pesona gitu!" jutek Zahwa.
" Jadi ceritanya istri mas ini lagi cemburu gitu" Goda Ardan.
" Nggak! aku gak cemburu, aku hanya kesal saja! mas gak usah kegeeran deh"
"Oh jadi gak cemburu ya, padahal mas berharap loh kalo kamu cemburu" Ucap Ardan memasang wajah memelasnya, bukannya kasihan Zahwa justru malah tertawa melihat ekspresi suaminya itu. Ardan yang melihat itu, hanya mengembangkan senyumnya, ia tidak menyangka ternyata sangat mudah mengembalikan mood istrinya itu.
Setelah sedikit drama yang terjadi, Ardan dan Zahwa kembali melanjutkan kencannya. Mencoba berbagai fantasi dan permainan yang ada disana, kebanyakan orang mengunjungi mall pasti untuk shopping atau paling tidak cuci mata. Namun lain halnya dengan Zahwa, shopping bukanlah hobbinya ia akan mengunjungi mall hanya sekedar untuk menikmati berbagai permainan yang ada disina. Meski sering dicap anak kecil namun tak mengubah kebiasaan wanita itu.
Ardan sendiri tak mempermasahkan hobi istrinya itu, justru ia merasa bahagia dan ketenangan sendiri tiap kali melihat tawa dan kebahagian istrinya.
***
Setelah lelah bermain dan berkeliling, Ardan membawa Zahwa ke salah satu restoran yang ada disana untuk makan malam.
" Kamu mau makan apa sayang?" tanya Ardan sembari melihat-lihat menu makanan yang tersedia.
"Hmmm.. Aku mau nasi goreng seefood sama minumnya jus mangga aja deh mas"
" Yasudah, mbak saya samain aja sama istri saya"
" Baik mas, mbak, mohon menunggu sebentar ya"
Sembari menunggu pesanan mereka datang, Ardan dan Zahwa terlihat saling becanda dan tertawa tanpa memperdulikan pandangan pengunjung lainnya.
Ibarat kata orang, jika dua insan dilanda asmara dunia seakan hanya milik berdua, yang lain hanya ngontrak.
" Sayang apa kau tahu, mas rasanya menikahi seorang anak kecil yang baru beranjak dewasa?" Mendengar penuturan suaminya, alis Zahwa terangkat seakan meminta penjelasan.
" Iya benar, mas fikir tadi kamu mengajak mas kesini karena kamu mau shopping seperti kebanyakan perempuan duluar sana, tapi ternyata kamu malah hanya mengajak mas bermain" tutur Ardan sembari menggelengkan kepalanya.
" Aku tidak suka Shopping mas atau apalah namanya itu, paling jika aku membeli baju atau barang-barang lainnya hanya ketika aku benar- benar butuh mas. Bagiku itu semua tidak penting, buat apa coba menghambur-hamburkan uang mending ditabung, kita tidak tahu bagaimana kita kedepannya, jadi setidaknya kita bisa mempersiapkan segala sesuatunya dari sekarang" Jabar Zahwa denga santainya.
Mendengar jawaban istrinya membuat kekaguman dalam diri Ardan kepada istrinya itu, ia tidak menyangka jika dibalik sifat kekanakan istrinya ia memiliki sikap dewasa dan pemikiran yang panjang, bahkan orang-orang yang telah dewasa darinya belum tentu memilikinya.
" Betapa bodohnya aku jika sampai menyia-nyiakan orang sebaik Zahwa, dia memiliki sesuatu yang belum tentu dimiliki orang lain. Aku janji sayang secepatnya cinta itu akan tumbuh untukmu, dan hanya akan aku persembahkan untukmu bukan yang lain." Batin Ardan.
langsung saja aku kasih vote
*hujan dibalik punggung
*suamiku ceo ganas