NovelToon NovelToon
I Hate You, But I Can'T Hate You

I Hate You, But I Can'T Hate You

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Tamat
Popularitas:108.2k
Nilai: 5
Nama Author: Kiky Mungil

Salsa mempunyai seorang kakak laki-laki bernama Fariz, yang paling menyebalkan semuka bumi, dan yang anehnya kakaknya itu mempunyai asisten sekaligus bodyguard yang tidak kalah menyebalkan, namanya Ares. Laki-laki yang selalu berpakaian serba hitam, jarang bicara dan beraura dingin. Berada didekat Ares selalu membuat Salsa seperti berada ditengah-tengah pemakaman.

Ares jauh dari tipe lelaki idaman Salsa. Tapi, sayangnya atau sialnya, perintah Fariz tidak bisa diganggu gugat ketika ia memerintahkan Ares untuk menikah dengan Salsa!

Peristiwa demi peristiwa yang membahayakan nyawa Salsa justru membuat Salsa dapat melihat sisi manis Ares. Sebuah sisi yang membuat rasa aneh tumbuh diantara keduanya.

Akankah rasa itu akan terus tumbuh dan berbunga? Ataukah mati berguguran ketika rahasia dari sebuah jawaban yang selama ini Salsa cari telah terungkap?
.
.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiky Mungil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Empat Mata Antara Ares dan Salsa.

"Apa Kakak membuatmu nggak bahagia, Sal?" tanya Fariz. Pertanyaan kedua yang enggan untuk dijawab oleh Salsa. Karena percuma, menjawab pertanyaan yang diberikan Fariz hanya akan menjadi bumerang untuk Salsa sendiri. Pengalaman hidup mengingatkan Salsa untuk tidak terlalu impusif menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh kakaknya itu.

"Baiklah kalau memang kamu nggak mau jawab, itu artinya kamu akan tetap menikah dengan Ares."

"Kalau aku jawab, apa pernikahannya akan batal?" Ah, Salsa masuk perangkap!

Fariz tersenyum. "Tergantung."

"Apanya?"

"Apakah ada pria lain yang bisa kupercaya melebihi aku percaya pada Ares?"

Salsa memberengut.

"Kamu nggak mau menikah dengan Ares? Oke. Tapi cari penggantinya, harus lebih baik dari Ares, atau minimal sama seperti Ares. Kuberi waktu lima hari."

Salsa bedecak sebal, syarat yang diberikan Fariz tidak berbobot dan tidak berfaedah sama sekali.

"Omong kosong macam apa itu? Kakak hanya menyuruhku mencari batu yang lain?" Salsa menggelengkan kepala, jengkel sekali sampai rasanya ia ingin teriak sekuat-kuatnya. "Apa menjadi pengganti Papa membuat Kakak kehilangan hati Kakak untuk mengerti aku?" tanya Salsa dengan nada sinis yang menusuk hati Fariz.

Pria itu hanya tersenyum tipis. Tidak menjawab. Ya, dia sangat tahu kapan harus menjawab, kapan harus diam. Persis seperti Ares. Atau Ares yang persis seperti Fariz? Ah, entahlah!

Salsa berdiri, ia tertegun sejenak begitu melihat rupanya Ares berdiri di belakang mereka, tatapan mata mereka sempat saling beradu, memberikan sorot emosi yang berbeda.

"Kalian berdua akan masuk ke dalam daftar nama-nama pria yang aku benci, seperti Dafian. Selamat!" Salsa menggerakkan kakinya keluar dari kedai kopi yang tadinya dia pikir akan bisa memberikannya ketenangan setelah kejadian di kampus. Rupanya malah membuat otaknya mumet. Seharusnya, hari terakhir UAS ini akan menjadi hari kemerdekaan untuknya. Tapi kali ini, hari ini akan menjadi hari dimana hari-hari berikutnya akan menjadi perjalanan menuju akhir hidupnya. Tidak akan pernah ada kemerdekaan bagi Salsa.

* * *

Malam menyambut, mengantikan langit biru di atas sana, Bi Itay meletakkan tiga gelas kopi di atas meja yang dikelilingi tiga pria. Ares, Jon dan Fo. Mereka berbincang santai sambil tetap siaga mengecek satu per satu monitor pada layar tablet yang menunjukkan hasil tangkapan cctv yang di pasang di beberapa sudut rumah. Para bodyguard itu sudah lama ikut mengabdi kepada keluara Fariz sejak kedua orang tua Fariz dan Salsa masih hidup. Dibandingkan Jon dan Fo, Ares sudah lebih lama bersama keluarga itu.

Ares bahkan sudah menjadi tangan kanan Fariz sejak mereka sama-sama remaja.Tak heran jika Fariz sungguh mempercayakan Salsa kepadanya dibandingkan lelaki mana pun yang mungkin menjadi pilihan hati Salsa.

Fo menyenggol lutut Ares yang sedang membaca sebuah surel yang berkaitan dengan perusahaan. Fo menggerakkan dagunya ke arah layar monitor yang menunjukkan Nona muda mereka tengah berjalan menuju halaman samping, tempat dimana kini mereka berkumpul di depan kolam renang.

"Apa Nona akan berenang malam-malam begini?" tanya Fo.

"Atau mungkin ingin berbicara pada calon suaminya." Jon nyengir lebar yang hanya direspon dengan gelengan kepala Ares.

"Ah, there she is." Ujar Fo dengan nada rendah. Fo dan Jon juga Ares berdiri begitu Salsa memasuki halaman samping itu.

Gadis itu mengenakan pasmina panjang yang dijadikannya sebagai selendang untuk menutupi bagian atas tubuhnya yang mengenakan piyama tidur.

"Malam Nona." Sapa Fo sopan dan formal.

"Bisa tinggalkan kami?" Meski terdengar seperti pertanyaan yang keluar dari bibir mungil Salsa, namun ketiga pria itu tahu, bahwa pertanyaan itu adalah perintah agar Fo dan Jon meninggalkan Ares bersama Salsa.

Jon dan Fo mengangguk, mereka mengambil gelas-gelas kopi mereka kemudian meninggalkan tempat.

"Kira-kira Nona mau ngomongin apa ke Ares ya?" Bisik Fo.

"Ya mana gue tau. Ikut nimbrung aja sana kalo mau tau." Balas Jon.

Salsa duduk di tempat yang tadi ditempati oleh Jon, di depan Ares. Ares menyusul duduk setelah Salsa menyuruhnya untuk duduk. Mata Salsa menatap jauh kebelakang Ares, menatap kosong pada permukaan air di dalam kolam renang yang tenang.

"Lo tau kenapa gue nggak pernah suka sama orang-orang yang pelihara burung?" Pertanyaan Salsa itu sepertinya akan menjadi pembuka forum perbincangan empat mata di antara mereka malam itu.

Tentu saja Ares tahu. Ares bahkan tahu kemana arah permbicaraan yang diawali dengan pertanyaan semacam itu.

"Tidak." Tapi Ares memilih jawaban yang lain.

"Karena burung berhak untuk bebas mengepakkan sayapnya. Itu adalah haknya untuk terbang bebas, menentukan sendiri ke arah mana dia akan terbang."

Ares diam.

"Meski di luar sana banyak pemburu, tapi bukannya setiap hidup itu memang ada resikonya, ya? Setiap belokan yang kita pilih pasti akan ada rintangannya, pasti ada kerikilnya."

Ares diam, meski kepalanya mengangguk, menyetujui narasi yang diucapkan Salsa.

"Sama halnya dengan gue, Res." Mata Salsa kini menatap Ares, tepat ke dalam sepasang mata yang selalu menatap tajam itu. "Gue pun juga punya hak untuk menentukan kemana gue mau melangkah. Kepada siapa gue ingin melabuhkan hati dan cinta gue. Dengan siapa gue akan mengabdikan diri gue sebagai seorang istri juga seorang ibu untuk keluarga gue."

Ares kembali seperti disiram formalin.

"Dengan siapa pun gue memilih pendamping hidup, pilihan apa pun yang gue ambil untuk masa depan gue, pasti akan ada resikonya, pasti ada rintangannya, pasti ada begalnya. Tapi setidaknya gue nggak akan menyesali semua kesusahan itu karena itu adalah pilihan gue sendiri."

Ares masih cosplay menjadi batu.

"Gue mencoba untuk mengerti setiap peraturan yang dibuat Kak Fariz dalam membatasi hidup gue. Gue mencoba untuk memahami tujuan dia melarang gue ini dan itu. Semua dia lakukan pasti karena dia menyayangi gue, pasti semua itu dia lakukan agar gue terhindar dari kesulitan, patah hati, atau penyesalan lainnya."

"Ya." Oh, pada akhirnya batu itu bersuara. "Seperti yang terjadi pada Nona dan Dafian."

Salsa mengerucutkan bibirnya, ingin membantah, tapi ucapan Ares tidak terbantahkan. Fariz sudah lama mengingatkan Salsa untuk mengakhiri hubungannya dengan Dafian, tapi Salsa terlalu keras kepala dan naif untuk melihat kebusukan dibalik wajah polos Dafian, sehingga buta dengan segala sikap tidak adil Dafian pada hubungan mereka.

"Ya. Gue memang patah hati, tapi apakah gue akan terpuruk? Apakah gue menyesalinya? Enggak. Karena apa yang terjadi sama gue adalah berdasarkan apa yang gue pilih sendiri. Lain halnya jika itu terjadi karena paksaan orang lain. Misalnya seperti pernikahan kita." kata Salsa, ia mulai menegakkan posisi punggungnya.

"Maksud Nona?" tanya Ares. Oh, demi batu yang ada di seluruh bumi, Ares sangat tahu apa maksud Salsa.

"Maksud gue, kita berdua sama-sama tau kalo kita nggak ada perasaan kepada satu sama lain. Gue nggak suka sama lo, begitu pun dengan lo. Lalu Kak Fariz minta kita nikah. Lo setuju hanya karena alasan itu adalah perintah dari Kak Fariz. Oke, gue paham lo sangat setia sama abang gue, tapi gue yakin lo juga pasti punya pilihan hidup lo sendiri kan?"

"Ya, dan saya memilih untuk setia pada apa pun permintaan Tuan Fariz." jawab Ares.

Salsa memejamkan mata, mengepalkan tangan dan menghembuskan napasnya, mencoba untuk bersabar menghadapi ujian yang lebih menjengkelkan dari pada soal kuis dadakan dari dosen killer.

"Res," Salsa memberikan penekanan pada panggilannya untuk pria di hadapannya. "Gue punya mimpi yang sangat sederhana, gue hanya ingin menikah satu kali dalam hidup gue. Gue ingin menikah dengan lelaki yang gue cintai dan mencintai gue. Gue ingin memiliki pernikahan yang bahagia. Gue nggak perduli dengan status sosial, selama pria itu mencintai gue, gue yakin dia akan melakukan apa pun untuk membahagiakan wanita yang dicintainya. Sekarang, coba lo kasih tau gue, gimana gue bisa meraih mimpi sederhana gue kalau gue menikahi pria yang nggak mencintai gue?"

"Jika itu yang menjadi ketakutan Nona, saya akan belajar untuk mencintai Nona, layaknya seorang pria kepada wanita." Satu kalimat itu diucapkan dengan tegas, tanpa keraguan, bahkan Ares tidak mengalihkan tatapan matanya.

Namun disisi lain, Salsa ingin sekali menenggelamkan Ares ke dalam kolam di belakangnya!

.

.

.

Bersambung~

1
Idha Mamanya Afwa Idhan
🤣🤣🤣
Idha Mamanya Afwa Idhan
suit....suit....langsung gas....🤭
Idha Mamanya Afwa Idhan
loe sih Meisya...🤣
Idha Mamanya Afwa Idhan
seruuu
Idha Mamanya Afwa Idhan
agak sebel dngan sikap Salsa...
Idha Mamanya Afwa Idhan
aduh...cepat Ares Salsamu dalam bahaya...
Idha Mamanya Afwa Idhan
sedih yaa.... Ares mengsedihkan...
Idha Mamanya Afwa Idhan
👍👍
Idha Mamanya Afwa Idhan
Mantap Salsa...👍👍👍
Idha Mamanya Afwa Idhan
semangat Salsa....yakinkan Ares tentang persaanmu👍💪💪
Idha Mamanya Afwa Idhan
akhirnyaaa....😄
Idha Mamanya Afwa Idhan
iya deh yang lagi cemburu....🤭🤭
Idha Mamanya Afwa Idhan
nah loh...mkanua jngan asal ucap...🤭
Idha Mamanya Afwa Idhan
au...au...au...🤭
Idha Mamanya Afwa Idhan
😄😄
Idha Mamanya Afwa Idhan
nah loh nah loh...😄
Idha Mamanya Afwa Idhan
🤭🤭🤭🤭
Idha Mamanya Afwa Idhan
tenang Ares...Salsamu sdah mulai nyaman..🤭🤭
Idha Mamanya Afwa Idhan
sudah mulai tumbuh tuh benih²😄😄
ciwizay
2 kali baca karya othor ini ,ceritanya sangat bagus gak rugi marathon
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!