Masih dalam masa berkabung karena ayah dan semua saudara laki-lakinya gugur di medan perang. Bai Ningyuan, putri sulung jenderal Bai harus menerima kenyataan pahit yang sangat menyakitkan.
Putra mahkota, suaminya telah diangkat menjadi kaisar. Tapi titah pertama yang kaisar itu tulis adalah menurunkan pangkat Bai Ningyuan menjadi selir.
Tangan Bai Ningyuan gemetar, suaminya telah menjadikannya selir. Karena harus mengangkat putri perdana menteri Su menjadi permaisuri.
"Nyonya, silahkan berkemas. Dan pindah dari istana timur ini menuju istana Hanzi!" seru Kasim Wang.
"Nyonya..." pelayan di sisi Bai Ningyuan tampak sedih, matanya sudah berkaca-kaca.
"Lin'er, bereskan barang. Yang mulia ingin aku menjadi selir... " Bai Ningyuan terkekeh lirih, "maka aku akan menjadi selirnya!"
'Xuan Pingyan! jangan menyesali keputusanmu ini!' geram Bai Ningyuan dalam hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Bai Ningyuan mencoba melepaskan diri dari Xuan Pingyan. Tapi pria itu malah semakin mempererat pelukannya.
"Mau merajuk sampai kapan? aku salah, aku memang salah. Tapi tidakkah kamu mengerti situasi ku, Ning'er? aku janji, setelah semua baik-baik saja, aku pasti akan memberikan posisi yang layak untukmu!" kata Xuan Pingyan dengan tatapan penuh harap.
Tatapan penuh harap yang ditujukan untuk Bai Ningyuan. Berharap wanita yang dia cintai itu mengerti situasi yang sedang dia hadapi. Dia bukan sengaja tidak datang ke rumah duka, bukan sengaja membiarkan fitnah itu menampar semua keluarga Bai yang tersisa. Tapi situasinya juga rumit.
Mata Xuan Pingyan yang tampak sangat tulus. Mata itu yang tiga tahun lalu membuat Bai Ningyuan percaya pada pria itu. Menyerahkan dirinya dan nama baik keluarganya. Menyerahkan semua dukungan dan kepercayaan. Bahkan membiarkan putranya dijauhkan darinya.
Namun, setelah apa yang terjadi. Bai Ningyuan tidak bisa melihat lagi ketulusan di mata itu. Yang dia lihat saat ini hanya kebohongan, ambisi dan keegoisan seorang kaisar yang tak bisa menerima penolakan.
"Lepaskan aku! aku bisa jalan sendiri...!"
Dukk
Xuan Pingyan memukul tengkuk Bai Ningyuan,
Brukk
Bai Ningyuan jatuh pingsan di pelukan Xuan Pingyan.
"Maafkan aku Ning'er, kamu sudah benar-benar tidak bisa di ajak bicara!" gumamnya pelan, lalu mengangkat tubuh Bai Ningyuan menuju ke kereta kuda miliknya.
"Nyonya..."
"Kamu kembali saja ke istana Hanzi!" kata kaisar pada Lin'er.
Lin'er masih ragu, tapi karena yang ada di depannya adalah kaisar. Mau tidak mau, Lin'er juga pada akhirnya harus kembali.
Di dalam kereta, Lin'er terus memeluk Guqin milik nyonyanya. Sebenarnya dia khawatir, nyonya nya dibawa ke istana kaisar oleh kaisar Xuan Pingyan. Bai Ningyuan biasanya akan mengatakan sesuatu, membiarkannya saja atau memanggil seseorang untuk membantu. Tapi, tadi semuanya terjadi begitu saja. Kaisar membuat nyonya nya pingsan, Lin'er jadi sangat gelisah.
Sementara di kereta kaisar, Xuan Pingyan masih memeluk erat Bai Ningyuan yang bajunya memang sudah basah kuyup. Pria itu bahkan tidak menunggu sampai Bai Ningyuan sadar untuk mencium Bai Ningyuan.
"Aku sangat merindukanmu!" lirih Xuan Pingyan.
Hingga kereta itu sampai di istana kekaisaran. Xuan Pingyan sendiri yang menggendong Bai Ningyuan masuk ke dalam ruang istirahatnya. Sebuah tempat tidur ukuran besar, ada di tengah ruangan itu.
Xuan Pingyan merebahkan tubuh Bai Ningyuan disana. Bahkan dengan tangannya sendiri, dia mengganti pakaian Bai Ningyuan. Sampai beberapa saat kemudian. Bai Ningyuan sadar dan membuka kelopak matanya perlahan.
Dan yang pertama dia lihat saat Bai Ningyuan membuka mata adalah wajah Xuan Pingyan yang matanya berkaca-kaca menatapnya. Bai Ningyuan segera memalingkan wajahnya, tapi pria itu meraih dagu Bai Ningyuan, mencium Bai Ningyuan lagi dengan paksa, bahkan menggigitt bibir Bai Ningyuan.
Bai Ningyuan berusaha mendorong dada Xuan Pingyan. Tapi pria itu sama sekali tidak mau mundur. Hingga setelah beberapa saat, Bai Ningyuan memilih untuk tidak melawan, tapi justru Xuan Pingyan melepaskannya.
"Kita bisa berdamai kan, Ning'er. Aku sangat merindukanmu, aku benar-benar rindu kamu!"
Xuan Pingyan mencengkeram kedua lengan Bai Ningyuan. Dan bicara dengan sangat emosional.
'Berdamai? setelah semua keluargaku matii untukmu. Tapi kamu bahkan tidak bisa membersihkan nama mereka? dalam mimpimu saja Xuan Pingyan!' pekik Bai Ningyuan dalam hatinya.
Tapi Bai Ningyuan berusaha menahan amarahnya. Dia menghela nafas sangat panjang. Kalah dia tidak bicara baik-baik dengan Xuan Pingyan. Dia tidak akan bisa memasukkan obat itu di minuman Xuan Pingyan.
"Aku haus!" kata Bai Ningyuan tiba-tiba.
Tapi tetap saja, Bai Ningyuan bicara tanpa melihat ke arah Xuan Pingyan. Rasanya dia masih sangat muak.
"Aku akan ambilkan minum. Kamu masih suka anggur persik kan? aku sudah minta Kasim Wang membelinya sangat banyak. Aku akan panggil kasim Wang!" Xuan Pingyan tampak begitu antusias.
Pertama kalinya setelah peristiwa duka itu. Bai Ningyuan meminta sesuatu padanya. Xuan Pingyan segera berdiri dan berjalan ke arah luar.
Bai Ningyuan melihat ada cangkir teh di atas meja, ada juga beberapa kue osmanthus di sana. Bai Ningyuan meraih tusuk konde emas yang ada di hiasan rambutnya. Seorang jenderal, memang memiliki alat semacam itu. Dimana ada sesuatu yang bisa di sembunyikan di baliknya. Dan sebelum berangkat ke taman timur, Bai Ningyuan memang sudah meletakkan beberapa obat itu di tusuk konde emasnya itu.
Bai Ningyuan cepat-cepat mengambil obat itu, dia meremassnya menjadi serbuk dan menaburkan ke dalam teko teh. Juga ke kue osmanthus yang ada di atas meja.
Begitu suara langkah mendekati pintu, Bai Ningyuan kembali duduk di tepi tempat tidur. Dia merapikan pakaian yang tadi diganti oleh Xuan Pingyan.
"Lihat ini, Ning'er! aku bawa anggur persik kesukaanmu!"
"Kamu yang ganti pakaian ku?" tanya Bai Ningyuan mengalihkan perhatian.
"Iya, kita suami istri. Aku rasa..."
"Tapi aku sudah tak suka anggur buah persik. Ayah dan kakakku tak senang anggur buah persik itu!" kata Bai Ningyuan menatap guci anggur ukuran kecil yang ada di tangan Xuan Pingyan.
Xuan Pingyan menghela nafas panjang.
"Baiklah, aku akan cari yang lain!"
"Tidak perlu yang mulia. Sudah larut, para pelayan seharusnya istirahat. Aku akan minum teh saja!" kata Bai Ningyuan yang berjalan ke arah meja.
Bai Ningyuan membuka cangkir dan menuangkan teh yang ada dalam teko ke dalam cangkir. Ya, teko yang sama, dimana obat perusak kesuburan itu dia masukkan ke dalamnya.
Bai Ningyuan bahkan tidak berpikir dia harus punya anak lagi. Dia hanya ingin balas dendam, pada Xuan Pingyan, seluruh anggota kerajaan, dan pada perdana menteri Su yang selalu mengambil hasil kerja ayahnya dan keluarganya.
Bai Ningyuan meminum teh yang ada di cangkir itu. Xuan Pingyan juga mendekat, dia duduk di sebelah Bai Ningyuan.
"Kamu akan kembali ke istana Hanzi? tidak bisakah bermalam disini? Ning'er aku sungguh merindukanmu!"
Bai Ningyuan membuka cangkir satu lagi, menuangkan teh dan memberikannya pada Xuan Pingyan.
"Baiklah, anggap aku berterima kasih. Kamu sudah mengganti pakaian basahku!" kata Bai Ningyuan.
Xuan Pingyan tersenyum, dia menenggak dalam satu kali tegukan teh yang diberikan oleh Bai Ningyuan.
Bai Ningyuan menuang lagi satu cangkir, dan mendorongnya ke arah Xuan Pingyan.
"Teh istana kaisar, memang paling enak!"
"Kamu benar, kalau mau seringlah datang. Aku akan menemanimu minum teh!" kata Xuan Pingyan yang meneguk satu cangkir lagi.
Bai Ningyuan mengangguk perlahan. Itu cukup membuat Xuan Pingyan tidak waspada.
'Tidak ada lain kali, bahkan satu cangkir saja sudah cukup untuk memutus keturunan mu, yang mulia!" batin Bai Ningyuan.
***
Bersambung...
Kalau Bai Ningyuan mah santuy, untuk apa cari perhatian kaisar lagi..
Toh cinta nya saat ini udah mati..
Yg ada di hati nya hanya balas dendam atas keluarga nya yg telah mati & gak dihargai.. 🤭