"Saya tidak melihat."
"Ya liat yang bener dong!"
"Kamu terlalu kecil."
"Hah?!"
"Jadi kamu minta saya untuk tanggung jawab?"
"Iya."
"Baik. Buka baju kamu."
"Hah! Jangan ngomong sembarang ya!"
Gara-gara terciprat air lumpur, Azel nekat menghadang mobil seorang pria asing.
Siapa sangka pria itu adalah dosen yang paling ditakuti di kampusnya. Belum selesai rasa kesalnya, ternyata dosen kaku itu adalah ayah dari Arjun, anak kecil yang begitu dekat dengannya.
Di balik sikap dosennya, Ibrahim Rabbani Mahendra, ia menyimpan luka di masa lalu.
Pertemuan demi pertemuan membuat hidup mereka perlahan berubah. Saat seorang anak kecil menjadi penghubung, takdir membawa Azel pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Mampukah Azel menerima takdirnya?
Sementara Ibra mulai menyadari bahwa gadis bernama Arzelia Nayesha Mahina Ghazi bukanlah orang asing dalam hidupnya. Sebuah nama keluarga membawa kembali kenangan masa kecil yang telah lama ia tinggali.
Spin Off novel 'Dari Ribut Jadi Jodoh'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Ibra mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang jauh di atas biasanya. Tangannya mencengkeram setir begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Klakson dari kendaraan lain terus bersahutan ketika mobil BMW hitam itu beberapa kali berpindah jalur. Namun, sedikit pun ia tidak memedulikannya.
Yang memenuhi kepalanya saat ini hanya satu nama. Arjun.
Beberapa menit yang lalu, ponselnya berdering ketika ia masih berada di ruang dosen. Nama yang muncul adalah wali kelas Arjun.
Awalnya Ibra mengira hanya panggilan biasa. Namun begitu telepon diangkat, suara panik guru itu membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.
"Pak Ibra, mohon segera ke Rumah Sakit. Arjun terjatuh saat bermain di sekolah. Kepalanya terbentur dan mengalami pendarahan. Kami sudah membawanya ke IGD."
Kalimat itu terus terngiang di telinganya. Hembusan napas kasar keluar dari rongga hidungnya. Dadanya terasa sesak.
"Tolong..." gumamnya lirih.
"Jangan sampai terjadi apa-apa lagi."
Lampu lalu lintas di depan berubah merah. Ibra menghentikan mobilnya dengan susah payah. Jemarinya bergetar.
Ia memejamkan mata sejenak. "Ya Allah... Jangan ambil Arjun."
"Jangan."
Sejak ibunya meninggal, Arjun adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki. Satu-satunya alasan ia tetap bangun setiap pagi. Satu-satunya orang yang membuat rumah kecilnya terasa hidup.
Ia tidak sanggup membayangkan. Bagaimana jika sesuatu terjadi pada putranya.
Lampu berubah hijau. Mobil kembali melaju. Sepanjang perjalanan, bibir Ibra tak henti melantunkan istigfar dan doa.
"Ya Allah... Lindungilah anakku. Kalau musibah ini adalah ujian biarkan aku yang menanggungnya. Jangan Arjun."
Aku yang menjauh dari-Mu, aku yang salah. Jangan ke anakku."
Beberapa menit kemudian, bangunan rumah sakit mulai terlihat dari kejauhan.
Begitu mobil berhenti di depan pintu IGD, Ibra bahkan tidak sempat memarkirkannya dengan rapi. Ia langsung turun dan berlari masuk.
"Maaf, Pak! Mobilnya!" Suara petugas parkir memanggil dari belakang.
Namun Ibra tidak mendengarnya lagi. Dengan napas yang memburu, ia menghampiri meja perawat.
"Maaf... Anak saya... Arjuna Mahendra. Katanya dibawa ke sini."
"Dia di mana?"
Begitu melihat Ibra berlari memasuki IGD, wali kelas Arjun, Bu Zinda, segera menghampirinya. Wajah perempuan itu tampak pucat dan penuh rasa bersalah.
"Pak Ibra..."
Ibra langsung menghentikan langkahnya. "Bu Zinda, di mana anak saya?" Suara Ibra terdengar berat, berusaha tetap tenang meski napasnya masih memburu.
"Arjun masih ditangani dokter, Pak. Dia baru saja dibawa masuk."
Belum sempat Bu Zinda menjelaskan lebih jauh, Ibra sudah kembali berlari menyusuri lorong IGD.
"Pak Ibra...!" Panggilan Bu Zinda tak lagi didengarnya.
Yang ada di benaknya hanya satu. Arjun.
Sesampainya di depan ruang tindakan, ia langsung hendak masuk. Namun seorang perawat segera menghalanginya dengan sopan.
"Maaf, Pak. Saat ini dokter masih menangani pasien. Silakan menunggu di luar. Tapi itu anak saya. Saya harus melihatnya."
"Maaf, Pak. Kami sedang menghentikan perdarahannya. Dokter akan memanggil Bapak setelah tindakan awal selesai."
Langkah Ibra akhirnya terhenti. Tangannya mengepal begitu kuat. Dari balik pintu ruang tindakan, terdengar samar suara tangis seorang anak.
"Ayah..." Suara itu membuat dada Ibra terasa diremas.
"Arjun..."
Ia spontan melangkah lagi, tetapi perawat kembali menahannya. "Pak, mohon tenang. Dokter sedang bekerja."
Ibra memejamkan mata. Air mata menggenang di pelupuk matanya. Ia bersandar lemah pada dinding lorong rumah sakit. Bibirnya tak berhenti beristigfar.
"Astaghfirullah..."
"Astaghfirullah..."
Tak lama kemudian, Bu Zinda datang menghampiri dengan langkah pelan.
"Pak... Saya benar-benar minta maaf."
Ibra mengangkat kepalanya. "Apa yang sebenarnya terjadi?"
Bu Zinda menundukkan pandangannya. "Jam istirahat tadi, anak-anak bermain di taman sekolah. Awalnya semuanya baik-baik saja. Tapi, Arjun sempat dibully oleh beberapa temannya."
Mata Ibra langsung berubah tajam. "Dibully?"
"Iya, Pak. Mereka mengejek Arjun karena tidak punya ibu. Mereka bilang Arjun anak yang tidak diinginkan."
Rahangan Ibra mengeras. Dadanya kembali sesak.
"Arjun tidak membalas. Dia hanya menangis lalu berlari menjauh. Namun saat berlari, kakinya tersandung permainan di taman. Kepalanya membentur sudut bangku besi. Darah langsung keluar cukup banyak. Kami segera memberikan pertolongan pertama dan membawanya ke rumah sakit."
Setelah mendengar penjelasan itu, Ibra hanya mampu menundukkan kepala. Tangannya bergetar hebat. Bukan karena marah semata. Melainkan karena rasa bersalah yang kembali menghantam dirinya.
"Maafkan Ayah, Arjun..."
"Ayah tidak ada saat kamu membutuhkannya..."
***
Dokter baru saja selesai memeriksa luka di kepala Arjun. Setelah memastikan perdarahan mulai terkendali, ia melepas sarung tangan dan menghampiri Ibra yang sejak tadi menunggu.
"Anda ayah Arjun?" tanya dokter.
Ibra mengangguk cepat. "Iya, Dok. Bagaimana kondisi anak saya?"
"Luka di kepalanya cukup dalam. Berdasarkan keterangan dari guru, Arjun terjatuh karena tersandung dan mengenai sudut bangku besi. Akibat benturan itu, kulit kepalanya robek dan harus segera dijahit."
Wajah Ibra langsung menegang.
"Syukurlah, dari pemeriksaan awal Arjun dalam keadaan sadar, bisa merespons ketika diajak bicara, dan tidak menunjukkan tanda-tanda cedera otak berat. Namun, setelah penjahitan nanti kami tetap akan mengobservasinya beberapa jam untuk memastikan tidak muncul gejala seperti muntah berulang, penurunan kesadaran, atau keluhan lain akibat benturan."
Dokter kemudian tersenyum tipis untuk menenangkan Ibra. "Pak, setelah lukanya dijahit nanti kemungkinan besar Arjun akan baik-baik saja. Yang paling kami khawatirkan justru kalau dia terus meronta saat tindakan. Itu bisa membuat proses penjahitan menjadi lebih sulit dan meningkatkan risiko lukanya tidak tertangani dengan optimal."
Dokter kemudian melirik ke arah Arjun yang sejak tadi menangis tanpa henti. "Guru yang mengantarnya juga menyampaikan bahwa sebelum jatuh, Arjun sempat diolok-olok teman-temannya karena tidak memiliki ibu. Kemungkinan besar kejadian itu membuat kondisi emosionalnya semakin buruk. Ditambah rasa sakit akibat luka di kepala, wajar bila dia sangat ketakutan."
Tangisan Arjun kembali terdengar. "Ayah... aku mau Kak Azel... kak Azel..."
Dokter menatap Ibra. "Sejak tiba di sini, dia terus memanggil nama Kak Azel. Kami sudah berusaha menenangkannya, tetapi setiap kali akan kami dekati untuk membersihkan luka, dia semakin panik."
Ibra menoleh ke arah putranya yang terus menangis.
"Pak," lanjut dokter dengan tenang, "anak seusia Arjun biasanya memiliki seseorang yang menjadi safe person atau figur yang membuatnya merasa paling aman. Dalam kondisi stres, kesakitan, atau ketakutan seperti sekarang, mereka secara naluriah akan mencari orang tersebut. Kalau memang Azel adalah orang yang dimaksud, saya sarankan segera hubungi beliau. Kehadirannya bisa membantu Arjun merasa lebih tenang. Itu akan memudahkan kami memberikan anestesi lokal dan menjahit lukanya dengan aman. Memaksa anak yang terus meronta saat penjahitan justru bisa meningkatkan risiko tindakan menjadi lebih sulit."
Dokter memberikan senyum menenangkan. "Bukan berarti Arjun tidak percaya kepada Anda sebagai ayahnya. Hanya saja, dalam kondisi emosinya sedang sangat tinggi, otaknya mencari sosok yang selama ini ia asosiasikan sebagai tempat paling aman. Itu merupakan respons yang cukup sering kami temui pada anak-anak seusianya."
Ibra menatap dokter beberapa saat tanpa berkedip. Dadanya terasa semakin sesak.
Safe person... Ia tidak pernah menyangka bahwa sosok yang dicari putranya bukanlah dirinya.
Tatapannya perlahan beralih ke arah ruang tindakan.
Di sana, Arjun masih menangis tersedu-sedu.
"Ayah... Aku nggak mau disuntik. Aku mau Kak Azel..."
Tangisan itu terdengar begitu memilukan. Ibra mengepalkan tangannya kuat-kuat. Untuk sesaat, perasaan bersalah kembali menghantamnya.
"Bahkan saat dia ketakutan seperti ini. Yang dia cari bukan aku."
Namun ia segera menggeleng pelan. Ini bukan waktunya meratapi diri sendiri. Yang terpenting sekarang, Arjun harus segera ditangani.
Ibra mengangguk kepada dokter. "Saya mengerti, Dok. Saya akan menghubunginya."
"Baik. Semakin cepat semakin baik, Pak."
Dokter kembali masuk ke ruang tindakan. Sementara Ibra berdiri mematung di lorong rumah sakit.
Ia mengeluarkan ponselnya dari saku. Jempolnya berhenti tepat di sebuah nama kontak.
Arzelia.
Ia menatap nama itu cukup lama. Rasa sungkan memenuhi hatinya.
"Apa pantas aku mengganggunya? Apa dia mau datang? Dia bukan siapa-siapa bagi Arjun."
Namun tangisan putranya kembali terdengar dari balik ruang tindakan.
"Ayah... Aku mau Kak Azel..."
Ibra memejamkan mata sejenak.
Tidak.
Ia harus mencoba. Demi Arjun.
Tanpa berpikir panjang lagi, ia menekan tombol panggil.
Di saat yang bersamaan, Azel baru saja selesai kuliah. Ia masih berada di parkiran kampus bersama motornya. Helm yang tadi hampir ia kenakan kembali ia jatuhkan ke jok motor.
Ponselnya berdering. Nama yang muncul di layar membuatnya mengernyit.
Pak Ibra Kaku.
"Hah?! Ngapain nih dosen kaku nelpon?"
Azel teringat kejadian beberapa jam lalu. "Bukannya tadi Pak Ibra pergi dengan wajah panik ya?"
Entah kenapa, firasatnya mendadak tidak enak. Tanpa menunggu lama, ia langsung menggeser ikon hijau.
"Assalamu'alaikum, Pak."
"Wa'alaikumussalam." Suara Ibra terdengar pelan.
Namun, tidak ada kalimat lanjutan.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Azel sampai menjauhkan ponselnya sejenak untuk memastikan sambungan telepon masih tersambung.
"Pak? Halo? Bapak masih di sana?"
Di seberang sana Ibra menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya, ia merasa begitu sulit mengucapkan sesuatu.
Akhirnya ia memberanikan diri. "...Saya boleh minta tolong?"
Nada suaranya terdengar jauh lebih rendah dari biasanya.
Azel langsung berdiri tegak. "Iya, Pak. Ada apa?"
"Tolong datang ke rumah sakit."
Jantung Azel seketika berdegup lebih cepat. "Rumah sakit?"
"Arjun terjatuh di sekolah. Kepalanya berdarah. Dia harus dijahit."
Kalimat itu membuat wajah Azel langsung pucat. "Ya Allah... Terus sekarang gimana, Pak?"
Ibra memejamkan mata. "Dia... terus memanggil nama kamu. Dokter bilang kalau kamu datang mungkin Arjun bisa lebih tenang."
Tanpa berpikir sedikit pun, Azel langsung menjawab, "Saya segera ke sana, Pak. Bapak kirim saja lokasi rumah sakitnya."
Ibra akhirnya mengembuskan napas lega. "Baik. Terima kasih, Azel."
Panggilan pun berakhir.
Beberapa detik kemudian, sebuah pesan masuk ke ponsel Azel. Berisi lokasi rumah sakit tempat Arjun dirawat.
Azel langsung mengenakan helmnya dengan tangan yang sedikit gemetar.
Dalam hati ia terus berdoa. "Ya Allah... semoga Arjun tidak kenapa-kenapa."
Tanpa membuang waktu lagi, ia menyalakan motornya dan melaju menuju rumah sakit sesuai titik lokasi yang dikirim Ibra.
***
Langkah tergesa-gesa terdengar memenuhi lorong IGD. Azel berlari kecil menyusuri koridor rumah sakit. Napasnya memburu karena sepanjang perjalanan ia terus diliputi rasa cemas.
Begitu menemukan nomor ruangan yang dikirim Ibra, ia langsung mendorong pintunya perlahan. Matanya seketika mencari sosok Arjun.
Di atas brankar, bocah kecil itu masih menangis. Di kepalanya sudah ditempel kasa sementara yang mulai memerah karena darah. Seorang perawat tampak berdiri di samping dokter, namun keduanya belum berani melanjutkan tindakan karena Arjun terus meronta.
Sementara itu, Ibra duduk di sisi brankar. Wajahnya terlihat lelah dan penuh kecemasan. Begitu mendengar pintu terbuka, Arjun menoleh.
Matanya yang sembab langsung berbinar. "Kak..."
"Kak Azel..." Tangisnya kembali pecah.
Azel segera menghampiri. Ibra langsung berdiri dan memberi ruang untuknya.
"Terima kasih sudah datang." Suara Ibra terdengar lirih.
Azel hanya mengangguk kecil. Pandangan gadis itu sepenuhnya tertuju pada Arjun.
Ia duduk di sisi brankar, lalu menggenggam tangan mungil bocah itu.
"Arjun... Hei... Nggak apa-apa ya. Arjun kan anak yang kuat. Kak Azel sudah di sini."
Tangisan Arjun perlahan mereda. "Aku... mau Kakak di sini."
"Iya. Kak Azel di sini..Nggak ke mana-mana."
Azel mengusap perlahan air mata di pipi Arjun. Kemudian ia membelai rambut bocah itu dengan sangat lembut, berhati-hati agar tidak mengenai bagian kepalanya yang terluka.
"Arjun lihat Kakak."
Bocah itu mengangkat wajahnya. "Tarik napas pelan..."
"Iya... Bagus."
"Keluarkan pelan-pelan."
Arjun mengikuti arahan Azel. Tangisnya mulai berubah menjadi isakan kecil.
Dokter yang memperhatikan dari samping saling bertukar pandang dengan perawat. Perubahan itu terjadi begitu cepat.
Beberapa menit yang lalu, Arjun terus meronta dan menolak siapa pun mendekat. Kini anak itu mulai tenang.
Dokter melangkah mendekat. "Arjun... Boleh Om Dokter lihat lukanya lagi?"
Arjun langsung memegang tangan Azel lebih erat. Tatapannya mencari kepastian.
Azel tersenyum hangat. "Nggak apa-apa ya, Kakak di sini. Nggak akan ninggalin Arjun."
Bocah itu akhirnya mengangguk pelan. "Iya..."
Dokter tersenyum lega. "Terima kasih."
Ia kemudian menatap Ibra. "Pak, kondisi Arjun jauh lebih tenang sekarang. Lukanya harus segera dijahit sebelum efek anestesinya terlambat diberikan."
Ibra mengangguk. "Tolong, Dok."
Dokter kembali menoleh kepada Azel. "Kalau Anda berkenan tetap dampingi Arjun selama proses penjahitan. Kehadiran Anda sangat membantu membuatnya merasa aman."
Azel melirik Ibra sejenak.
Ibra membalas tatapan itu dengan anggukan kecil. "Tolong..."
ucapnya pelan.
Tanpa ragu, Azel kembali menggenggam tangan Arjun. "Iya, Dok. Saya akan tetap di sini."
Di sudut ruangan, Ibra memperhatikan keduanya dalam diam. Ada rasa lega yang perlahan memenuhi dadanya.
biarkan apa yg oma arsyila ucapkan mnjadi kenyataan amiin
jjr slalu ada /Sob/kadang luka yg berujung trauma blm tentu bisa stiap org hadapi apalagi smpai berujung ke hal yg merugikan dan negatif
amiiiin
bnyak hikmah dlm stiap critamu
sejak kemunculan arjun bawaan stiap bc pasti sedih,menangis
ya allah