NovelToon NovelToon
Pernikahan Yang Tak Diinginkan

Pernikahan Yang Tak Diinginkan

Status: tamat
Genre:Perjodohan / CEO / Anak Yatim Piatu / Kaya Raya / Keluarga / Persahabatan / Romansa / Tamat
Popularitas:3.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: Renko

✏ Season 1: Pernikahan Yang Tak Diinginkan (Ainsley)

Ainsley terpaksa menjalani pernikahan wasiat, menikah dengan suami kakaknya sendiri. Dia yang tidak tau penyebab kematian kakaknya harus bekerja sama dengan sang suami untuk mengusut kematian. Bisakah mereka menemukan pelaku di balik rencana pembunuhan? Lalu, bagaimana akhir dari kisah pernikahan wasiat?


✏ Season 2: Pernikahan Yang Tak Diinginkan (Gavin)

Kisah cinta pertama Gavin harus kandas ketika dia melanjutkan pendidikan di luar negeri. Beberapa tahun setelah itu mereka bertemu lagi dan membuat harapan muncul untuk kembali bersama. Sayangnya pengganggu kecil muncul di tengah itu semua, wanita dengan segudang kecerobohan. Pada siapa hati Gavin akan berlabuh?

___

Semoga novel ini satu selera denganmu 😊

Cek istagram @justrenko untuk informasi novel lainnya~


Terima kasih atas support readers dan NovelToon/MangaToon terhadap novel ini 💛

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6: Teman Baru

Kamar kosong tanpa ada Emily di dalamnya. Zack bergegas memakai pakaian, lalu keluar kamar. Dari lantai atas matanya mencari-cari di mana Emily, namun Zack masih belum menemukannya.

Setelah menuruni tangga baru lah Emily muncul. Wajahnya terlihat murung memikirkan sesuatu setelah keluar dari ruang kerja.

"Kau menemukannya?"

Emily mengangkat sedikit dagunya dan seketika wajahnya ceria kembali. Emily memamerkan kertas yang sudah diberi cap stempel, lalu berlalu sambil tersenyum. Meninggalkan Zack di belakang, Emily kembali berubah murung.

Zack yang berpikir bahwa kemurungan Emily adalah perasaannya saja, menyusul langkah Emily. Dari belakang Zack melingkarkan lengannya di leher wanita yang sudah menjadi istrinya sekarang.

"Apa yang kau lakukan, Zack?" tertawa geli.

"Jangan menghindar." tetap mempertahankan pelukan.

Masih dalam keadaan memeluk, Zack melangkah seiring langkah Emily yang terus berjalan maju dan menuruti Emily yang membawa langkah-langkah itu menuju kamar. Usai map diletakkan, Zack mengarahkan Emily mendekati tempat tidur mereka.

"Kau seperti anak kecil." tersipu malu.

"Jangan sebut aku seperti itu. Aku juga bisa menjadi pria dewasa malam ini." memutar badan Emily menghadap padanya.

Zack menatapnya sebentar sebelum menempelkan bibirnya pada bibir Emily. Perlahan Emily dituntun duduk di atas ranjang, disusul oleh Zack yang tidak berniat melepaskan ciuman itu. Tangannya perlahan bergerak turun melepaskan pakaian Emily.

Spontan Emily mendorong Zack sebagai sebuah bentuk penolakan. Emily masih terbayang akan kebenaran yang baru saja ditemukannya di ruang kerja. Hal itu membuat dirinya tidak nyaman jika harus melakukan sesuatu yang lebih bersama Zack.

"Ada apa?"

"Aku.." ragu-ragu.

"Apa aku terlalu tergesa-gesa? Maafkan aku." memeluk Emily.

Mereka bingung harus bersikap bagaimana mengatasi situasi yang mereka hadapi saat ini. Zack yang berusaha melupakan masa lalunya, akan tetapi sulit untuk mencintai orang lain. Sedangkan Emily yang sangat ingin memiliki Zack, namun terhalang oleh kebenaran yang menyesakkan dada. Apalagi ketika mengetahui siapa orang yang ada di dalam gambar.

***

Ainsley bekerja di sebuah restoran bernama Le Wish. Itu adalah tempat terakhir yang memperkerjakannya dengan durasi yang sangat lama, lebih kurang 4 tahun. Beruntung pemilik dari restoran hanya ingin hasil kinerja tanpa memedulikan bagaimana kehidupan pribadi pegawainya.

Sebelumnya Ainsley bekerja di tempat lain. Ainsley pernah bekerja sebagai kasir, pegawai toko, dan pelayan restoran. Akan tetapi dirinya ditindas oleh sesama partner kerjanya. Gosip beredar mengatakan bahwa dirinya adalah anak hasil di luar nikah, penipu, pembuat onar, dan lain sebagainya. Hal tersebut berdampak pada jumlah pelanggan sehingga dirinya berakhir pada sebuah pemecatan.

Di jam istirahatnya Ainsley begitu sibuk memandangi layar ponsel. Telunjuknya menggulir layar ke atas dan ke bawah. Sebuah memo dibuka memperlihatkan berapa jumlah uang yang sudah terkumpul. Tabungannya sudah cukup untuk membayar biaya masuk ke perguruan tinggi selama beberapa semester. Melalui ponselnya Ainsley mencari informasi mengenai ujian masuk di perguruan tinggi yang diinginkan.

"Kau akan mendaftar di tempat itu?"

Suara yang berasal dari arah punggung mengagetkannya. Secepat mungkin Ainsley berdiri dan menyimpan ponsel. Jemarinya saling berpeluk satu sama lain. Ainsley menunduk tanpa berani mengangkat kepala.

"Kenapa kau begitu ketakutan? Oh, ya! Perkenalkan, namaku Juni." mengulurkan tangan.

Ainsley enggan berbicara dengan orang asing. Apalagi orang tersebut adalah pegawai yang bekerja di tempat yang sama dengannya. Penindasan yang selama ini diterima olehnya sudah cukup membuatnya tidak mau lagi berurusan dengan mereka.

"Aku juga akan mendaftar di sana. Bagaimana kalau kita pergi bersama?"

Semangat yang terpancar dari orang yang masih mempertahankan uluran tangan itu membuat Ainsley goyah. Rasa ingin memiliki sebuah hubungan pertemanan kembali hadir. Jika diingat lagi kini Ainsley hanya seorang diri setelah Emily menikah. Lembaran baru yang dibuka oleh kakaknya juga memacu dirinya untuk menyusul langkah yang sama.

Ragu-ragu Ainsley melepaskan pelukan jemarinya, mengangkat tangan, dan menyambut uluran itu. Tangan sebelahnya lagi menahan lengannya yang gemetar. Bertahun lamanya tidak bersosialisasi dengan orang baru membuat dirinya sedikit gugup.

"Yeay!! Akhirnya aku punya teman untuk diajak pergi!!"

Ainsley bingung kenapa Juni bersorak kegirangan. Seharusnya dirinya lah yang memasang ekspresi kebahagiaan itu karena akhirnya ada orang yang mau berbicara dan pergi dengannya.

***

2 minggu kemudian seperti janji yang telah ditetapkan sebelumnya, mereka bertemu di depan gerbang kampus. Kemudian masuk ke dalam gedung dan menjalani ujian masuk perguruan tinggi. Mereka mengerjakan ujian dengan sangat fokus. Terlihat dari cara mereka menatap soal-soal, tanpa terusik akan gangguan kecil dari sekitar mereka.

Sebelumnya Ainsley sudah belajar dengan sangat giat. Ainsley belajar di segala kesempatan. Ketika istirahat bekerja, pulang bekerja, dan waktu kosong lainnya. Semangatnya menggebu-gebu untuk bisa lulus tahun ini.

Ujian selesai pada siang hari. Mereka sangat yakin dengan lembaran jawaban mereka meski ada beberapa soal yang tidak dapat dipecahkan. Namun dibalik kekurangan itu mereka sangat senang karena sudah berusaha keras.

"Aku punya banyak teman tetapi tidak seorang pun dari mereka mengajakku bermain. Mereka bilang aku anak yang sangat berisik. Untuk itu aku sangat berterimakasih padamu karena sudah mau pergi bersamaku."

Ainsley terbahak mendengar pendapat orang-orang mengenai Juni. Ainsley juga berpikiran sama dengan mereka, mengingat Juni yang tidak berhenti mengoceh sejak mereka keluar dari ruang ujian.

Juni menjadi murung akibat respon Ainsley yang sama dengan temannya kebanyakan. Tadinya Juni berpikir jika Ainsley tidak seperti mereka, akan tetapi tawa yang seakan mengejek itu melunturkan anggapan Juni mengenai Ainsley. Juni terlalu menilai tinggi sosok wanita pendiam itu.

Ainsley jadi merasa bersalah karena Juni hanya diam tidak berkomentar. Ainsley sadar kalau seharusnya tidak tertawa di situasi yang mana mereka baru saja berkenalan. Ada banyak hal yang tidak diketahuinya tentang Juni. Bisa saja Juni tersinggung dengan sikapnya.

"Ehem.. Aku yang harusnya berterimakasih padamu. Sebelum kau mengajakku berbicara, tidak ada seorang pun yang datang untuk berbicara padaku seperti yang kau lakukan. Kebanyakan dari mereka hanya datang dan berbicara untuk menindasku. Mereka bilang aku anak yang tidak jelas asal usulnya, penipu, pembuat onar, dan hal buruk lainnya." tertawa membayangkan hinaan yang didapat selama ini.

"Ceritakan lebih banyak tentangmu. Aku ingin mendengarnya."

Sikap antusias Juni membuat Ainsley semakin merasa bahwa Juni memang sangat ingin berteman dengannya. Oleh karena itu Ainsley setuju untuk membagikan kisah hidupnya saat di panti asuhan dan saat bahagianya bersama keluarga barunya.

"Kalau begitu dengarkan ceritaku baik-baik."

Sewaktu kecil Ainsley tinggal di panti asuhan. Ainsley belum pernah bertemu dengan orangtua kandungnya. Pengurus panti asuhan mengatakan bahwa dirinya ditemukan di teras panti asuhan. Hanya itu informasi yang diperolehnya mengenai orangtuanya.

Beberapa kali Ainsley diadopsi, akan tetapi mereka yang menjadi pengadopsi mengembalikannya. Mereka mengatakan bahwa Ainsley terlalu pendiam untuk dijadikan seorang anak, bahkan dari mereka ada yang mengira bahwa Ainsley adalah anak yang bisu. Padahal Ainsley hanya tidak tau bagaimana menyikapi orang-orang yang membenci dirinya.

Ainsley berhenti pada bait di mana cerita kegelapan masa lalunya terjadi. Ainsley tidak ingin jika cerita itu menjadi penghalang dirinya untuk berteman. Ainsley tidak ingin Juni mengira bahwa dirinya adalah anak yang buruk seperti anggapan orang selama ini terhadapnya.

Ainsley mengusap punggungnya sebentar, lalu kembali bersuara, "Aku diadopsi oleh orang-orang baik dan tinggal bersama mereka dengan bahagia, tetapi kecelakaan mengambil mereka dari hidupku. Aku kehilangan orangtua yang mengadopsiku dan kini aku hanya bertahan hidup bersama kakak."

"Kau memiliki seorang kakak?"

"Ya! Namanya Emily. Dia berperan sebagai ayah dan ibu dengan sangat baik. Aku sangat mengagumi sosok tegarnya. Dia selalu.."

"Kau sangat menyayanginya, ya?" sela Juni.

"Ternyata kau bisa kalem juga ya, Juni." tersenyum.

Juni meletakkan tangan di pinggang sambil melirik Ainsley yang ikut berhenti berjalan, lalu berkata, "Aku harus bergaul denganmu agar bisa jadi wanita yang lebih kalem."

Perjalanan dilanjutkan setelah mereka tertawa akibat candaan yang Juni buat. Percakapan juga ikut dilanjutkan untuk menemani setiap langkah mereka.

"Apa kau akan menjauhiku?" menebak-nebak jawaban apa yang akan diterima.

"Menjauhimu?"

"Kau tau? Mereka semua menjauhiku karena latar belakang yang aku punya. Hanya Emily yang menjadi temanku selama ini."

"Yang menjauhimu hanyalah orang yang tidak mengetahui tentang dirimu. Aku tidak termasuk di dalamnya karena hari ini aku mengenalmu. Mulai sekarang kau bisa tambahkan aku di daftar pertemananmu."

"Maksudmu, kita sekarang adalah teman?"

"Tentu saja!"

***

Zack memisahkan dokumen yang telah selesai ditandatangani ke sisi kirinya. Satu persatu dokumen dipindahkan. Zack berhenti saat membaca 1 dokumen yang membuat dahinya mengernyit. Ada surat perjanjian kerja sama terselip di antara dokumen lainnya. Zack menyisihkannya sebentar, lalu menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu.

Setelah itu Zack mencari Emily untuk menanyakan kenapa dokumen tersebut ada di atas mejanya. Zack mengunjungi langsung ruang kerja sekretarisnya itu, namun tidak ada Emily di sana. Meja kerja Emily saja masih tertata rapi seperti belum tersentuh oleh pemiliknya hari ini.

Saat keluar dari ruangan tidak sengaja Zack bertemu Sam di koridor yang sama dengannya. Belum sempat menyapa, Sam membalikkan tujuan ke arah lain. Bersikap seolah pura-pura tidak tau bahwa dirinya juga ada di sana.

"Sam, kau melihat Emily?" menyempatkan bertanya sebelum Sam benar-benar jauh.

"Tidak." membalikkan badan sebentar.

"Kalau kau bertemu dengannya, sampaikan padanya kalau aku mencarinya."

Kali ini Sam kembali ke tujuan semula. Tepat di hadapan orang yang memanggilnya, Sam berkata dengan emosi yang meluap-luap, "Kenapa kau selalu melibatkan aku dalam urusanmu?! Lagi pula kau punya ponsel untuk menghubungi istrimu sendiri. Aku bukanlah kotak pos yang menghubungkan kalian berdua."

"Ah! Aku melupakannya." segera mengambil ponsel, lalu mengibaskan tangan sebagai perintah agar Sam segera pergi.

"Bagaimana kau tega menyuruhku pergi setelah mendapatkan solusi permasalahanmu?" memukul dada Zack dengan kedua belah tangan seperti yang sering dilakukan Stella.

"Tingkahmu menjijikkan." menyingkirkn tangan Sam dan berlalu pergi sambil mencoba menghubungi Emily.

"Kau akan menyesalinya!" berteriak kesal.

Masih berusaha menghubungi Emily, Zack membaca dokumen yang disisihkan tadi. Beruntung Zack selalu teliti membaca semua dokumen sebelum ditandatangani. Kalau tidak, kerja sama itu akan terjalin tanpa seizin dirinya.

Sebuah ketukan pintu membuyarkan kegelisahan. Emily masuk dengan wajah ceria yang biasanya diperlihatkan. Zack yang diliputi oleh rasa penasaran, mengurungkan niat untuk menanyakan tujuan Emily sebenarnya. Zack memutuskan untuk menunggu Emily mengatakan langsung padanya perihal dokumen tersebut.

"Kau mencariku?"

"Ya. Aku merindukanmu."

"Kita baru saja bertemu tadi pagi."

"Kemarilah! Aku ingin sekali memelukmu." melingkarkan tangan di pinggang Emily.

Emily tersipu malu menatap Zack yang juga menatapnya. Mereka tersenyum layaknya pasangan yang sedang kasmaran. Sambil menyibakkan rambut Emily ke belakang telinga, Zack menanyakan mengapa Emily sulit sekali untuk dihubungi.

"Ah! Bateraiku habis. Jadi mati begitu saja."

"Memangnya kau habis dari mana?"

Saat Emily berusaha mencari alasan yang tepat, ponselnya berdering. Emily bertambah gugup karena baru saja mengatakan bahwa baterai ponselnya habis, namun deringan itu membuat alasannya menjadi tidak masuk akal.

Di dalam kegugupan itu baginya hal terpenting sekarang bukanlah Zack lagi, melainkan siapa orang yang menelepon. Lantas Emily meminta izin pada Zack untuk meninggalkan ruangan agar bisa menjawabnya.

Sikap aneh Emily menambah tingkat kecurigaan. Jika tadi Zack dibuat penasaran dengan sebuah dokumen, kini Zack penasaran dengan ponsel Emily. Hal apa yang sedang Emily sembunyikan darinya hingga harus berbohong dan siapa yang menghubungi Emily. Zack tidak bisa menemukan jawaban kedua pertanyaan tersebut.

Bukan cuma hari itu saja Emily bersikap aneh. Pernikahannya kini dipenuhi oleh kecurigaan yang semakin mendalam lantaran Emily sering meninggalkan perusahaan tanpa sepengetahuan dirinya. Terlebih istrinya itu selalu menolak untuk melayaninya.

Zack menghampiri Emily yang masih sibuk menghapus dandanan di meja rias. Malam ini Zack bertekad untuk menyelesaikan seluruh kecurigaannya. Zack tidak tahan berada di dalam rumah tangga yang mana hidup mereka seperti orang asing. Tidur di satu ranjang bagaikan malam yang panjang dan menikah tetapi tidak seperti menikah. Bahkan jaraknya dengan Emily semakin hari semakin jauh.

"Emily?"

"Ya?" melirik Zack di cermin.

"Kau masih belum siap?"

"Apa?"

Apa selanjutnya yang akan dia katakan? Menanyakan soal kesiapan untuk melakukan malam pertama? Bukankah itu sangat aneh?

"Tidak ada. Cepatlah beristirahat."

Zack keluar dari kamar menuju balkon dan berusaha menenangkan diri sejenak. Menyingkirkan segala pikiran negatif dan berfokus mencari cara bagaimana menyatukan hubungannya kembali dengan Emily.

Setelah hati dirasa tenang barulah Zack menjejaki kamarnya. Perlahan pintu ditutup rapat. Zack menghampiri Emily yang sudah tertidur pulas. Di samping ranjang Zack berjongkok dan menatap Emily di sana.

Drrt.. Drrt..

Dering ponsel mengalihkan perhatian. Zack meraih ponsel Emily yang ada di meja nakas. Di layar tertulis kata adik yang mana itu adalah adik Emily yang selama ini sangat sulit untuk ditemui. Enggan membangunkan Emily, panggilan tersebut diangkat olehnya. Zack berpikir mungkin saja melalui panggilan itu bisa menebus pertemuan mereka yang selalu gagal.

"Halo? Kakak?"

Zack tersentak mendengar suara yang begitu familiar di telinga. Jantungnya berdetak cepat membangunkan hati yang sudah lama tertidur. Ingatan masa lalu yang sudah dikubur dalam mengusiknya seketika.

1
Kheira Luna
Renkoo aku balik lagi kangen pria tua😍
Justrenko🐣: Wah, senang sekali melihatmu kembali~
total 1 replies
Fransiska Siba
makanya jgn bodoh bergerak sendiri. makan kebodohan mu. sdh diingatkan Zack tp keras kepala
Fransiska Siba
kecewa aku thor, setidak nya ceweknya tahan dlu lahh ini sudah namanya selingkuh
Pemburu Cinta Sejati
mengkhianati itu gak papa asalkan tau kapan waktunya untuk minta maaf dan pasanganmu yg baik pasti akan selalu memaafkan. kalo tidak berarti dia bukan org yg baik.
bagaimana menurutmu tentang ini kk?
Pemburu Cinta Sejati
mengkhianati itu gak papa, asalkan kita tau kapan waktunya untuk minta maaf. Dan wanita yg baik akan selalu memaafkan, kalo tidak memaafkan berarti dia bukan org yg baik.
Pemburu Cinta Sejati: mohon maaf, aku cmn mau bilang cerita kesempatan kedua adalah kebanyakan cerita di novel. itu tidak berbeda
total 17 replies
iis_lintang95
tetiba kangen ainsly sm zack, alhasil baca ulang lage.🤩
Metta R'za
dendam lidya yg bodoh.....
Ijah Sopiah
Apakah tidak ada satupun cowok yang suka sama Anseley
Seelmy Saleem
nyimak dulu thor baru mampir
SRI SETYA
aq bingung banget ini
Dimas Wahyu
kiraain Setelah sekian lama end....ada part tambahan ..😊😊..oklah otw
💞Aam Mulyani💞: makanya sering kontrol...
total 1 replies
Deta Hebalina
o
First Time
apalah dayaku yg bacanya loncat2 tiba2 dah sampe sini mumet😂
Faradilla
kenapa si Ainsley dibuat kayak perempuan bucin gak nyadar diri sih Thor... gak adil banget... Kebagusan amat si Zack jadinya
Faradilla
pasti Ainsley
Dede
8
Si mamahx anak anak
hhhaaahhhhaaa,,akhirx kau merasakn derita hati ainsley zack...
bunda ime
ff
Julia Lia
miris hidup dua bersaudara 😔
Elfi Susanti
bukankah gambar yang ditemukan Emily dilaci meja Zack adalah Ainsley ibunya Gavin... wah makin rumit... saya pamit baca cerita yg lain dulu.... mumet
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!