Bahaya!
Seorang gadis manis menjual dirinya sendiri pada kakak iparnya. Kirana namanya dia mendapat perlakuan sadis dari sang suami yang menyuruhnya menjadi wanita malam.
Kirana tidak pernah di sentuh oleh suaminya, sehingga hubungan terlarang antara dirinya dan kakak iparnya perlahan menjadi sebuah kerangka cinta.
Mampukah cinta mereka meruntuhkan norma, dan membebaskan Kirana dari cengkeraman suaminya?
Simak kisah lengkapnya dalam Novel Pelacur tapi Perawan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Tunggul Ametung dan Dedes
"Aku pulang." Alvin masuk ke Apartemennya dan aroma nikmat tiba tiba memanjakan indra penciumannya.
"Kak, sudah pulang?" Kirana tersenyum lembut menatap Alvin yang nampak lelah, meski senyum tergambar di bibirnya.
"Kamu salah, panggil aku apa tadi?" Tanya Alvin jahil, Kirana mengangkat alisnya dan teringat peringatan Alvin pagi ini.
"Ta...tapi.. aku ah maaf aku belum terbiasa sayang." Kirana ragu mengatakan kata itu meski pada akhirnya dia sadar dia sedang bekerja pada Alvin. Alvin tersenyum mendengar kata itu dari bibir Kirana.
"Bagus, aku maafkan. Sedang masak apa?" Kirana melihat telur omlet buatannya di atas teplon. Ya, hanya sebuah telur omelet, tapi mampu membuat Alvin jadi sangat lapar.
"Kelihatannya nikmat, aku makan ya." Kirana mengangguk dia mempersilahkan Alvin untuk menyantap makanan yang di buatnya.
Alvin merasa sangat bahagia malam itu, hal yang amat dia inginkan selama beberapa tahun kebelakang, kini menjadi nyata, ya meski ini masih sementara.
"Sayang, kayaknya lapar sekali ya?" Kirana berusaha berbasa basi agar rasa canggung dalam dirinya menghilang.
"Iya, aku sangat lapar." Alvin menikmati setiap suapan yang masuk pada mulutnya.
"Aku juga sudah menyiapkan air panas tadi di kamar mandi." Alvin mengangkat alisnya, dia agak terkejut mendapat perhatian sebesar itu dari Kirana.
"Air panas?" Alvin tersenyum jahil, hingga membuat Kirana sedikit malu.
"Maksudnya gini, tadikan panas sekarang karena sudah di biarkan cukup lama pasti sudah hangat." Kirana berusaha menjelaskan dengan apa yang terjadi hingga tawa menggema dari bibir Alvin.
"Hahah.. apa maksudmu Ran?" Kirana tersenyum lembut dan menundukkan pandangannya.
"Kamu masih tidak berubah." Kirana masih enggan menatap Alvin.
Ingatan mereka kini mundur ke beberapa tahun kebelakang, dimana tempat yang sama dimana Kirana pernah jatuh cinta untuk pertama kalinya pada sosok pria cuek dan super cerdas.
Di sebuah Universitas Negeri terbesar di Negara ini, seorang wanita berkulit putih dengan rambut sedikit pirang melangkah ke sebuah Fakultas.
"Hai Kirana, mau ikutan lomba akustik gak?" Kirana menatap brosur yang di berikan temannya tadi.
Sebuah penampilan seni yang berupa penyatuan alat musik tradisional dan drama kecil sekaligus nyanyian merdu, Kirana tersenyum lembut.
"Mungkin aku akan ikut, daftarnya ke siapa?" Ya, suara merdu milik Kirana memang sering merebut banyak penghargaan, hingga tim seni sekolahnya sering kali menawari Kirana untuk ikut ajang bergengsi semacam itu.
"Nanti ke dapur seni aja, aku udah catat nama kamu. Byee Kirana." Kirana terkekeh geli, dia masuk ke kelasnya dimana tak lama setelah itu Dosen tiba dan dia mulai belajar.
Saat pelajarannya selesai, Kirana akhirnya memutuskan untuk mampir terlebih dahulu ke dapur seni, nampak beberapa orang berkumpul disana.
"Hai Kirana?" Seorang pria menyapa Kirana dengan senyum manisnya.
"Hai kak Deon, aku udah daftar lomba akustik tadi." Kirana langsung memberi penjelasan pada ketua dapur seni.
"Aku sudah tahu kok, masalahnya itu akan di selenggarakan di Jogja, dan kamu akan kesana sama pria dan cuma berdua, Dosen pembimbing kita sedang pelatihan." Kirana melotot, tapi bukankah acara itu di langsungkan di Universitas itu, kenapa bisa berubah? Ya, pertanyaan itulah yang tergambar di benak Kirana.
"Loh, bukannya acaranya disini?" Deon menggelengkan kepalanya, dia menunjuk ke arah seorang pria yang mengenakan baju khas Jawa.
"Itu pasangan kamu nanti." Mata Kirana membulat, pria itu memang sangat tampan, dia juga ramah, dan beberapa wanita di dapur seni tengah berusaha mengobrol dengannya tapi dia acuhkan dan lebih memilih berbicara dengan seorang pria berkulit sawo matang.
"Dia akan lulus tahun ini, dan akan melanjutkan kuliah di luar Negeri, namanya Alvin." Kirana mengangguk.
"Ayo masuk, kita kenalan dulu." Deon menarik lengan Kirana dan beberapa warga seni disana senang saat melihat kedatangan Kirana.
"Wah calon Dedes akan datang nih." Celetuk salah satu orang yang tengah menggunakan alat musik suling.
"Hai Kak Galuh." Galuh tersenyum dan duduk bersama mereka, lesehan di lantai.
"Nah Kirana ini namanya Alvin, dan Vin kenalin ini Kirana." Mata keduanya beradu hingga debaran kecil terguncang di hati mereka.
"Hai kak Alvin, salam kenal." Alvin tersenyum dan mengulurkan tangannya.
"Iya salam kenal Kirana, aku Alvin." Tangan mereka berjabat hingga akhirnya Deon berdehem cukup keras, membuyarkan keduanya.
"Ehem... Jadi gini konsepnya, kita akan pakai kisah keris sakti yang merenggut dua sosok besar sejarah yaitu Arok dan juga Tunggul Ametung." Semua mengangguk angguk mulai masuk pada kisah legenda itu.
"Dalam kisah yang beredar, mungkin mereka akan menyangka bila sosok Arok adalah Dewa mereka, tapi kita akan buat konsep lain." Mereka mengangguk lagi.
"Kita akan buat dimana saat Tunggul Ametung mati yang di bunuh oleh Arok dan membuat sosok Dedes patah hati, karena ternyata Tunggul Ametung hanya memiliki satu tujuan hidupnya yaitu di cintai Dedes, Dedes bersedih dan disini kamu harus mulai bisa acting." Deon menunjuk Kirana, mereka yang merasa tertarik pada kisahnya malah tidak perduli lagi karena konsepnya sangat matang.
"Disini kamu akan membalas dendam atas kematian Tunggul Ametung dengan cara menikah dengan Arok dan membunuhnya, tapi ternyata tidak, karena yang membunuh Ken Arok adalah..." Deon menarik nafas panjang.
"Tidak di beri tahu, biar para penonton penasaran akan kisah aslinya dan kembali mengklik sejarah, itulah tujuan kita kali ini." Semua orang bertepuk tangan dan bersorak untuk hal itu.
"Kirana jadi Ken Dedes, Alvin jadi Tunggul Ametung dan Galuh jadi Ken Arok." Galuh cemberut tidak suka.
"Yah, kalau tau kak Kirana yang akan main, aku gak mau jadi Ken Arok aku mau jadi Tunggul Ametung saja. Lagian konsepnya kok gitu? Bukannya Ken Dedes cinta matinya sama Ken Arok ya?" Galuh merengek.
"Tidak bisa!" Alvin menyela dan mulai mengangkat wajahnya.
"Duh, dasar Alvin." Galuh terkekeh, ya Galuh dan Deon adalah sahabat dekat Alvin. Saat itu Kirana hanya terkekeh saja.
"Nah gini, kebetulan aku sama Galuh mau ada acara dulu disini jadi buat teknikal nya kalian duluan kesana, berdua." Kirana terkejut berbeda dengan Alvin yang mengangguk.
"Lumayan Kirana uang jajannya, buat semesteran kan? " Kirana menghela nafas benar yang di katakan Deon.
Itulah awal pertemuan pertama antara Kirana dan Alvin, kini mereka bertatap-an di meja makan saat lamunan mereka pergi ke beberapa tahun lalu.
"Aku mandi dulu." Alvin berlalu meninggalkan Kirana sendiri, dari sana Kirana bisa melihat punggung Alvin.
Seandainya dulu dia percaya dengan apa yang di katakan Alvin, dan dia bisa bersabar. Dia juga merasa kecewa pada apa yang sudah dia lakukan di masa lalu.
Tapi benar, takdir tak berkhianat pada mereka, Alvin tetap jadi pria yang pertama menyentuhnya.
Bersambung...
Mbak baru mau maraton lagi dikarya kak Nuah yang sudah tamat
ceritanya bagus👍👍