Roshan adalah seorang dokter anestesiologi berdarah Nepal, seorang pria dingin yang sulit membuka hati karena ia hanya mencintai satu orang wanita yang selalu ia lamunkan, yang ia kenal dengan baik namun tak berani ia temui. Dalam pikirnya tak ada satupun wanita yang sesempurna dia.
Dia adalah Aila seorang dokter bedah syaraf berprestasi berdarah sunda, wanita cantik berkulit sawo matang, tinggi semampai, berkerudung, dengan mata tajam dan hidung sampingnya, kecerdasannya, kebaikan hatinya membuat kecantikannya kian mengagumkan.
Roshan melihatnya sangat sempurna, segala cara ia lakukan agar ia bisa menjadi dokter di Indonesia.
Namun disanalah ia melihat kenyataan yang sebenarnya, bahwa wanita yang sempurna itu memiliki kisah pilu yang menyedihkan.
Hal ini membuatnya menyesal karena telah membenci dan menuduh hal yang tidak tidak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fakhrunisa aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Munculnya Masa Lalu
Hari hari Aila terus bergulir apa adanya dan seperti biasanya. Menjalankan perannya sebagai seorang dokter, ibu, dan pemegang beberapa panti asuhan.
Kesibukan menjadi temannya mengisi waktu yang terus bergulir.
"Arrrhhhh hari ini sudah hari senin, rasanya malas sekali" gumam Aila menggeliatkan badannya sejenak diatas tempat tidurnya. Gaun tidur panjang berwarna Putih terang yang sangat indah menempel pada tubuhnya yang tinggi semampai membuat Aila terlihat cantik saat bangun tidur.
"Selamat pagi anak ibu" sapa Aila pada roshan yang tengah makan di meja makan bersama laras dan bi mirna.
"Bi hari ini, saya gak sarapan dirumah ya, saya ada operasi penting".
"Operasi apa nona?" tanya bi mirna penasaran.
"Pagi tadi ada kecelakaan, katanya ada syarafnya yang putus jadi harus segera operasi darurat!" sahut Aila dari balik pintu kamar mandi.
Ngeri sekali mendengarnya, bi mirna dan laras sampai merinding membayangkannya.
"Kuat banget ya bi nona aila, diruang operasi banyak ngeliat luka, darah, maen bedah badan orang. Ngilu aku bi bayanginnya" kata laras bergidik.
"Wes ya jangan dibayangin las, aku aja gak berani" sahut bi mirna sembari menyuapi roshan.
Aaaaaaammmm, "lahapnya anak pinter" bi mirna mengalihkan pikirannya pada roshan.
"Den aro nanti ikut bibi ke supermarket ya, bibi mau belanja sama ajak jalan jalan" ajak bi mirna membuat roshan bahagia.
"Yeyeyeye, yu yu ne yu" roshan kegirangan. Laras dan bi marni tersenyum melihat tingkah polos roshan.
Tak berapa lama aila datang mencium dan memeluk roshan, "sayang yang baik ya, no nakal ya dan jangan minta jajan banyak banyak ya" kata aila. Roshan hanya mengangguk dalam pelukan ibunya.
"Daaaaahhhh ibu" roshan melambaikan tangannya Dan mobil Aila pun melaju kencang mengejar waktu.
*Di Rumah Sakit*
Ryan dengan Tergesa - gesa mendatangi Aila yang baru saja datang, "Sudah dilakukan CT scan atau rontgen? Tanya aila.
"Sudah dok".
"pasien dalam kondisi sadar dok, kadar oksigennya normal, pasien mengalami patah dibagian tulang leher dan mengalami cedera parah di syaraf tulang belakang itu membuat syarafnya terganggu. Ada pendarahan didalam tapi pendarahannya tidak terlalu parah, selebihnya hanya luka luar dok".
"Dokter bedah yang lain sudah kamu beritahu?" Tanya Aila sambil berjalan terburu - buru.
"Sudah, mereka menunggu dokter memulai operasi lebih dulu" sahut Ryan.
"OK" aila setengah berlari menuju ruang ganti pakaian.
"Dokter anestesi Sudah ada kan?" Ryan menganggukan kepalanya.
"Ok segera mulai, 10menit aku udah disana" Aila berlalu menuju ruang ganti. Ia bersiap dengan pakaian operasinya.
*Diruang operasi*
Aila berjalan memasuki ruang operasi, sekalipun setengah Dari wajahnya tertutup masker, namun tidal menghilangkan kecantikan dan keanggunannya. Keanggunan yang membuat banyak laki - laki tertegun.
"Sudah siap?" Tanyanya.
Semua menganggukan kepalanya, termasuk Tim dari anestesiologi.
Aila memulai operasi nya yang sangat diburu waktu.
"Ambilkan pisau bedahnya" perintah Aila setelah tim anestesi menyatakan pasien siap dioperasi.
"Bismillah...." Ucapnya dalam hati sambil memejamkan matanya sekejap.
"Jangan ada yang lengah, perhatikan organ vitalnya!!".
Aila terus berkutat dengan pasien dihadapannya dengan sangat teliti, mulai dari melakukan insisi hingga selesai.
"Ryan, selesaikan ini secepatnya" perintah Aila sembari bergeser dari duduknya.
"Baik" sahut Ryan mengambil posisi. Ia mulai melakukan cangkok tulang yang berguna untuk mempercepat proses penyatuan antar segmen tulang.
Ryan segera menutup dan menjahit bekas sayatan.
Operasi ini berjalan dengan lancar dan segera dilanjutkan operasi dari dokter lain yang telah menunggu sejak tadi.
Aila pergi menuju pintu keluar tanpa menyadari ada salah seorang diruangan itu yang meperhatikannya.
Ryan yang baru saja menyelesaikan tugasnya Peka akan hal ini dan bertanya tanya.
"Dia siapa?".
"Apa jangan Jangan...." " ah engga engga!!!" Ryan mencoba mengalihkan pikirannya.
Aila tak bergeming, ia terus keluar dan menunggu operasinya selesai. Satu jam pun berlalu, seluruh Tim keluar dari ruang operasi. "Alhamdulillah operasinya lancar" aila menghela nafas panjang.
Dari dalam sana terlihat seorang dokter keluar dengan masih menggunakan masker. Ia menatap aila dengan sorot mata tajam.
"Eh maaf dok saya tidak sengaja" ryan menabrakan tubuhnya, dokter itupun terkejut dan mengalihkan pandangannya.
Ryan sengaja melakukan itu karena kecurigaannya. "Ayo mbak" ajak ryan menarik tangan Aila menjauhi kerumunan, dokter itu terus memandangnya kesal.
"Mau kemana?".
"Kita makan!!!" Ryan ketus.
"Kayaknya aku gak usah ngomong dulu, mending aku pastiin dulu deh" gumamnya dalam hati.
Ryan tidak membahas apapun soal yang dia lihat.
Ryan masih tidak yakin dengan apa yang dia pikirkan.
Saat tengah makan bersama Aila, ryan mendapat pesan dari residen lain "kumpul, kepala mau kenalin dokter baru dari departemen anestesi".
Ryan langsung berdiri dan hendak bergegas, "ada pasien gawat?" Tanya aila heran.
"Enggak".
"Dokter barunya udah dateng mbak, residen disemua departemen disuruh kumpul semua", "aku pergi dulu Mbak, maaf yahhh" sambil berlalu meninnggalkan Aila.
*Diruangan staf*
Para residen sudah berkumpul bersama para suster semua menunggu kedatangan dokter baru itu.
Terdengar semua residen dan suster mulai saling berbisik.
"Kira kira dokternya laki laki apa perempuan ya?"
"Ganteng gak ya?"
"Semoga aja laki - laki tajir" bisik seorang perawat membuat muak pikiran ryan.
"Selamat siang anak - anak" sapa seorang dokter senior . langkahnya diikuti seorang dokter pria yang tampan, sepertinya usianya belum begitu tua, dia berperawakan tinggi, tegap, dadanya bidang (sepertinya tubuhnya atletis dan sixpack), wajahnya tampan, menarik, namun terlihat jelas raut tegasnya.
Banyak wanita berdecak kagum melihat perawakan dokter tampan ini, wajah tampan, tubuh tinggi atletis dibalut dengan jas putih khas dokter, sepatu sport, jam bermerk, rambutnya yang tertata rapih membuat sebagian besar wanita disana berfantasi liar.
"Halo, namaste" sapanya sambil tersenyum.
"Aaaaaaaaa ganteng banget" riuh bisikan bisikan godaan dibelakang, "dia udah nikah belum ya?".
"Ya ampun cakepnyaaaaaa, pengennnnnn" pekik seorang suster kecentilan.
"Perkenalkan semua, saya Rasyid Roshan Khan, dulu nama saya hanya Roshan Khan, sekarang sudah ditambah sedikit jadi rasyid, kalian bisa panggil saya apa saja asal jangan panggil saya suami ya" canda roshan membuat para suster dan dokter wanita kelabakan.
"Mulai sekarang saya bergabung di rumah sakit ini sebagai dokter anestesi di departemen anestesiologi, jadi saya mohon kerjasamanya ya" lanjut roshan dengan suaranya yang melelehkan.
Ryan melamun, "jadi ini roshan, ini pertama Kali aku lihat wajahnya, cakepan aku!" Gumamnya terlalu over PD.
"Ada yang mau kasih saya pertanyaan? Ayolahh jangan canggung" tanya roshan.
Beberapa perawat dan residen mengacungkan tangannya.
"Dokter lulusan mana?",
"Sebelumnya dokter di rumah sakit mana?",
"Dokter sudah menikah?" Pertanyaan ini sontak menimbulkan kegaduhan dan membuat roshan tertawa.
"Saya lulusan Harvard university, saya pernah bekerja di 3 rumah sakit, di john hopskin, Massachusetts, dan paling lama di HSS" papar roshan.
Wah ternyata satu almamater dengan dokter Aila obrol para residen dan suster dibelakang disana. jelas roshan mendengar bisik bisik mereka, namun dia pura - pura tidak peduli.
"Kalau masalah menikah, saya tidak menjawab urusan pribadi disini, lain kali mungkin iya" roshan menolak menjelaskan.
Sejak awal Ryan sudah curiga dokter baru yang akan datang pasti masalalunya Aila. Dia memang benar adik yang peka.
"Dokter asal india yah? Tapi kok fasih berbahasa?" Ryan Tiba - tiba bertanya berusaha meyakinkan dirinya bahwa dia adalah roshan yang sama.
Roshan melihat ryan tajam, dia ingat Ryan adalah orang yang menggandeng Tangan Aila tadi.
Roshan tersenyum sinis, "lebih tepatnya Nepal".
"Bagaimana menjelaskannya ya... Hemmm" roshan berhenti sejenak.
Ryan sedikit badmood dengan tingkah roshan yang so kegantengan.
"Dulu di amerika saya punya teman dekat asal indonesia, jadi saya fasih bahasa indonesia" jelasnya singkat.
Ohhhhh...semua manggut - manggut. "sepertinya pacarnya deh".
"Dok... Dokter yang tadi ikut operasi kan?" Athalla mengacungkan jarinya.
"Heem... Itu saya, saya hanya ingin melihat situasi diruang operasi tadi".
Hhhhehhh.. Mau lihat situasi apa lihat mbak aila? Bisa aja lu tong ngeles. Ryan kian kesal dengan keberadaan roshan.
Perkenalan singkat inipun usai. Roshan mulai menata ruangannya senyaman mungkin.
Dan Aila, aila masih tidak mengetahui tentang keberadaan roshan. Ia masih sibuk dengan setumpuk pekerjaannya hari itu.
"aku penasaran seperti apa wajahnya nanti saat melihat aku ada disini" roshan membayangkan dengan senyum angkuh.
bersambung dulu dears 😘😘 lanjut di next episode yahhhh....