NovelToon NovelToon
Terapi Sentuhan untuk Bos Dingin

Terapi Sentuhan untuk Bos Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / CEO
Popularitas:522
Nilai: 5
Nama Author: Arka R.

Renard mengidap *skin hunger syndrome* — tubuhnya mendambakan kontak kulit, tapi mysophobia-nya membuatnya mual jika disentuh orang lain. Satu-satunya pengecualian? Gadis mungil berkulit putih pucat yang baru saja menjadi asistennya.

Sebuah kontrak rahasia pun dibuat: Liana menjadi "terapis sentuhan" Renard — identitas ganda yang tidak boleh diketahui siapa pun, termasuk Renard sendiri. Setiap Sabtu malam, di mansion gelap dengan mata tertutup, sang CEO yang paling ditakuti di Jakarta menyerahkan dirinya di tangan seorang gadis yatim piatu.

Tapi bagaimana caranya menjalankan terapi untuk bos sendiri — tanpa jatuh cinta?

Apalagi ketika bos itu mulai menatapnya terlalu lama di kantor...
Mencium telapak tangannya tanpa sadar...
Dan berbisik dengan suara serak: *"Sentuh aku lagi, Nona Terapis."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21

Satu Kamar, Satu Ranjang

"Maaf, Pak. Reservasi yang aktif hanya satu suite."

Kalimat resepsionis itu mengikuti Liana dari kantor di Jakarta sampai ke lobi resort di Bali lima hari kemudian.

Ia berdiri di depan meja marmer dengan koper di satu sisi dan kotak sampel parfum di sisi lain. Di belakang dinding kaca, matahari tenggelam ke laut, menyiram lobi dengan warna jingga. Pemandangannya terlalu indah untuk situasi yang sedang mereka hadapi.

"Kami sudah meminta dua kamar terpisah," kata Liana.

Resepsionis perempuan itu tersenyum cemas. "Betul, Mbak. Sistem kami sempat mengeluarkan dua nomor konfirmasi, tapi inventory hanya mengunci satu. Karena konferensi internasional, semua kamar sudah penuh. Kami sudah menghubungi tiga properti lain dalam jaringan kami. Tidak ada kamar kosong malam ini."

Renard berdiri di samping Liana, wajahnya tak menunjukkan apa pun. "Tipe suite?"

"Satu kamar tidur, satu ranjang king, ruang duduk, dan sofa. Kami memberikan upgrade serta semua biaya tambahan gratis."

"Bukan biaya yang jadi masalah," jawab Renard.

Liana menahan keinginan untuk menutup wajah.

Perjalanan mereka sudah melelahkan. Penerbangan terlambat, jalan dari bandara macet karena hujan, dan presentasi dengan pihak resort dijadwalkan pukul delapan pagi. Agus tetap di Jakarta sesuai rencana; kendaraan di Bali disediakan hotel bersama sopir lokal. Mencari penginapan baru pada jam tujuh malam akan mengorbankan waktu istirahat dan keamanan kotak sampel.

"Kami bisa menambah rollaway bed di ruang duduk," tawar resepsionis. "Hanya saja baru tersedia besok pagi."

Renard mengambil kartu akses. "Tidak perlu. Aku tidur di sofa."

Liana menoleh. "Pak Renard..."

"Kita hanya butuh tempat untuk malam ini. Besok mereka carikan kamar lain."

Ia berkata seolah tubuhnya tidak setinggi seratus delapan puluh sembilan sentimeter dan sofa hotel pasti dibuat untuknya.

Resepsionis menyerahkan dua kartu akses. "Kami benar-benar minta maaf. Barang Bapak dan Mbak akan diantar oleh bellboy."

"Kotak sampel saya bawa sendiri," kata Liana.

Renard sudah mengambil kotak itu lebih dulu. "Kamu bawa koper kecil."

"Ini tanggung jawab saya."

"Dan bahumu masih sakit karena tali tas Aldi minggu lalu."

Resepsionis menunduk pura-pura memeriksa layar, tetapi telinganya jelas mendengar. Liana memilih tidak berdebat di depan orang lain.

Mereka mengikuti petugas menuju lift. Begitu pintu menutup, Liana merendahkan suara. "Bapak tidak perlu menyebut bahu saya di depan resepsionis."

"Aku hanya menjelaskan kenapa kamu tidak membawa kotak."

"Bapak bisa bilang kotaknya berat."

"Kotaknya tidak berat."

"Kadang kejujuran Bapak merepotkan."

"Kamu baru menyadarinya?"

Liana menatap pantulan mereka di pintu lift. Renard membawa kotak sampel dengan satu tangan, koper kabinnya dengan tangan lain. Di kaca, mereka tampak seperti pasangan yang baru tiba untuk liburan, bukan CEO dan asistennya yang terjebak kesalahan reservasi.

Pikiran itu membuatnya cepat-cepat memalingkan wajah.

***

Suite itu lebih luas daripada apartemen Liana. Ruang duduk menghadap laut. Pintu geser membuka balkon, dan kamar tidur hanya dipisahkan dinding setengah terbuka.

Satu ranjang besar berada di tengah kamar.

Tidak ada tempat tidur lain.

Renard memeriksa sofa. Panjangnya mungkin seratus tujuh puluh sentimeter. Ia duduk, lalu mencoba menyandarkan punggung. Lututnya sudah melewati ujung bantalan.

Liana menggigit bibir agar tidak tertawa.

"Apa?" tanyanya.

"Tidak ada."

"Kamu tersenyum."

"Saya sedang membayangkan Bapak tidur dengan kaki di atas meja."

Renard menatap meja kopi yang rendah. "Bisa."

"Bapak akan bangun tanpa bisa berdiri untuk presentasi."

"Aku pernah tidur di pesawat dua belas jam."

"Kursi pesawat Bapak bisa direbahkan penuh. Sofa ini bahkan tidak cukup untuk betis Bapak."

"Liana."

"Ya?"

"Berhenti mengukur tubuhku dengan mata."

Panas naik ke pipinya. "Saya mengukur sofa."

Sudut bibir Renard bergerak. "Tentu."

Mereka makan malam dari layanan kamar sambil meninjau presentasi. Liana menjelaskan tiga formula spa yang dibawa dari Jakarta. Renard memeriksa jadwal kunjungan ke kebun kenanga dan workshop minyak atsiri. Pekerjaan memberi mereka ruang aman untuk tidak membicarakan ranjang.

Pukul sepuluh, Liana mandi lebih dulu dan keluar dengan piyama lengan panjang serta jubah tipis. Renard sedang mencoba posisi kedua di sofa, kali ini menyamping dengan satu kaki ditekuk.

Ia terlihat menyedihkan.

"Pak."

"Tidur."

"Kita bisa berbagi ranjang."

Renard menoleh perlahan.

Liana buru-buru menambahkan, "Ranjangnya sangat besar. Kita tidur di sisi berbeda."

"Tidak."

"Kenapa?"

"Karena aku tahu ukuran ranjang tidak mengubah fakta bahwa kita berada di tempat yang sama."

"Kita sudah hampir..."

Liana berhenti. Kata `berciuman` tak sanggup keluar.

Tatapan Renard menjadi lebih gelap. "Itu alasan lain."

"Bapak yang bilang akan menjaga batas."

"Aku akan menjaga."

"Kalau begitu percaya pada diri sendiri."

Kalimat itu membuat Renard terdiam.

Liana mengambil empat bantal tambahan dari lemari. Ia menyusunnya memanjang di tengah ranjang seperti tembok kecil.

"Ini batasnya."

Renard berdiri dari sofa, mendekati hasil pekerjaannya, lalu mengangkat satu alis. "Apa ini?"

"Tembok bantal."

"Terlihat seperti benteng anak-anak."

"Berlin versi hotel. Jangan lewat garis."

"Kamu tahu Tembok Berlin sudah runtuh?"

"Yang ini belum."

Liana menunjuk sisi dekat balkon. "Bapak di sana. Saya di sini. Tidak menyentuh, tidak mengambil bantal, tidak mendengkur."

"Aku tidak mendengkur."

"Belum terbukti."

Renard mengembuskan napas panjang. "Baik. Tapi kalau kamu merasa tidak nyaman, aku kembali ke sofa."

"Kalau Bapak merasa gejala muncul, beri tahu. Kita sudah memajukan sesi sebelum berangkat dan obat ada sesuai resep. Jangan diam-diam menambah dosis."

"Kamu terdengar seperti Nona Terapis."

Tubuh Liana membeku sepersekian detik.

Renard melihatnya. "Itu pujian."

"Saya hanya mengikuti catatan kesehatan Bapak."

"Tentu."

Satu kata itu menyimpan terlalu banyak keraguan.

***

Lampu mati pukul sebelas lewat dua puluh.

Liana berbaring membelakangi tembok bantal. Di sisi lain, Renard melakukan hal yang sama. Pendingin ruangan berdengung pelan. Suara ombak masuk melalui celah balkon.

Tak satu pun tidur.

"Liana," panggil Renard setelah sepuluh menit.

"Ya?"

"Kamu masih bangun?"

"Tidak."

"Jawaban yang menarik untuk orang tidur."

"Bapak juga belum tidur."

"Aku sedang memastikan kamu nyaman."

"Saya nyaman."

Mereka kembali diam.

Di kegelapan, indra lain menjadi terlalu tajam. Liana dapat mendengar setiap tarikan napas Renard dan setiap kali seprai bergerak di bawah tubuhnya. Aroma cedar dan kopi samar dari sabun pria itu menyusup melewati bantal. Tubuh Liana mengingat kamar terapi, tangan di pinggang, dan bibir yang tak sempat bertemu.

Di sisi lain, Renard mencium aroma melati dan kamboja dari rambut Liana. Tidak tertutup diffuser, tidak bercampur sampel parfum. Murni dan hangat, persis aroma yang menempel di tubuh Nona Terapis.

Ia menatap langit-langit gelap.

Semua bukti sudah hampir cukup.

Tetapi malam ini Liana berbaring hanya satu lengan darinya, mempercayai tembok bantal dan kata-katanya. Renard tidak akan mengubah kepercayaan itu menjadi pemeriksaan rahasia.

"Pak Renard?"

"Hm?"

"Terima kasih sudah tidak memaksa pindah hotel. Sampel kita bisa rusak kalau terlalu lama di mobil."

"Kamu memikirkan sampel bahkan saat tidak bisa tidur?"

"Saya memikirkan pekerjaan."

"Bohong."

Liana menarik selimut sampai dagu. "Selamat malam, Pak."

"Selamat malam, Liana."

Kali ini kesunyian bertahan lebih lama.

Renard akhirnya tertidur menjelang pukul satu. Liana menyusul tidak lama kemudian, tetapi ketenangan itu hanya bertahan sampai mimpi membuka pintu lama.

Koridor putih muncul di sekelilingnya.

Lampu neon menyilaukan. Pergelangan tangannya diikat dengan kain rumah sakit. Bau obat memenuhi hidung, pahit dan logam. Seseorang di balik pintu berkata dosis berikutnya akan membuatnya lebih patuh.

Darren.

Wajahnya tidak jelas. Hanya sarung tangan, suara tenang, dan baki berisi suntikan.

Liana mencoba mundur, tetapi kaki tidak bergerak. Pintu terbuka. Dua tangan menyeretnya melewati lantai dingin. Ia ingin memanggil bantuan. Tenggorokannya mengunci.

Tidak ada suara.

Ia menendang, meronta, mencoba meraih kusen. Jemarinya hanya menangkap udara. Di ujung lorong, Aldi dan Nadia berdiri membelakangi, berjalan pergi tanpa menoleh.

Tolong.

Mulutnya terbuka. Tak ada apa-apa.

Tubuh Liana di ranjang menggigil hebat. Keringat dingin membasahi pelipis. Tangannya merobohkan satu bantal dari tembok, lalu bantal kedua.

Renard terbangun oleh suara napas yang patah.

"Liana?"

Tak ada jawaban.

Ia menyalakan lampu samping. Wajah Liana pucat, alisnya berkerut, kedua tangannya mencengkeram seprai. Air mata keluar dari sudut matanya meski ia belum bangun.

Renard duduk. Batas bantal telah runtuh di antara mereka.

Ia tidak langsung menarik Liana. Ia menyentuh pergelangan tangannya lebih dulu, cukup ringan untuk memberi jalan jika perempuan itu terbangun dan menolak.

Liana justru meronta semakin keras.

"Jangan..."

Suara itu nyaris tak terdengar.

Renard mengenali ketakutan yang tidak dapat dijelaskan. Tubuhnya sendiri pernah menyimpan bentuk ketakutan serupa selama bertahun-tahun.

Ia ingat malam-malam setelah penculikan masa kecilnya. Orang dewasa terus bertanya apa yang dilihat, siapa yang menyentuh, mengapa ia tidak berteriak. Pertanyaan membuat dinding kamar terasa seperti ruang interogasi. Yang ia butuhkan waktu itu bukan jawaban, melainkan satu suara yang memastikan pintu sudah terkunci dan tak ada orang jahat di dalam.

Liana tidak membutuhkan penyelidikan saat ini.

Ia membutuhkan jalan pulang dari mimpinya.

Renard menyebut namanya sekali lagi, pelan dan utuh. Ketika Liana tetap terperangkap, ia memilih sentuhan paling aman, bagian tubuh yang dapat dijangkau tanpa menahan gerakannya.

Ia mengangkat tangan melewati sisa tembok bantal.

Telapak hangatnya menutup dahi Liana yang basah oleh keringat.

"Ssst... ini aku."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!