(AWAS. KHUSUS ***++ ADA BANYAK ADEGAN MEMANCING GAIRAH. JANGAN YA DEK YA) Dia dikhianati pacarnya. Dia berusaha menenangkan diri di kamar sebuah hotel. Tapi dia malah diperkosa oleh Gerson, seorang CEO sombong karena suatu kesalah-pahaman.
Bella hamil dan diusir orang tuanya dari rumah. Dia harus melahirkan dalam kondisi sulit.
Tujuh tahun kemudian, Bella kembali dipertemukan dengan Gerson dan harus bekerja di kantornya Gerson.
Di saat yang sama, Bella melihat wawancara Gerson di Youtube. Dia meminta anak-anaknya untuk menjauh kalau melihat Gerson.
Tapi anak kembarnya yang jenius itu, memilih untuk bertindak sebaliknya. Bukannya menjauh, mereka malah terus menyerang Gerson.
Sejak itu, hidup Gerson tidak lagi tenang karena terus diganggu oleh si kembar jenius.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gregorious, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wajah yang Familiar
Bella sangat kaget saat dia menyadari kalau orang yang dia hindari sejak tadi hingga dia menutup bagian sisi kanan wajahnya dengan tangannya, ternyata malah sekarang ini sudah duduk di depannya.
"Apakah dia mengenalku? Apakah dia masih ingat wajahku?" batin Bella dengan mata membulat sambil terus menatap ke arah wajah tampan di depannya ini.
"Perkenalkan Pak Gerson. Ini namanya Bella. Dia adalah arsitek berbakat yang lulusan Stanford university di Amerika," kata Rudi sambil menunjuk ke arah arah Bella.
Gerson mengangguk ke arah Bella.
"Bella, ini namanya Pak Gerson Sutanto, CEO dari Grup Hasrat Abadi yang bergerak di bidang properti dan otomotif." Rudi menatap ke arah Bella.
"Senang mengenalmu, Nona Bella." Gerson berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah Bella.
Bella tercekat. Matanya membulat, ingatannya kembali ke masa lalu saat pria di hadapannya ini memperkosanya.
Bella masih terpaku di tempat duduknya. Tidak mengindahkan uluran tangan Gerson ke arahnya.
Saat ini, rasanya Bella ingin berdiri dan menampar Gerson, pria yang pada 7 tahun yang lalu, telah menghadirkan mimpi buruk dalam hidupnya.
Rudi melotot ke arah Bella karena tidak enak pada Gerson yang sudah berdiri sejak tadi untuk menjabat tangan Bella.
Rudi bahkan menginjak kaki Bella karena merasa tidak enak pada Gerson.
AWWWW
Bella tersentak kaget saat kakinya diinjak Rudi. Dia kini menyadari kalau Gerson tidak mengenalnya.
Karena itu, Bella langsung berdiri dan menjabat tangan Gerson. "Senang mengenalmu Bapak Gerson Sutanto."
"Please call me Gerson, karena aku belum terlalu tua untuk dipanggil bapak. Iya, kan?" kata Gerson sambil mengangkat ujung bibirnya.
"Dia benar-benar tidak mengenalku. Dasar tukang perkosa! Dia telah menghancurkan hidupku 7 tahun yang lalu, tapi dia sama sekali tidak mengenalku. Pasti banyak yang sudah menjadi korbannya," batin Bella dalam hatinya.
Bella juga merasa sangat direndahkan karena dia pikir seharusnya Gerson akan mengenalnya setelah peristiwa pada 7 tahun yang lalu itu, pada malam terkutuk yang diingat Bella dengan jelas itu.
Tapi ternyata Gerson tidak mengenalnya. Dan ini membuat Bella semakin membenci Gerson, pria yang selama 7 tahun ini ingin dia hindari tapi sekarang, dia harus berhadapan dengan mimpi buruknya itu.
Sementara itu, Gerson menatap Bella dan membatin, "arsitek ini cukup cantik. Wajahnya seperti familiar tapi aku lupa dimana aku pernah melihatnya. Hmmm, mungkin aku tidak pernah melihatnya sebelumnya. Tapi, kenapa dia seperti familiar bagiku?"
Saling tatap dan saling membatin antara Gerson dan Bella terhenti karena Rudi sudah berdehem cukup keras yang membuat Gerson dan Bella sama-sama menarik tangan mereka masing-masing yang sejak tadi tidak terlepas itu.
"Begini, Bella. Aku ingin kamu memaparkan akan rencanamu untuk pembuatan rancangan Mall untuk semakin meyakinkan Pak Gerson akan sketsamu," kata Rudi kepada Bella sambil menyodorkan laptop milik Bella yang dari tadi dipegang oleh Rudi.
Gerson sudah menunggu sambil menatap wajah Bella.
Bella yang tidak ingin bekerjasama dengan Gerson, putuskan untuk mengacaukan kerjasama perusahaannya dengan perusahaannya Gerson.
"Aku tidak memiliki perencanaan apa-apa, pak. Karena bapak tahu sendiri, kan? Aku belum pernah membuat rancangan untuk pembuatan mal sebelumnya. So ... mungkin aku bukan orang yang tepat untuk ini."
Rudi langsung panik mendengar kata-kata Bella itu. "Come on, Bella. Ingat, sebelumnya kamu cuma merancang ruko. Iya kan? Sesudah itu, saat kamu kerjasama denganku untuk membuat gambar rancangan untuk apartemen 30 lantai, nyatanya kamu bisa. Iya kan?"
"Iya sih. Tapi ... aku tidak yakin kalau mal. Rancangannya lebih sulit."
Rudi melotot ke arah Bella. Kemudian dia menatap Gerson. "Maaf, pak. Aku ingin bicara dulu dengan Bella."
"Silakan, pak," tandas Gerson.
Rudi langsung melotot ke arah Bella sambil memberi isyarat pada Bella untuk mengikutinya.
Bella pun mengikuti langkah Rudi yang berjalan meninggalkan meja dan baru berhenti setelah berjalan sekitar sepuluh meter.
"Kamu kenapa, sih? Kamu lagi kesambet jin apa, Bella? Kenapa kamu bicara seperti itu? Kamu tidak profesional, Bella!" sembur Rudi saat Bella sudah berdiri di depannya.
"Aku cuma bicara apa adanya, pak. Aku kan memang belum pernah menggambar rancangan mal sebelum ini. Iya kan?"
"Iya sih. Aku sadar itu. Tapi, biasanya kamu mau belajar dan bisa. Ingat, saat kamu bikin rancangan Apartemen Great Pramuka. Kamu juga menghadapi faktor kesulitan tinggi. Iya kan? Tapi kamu tidak menyerah. Kamu terus berusaha dan hasilnya memuaskan. Iya kan?"
"Kali ini aku tidak yakin, pak."
"Kamu harus melakukan ini. Kalau tidak, kerjasama kita tidak akan berlanjut."
Bella terdiam. Dia memikirkan karyawannya. Dia merasa belum sanggup bagi perusahaan kecilnya untuk berdiri sendiri tanpa kerjasama dengan perusahaan besarnya Rudi.
Rudi yang wajahnya sempat mengeras, kini mulai melunak. "Please, Bella. Mari kita ambil proyek ini. Please."
Akhirnya Bella mengangguk. Dan saat Rudi mengajaknya untuk kembali ke meja tempat Gerson berada, dia terpaksa ikut.
"Maafkan kami, pak. Arsitekku sempat bimbang. Tapi, sekarang ini, arsitekku sudah siap," kata Rudi sambil tersenyum ramah ke arah Gerson.
"Tidak apa. Aku mengerti kok."
Rudi langsung memberi isyarat ke arah Bella.
"Oke." Bella langsung mengeluarkan handphonenya dan membuka file-file tentang rancangan-rancangan gedung yang pernah dia buat sebelumnya.
"Aku tidak bisa melihat dari sini. Bolehkah aku duduk di sampingmu?" tanya Gerson sambil menunjuk ke samping Bella.
Bella pun mengangguk walaupun harus menyimpan amarah di hati karena teringat perbuatan Gerson kepadanya dulu.
Rudi yang ingin mengambil hati Gerson, langsung mengangkat sebuah kursi kosong yang berada agak jauh dari Bella, untuk dia taruh di samping kanan Bella.
Setelah itu, dia mempersilahkan Gerson untuk duduk di kursi yang dia taruh itu.
Gerson langsung duduk di samping Bella.
Gerson menatap Bella dan membatin. "Gadis ini cantik. Dan lebih dari itu, aku seperti merasa pernah bertemu dengannya sebelumnya. Tapi dimana?"
Bella mulai menjelaskan tentang rancangan-rancangan yang sebelumnya dia buat sambil dia memperlihatkan rancangan lamanya di dalam folder di laptop miliknya.
Dengan penuh senyum walau harus menyimpan bara api di dada, Bella menjelaskan segala hal tentang rancangan pertamanya.
Tapi saat Bella menyadari kalau pahanya dan paha Gerson sudah saling tempel, maka dia segera menjauhkan pahanya dari paha Gerson sehingga Gerson tidak bisa lagi menempelkan pahanya di dekat pahanya.
"Apakah aku melihatnya di TV? Apa dia seorang artis atau model?" batin Gerson sambil terus menatap wajah Bella.
Menatap wajah Bella dengan jarak sedekat ini membuat Gerson semakin terkesima akan kecantikan Bella.
"Aku yakin aku pernah melihatnya sebelum ini. Tapi dimana?" batin Gerson.
Setelah itu, Gerson mulai memainkan cara yang lain. Sambil menatap Bella, dia berkata, "aku ingin melihat rancanganmu yang lain."
"Oke. Yang ini adalah saat aku merancang sebuah hotel bintang 3 di Bandung," kata Bella sambil menunjukkan salah satu rancangan kebanggaannya.
"Oke sangat bagus. Betul-betul sangat bagus. Aku kagum," kata Gerson sambil menatap rancangan yang pernah dibuat oleh Bella itu.
Tanpa disengaja, tangan Gerson telah berada di atas tangan Bella. "Benar-benar mengagumkan." Gerson mengagumi rancangan Bella ini.
Bella menatap ke arah Rudi menunjukkan tidak sukanya ke arah Rudi sambil dengan kerlingan matanya, dia menunjuk ke arah tangan Gerson yang sedang memegang tangannya.
Bella ingin mengatakan kalau dia tidak nyaman dengan apa yang dilakukan Gerson pada tangannya ini.
Tapi Rudi malah menyatukan kedua tangannya di depan dada, Rudi memohon supaya Bella jangan marah akan kelakuan Gerson pada saat ini.
Sebenarnya kebencian Bella kepada Gerson semakin menumpuk karena masa lalunya dengan Gerson, ditambah dengan sikap Gerson dalam menggodanya bahkan menjurus ke arah pelecehan kepadanya pada saat ini tetapi Bella memilih untuk bersabar.
Setelah menjelaskan beberapa saat tentang rancangan hotel bintang 4 di Bandung yang pernah dibuatnya, Bella langsung memanfaatkan situasi saat pesanan makanan datang untuk menjauhkan tangannya dari tangan geser Gerson.
"Kalau begitu, kita makan dulu, Pak Gerson. Kebetulan aku sudah lapar berat, nih," potong Rudi.
"Oke kalau begitu mari kita makan." Setelah itu, acara dilanjutkan dengan makan-makan.
Tapi sepanjang acara makan berlangsung, Gerson terus menatap Bella seakan dia akan merasa sangat rugi kalau sedetik saja tidak menatap wajah cantik Bella.
Setelah acara makan usai, Rudi berkata, "jadi bagaimana, Pak Gerson? Bapak kan sudah melihat rancangan-rancangan yang pernah dilakukan oleh Bella. Jadi bagaimana? Apakah perusahaan kami tetap akan dikontrak untuk pembangunan mall itu?"
Gerson berpikir sejenak kemudian dia berkata, "masih ada beberapa detail yang harus aku lihat dulu jadi aku ingin ada penjabaran yang lebih detail lagi."
"Kalau begitu, aku dan staffku akan datang ke kantor bapak untuk kembali menjelaskan rancangan dan cara kerja kami secara menyeluruh. Bagaimana, pak?"
"Tidak perlu, Pak Rudi. Soal Anda, saya sudah sangat sudah sangat yakin akan kinerja Anda dalam mengerjakan pembangunan mal itu. Tapi aku masih belum yakin akan rancangannya." Gerson menatap ke arah Bella.
Mendengar kata-kata Gerson itu, Bella berkata pada Rudi. "Tuh, kan, pak. Aku tidak qualified untuk mengerjakan rancangan ini. Mungkin bapak harus menggandeng arsitek lain di kantor bapak, pak."
"No. Aku tidak ingin arsitek lain. Aku cuma mau kamu," tegas Gerson.
dia tukang celap celup dan itu menjijikan
kuharap ada tokoh yang lebih baik dari dia buat jadi jodohnya Bella
dari judul cerita ini tuh menceritakan anak kembar yang jenius, jadi saya harap jodoh nya Bella bukan gersang
kalo aku jadi Bella sih kuludahin aslii
karna ga bakal ada laki laki yang bisa benar benar lepas dari kebiasaan nya apalagi ini soal kenikmatan duniawi