Dewi Anggraeni dipaksa menikahi seorang juragan kaya yang sudah beristri. Dengan bantuan temannya ia berhasil lari lalu bersembunyi. Masih berbalut pakaian pengantin, Dewi bersembunyi di dalam bagasi.
***
Devan Kusuma Wijaya begitu terkejut, saat mendapati seorang pengantin perempuan yang nyasar di dalam bagasi mobilnya. Namun, alih-alih mempermasalahkan, Devan malah menawarkan sandiwara pernikahan. Dewi pun terpaksa menerima karena mendapat ancaman.
Bak Dewi Fortuna yang dikirimkan oleh Tuhan, Dewi datang tepat saat dirinya hendak dijodohkan. Sebuah ide pernikahan palsu pun terbesit di pikiran Devan, agar dirinya terbebas dari perjodohan.
Apakah pernikahan palsu mereka akan berjalan lancar? Ikuti kisahnya ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amih_amy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Sudah Siap
...Happy Reading...
...****************...
"Nggak sengaja beli. Itu dikasih teman di hari ulang tahun aku yang ke-17. Aku nggak suka, karena itu terlalu terbuka dan warnanya terlalu berani," jawab Viona dengan polos.
Devan sampai menelan ludah membayangkan Dewi menggunakan baju tersebut. Namun, otak kotornya kembali waras saat sang mama menyeletuk.
"Astaga ... teman kamu itu nggak ada kerjaan, ya. Itu mau ngasih kado ulang tahun apa ngasih kado pernikahan?" decak Elena sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia masih kesal dengan kelakuan anak sulungnya, kini ditambah kesal dengan perkataan anak bungsunya yang begitu polos.
"Makanya aku kasih bajunya buat istrinya Mas Devan, Mama. Kan, Mas Devan baru menikah," kekeh Viona sambil menyengir kuda.
"Tapi ini udah pagi, Vio. Masa kamu kasih baju buat tidur?"
"Eh, iya." Viona menepuk keningnya, "Vio ganti yang lain aja, ya. Yang itu simpan buat malam pertama aja, Mas," tambah Viona menggoda sang kakak, lalu pergi mengambil baju lain di kamarnya.
"Hati-hati, tuh, Ma. Vio udah tahu malam pertama," celetuk Devan sambil terkekeh lucu. Membuat kedua orang tuanya mendengkus kasar, tetapi mereka tidak mau berkomentar. Pengetahuan anak zaman sekarang memang di luar nalar. Oleh karena itu, mereka harus diarahkan pada jalan yang benar.
"Setelah ganti baju, bawa istrimu ke sini! Papa mau bicara sama dia." Sam berkata setelah beberapa saat tidak ada perbincangan di antara mereka. Devan pun mengiyakan tanpa suara dengan menganggukkan kepalanya.
Tak lama kemudian Viona datang membawa pakaian, lalu Devan pun kembali ke kamarnya untuk memberikan baju tersebut kepada Dewi.
Sesampainya di depan pintu kamar, Devan sempat ragu untuk masuk ke dalam kamarnya sendiri. Ia tidak tahu apakah Dewi sudah selesai mandi atau belum. Namun, saat tak ada jawaban ketika dirinya mengetuk pintu, Devan pun berani membuka pintu tersebut.
Devan memindai ke sekitar ruangan kamarnya, tetapi tidak menemukan Dewi di sana. Kaki jenjangnya pun melangkah mendekati pintu kamar mandi, memastikan Dewi belum selesai membersihkan diri.
Namun, saat lelaki itu menempelkan daun telinganya pada benda persegi itu, di saat yang sama pula Dewi membuka pintunya dari dalam. Alhasil tubuh Devan jadi tersungkur ke depan, dan tubuh Dewi yang jadi penopang. Tubuh mereka jadi bertabrakan dan jatuh ke lantai.
"Aaaaargh!"
Dewi berteriak kencang, tetapi bibirnya langsung dibungkam oleh Devan. Ia takut jika orang tuanya mendengar.
"Sssttt! Berisik, nanti orang tua saya dengar bagaimana?" hardik Devan dengan posisi masih di atas tubuh Dewi.
"Mmmmm ...." Dewi tak bisa bicara lantaran tangan Devan masih membungkam mulutnya. Ia pun meronta meminta dilepaskan. Devan pun menjauhkan tangannya dari mulut Dewi lalu beranjak berdiri.
Dewi pun ikut berdiri, lalu merapikan kemeja kebesaran yang dia kenakan. Tentu saja itu adalah kemeja milik Devan.
"Kamu mau ngintip, ya?" tuding Dewi sambil menyimpan kedua tangannya di atas pinggang.
"Ih, enak aja. Tadi saya cuma mau memastikan kalau kamu masih di dalam atau nggak."
"Bohong. Kenapa nggak ketuk aja pintunya?" tukas Dewi memotong.
Namun, Devan tertegun beberapa saat ketika kedua netranya menangkap pemandangan yang sayang jika dilewatkan. Devan sadar dengan baju yang Dewi kenakan. Pemandangan itu membuat kedua mata Devan seperti lupa caranya berkedip. Dalam pikiran Devan, Dewi laksana seorang bidadari yang turun dari langit.
"Pak?" Dewi menjentikkan jarinya tepat di depan wajah Devan, membuat lelaki itu terperanjat seketika. Pandangannya menyisir tubuh Dewi dari kaki hingga kepala.
Dewi jadi merasa tidak enak. Tangannya kerap menurunkan kemeja bawahnya yang kurang panjang. Berusaha untuk menutupi kedua paha mulusnya yang terekspos begitu saja.
"Maaf, saya lancang pakai kemeja Bapak yang di lemari. Habisnya saya tunggu dari tadi, Bapak nggak datang-datang ngasih baju ganti. Jadi ... adanya ini," cicit Dewi sedikit gugup, sedangkan Devan terus berusaha menenangkan denyut jantungnya yang semakin kencang berdegup.
"Harusnya kamu tunggu saya. Ganti dengan ini, kamu nggak pantes pake kemeja itu," ujar Devan sambil menyodorkan baju milik Viona. Pandangannya beralih ke arah lain, melewatkan pemandangan yang membuat kepalanya terasa pening.
Sebenarnya Devan ingin mengatakan sebaliknya. Dewi sangat cantik dan sexy dengan kemeja yang dia kenakan. Pikiran Devan mulai berkelana membayangkan Dewi mengenakan dress malam pemberian Viona. Sudah pasti akan terlihat lebih menggoda. Semburat merah pun tercetak di pipinya, menyiratkan jika lelaki itu merasa malu dengan pikiran kotornya itu.
"Iya, maaf." Dewi mengambil baju di tangan Devan lantas kembali masuk ke kamar mandi untuk mengganti bajunya lagi.
Setelah beberapa saat mengganti baju di dalam kamar mandi, Dewi pun keluar dan mendekati Devan lagi. Lelaki itu tengah duduk di tepi tempat tidur sambil memainkan ponsel pintarnya.
"Saya udah selesai," ucap Dewi yang membuat Devan mendongakkan pandangan.
Bibir Devan tersenyum melihat Dewi terlihat cocok mengenakan pakaian Viona. Walaupun tidak sesexy tadi, setidaknya Devan masih bisa menjaga secuil imannya dengan penampilan Dewi kali ini. Lelaki ini memang paling lemah dengan perempuan sexy.
Devan menegakkan duduknya sambil melipat tangan di depan dada. "Jadi ... kamu udah siap bersandiwara?" tanyanya dengan raut serius.
"Belum, sih," celetuk Dewi jujur.
"Kenapa belum? Kamu nggak diizinkan untuk berpikir lama, ya. Saya nggak ada waktu buat nunggu," ketus Devan.
Kening Dewi berkerut mendengar pernyataan egois dari mulut Devan. "Ini keputusan besar, Pak. Saya harus memikirkannya dengan matang. Jangan-jangan Bapak mau berbuat macam-macam sama saya, ya?" tuduh Dewi sambil mengacungkan jari telunjuknya di depan hidung Devan.
Sontak saja kedua mata Devan mendelik tajam. Lelaki itu menggenggam jari telunjuk Dewi lalu menariknya dengan sedikit tenaga. Dewi yang tidak bersikap siaga tentu tertarik maju beberapa langkah ke depan. Tubuhnya sedikit condong hingga mengikis jarak di antara wajah mereka. "Kamu pikir saya laki-laki macam apa, hah?" ucap Devan sarkas.
Dewi mengerjap gugup menatap manik tegas milik Devan. Tatapan tajamnya mampu meluruhkan keberanian Dewi yang hendak melawan. Beberapa detik terdiam sambil saling pandang sukses membuat jantungnya berdebar kencang.
"Gila, cakep banget nih orang!" Dewi membatin.
Sekilas Dewi terpesona dengan ketampanan Devan, tetapi tak lama otaknya kembali waras. Perempuan itu menepis tangan Devan dengan kasar, lalu menarik mundur kepalanya dan berdiri tegak lagi.
"Kali aja, kan, Bapak mau mengambil kesempatan di balik kesulitan saya," cetus Dewi.
Devan mendengkus lalu berdiri berhadapan dengan Dewi. "Kamu terlalu tinggi memandang diri kamu. Asal kamu tahu, di sini kamu nggak punya hak buat menolak. Karena jika kamu menolak, jeruji besi siap menampung kamu untuk tidur dengan nyenyak. Gimana? Udah siap bersandiwara?" Devan mengulangi pertanyaannya dengan penuh penekanan.
Dewi meneguk ludahnya dengan kelat. Perkataan yang hendak dilontarkan berikutnya pun jadi tersendat. Selain menganggukkan kepala, Dewi tidak bisa melakukan apa-apa. Walaupun rasa ragu masih memenuhi pikirannya, Dewi tidak punya pilihan lain selain mengikuti sandiwara.
...****************...
...To Be Continued...
Maaf, ya kemarin nggak jadi double up. Ternyata matanya nggak bisa dikondisikan, malah ketiduran 😭
kasihan Devan sama Dewi belum sampai finish