Nayra azahwa alzahrani...gadis berhijab yg memiliki wajah yg cukup cantik, kulitnya kuning bersih, tatapannya selalu tk tertebak, begitupun akan sikapnya.Ia hampir tk pernah terlihat mondar mandir bersama teman2nya karena seringya menghabiskan waktu d perpustakaan sekolah. Tanpa ia sadari sikap dinginnya mampu menarik perhatian beberapa star tim basket di sekolahnya, salah satunya.. Yan Aditya Rachman wakil kapten tim basket di sekolahnya. Seorang tuan muda dari keluarga pengusaha resto dan makanan ringan yg cukup terkenal di kota tempat tinggalnya. mampukah seorang Yan menaklukkan sang gadis dingin bersaing dengan sesama timnya...secara dia seorang pemuda yang terkenal supel dan ramah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon khitara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perasaan yang sebenarnya...
7 TAHUN KEMUDIAN
Di sebuah bandara terlihat dua orang pria matang yang terlihat tampan dan perlente dengan kacamata hitamnya dan setelan pakaian formal kantoran tampak memasuki sebuah mobil yang sudah tersedia
" kau sudah siap yan..." suara salah satu dari pria itu terdengar, keduanya adalah Yan Aditya Rachman dan asisten pribadinya yang tak lain saudara sepupunya sendiri Kris Adrianto Gunawan.
Kris memutuskan untuk terus mengikuti Yandi yang kuliah ke Australia dan sekarang mumutuskan kembali ke Indonesia karena perusahaan orang tua Yandi yang tidak ada yang memimpin karena sang kakak kembali ke perusahaannya sendiri dan sang ayah yang masih ada di Malaisya.
Yandi sebenarnya cukup berat untuk memimpin perusahaan itu yang karena keberadaannya di Indonesia membuatnya mengingat masa masa sma nya.
" siap tidak siap aku harus siap...kasihan mbak laura yang sudah pontang panting menghendelnya " jawabnya
" kau bilang ada reuni...apa itu jadi "
" aku tak tahu, marita belum menghubungiku lagi..." jawab Kris
" hmmm....menurutmu dia akan datang ?! " tanya Yandi terdengar berat
" jika mengingat sifatnya dulu mungkin dia tidak akan datang.." jawab Kris
" kenapa...? "
" ya karena mungkin suaminya yang melarang yan..." Kris memjawab sembari menatap Yandi yang juga kini menatapnya juga
" ayolah yan...jangan seperti itu, ini sudah 7 tahun, apa kau pikir dia tidak akan menikah " Kris mencoba memberi penjelasan sambil melipat bibirnya
" tutup mulut mu kris.." sentak Yandi kemudian membuang muka keluar jendela yang di balas dengan senyuman tipis menyeringai dari Kris.
Beberapa menit kemudian mobil yang mereka tumpangi berhenti di sebuah parkiran gedung perkantoran bertingkat bertuliskan " RACHMAN CATERING And SNACK Co ".
Keduanya nampak masuk kedalam gedung perkantoran tersebut setelah disambut dewan direksi di pelataran gedung yang telah mengenal dan mengetahui akan mereka,
dahulu keduanya memang telah di perkenalkan sebagai the next head leader di masa depan kepada hampir semua karyawan di seluruh bagian sehingga tidak heran jika hampir di seluruh lapisan karyawan terkhususnya karyawan lama yang mengetahui mereka berdua,
kecuali karyawan baru yang mungkin baru bekerja satu atau dua tahun tentu mereka tak akan mengenal Yandi dan Kris karena keduanya di perkenalkan hampir 7 tahun lalu ketika mereka hendak berangkat belajar ke Australia.
Yandi dan Kris yang telah bermertamorfosis menjadi seorang pria dewasa tampak begitu elegan dan tampan menarik perhatian semua penghuni perkantoran tersebut, hingga bayangan mereka hilang ditelan lift yang membawa mereka langsung ke lantai atas ruang Yandi dan Kris nantinya juga ruang meeting yang kini mereka tuju
" silahkana presdir..." direktur pemasaran Anwar rosyid menyilahkan dengan sopan kepada Yandi dan Kris sembari membuka pintu dan menyilahkan dengan tanganya
" terimakasih paman rosyid..." jawab Yandi dengan sopan sambil mengangguk hormat, begitupun dengan Kris..sungguh pemandangan yang menenangkan hati dimana seorang tuan tuan muda lulusan luar negri yang masih begitu memegang nilai nilai sopan santun di mata para hadirin yang ternyata telah berada di dalam memenuhi ruangan.
Keduanya segera masuk kedalam menuju kursi masing masing diikuti dewan direksin yang lain.
Yandi hendak menyilahkan para hadirin untuk segera duduk segera terhenyak terdiam bagai patung begitu menangkap sesosok tubuh berbalut gamis kantoran dan kerundung warna nude di ujung menyamping kekiri mejanya sana diantara para hadirin yang coba ia sapa dan ia kenal dengan menatap mereka satu persatu.
Darahnya berdesir, jantungnya seakan mengalir lebih cepat otaknya yang biasanya encer seencer es yang mencair tetiba saja membeku seperti tubuhnya yang juga terasa beku
" Nay..." desis Kris pelan yang mengikuti arah pandang Yandi dan menyadari keberadaan gadis itu
" yan...." Kris mencoba menepuk bahu Yandi untuk menyadarkannya karen tingkah Yandi cukup membuat bingung yang hadir disana
" silahkan duduk.... Dan silahkan di mulai meeting kita hari ini bapak ibu sekalian " Kris mengambil alih perintah dari Yandi karena Yandi yang masih belum biasa menguasai keterkejutannya.
" presdir.. kami akan memperkenalkan beberapa karyawan baru yang keberadaannya cukup vital dalam perusahaan kita yang perekrutannya langsung di ambil alih dewan komisaris pusat presdir..."
kali ini terdengar suara pak Puguh Eriawan selaku kepala sekretaris perusahaan sekaligus asisten pribadi komisaris yang tak lain adalah ayah Yandi.
" silahkan paman..." jawab Yandi sambil tetap menatap kearah Nayra diujung sana yang seakan tak terpengaruh sedikitpun akan tingkahnya.
" dia adala haed accounting budgeting planning product manager, nona Nayra Azzahwa Alzahrani.."
Puguh menjelaskan seakan mengerti akan kegundahan yang dirasakan Yandi.
Yandi mengangguk begitupun Nayra tanda memberi sapaan dan salam mengenalkan diri, sejenak keduanya saling tatap
" di desebelahnya adalah head desainer product manager presdir, Alan Wirahadi..." kata kata Puguh membuat tatapan Yandi teralihkan.
Sesi pengenalan yang di lanjutkan dengan pembahasan pembahasan materi meeting pun selesai sebagai tanda meeting yang telah terlak
sana hampir 3 jam itupun berakhir.
" saya ingin tahu tentang rencana budget proyek kita yang baru..bisa " terdengar suara Yandi di akhir akhir acara
" bisa presdir..." jawab Nayra
" secara langsung dengan yang bertanggung jawab..."
" segera laporan akan berada di meja anda presdir.." sekali lagi Nayra menjawab dengan diplomatis
" baiklah terimakasih..saya tunggu di meja saya " Yandi berucap kemudian berlalu diikuti Kris yang diam saja sejak tadi.
Yandi sedang megotak atik hpnya ketika terdengar suara ketukan di pintunya,
" masuk.." perintahnya, sejurus kemudian seorang gadis berhijab masuk kedalam ruangan
" permisi presdir, saya membawa laporan perencanaan budget proyek kita yang baru yang anda minta tadi..." jelas Nayra ketika telah berada di hadapan Yandi,
jujur saja pertemuan ini tak pernah terpikirkan sedikitpun oleh Nayra sejak bertahun tahun yang lalu, sehingga saat ini ia harus mati matian menenangkan kegugupannya apalagi pria di hadapannya ini yang sejak tadi menatapnya tak berkedip sejak pertama kali melihatnya di ruang meeting.
Jauh di lubuk hatinya ada sesuatu perasaan yang tidak ia mengerti terkejut, senang, sakit dan entah apalagi.
" silahkan..." Yandi menjawab sembari berdiri dan mengarahkan mereka berdua kerah sofa.
" terimakasih presdir..." kata Nayra kemudian setelah duduk dan mulai membuka berkas berkas yang ia pegang.
" lama tak bertemu..." sapa Yandi tiba tiba membuat gadis yang duduk tidak terlalu jauh darinya itu mengangkat pandangannya dari berkas di meja dan menatap kearahnya,
sesaat mata keduanya saling bertemu namun Nayra segera mengalihkan pandangannya kembali ke berkas yang ia bawa sembari mengangguk,
rasanya ia tak mampu menatap mata itu, mata yang dulu pernah ia kagumi diam diam namun menorehkan luka yang begitu dalam di hatinya,
ia sendiri tak tau mengapa ia begitu sakit hati dengan tingkah Yandi yang ia nilai plaboy padahal mereka tak pernah kenal atau bahkan dekat sebelumnya,
Yandi memiliki Maritha tapi seakan masih tebar pesona dengan gadis lain hingga kemudian laki laki itu menggores luka yang begitu dalam di hatinya yang seakan tiada biasa ia obati meski telah bertahun tahun yang lalu.
" bagaimana kabarmu selama ini..." Yandi bertanya tanpa bisa lagi menahan perasaannya
" maaf...apa maksud presdir, ini laporan..." Nayra tak berhasil melanjutkan kata katanya karena keburu di potong Yandi
" letakkan saja di sana aku akan membacanya, aku ingin tahu bagaimana keadaanmu selama ini..."
" seperti yang anda lihat..saya baik baik saja "
" dimana kamu selama ini, aku bahkan tak pernah melihatmu sejak hari terakhir kita ujian..?!" Yandi terus bertanya
" maaf..bagaimana seharusnya saya harus menjawab, sebagai seorang karyawan atau...?! " Nayra mencoba memperjelas keadaan
" sebagai orang yang pernah saling mengenal " Yandi pun mencoba memancing lebih dalam
" hmmmm...." Nayra menghembuskan nafas, memperbaiki duduknya dan memangku kedua tangannya
" aku sakit waktu itu hingga harus di rawat di rumah sakit sehingga orang tua ku mengambil ijazah ku cukup terlambat, setelahnya aku dikirim untuk kuliah di surabaya " jawab Nayra tenang seakan tak terjadi sesuatupun di hatinya.
Yandi sedikit tersentek
" kau ...tidak mondok?! " tanyanya kemudian
" kenapa...aku....tidak, aku kuliah disana "
" jadi rein....." Yandi tak meneruskan kata katanya dan membiarkan menggantung begitu saja,
entah mengapa ia merasa senang karena ternyata Rein pun tak tahu apa apa tenteng gadis di hadapannya ini sama seperti dirinya,
" jika sudah tidak ada yang ditanyakan lagi saya mohon diri...." pamit Nayra setelah kebisuan cukup lama mendera keduanya.
Belum sempat Yandi menjawab Nayra telah hampir sampai ke pintu, namun belum sempt ia menyentuh gagang pintu, pintu terbuka
" nay....apa kabar ?" Kris bertanya setengah histeris
" seperti yang kau lihat..." jawab Nayra
" senang bisa bertemu denganmu lagi nay...."
" kau terlalu berlebihan kris...." kata Nayra sembari melangkah keluar
" nay....!! " panggil Kris menghentikan langkah
Nayra
" bisa kita berbincang lain waktu...? "
" tentu saja...." jawab Nayra kemudian melanjutkan langkahnya berlalu pergi.
Didalam ruangan Yandi menatap tak bersahabat kearah Kris, dan Kris yang baru sadar di tatap seperti itu melangkah masuk cengar cengir
" ayolah brow....kami berteman cukup lama, dan tak bertemu cukup lama pula, wajar dong kalau kami saling rindu..." rengek Kris menyelamatkan diri
" bukan kami, kau saja....ingat itu " tandas Yandi dan di jawab Kris dengan mulut yang mencebik.