NovelToon NovelToon
Dia Istriku, Tapi Kayak Orang Asing

Dia Istriku, Tapi Kayak Orang Asing

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Selingkuh / Cinta Terlarang
Popularitas:656
Nilai: 5
Nama Author: Storyginal Finger

Seorang pria bernama AZKA (27 tahun) sudah beberapa minggu mengalami koma akibat kecelakaan kerja ketika ia yang merupakan pimpinan konstruksi sedang meninjau proyek pembangunan.

Azka telah menikah dengan VISHA (24 tahun) selama 3 tahun tapi belum memiliki momongan. Meskipun begitu, hubungan pernikahan mereka masih sangat harmonis. Visha senantiasa merawat Azka di rumah sakit.

Tapi siapa sangka kalau ternyata otak Azka yang sedang koma justru menciptakan ingatan baru yang berbeda.

Dia teringat dengan SESILIA (19 tahun) yang merupakan kepala tim QC baru di kantornya. Walaupun Azka baru bertemu beberapa kali, ternyata secara tidak sadar, Azka mempunyai rasa ketertarikan dengan Sesilia.

Hal ini membuat kenangan-kenangan indah tentang hubungan Azka dan Sesilia. Sedangkan ingatan tentang Visha justru terhapuskan.

Semenjak sadar, Azka mengalami dilema antara Visha dan Sesilia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 17: Terjerembab Dalam Perasaan Tak Tertahankan

Azka melangkah masuk ke dalam kantor. Wajahnya tenang, langkah mantap seperti hari-hari sebelumnya, semua berjalan seperti biasa pagi itu.

Ia tiba di ruangan, meletakkan tas di atas meja kerja, lalu duduk perlahan. Suasana masih lengang, suasana yang sejuk dari pendingin berpadu aroma pengharum ruangan.

Namun baru saja ia bersandar dan menghela nafas, layar handphone menyala. Azka menatap sejenak, sempat ragu sebelum akhirnya ia menggeser tombol hijau di layar. Ia tahu, panggilan itu tak mungkin tentang hal sepele.

“Halo, pagi Pak. Maaf mendadak, saya mau bilang kalau hari ini saya tidak bisa masuk kerja karena ibu saya dirawat di rumah sakit. Jadi saya harus kembali ke ibukota,” ucap Kayla dari seberang dengan tempo sangat cepat tanpa jeda.

Azka yang mendengar itu langsung ikut panik. Entah bagaimana ia merasa perlu ikut bertanggung jawab. Ia lupa kalau mereka tidak memiliki hubungan apapun selain teman kerja.

“Kamu dimana sekarang? Saya antar kamu,” ujarnya.

“Tidak perlu pak, saya sudah di taksi online, menuju bandara. Makasih ya pak,” jelas Kayla langsung menutup telepon.

Sedangkan Azka sebenarnya masih ingin berbicara, tapi berhenti karena menyadari Kayla sudah mengakhiri panggilan. Sejak itu, waktu terasa begitu lambat bagi Azka.

Menjelang siang, Azka duduk diam di ruangan. Tangannya masih memegang handphone hampir tak pernah lepas dari pagi, menatap layar yang menampilkan kotak percakapan dengan raut wajah tampak ragu.

Beberapa detik kemudian, ibu jarinya mulai bergerak, mengetik pelan sebuah pesan. Tulisan itu memang singkat, tak lebih dari sekadar bentuk kepedulian. Namun dibalik kata-kata sederhana, tersirat perhatian yang tak bisa diungkapkan secara langsung.

Ia tahu Kayla mungkin sedang melewati masa sulit, walaupun sadar tidak memiliki hubungan spesial, Azka tetap ingin menunjukkan bahwa ia peduli, setidaknya lewat pesan kecil itu.

Setelah menekan tombol kirim, Azka meletakkan handphone dan menatap kosong ke luar jendela. Ada sesuatu menggantung dalam hati, semacam kekhawatiran yang tak bisa dihilangkan dalam pikirannya.

Namun sayang karena Azka tidak mendapatkan jawaban. Ia memberanikan diri untuk menghubungi, tapi telepon tidak diangkat. Begitu juga dengan pesan yang ditinggalkan juga tak kunjung dibalas.

Hingga matahari mulai tenggelam ke arah barat, Kayla tidak juga memberikan kabar. Azka masih berpikir positif Kayla mungkin masih tidak ingin diganggu karena sedang fokus merawat ibunya.

Malam berlalu dan pagi kembali datang, kabar dari Kayla belum juga diterima. Tapi Azka tetap menunggu dengan sabar, walau hatinya tak bisa tenang.

Sampai pada akhirnya penantian panjang Azka pun datang. Kayla menghubungi Azka ketika sedang melamun di ruangan kerjanya.

“Halo, Kayla, gimana kondisi kamu dan ibumu? Saya telepon kamu, saya kirim pesan, tidak ada yang kamu respon,” ujarnya menggebu.

“Iya, maaf ya, Pak. Saya sekarang cuma mau info kalau saya mengajukan cuti beberapa hari karena kondisi ibu masih belum bisa ditinggal,” jelas Kayla tidak menggubris kekhawatiran Azka barusan.

Tak putus asa, Azka kembali memberikan perhatian untuk Kayla. Tapi sayang karena ia tak mendapatkan respon sesuai harapan.

“Mungkin itu saja dulu ya, Pak, nanti akan saya kabari lagi kalau saya sudah bisa masuk kerja, makasih Pak,” tutup Kayla.

Mengetahui Kayla sepertinya sedang tidak ingin berbincang, Azka hanya mengiyakan. Sesuai dugaan, Kayla langsung mengakhiri panggilan.

Azka kembali merasa waktu berlalu dengan sangat lambat. Tak henti ia melihat jam, membuka handphone, berharap akan muncul panggilan atau pesan baru dari Kayla.

Sekuat apapun ia mencoba untuk fokus pada pekerjaan, ia tidak bisa mengalihkannya. Ia selalu teringat tentang ucapan Noval beberapa waktu lalu.

Ternyata benar. Ia merasa kalau kehadiran Kayla tidak hanya sebatas rekan kerja. Dalam lubuk hatinya, ia tetap menganggap bahwa Kayla merupakan sosok spesial.

Selama ini status rekan kerja hanya dijadikan sebagai tameng oleh Azka. Posisi aman yang menurut ia sudah tepat, tapi rupanya bukanlah demikian.

Semua terjawab dengan ketidakhadiran Kayla secara mendadak yang bukan terkait rutinitas libur, ternyata tidak mampu dibendung Azka.

Apalagi kondisi Kayla diketahui sedang membutuhkan dukungan moril, namun sayang Azka tak memiliki kesempatan untuk memberikannya.

***

Sudah genap empat hari Kayla tidak masuk kerja. Azka mulai merasakan ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Perasaan rindu tiba-tiba muncul tanpa diundang.

Azka kini berada dalam posisi kurang etis kalau terus mencoba untuk menghubungi Kayla karena ia sudah terlalu banyak melakukannya, sedangkan tidak mendapatkan tanggapan apapun.

Ia memilih untuk memberikan ruang kepada Kayla agar bisa lebih fokus terhadap perawatan ibunya.

Tapi ternyata hal tersebut tidaklah mudah. Rasa penasaran tentang bagaimana kabarnya, keinginan untuk diberitahu atau menjadi tempat curhat ternyata cukup tinggi sehingga menggerogoti batin Azka.

Akibatnya, Azka sama sekali tidak bisa fokus bekerja. Hal ini kemudian disadari oleh Noval.

Pada suatu siang, ia datang ke ruangan Azka. Ia membahas tentang apa yang pernah diucapkan kepadanya.

“Saya benar kan, Pak?” tanya Noval.

Sekarang Azka langsung mengetahui kemana arah pembicaraan ini tersebut.  Ia menatap Noval sebentar, lalu mengangkat kedua alisnya tersenyum pahit. Pertanda bahwa ia mengakui Noval memang benar.

“Saya bingung harus bagaimana,” sahut Azka.

Noval ikut tersenyum kecil. Ia seakan tak ingin memahami perasaan Azka.

“Tidak perlu bingung, Pak. Saya sudah bilang dari awal. Semuanya jelas, kamu sudah memiliki istri, kamu seharusnya tidak mengikuti nafsu di hatimu,” ujar Noval memberi nasehat.

“Iya, lagi-lagi kamu benar. Saya terlalu egois, juga sombong. Saya mengira kalau saya akan mampu mengatasinya. Saya dulu berpikir, sebagai lelaki, saya harus berani menghadapi dia. Tapi sekarang saya sadar, ini bukan soal keberanian, tapi sebuah kesempatan,” ungkap Azka sambil memainkan ballpoint di tangannya.

Noval tidak paham dengan kata terakhir yang diucapkan Azka, “Kesempatan? Kesempatan apa?.”

“Kesempatan untuk mencegah semua menjadi terlanjur lebih dalam,” jelasnya.

Sejenak berpikir, Noval memberikan solusi kepada Azka yang menurutnya masih belum terlambat.

“Kamu harus segera membuat batasan baru, Pak. Kamu mungkin benar, tidak seharusnya kamu menghindar, tapi juga bukan berarti membuka pintu untuk dia masuk ke hidup kamu,” kata Noval.

Azka menganggap bahwa apa yang diucapkan oleh Noval ada benarnya.

***

Walau telah mendengarkan masukan panjang lebar dari Noval yang menurutnya sangat masuk akal, disampaikan lewat niat baik, tapi hati kecil Azka tetap bergeming. Ada bagian dari dirinya masih belum siap menerima, tidak rela sepenuhnya melepaskan ketertarikan yang sulit dibiarkan begitu saja.

Penolakan tak muncul dalam bentuk amarah besar. Sebaliknya, ia menjelma jadi hal-hal kecil, misalnya seperti gumaman pendek, tatapan mendadak dingin, mood tidak baik atau jeda aneh di antara ucapannya.

Azka menjadi lebih sensitif, terutama terhadap Visha. Setiap hal sepele bisa mengusik pikiran, membuatnya tak sabar hingga mudah tersinggung.

Ia sendiri tak benar-benar mengerti, namun ada semacam dorongan dari dalam yang menciptakan perasaan seperti ingin melampiaskan sesuatu, entah rasa kecewa, sakit hati atau kebingungan enggan mereda.

Sore itu, Azka tidak langsung pulang ke rumah. Ia mampir ke kafe langganan tempat biasa dikunjungi bersama Kayla minum kopi.

Visha yang merasa khawatir pun menghubunginya. “Kok belum pulang?” tanya Visha di telepon.

Azka beralasan kalau ia sedang rapat dadakan bersama dengan para direksi.

“Oh gitu, tapi tumben kamu tidak mengabariku. Padahal aku sudah masak ayam goreng balado kesukaan kamu, lho,” ujar Visha bernada kecewa.

Namun respon Azka di luar dugaan, ia justru minta agar Visha tidak mengganggunya.

“Nanti aku kabari lagi ya, aku masih rapat,” ucapnya langsung menutup telepon.

Azka terlihat mengusap wajahnya. Ia merasa bingung dengan apa yang baru saja dilakukan. Ia merasa dilema atas perasaannya saat ini. Kondisi yang sudah cukup lama ia tidak rasakan, kembali lagi.

***

Malam harinya, Azka pulang ke rumah.

Visha menyambut kepulangan Azka, tapi dengan tidak biasa. Ia mencium tangan Azka, tanpa memeluk atau mencium bibirnya.  Melihat gelagat istrinya, ia menyadari Visha pasti sedang marah karena peristiwa sore tadi.

Ia berusaha minta maaf kepada Visha, tapi rupanya tidak semudah itu. Visha masih kesal.

“Mau sampai kapan kamu diamkan aku seperti ini? Aku kan sudah minta maaf,” rayu Azka yang sedang hendak makan ayam goreng balado masakannya.

Visha masih diam.

Sebenarnya Azka sudah tahu kebiasaan istrinya, jika sedang kesal, pasti akan diam seribu bahasa. Tapi karena perasaan Azka juga sedang sensitif, ia pun menjadi kesal lantaran tidak digubris oleh Visha.

“Ya sudahlah, daripada kamu begini terus, lebih baik aku pergi saja,” kesalnya, mengambil tas pinggang dan kunci mobil.

Melihat Azka pergi, Visha masih diam tapi wajahnya terlihat sedih mendapati sikap Azka yang terasa tak seperti biasa.

Azka mengendarai mobilnya menuju sebuah kafe dekat rumah. Ia merenung sambil ditemani segelas kopi americano yang biasa dibelikan oleh Kayla.

Beberapa jam berlalu. Ia memutuskan pulang karena kebetulan kafe juga sudah mau tutup.

Sesampainya di rumah, Azka melihat segelas kopi dan hidangan makanan berupa nasi dan ayam balado tertata rapi di balik tudung saji.

Azka mengintip ke dalam kamar, Visha tampak sudah tidur. Tapi saat Azka memperhatikan lagi, ia menyadari kalau Visha hanya berpura-pura.

Untuk menghargai apa yang sudah disediakan istrinya, Azka makan lalu menghabiskan kopinya. Setelah itu, ia langsung masuk ke dalam kamar. Membaringkan tubuh di sebelah Visha.

“Aku minta maaf ya. Aku tidak bisa mengendalikan emosiku.”

Meski Visha tidak bergerak ataupun menjawab, Azka tahu kalau ia mendengarnya. Azka juga bisa memahami Visha pasti masih kesal terhadapnya.

Dengan jumlah kadar kafein terlalu banyak pada hari ini, Azka jadi susah tidur. Walaupun begitu, ia tetap berusaha memejamkan mata, memikirkan banyak hal yang mayoritas terkait dengan Kayla.

Meski sedang terbaring di sebelah istrinya, Visha.

1
Nanda Jambi
kenangan terindah pasti ada dalam setiap ingatan terdalam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!